#CH-Sesal

2178 Kata
Raina masih bergelut dengan pekerjaannya, meski jam pulang kantor sudah lewat dari satu jam yang lalu. Raina masih harus mengerjakan materi presentasi yang harus ia jelaskan, pada esok pagi. Raina tidak ingin presentasinya ini berantakan, semua harus dipersiapkan dengan sempurna oleh Raina. Raina bahkan tidak ingin untuk menghabiskan waktunya dengan sia-sia, seperti mengecek sosial medianya atau bahkan untuk minum kopi santai bersama dengan beberapa teman kantornya di pantry. Raina tidak tahu pasti, sejak kapan ia mulai bekerja dengan giat seperti ini. Raina yang dulu hanyalah karyawan yang selalu pulang lebih awal, lebih awal, bahkan sebelum waktunya pulang. Raina jarang sekali mengambil jatah lembur. Tentu, Raina tidak ingin kalau jadwal tidurnya, jadwalnya untuk menulis, jadwalnya untuk pacaran jadi terpotong. Sejak putus dengan Rafli beberapa hari yang lalu . Raina memang tidak merasakan sedih atau kehilangan, atau apapun. Raina hanya ingin menjauh sementara dari Rafli, itu saja. Menurut Raina, Menjauh adalah salah satu tahap yang harus dijalankan ketika sedang tidak menyukai orang itu. Raina memang sedang tidak suka dengan Rafli, tidak suka dengan omongannya yang tidak sesuai, tapi Raina masih menyimpan perasaan kepada Rafli. Percayalah, Raina masih cinta dengan Rafli. Raina juga tidak ingin kalau ia terus menerus berpacaran dengan Rafli, Rafli jadi sewenang-wenang terhadapnya, seperti kasus Mentari Senja ini. Rafli hanya terus menerus berjanji dan mengumbar ucapan manis, tapi tidak ada satupun yang menjadi nyata. Jadi, Raina meninggalkan Rafli, saat ini, juga agar Rafli bisa sadar dengan kesalahannya. Raina masih ingin terus mencari bahan untuknya presentasi, hingga temannya menepuk pundaknya. Raina yang merasa bahwa pundaknya ditepuk oleh seseorang, menengok ke arah sumbernya. “Ngapain?” Tanya Raina “Lo, tumben, rajin banget kerja, Nay. Kata temannya. “Iya nih, besok gue ada jadwal presentasi. Harus disiapin semateng-matengnya, biar divisi gue, dapat projek lagi. Lumayan, ngincer cuan.” Kata Raina. “Yah, orang kaya lo. Masa ngincer uangnya dari sini sih, Nay.” Kata temannya, dan diakhiri dengan tertawa yang tipis. “Mepet.” Kata Raina. Raina mengalihkan pandangannya lagi. Mencoba fokus lagi ke layar komputer. Mencari satu demi satu data yang akan berguna ketika ia presentasi nanti. Kerjaan ini sih, memang kerjaan divisinya, tapi, berhubung Raina sangat perfeksionis, menurut orang-orang, jadi Raina-lah yang diperintahkan oleh atasannya untuk membuat bahan presentasi esok pagi. Tentu saja, Raina tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Raina harus tampil semaksimal dan sebaik yang ia bisa. Raina juga sudah memberi tahu teman-teman satu divisinya. Raina bilang, bahwa ia yang akan merapikan semua ini. Teman satu divisinya hanya bisa percaya pada Raina, karena Raina mengucapkan itu sambil berteriak keras dengan harapan semua teman divisinya bisa tahu dan tidak akan bingung untuk memuji Raina nanti. Raina tersenyum, tidak ada jalan di suatu perjalanan yang selalu berjalan mulus. Semua jalanan itu, pasti akan ada jalanan yang berbelok, berbatu, atau bahkan ia bisa salah jalan. Semua perjuangan ini akan Raina lakukan. Raina tidak bermaksud sombong juga pada teman-temannya kalau ia bisa mengerjakan dan melakukan semuanya. Raina juga beberapa kali diminta teman-temannya agar menolong mereka membuat presentasi yang menarik. Raina tidak serta-merta memberi tahu mereka. Raina tahu Batasan apa yang harus dilewati, tidak dilewati, atau bahkan didekati oleh teman-teman dekat mereka. “NAY, udah yuk pulang. Lo ngapain sih, betah banget, gua udah mau nyusulin yang lain nih.” Temannya memanggil Raina dengan suara yang sudah cukup keras. Raina juga bisa mendengarnya dengan jelas. Raina hanya masih ingin mencari dan memastikan kembali materi yang sudah ia temukan tadi. Raina tidak ingin puas begitu saja dengan hasil yang sudah dikerjakan oleh teman-temannya. Tapi, Karina, orang yang memanggil raina, barusan, bilang bahwa ia sudah akan pulang dan akan menyusul ke tempat teman kantor yang lain. Raina menghela nafas, rasa hatinya untuk tetap mengerjakan presentasi, sedang tinggi. Tapi, pergi berkumpul, bercengkrama dengan teman-temannya, juga kegiatan yang baik untuk diikuti. Raina tidak peduli bahwa mereka membawa minuman beralkohol, Raina masih baik-baik saja, Raina hanya tidak ingin dirinya yang meminum alkohol itu sebanyak teman-temannya. Takut, kalau Raina tidak bisa mengendalikan apa yang selama ini sudah ia jaga. “Ayo, buruan, kalo lu mau ikut.” Kata Karina. Raina terdiam, menatap punggung temannya itu yang sudah pergi menjauh. Di ruangan ini, hanya berisikan Raina seorang saja, kadang masih terdengar dan terlihat beberapa office boy yang sedang bekerja ini. Raina bangkit dari tempat duduknya. Tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bisa bersenang-senang bersama teman-temannya. Tidak butuh waktu lama untuk Raina merapikan tempat kerjanya. Raina sudah setengah berlari untuk menghampiri temannya yang sudah bersiap untuk jalan. “Tuh kan, Nay. Gue bilang juga apa. Enakan juga minum bareng-bareng, dibanding elo nih, yang harus minum sendiri. Nggak kebayang si gue, jadinya kaya apa kalo gue minum sendiri. Hampa banget, Nay. Dah yuk ah, kita berangkat nih.” Kata Karina. Raina hanya tersenyum, ucapan Karina memang benar. Raina yang sudah mencoba untuk minum beberapa mili dari sebotol alcohol itu, rasanya sudah ingin minum lagi, tidak ada suasana yang mendukungnya untuk minum alkohol itu. Padalah, biasanya, Raina punya kadar toleransi yang cukup tinggi terhadap alcohol. Di perjalanan menuju teman-teman kantornya yang lain. Raina teringat pada Rafli yang selalu memperingatkannya untuk tidak minum-minuman keras, Raina hanya membalas ucapan itu dengan kalimat yang sangat konyol. “Kamu pikir, aku ini bayi ya, sampai kamu harus larang-larang aku minum.” Kata Raina, dulu. “Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa pas aku lagi nggak ada di samping kamu, sayang.” Kata Rafli. Sialnya, badai memori kembali terjadi di pikiran Raina. Banyak sekali hal-hal kecil yang mengingatkan Raina pada sosok Rafli. Raina yang harus selalu menuruti perintah Rafli untuk kebaikannya sendiri, Raina yang tidak perlu takut, kalau ia kehujanan di jalan karena harus melihat dan mendengar banyak petir, karena selalu ada Rafli yang menemaninya saat berkendara saat itu. Rafli juga yang mengingatkan kepada Raina untuk tidak minum terlalu banyak saat bersama dengan teman kantornya, Rafli takut ia yang tidak bisa hadir saat Raina membutuhkan bantuannya. Raina juga masih pernah bertanya tentang ini dan jawaban Rafli selalu berbeda. “Kalo kamu lagi nggak sadar pas sama mereka, nanti mereka yang untung, ngeliat kamu pas lagi kayak gitu. Kamu jadi jauh lebih cantik.” “Kalo kamu nggak sadar, nanti kamu bisa diperdaya sama mereka, aku nggak mau kamu sampai mengalami kejadian yang kaya gitu.” “Kalo kamu nggak sadar, nanti aku jadi bingung, Nay. “ Kata Rafli. “Bingung gimana?” Kata Raina. “Kamu terlalu cantik untuk ikut hal-hal nggak berguna kaya gitu, yang.” Kata Rafli, sambil menyelipkan rambut Raina di samping telinga Raina. Raina yang mendengar itu, hanya bisa tersenyum dan menenggelamkan kepalanya, di pelukan Rafli. Malu. Perut Raina seperti di isi oleh ratusan kupu-kupu. Rafli selalu ingin menjaganya, Rafli tidak ingin Raina terjebak dan ikut dengan pergaulan yang seperti itu. Sekarang, Raina justru kembali untuk ikut melakukan itu. Tidak ada yang melarang, tapi Raina sedang ingin untuk dilarang. Raina tidak tahu bagaimana cara menghentikan dirinya untuk tidak ikut minum bersama yang lainnya. Raina menatap ke arah luar, jalanan yang kini sudah dipenuhi oleh beberapa motor yang sudah terparkir rapi di pinggir jalan, ramai, jalanannya kembali ramai. Tidak seperti Raina, yang masih merasa sepi. Raina kembali merasakan kerinduan pada Rafli. Di tengah perjalanan Raina ini, Raina lebih banyak diam. Raina mencoba untuk merenungkannya, merenungi Rafli yang tidak lagi menanyakannya. Rafli juga tidak melihat insta story yang diunggah oleh Raina semalam. Entah kemana dan di mana keberadaan Rafli. Tapi yang pasti , sebagian dari diri Raina masih menginginkan Rafli untuk kembali ke pelukannya. Rafli masih merasa sedih atas dirinya yang ditinggal oleh Raina. Wanita yang sudah ia jaga, kembali memutuskan cintanya. Rafli tidak tahu pasti apa salahnya sampai Raina kembali memutuskannya. Rafli sudah terlalu sedih. Rafli sudah tidak masuk kerja selama 2 hari, di kamarnya saat ini, Rafli hanya membuka lebih banyak minuman untuk membantunya melupakan kesedihannya. Entah sudah berapa banyak batang rokok yang Rafli hisap dalam semalam. Rafli berharap, isapannya yang semakin kuat dan asap rokok yang keluar dari mulutnya itu, juga mampu membuang bayangan Raina dari pikirannya. Rafli tidak ingin lagi merasakan kesedihannya, tapi, seperti kata kebanyakan orang, sedih yang berusaha dilupakan justru akan semakin ada dalam ingatan. Rafli yang sedang mencoba untuk membuka satu botol lagi, harus menghentikan aktivitasnya karena hp-nya berbunyi. Teman sepermainannya, menelponnya. “Halo, di mana bro?” Tanya temannya. “Biasa.” Jawab Rafli , dengan suara yang agak lemah. Rafli mendengar suara temannya yang tertawa, bukan hanya satu orang saja yang tertawa, tetapi ada banyak suara tertawa yang bisa Rafli dengar. “Sini aja lah, dari pada lo minum sendirian.” Ajak temannya. Rafli langsung mengerti bahwa temannya ingin Rafli mendatanginya, agar Rafli tidak lagi merasakan kesedihan dan kesepian karena ditinggal oleh wanita kesayangannya. Botol yang tadi sudah ada dalam genggaman Rafli, Rafli letakkan kembali di bawah kolong tempat tidurnya. Rafli mulai merapikan dirinya kembali, penampilannya harus tetap terjaga meski hatinya sedang retak berkeping-keping. --- Raina sudah sampai di tempat, dan sudah bertemu dengan teman-teman kantornya. Mereka sudah berganti baju. Sudah menjadi rahasia umum di antara mereka. Selalu membawa baju ganti di mobil masing-masing. Jaga-jaga kalau mereka ingin langsung pergi dan bersenang-senang. Raina juga sudah berganti baju. Hanya dress berwarna hitam dengan panjang selutut. Tidak terlalu pendek untuk dirinya. Raina masih mengingat kata-kata Rafli, Raina hanya harus mengenakan pakaian yang membuat dirinya nyaman. Datang untuk minum, bukan untuk dance, sudah cukup membuat Raina memilih dress ini. Tunggu…. Raina masih mengingat Rafli. Raina meneguk minuman yang sudah ada di hadapannya. Berusaha untuk menghilangkan Rafli dari pikirannya. Raina masih sibuk mencari keberadaan teman-temannya yang kini nampaknya sudah berpencar, sibuk dengan urusannya masing-masing, hanya ada 3 orang temannya yang satu meja dan mereka juga tengah berlomba untuk minum sebanyak-banyaknya. Tentu saja, Raina tidak ingin bergabung di meja itu. Raina masih ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Raina harus dikagetkan dengan orang yang tiba-tiba saja menepuk Pundak Raina. Raina menoleh, seorang laki-laki yang sedang mengulurkan tangan di depannya. Laki-laki itu, sedang mengajak Raina untuk berkenalan. Raina juga mengulurkan tangannya, menerima perkenalan yang diajukan oleh lelaki itu. “Lo, sama siapa? Gue liat, lo dari tadi lagi sibuk nyariin orang.” Kata lelaki itu. “Temen kantor gue.” Jawab Raina. Sejujurnya, Raina sangat tertarik dengan lelaki di hadapannya. Tetapi hatinya, seakan kaku dan menolak untuk bicara dengan Lelaki itu. Lelaki itu masih terus bertanya tentang Raina, termasuk menanyakan tentang kekasih hati Raina. Raina menjawabnya dengan ragu. Raina ragu mengatakan bahwa ia sudah putus dengan Rafli. Meski kenyataannya seperti itu, Raina masih ingin bukan itu yang terjadi, Raina ingin Rafli yang mengajaknya kembali menjalin cinta. Lelaki itu masih beberapa kali mengajak Raina berbicara. Raina hanya menanggapi dengan singkat setiap pertanyaan yang diajukan oleh lelaki itu. Secara fisik, lelaki itu memang menarik di mata Raina. Tapi hati Raina, masih dimiliki oleh Lelaki lain, sudah jelas, masih Rafli. Hingga akhirnya lelaki itu meninggalkan Raina yang hanya duduk sendiri di bangku depan meja bartender. Sebelum pergi lelaki itu meninggalkan satu kertas, berisi nomor telepon, dan menyerahkan kepada Raina di tangan kiri Raina. Raina melihatnya kertas yang diselipkannya, tersenyum. Raina langsung menyimpan di dalam clutch bagnya. Berharap bahwa kertas itu, suatu saat akan berguna. Rafli tidak menyangka, tempat duduk yang dipilih oleh temannya, membuatnya jadi semakin sedih. Di seberang sana, Rafli melihat Raina, dengan dress hitam yang membalut tubuhnya, membuat Raina menjadi semakin cantik sekarang, sedang berbincang dengan seorang laki-laki. Dari tempat duduk Rafli. Rafli bisa melihat jelas, setiap pergerakan yang dilakukan oleh Raina. Melihat kejadian itu, ingin rasanya Rafli akan mendatangi mereka, dan pasti akan langsung menghajar lelaki itu, mencoba memberi peringatan bahwa lelaki itu tidak seharusnya mendekati wanitanya. Tapi, niat Rafli seakan sirna, ketika melihat Raina yang juga terlihat senang dan terlihat menanggapi obrolan itu. Rafli tidak bisa melihat pemandangan itu, hatinya masih belum bisa menerima. Rafli juga lebih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Raina justru menyimpan nomor yang lelaki itu berikan. Rafli menatap Raina tidak percaya. Raina sudah begitu cepat untuk melupakan dirinya, sedangkan Rafli justru masih berada di posisi yang sama dan tidak ingin beranjak. Rafli merasa menjadi lelaki yang paling payah, berusaha melupakan orang lain dengan benda lain. Rafli merasa tidak dihargai oleh Raina, Raina sudah berhasil menjatuhkan harga diri Rafli. Secepat itu bagi Raina untuk melupakan Rafli, hanya dengan datang ke tempat ini, berkenalan dengan pria, menyimpan nomor itu, dan pasti kisah itu akan terus berlanjut. Rafli meratapi dirinya yang begitu malang. Tidak dicintai sepenuhnya dan merasa sia-sia dengan apa yang sudah ia lakukan untuk Raina selama ini. Raina memang tidak pernah menganggap dirinya ada. Seharusnya, Rafli bisa lebih cepat sadar. Raina yang dengan tiba-tiba saja menjauh. Raina yang tiba-tiba memutuskannya tanpa alasan yang jelas. Raina yang tiba-tiba datang lagi ke tempat ini, untuk minum, padahal dulu, ia yang meminta Rafli untuk tidak dekat-dekat lagi dengan minuman alcohol ini. Raina juga yang ingkar. Rafli tersenyum sinis ke arah Raina yang kini sedang menenggak minumannya. Raina bahkan tidak menyadari Rafli yang sudah melihatnya dari puluhan menit yang lalu. Rafli semakin mengakui kehebatan Raina. Raina bukan wanita yang ia kenal selama ini. Rafli tidak ingin terus menerus melihat Raina yang terlihat baik-baik saja. Rafli merasa ini tidak adil. Rafli keluar dari tempat itu, dengan menggunakan kesadaran yang tersisa, Rafli kembali ke rumahnya. Di perjalanan pulangnya, Rafli menyesali dirinya yang menerima ajakan temannya untuk minum bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN