#CH-Berubah

2131 Kata
Di perjalanan pulangnya, Rafli hanya bisa mempertanyakan apa sebab Raina yang berubah dengan begitu cepatnya. Tidak butuh waktu lama bagi seorang Raina untuk berubah. Ketika Rafli dan Raina masih bersama, Raina tidak pernah lagi datang ke tempat seperti itu, datang saja tidak, apalagi untuk minum. Sekarang, setelah Raina sudah memutuskan Rafli. Raina kembali datang ke tempat itu, Raina juga minum, dan yang lebih parahnya lagi, Raina menerima dan menyimpan nomor telepon yang diberikan oleh lelaki itu. Rafli tidak menyangka dengan sikap Raina, semua yang Raina lakukan kepada Rafli, seolah terjadi begitu cepat, sangat cepat. Rafli sangat tidak menyangka, bahwa Raina, wanita yang paling ia cinta, bisa dengan semudah itu berubah menjadi pribadi yang bahkan tidak lagi dikenali oleh Rafli. Rafli mulai menebak apa yang sebenarnya diinginkan oleh Raina. Raina yang tiba-tiba cuek, lalu memutuskan hubungan, dan kembali dekat dengan dunia seperti itu. Rafli mencoba untuk tidak berpikir yang aneh-aneh tentang Raina. Tapi, seolah dibisikkan oleh sesuatu. Rafli mulai berpendapat bahwa Raina memang sengaja memutuskannya untuk bisa kembali dengan kegiatan malam seperti itu. Rafli mempercepat laju motornya. Rafli ingin lebih cepat sampai di rumah dan bisa berpikir lebih sehat tentang apa yang terjadi pada Raina. -- Sesampainya di rumah. Rafli langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Kepalanya menghadap ke langit-langit kamarnya, mencoba menerawang tentang Raina. Kenapa Raina bisa berubah secepat itu. Raina, wanita yang ia kenal sudah lebih baik dibanding saat awal perkenalannya. Sial, ingatan Rafli kepada Raina justru lebih jauh lagi. Raina yang dulu Rafli kenal memang suka datang ke tempat seperti itu, hanya datang dan bersenang-senang dengan temannya, tapi sama sekali tidak minum alkohol. Rafli juga heran saat pertama kali mendengarnya, ada rasa tidak percaya juga saat Rafli mendengar Raina mengatakannya. Tapi, akhirnya Rafli percaya, karena Rafli sendiri yang beberapa kali menyaksikan secara langsung. Raina memang hanya datang ke tempat itu, sesekali ikut menggerakkan badannya, dan selebihnya Raina hanya duduk dan berbincang dengan teman-temannya. Sekarang, belum ada satu minggu sejak Raina memutuskannya. Raina sudah jauh lebih berani. Raina bahkan tidak segan untuk minum di depan orang lain, tidak takut bahwa dirinya akan diperdaya orang lain kalau nanti ia sampai tidak sadarkan diri. Rafli masih tidak habis pikir dengan Raina. Kalau Raina ingin mengenal dunia itu lebih lanjut, Raina bisa mengajak Rafli, Rafli juga tidak akan menolak. Rafli ingin tetap menjaga Raina, apapun keadaannya, termasuk dengan menjaga Raina dari dunia seperti itu. Tapi, apa yang Raina sudah lakukan kepada Rafli masih membuat Rafli bertanya di dalam pikirannya. Botol yang tadi Rafli simpan di bawah tempat tidurnya, kembali ia keluarkan. Rafli membuka tutup botol itu, menuangnya dalam gelas yang lebih kecil, mempermudah Rafli untuk meminumnya nanti. Rafli punya banyak simpanan minuman alkohol, hanya untuk disimpan, Rafli juga sudah jarang mengonsumsi minuman alkohol. Rafli tidak butuh alkohol, melihat Raina sudah cukup memabukkan bagi dirinya, kemarin. Rafli menuang lebih banyak cairan itu ke dalam gelasnya. Berharap setiap tegukan yang mengaliri tenggorokannya akan menghilangkan Raina dari pikirannya. ---- Raina masih sibuk melihat ke berbagai arah, mencari dan memastikan keberadaan teman-temannya. Raina juga mencari Karina, teman satu arah pulangnya yang akan bersama dirinya untuk pulang. Raina tidak ingin pulang sendirian dan naik kendaraan umum, sudah terlalu larut, Raina tidak cukup berani untuk melakukan itu. Di sudut ruangan ini, Raina bisa melihat Karina, Karina juga sedang asyik berbincang dengan lelaki yang ada di depannya. Raina membereskan minumannya, menghampiri Karina, mengajak Karina untuk pulang. Karina yang didatangi oleh Raina juga langsung bergegas untuk pulang, meninggalkan lelaki tadi yang sudah menemaninya ngobrol selama hampir 30 menit. Untungnya, Karina sudah sempat bertukar username i********:, cara tercepat untuk bisa berkenalan dengan orang lain. Raina harus menyetir mobil saat ini, Karina bilang, dirinya tidak kuat untuk menyetir mobil. Meskipun Karina masih sadar, tapi ia masih merasa ada efek akibat alkohol yang tadi ia minum. Karina tidak ingin kalau ia yang menyetir, dirinya dan Raina tidak sampai di tempat tujuan, tapi bisa menuju tempat lain dan berakhir di bangsal rumah sakit. Karina tidak ingin itu terjadi, oleh karena itu, ia memerintahkan Raina untuk menyetir mobil ini. Raina juga lebih banyak diam saat mengendarai mobil ini. Raina yang fokus ke arah depannya, hanya ada jalanan kosong yang sudah tidak lagi dilewati oleh ratusan kendaraan, sepi, tapi tidak dengan pikiran Raina. Raina masih ingat bagaimana reaksinya saat ia diajak berkenalan oleh seorang laki-laki, Raina terkesan tidak mau itu terjalin lebih lanjut. Ada perasaan dalam dirinya yang menyebut bahwa hati Raina masih punya orang lain. Raina juga tidak menyangka bahwa melepas Rafli, masih menjadi hal yang sangat sulit untuk ia lakukan. Raina tidak ingin Rafli lepas dari pelukannya, tapi, Raina tidak punya kekuatan dan keberanian untuk membicarakan tentang itu. Ada rasa takut dan malu ketika Raina ingin menghubungi Rafli dan meminta Rafli untuk kembali. Raina takut bahwa ia akan ditolak oleh Rafli, dan Raina memang malu untuk mengawali semua itu. Raina tidak bisa memulai lebih dulu, rasa gengsi juga menyelimuti dirinya. Raina berharap Rafli kembali menghubunginya, entah untuk alasan apapun, Raina menginginkan hal itu terjadi lagi. Putus dari Rafli memang membuat Raina merasa bebas. Raina merasa bahwa dirinya jadi jauh lebih berani dibandingkan ia dalam versi lama. Raina juga mulai berani untuk mengkonsumsi alkohol, padahal sebelumnya Raina tidak berani untuk minum itu, Rafli selalu menjaga Raina, Raina juga ingin mematuhi apa yang Rafli perintahkan kepadanya. Tetapi, tetap ada perasaan yang mengganjal ketika Raina berani melakukan hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Raina takut kehilangan kendali atas dirinya, Raina takut ada di tempat yang tidak seharusnya dan tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa. Hanya Rafli, orang yang bisa Raina hubungi tanpa harus merasa canggung. Raina menangis di dalam hatinya, Raina menginginkan Rafli kembali, tapi Raina juga tidak ingin mengejar Rafli. Raina ingin ia yang dikejar. Raina ingin Rafi lagi yang menghubunginya dan mendatanginya, mengajak Raina untuk kembali menjalin cinta. Tapi, sampai saat ini, Rafli juga masih terkesan cuek pada Raina. Raina masih terus menyebut nama Rafli dalam doanya, berharap Tuhan juga memberi restu dan mengabulkan apapun yang Raina minta. Mentari masih disibukkan dengan berbagai berkas yang ada di depannya saat ini. Penghasilan sebagai penulis, karya yang masih belum juga ‘naik’, membuat Mentari harus lebih pandai untuk mencari uang. Mentari harus mencoba berbagai jenis pekerjaan yang bisa membantunya untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah. Mentari bukan ingin menyerah dari pekerjaannya menulis. Mentari hanya harus mencari celah, antisipasi kalau Mentari Senja tidak punya hasil yang maksimal. Mentari tidak ingin mengandalkan satu keran saja untuk penghasilannya, terlalu beresiko kalau Mentari berpikir seperti itu. --- Bangun di pagi hari adalah salah satu hal yang membuat Rafli selalu kesal. Terlebih lagi, ketika Rafli bangun tidur dan menyadari bahwa ia tidak sedang ditunggu dan menunggu kabar dari siapapun. Rafli hanya mengecek hp-nya, takut kalau ada teman atau rekan kerja yang menghubunginya. Tidak ada pesan dari siapapun, hanya temannya yang mengirim foto dengan seorang perempuan cantik di grup mereka. Rafli hanya tertawa melihatnya, semudah dan segampang itu temannya menemukan wanita lain. Rafli juga tertawa atas kebodohannya yang juga terlalu cepat meninggalkan tempat itu hanya karena melihat Raina dengan lelaki lain. Seharusnya, Rafli bisa lebih berani dan lebih cerdik lagi memanfaatkan situasi. Rafli melihat sosial medianya, sudah lama ia tidak mengunjungi aplikasi yang didominasi warna ungu itu. Tentu saja, sasaran Rafli adalah sosial media milik Raina. Rafli melihat insta story yang Raina unggah semalam. Raina hanya mengunggah foto dirinya dan teman-temannya di tempat itu. Hanya satu foto, tidak ada foto lain. Rafli bisa melihat senyum yang terukir di wajah Raina. Senyum yang selalu membuat Rafli merasa jatuh cinta setiap detiknya. Senyum yang juga tidak Rafli lihat selama beberapa hari ini. Melihat foto Raina saja, sudah membuat Rafli lupa untuk beranjak dari tempat tidurnya dan harus bersiap untuk kerja. Rafli segera menutup aplikasi itu, tidak ingin terjebak lebih lama dengan foto Raina. Rafli tetap harus bekerja. --- Raina sedang bersiap untuk beranjak kerja. Alkohol yang ia minum semalam, tidak menyebabkan dirinya mengalami efek yang tidak mengenakkan. Raina masih merasa bahwa dirinya mampu beraktivitas. Penampilan Raina sudah lengkap, Raina hanya perlu mengambil jam tangannya, yang terletak di laci lemarinya. Raina menuju laci itu, membukanya, pandangannya terhenti ketika ia melihat foto dirinya dan Rafli. Rafli sedang memeluk dirinya, hangat, hati Raina merasa hangat seketika. Raina rindu dengan Rafli. Tidak ingin berlama-lama merasakan kerinduan itu, Raina bergegas menuju kantor. Raina harus kembali bekerja, melakukan aktivitas yang sudah menjadi rutinitas Raina, mengejar rupiah agar ia bisa kembali bersenang-senang. Raina masih dalam perjalanan menuju kantornya. Jalanan Jakarta hari ini, cukup tidak bersahabat. Hujan tadi pagi mengguyur jalanan, banyak pengendara yang harus memperhatikan laju kendaraannya. Macet karena ada putaran dan karena ada beberapa jalan yang masih digenangin air juga menjadi pemandangan pagi ini. Tentu saja, Raina memilih untuk tidak diam saja, di mobilnya kini sudah disetel radio dan sedang memainkan lagu yang sangat cocok untuk dijadikan backsound perjalanan Raina kali ini. Raina tidak ingin mengingat kejadian semalam. Kejadian yang mengingatkannya pada sosok Rafli Raina yang diajak berkenalan, tapi Raina malah memikirkan Rafli. Raina sadar bahwa dirinya memang sangat menginginkan Rafli untuk kembali. Tapi kesadaran Raina itu, sudah dikalahkan oleh rasa gengsinya. Raina jadi enggan untuk menghubungi Rafli. Raina lebih memilih untuk menunggu, setidaknya sampai saat ini, Raina masih berdiri dengan gengsinya, tidak mengikuti kata hatinya. -------- Di tempat kerjanya, Rafli masih harus membereskan pekerjaan yang seharusnya bisa ia selesaikan kemarin, tapi karena ia tidak masuk kemarin, Rafli masih harus menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu yang cukup singkat. Rafli melirik ke arah mejanya, ada notes yang ditulis oleh temannya. Cukup mengherankan memang, beberapa orang di perusahaan ini masih ingin menuliskan notes di meja kerja temannya saat ingin menitipkan pesan. Rafli mencoba membaca notes itu, dan tertulis bahwa Rafli harus mengecek email. Rafli mengecek pesan masuk yang ada di emailnya. Email itu berisi tentang surat Mentari Senja yang akan naik ke best seller di minggu ini. Rafli tersenyum, kerja kerasnya sudah membuahkan hasil. Rafli ingin segera menghubungi Raina, memberi tahu kabar ini. Baru saja Rafli ingin menekan tombol panggilan kepada Raina, Rafli mengurungkan niatnya. Rafli enggan memberi tahu Raina tentang ini dan memilih untuk memberi tahu Mentari Senja. Mentari Senja juga akan memberi tahu Raina tentang ini. Setidaknya Rafli sudah mencegah dirinya untuk kembali terjebak pada Raina. Rafli kembali bergelut dengan tumpukan kertas yang ada di mejanya. Melihat tumpukan kertas ini dan isi dari kertas ini, sudah membuat Rafli sedikit menghilangkan bayangan tentang Raina yang ada di kepalanya. Mabuk semalam, sudah membuat Rafli sedikit tersadar bahwa Rafli memang tidak seharusnya kembali pada Raina. Ditambah lagi dengan kejadian, Rafli yang melihat Raina di club, rasa cinta yang masih tersisa di hati Rafli, sepertinya juga sudah memudar. Rafli merasa bahwa Raina sudah berhasil menjalankan rencananya untuk menjauh dari Rafli. Rafli sadar bahwa mungkin, cintanya tidak lagi untuk Raina. Atau mungkin, Rafli memang sedang tidak butuh cinta, dan tidak perlu membagi cintanya untuk siapapun lagi. Sakit hati yang Rafli rasakan akibat perlakuan Raina, sudah sangat membekas dan melukai hati Rafli. Bagi Rafli, Raina sudah berubah menjadi wanita dewasa sepenuhnya. Mungkin, dijaga dan diawasi adalah 2 hal yang sangat dihindari oleh Raina, begitu pikir Rafli. Rafli juga menyadari ketika mereka bersama, kemarin, terlalu membatasi Raina, Raina bahkan tidak lagi mendatangi club sejak bersama Rafli. Sehingga saat mereka putus, Rafli juga mewajarkan Raina yang masih penasaran dengan dunia itu. Kalau Rafli punya kesempatan untuk kembali bersama Raina. Rafli mungkin akan membebaskan Raina untuk melakukan apa saja yang Raina mau. Rafli tidak akan lagi mengekang Raina, Rafli juga mungkin akan mengajak Raina ke tempat seperti itu, tentu dengan pengawasan Rafli. Rafli tersenyum, cinta yang memudar ini, masih bisa memikirkan orang yang dicintainya. Rafli masih belum bisa melupakan Raina sepenuhnya. ---------- Raina di tidak lagi bisa fokus dengan pekerjaannya saat ini. Presentasi Raina memang sudah selesai sejak siang tadi. Jam pulang kerja juga sudah lewat. Tapi, Raina masih harus menyusun rancangan terbaru kalau saja projek itu diterima oleh atasannya. Kumpulan gambar, grafik, serta nominal-nominal uang, tidak lagi menarik di mata Raina. Raina tidak ingin berhadapan dengan itu semua sekarang. Raina membuka hp-nya, melihat galeri yang berisi foto-fotonya, membuka satu persatu foto dirinya dan Rafli. Ratusan, bahkan ribuan foto antara Rafli dan Raina, ada di folder itu. Air mata jatuh di pipi Raina, Raina rindu, Raina rindu ada di dekat Rafli, Raina rindu dengan semua hal yang ada di Rafli. Raina ingin kembali pada Rafli. Raina ingin segera bertemu Rafli. Raina membereskan semua perlengkapan yang ada di mejanya. Raina bersiap untuk pulang. Raina ingin langsung menghambur ke pelukan Rafli. Di sinilah Raina sekarang, duduk di belakang setir kemudi, mobilnya membelah jalanan Jakarta. Raina berusaha mempercepat laju mobilnya, Raina juga beberapa kali mendahului pengguna jalan yang terasa lambat. Raina ingin langsung bertemu dengan Rafli. Tidak ada yang lain yang Raina pikirkan saat ini, Raina hanya memikirkan Rafli. Tidak peduli Raina akan ditolak atau tidak, Raina juga tidak peduli kalau ia akan diusir oleh Rafli. Raina hanya tau dan hanya mau satu hal, Rafli. Raina ingin Rafli kembali kepadanya, tidak peduli bagaimanapun caranya.. .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN