#CH-Telepon

2106 Kata
Rafli masih menunggu kabar dari Raina, Raina bilang bahwa ia akan menghubungi Rafli, nanti setelah jam pulang kerja. Raina masih terjebak macet sekarang. Rain juga bilang bahwa ia habis lembur. Banyak kerjaan yang harus diselesaikan, banyak pikiran yang sedang ada di dalam otaknya, semuanya membuat Raina pusing. Rafli yang mendengarnya merasa iba, kekasihnya, sedang mengeluh dan menceritakan betapa sulit hari-hari yang dilewatinya. Rafli merasa tambah bersalah, Raina yang sedang kesulitan untuk melewati hari-harinya, sementara Rafli malah berpikiran buruk tentang Raina. Rafli menyalahkan dirinya atas ketidakmampuannya untuk lebih peka terhadap apa yang sedang Raina lakukan. Telepon Rafli berdering, ada panggilan masuk untuknya, dari Raina. Rafli tidak perlu menunggu dirinya untuk meyakinkan bahwa ia menerima telepon dari Raina, telepon yang dari tadi sudah Rafli tunggu. Rafli langsung mengangkat telepon itu, tidak ingin Raina menunggu lama. “Halo, gimana, yang.” Kata Rafli, Rafli terlalu bersemangat untuk berbicara dengan Raina, Rafli tidak menunggu Raina yang membuka pembicaraan ini, Rafli ingin dirinya yang bersemangat, agar Raina juga terbawa dengan suasana yang Rafli buat. Rafli ingin dirinya yang menyebarkan efek ke Raina, bukan hanya Raina yang memberikan efek kepada Rafli. Rafli ingin dirinya jauh lebih berguna untuk Raina. “Aku cape.” Kata Raina. “Iya, sabar ya, aku ngerti kok.” Kata Rafli. “Bukan, bukan itu.” Kata Raina. “Terus, apa?” Tanya Rafli. “Aku cape, sama kita.” Rafli baru ingin bertanya, apa kesalahannya sampai Raina bisa berkata seperti itu. Rafli hendak bertanya, tapi Raina langsung melanjutkan kalimatnya. “Udah ya, aku istirahat dulu. Kamu juga. Kamu istirahat. Ini nggak baik, buat kita berdua. Aku nggak bisa, Raf. Aku nggak bisa punya hubungan sama orang yang bahkan nggak sesuai sama omongannya. Kamu terlalu pandai untuk bohongin aku, Raf. Aku kecewa banget sama kamu, Raf.” Kata Raina. Raina langsung mematikan teleponnya, memutus panggilannya dengan Rafli, bukan hanya itu, Raina juga memutuskan rafli untuk yang kedua kalinya dalam waktu yang berdekatan. Rafli masih terdiam, otaknya berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Rafli masih berharap bahwa itu hanya khayalannya semata. Rafli melihat kembali history call di handphonenya, berharap bahwa Raina belum menghubunginya atau ia berharap bahwa telepon dari Raina yang ia dengar tadi, tidak ia angkat. Rafli menarik panjang nafasnya, rasa sesak sudah memenuhi pernapasannya. History call yang ada di layarnya sudah menunjukkan nama Raina di sana, lengkap dengan waktu lamanya panggilan. Rafli mencoba mengingat apa yang dikatakan Raina tadi di telepon, Rafli tidak bisa mengingat dengan jelas. Rafli hanya bisa mengingat tentang dirinya yang tidak sabar menunggu raina untuk menelponnya, Rafli yang sangat antusias untuk mengangkat telepon dari Raina, bahkan menyapa Raina terlebih dahulu. Rasanya, semua itu baru terjadi, rasa senang yang ada di dalam diri Rafli, baru saja terjadi. Tapi sekarang, digantikan dengan patah hati lagi. Raina mengucapkan kata putus untuk yang kedua kalinya. Rafli kembali merenungi kesalahannya. Rafli menyalahkan dirinya sendiri atas perilakunya yang tidak memperdulikan Raina bahkan cenderung mengabaikan Raina juga. Rafli ingin memutar waktu, untuk memperbaiki kesalahannya, ralat, hal yang ia anggap salah. Rafli tidak ingin kehilangan Raina, lagi. Seharusnya, perpisahan yang terjadi kemarin, sudah cukup menjadi pelajaran untuk dirinya. Tapi, Rafli masih juga melakukan kesalahan yang membuat Raina tetap ingin pergi dari dirinya. Rafli berharap ia bisa memutar waktu, memperbaiki kesalahannya dan membuat semuanya bisa kembali seperti semula. ---- Raina masih berdiam diri kasurnya. Raina yang lelah karena bekerja, lelah karena harus terus menerus dikejar target, dan ia yang lelah menanti kabar Mentari Senja yang masih belum juga naik ke jajaran best seller. Rasa lelah, kesal, marah, sedih, dan kecewa, sudah menjadi satu dan bercampur di dalam hati Raina. Raina kesal dengan teman satu divisinya, yang menurut Raina, tidak bisa bekerja. Teman saut divisinya yang selalu minta bantuan Raina dan selalu bertanya tentang langkah selanjutnya yang harus dikerjakan. Raina yang awalnya selalu ikhlas dan tulus sepenuh hati ketika membantunya. Lama kelamaan, Raina justru merasa kesal. Temannya ini sudah bukan lagi meminta bantuan, tapi meminta Raina yang menyelesaikan pekerjaannya secara tidak langsung. Raina yang kesal memilih untuk tidak memarahinya, tetapi memilih untuk meninggalkan temannya itu. Raina juga kesal dengan Rafli yang tidak lagi memperhatikannya. Rafli mulai tidak bertanya menu makan siang Raina, tidak bertanya kendaraan yang akan Raina untuk ke kantor. Rafli juga tidak menelpon Raina setiap malam. Entah karena sibuk dengan pekerjaan, atau Rafli yang sudah tidak mau untuk memberi perhatian kepada Raina. Memang benar, beberapa hari yang lalu. Raina menerima ajakan Rafli untuk menonton film. Tapi, Raina saat itu sedang kesal karena Rafli menghilang seharian dan sama sekali tidak memberi kabar untuk Raina. Raina tidak mau menerima begitu saja ajakan dari Rafli. Raina tidak ingin bahwa ajakan Rafli untuk menonton bioskop, seolah untuk menebus kesalahannya itu. Raina juga merasa bahwa dirinya tidak menghindari Rafli. Sejujurnya, Raina memang lebih memilih untuk nonton dengan teman-teman kantornya, karena mereka sedang punya pembahasan yang seru, berita terbaru di kalangan mereka. Perihal insta story, Raina memang harus untuk re-post, aturan pertemanan, kalau Raina tidak mengunggah ulang postingan yang menyebutkan dirinya, Raina bisa dicap sombong oleh teman-temannya. Tentu saja Raina tidak mau dirinya diberi label jelek seperti itu. Raina hanya tidak terima dengan semua perlakuan Rafli yang hanya pandai bicara. Tidak ada satupun omongan Rafli yang terbukti. Rafli selalu mudah untuk bicara, tapi tidak pernah mewujudkan omongannya. Contoh nyata, dan contoh yang sudah ada di depan mata Raina, adalah Rafli yang mengucapkan kata-kata manis tentang Mentari Senja. Sudah tidak perlu ditanyakan lagi, bagaimana senangnya Raina ketika Rafli mengabarkannya bahwa Mentari Senja akan segera ‘naik’ ke posisi yang Raina inginkan, waktu itu, Rafli bilang bahwa, Raina tinggal menunggu beberapa hari saja. Ini bahkan sudah lewat satu bulan. Raina belum menerima kabar lanjutan tentang Mentari Senja. Rafli bahkan terus menerus bertingkah laku yang seakan memancing Raina untuk kesal pada dirinya. Raina mulai berpikir logis, tidak mau lagi melihat Rafli yang hanya berucap kata-kata manis, tapi tidak ada hasilnya. Raina sudah tidak ingin dengan Rafli yang terus-menerus akan membohonginya. Raina ingin sendiri saja, sampai Rafli bisa membuktikan omongannya sendiri. Mungkin dengan Raina yang pergi, Rafli akan berusaha lebih keras untuk bisa membuktikan itu. Raina butuh Rafli sebagai lelaki yang bisa dipercaya omongannya, bukan hanya Rafli yang terus menerus menjual kata-kata manisnya. Untuk beberapa hari ke depan, Raina pasti akan bersenang-senang kembali dengan teman-teman kantornya. Sekarang, setelah Raina memutuskan hubungannya dengan Rafli, untuk yang kedua kali, Raina tidak merasakan apa-apa. Tidak ada sparkling seperti awal mereka kembali bersama bulan lalu. Raina tidak juga merasakan sedih, yang Raina pikirkan hanya cara untuk bersenang-senang dengan teman-temannya, kembali berhura-hura dengan uang terbatas yang ia miliki. Tidak peduli dengan keadaan Rafli saat ini, karena Rafli juga tidak memperdulikan Raina kemarin-kemarin. ----- Mentari masih sibuk dengan masakannya dan tidak mendengar telepon masuk untuk dirinya. Sudah tiga kali, nomor yang sama mencoba menghubungi Mentari, tapi Mentari tidak mendengar deringnya. Mentari mendekati teleponnya, mencoba untuk melihat siapa yang telah menelponnya hingga berkali-kali. Mentari mengernyitkan alisnya, heran. Nomor yang menelponnya tidak ia beri nama, siapa orang ini hingga harus menelpon Mentari berkali-kali. Mentari masih memandangi hp-nya, mencoba menebak siapa orang yang teleponnya tidak ia jawab. Telepon itu kembali berdering, nomor yang sama menelpon Mentari lagi. Mentari mencoba untuk mengangkat telepon itu, penasaran dengan penelponnya. “Halo, Ya. Dari mana aja?” tanya penelpon itu. Mentari diam sejenak, ia merasa mengenal suara yang ada di seberang sana. Mentari tidak akan pernah lupa dengan suara Lelaki itu. Lelaki yang membuat hidupnya seperti ini, jauh dari keluarga dan dititipkan satu orang anak yang Mentari harus biayai dengan jerih payahnya. Mentari diam, masih tidak ingin berbicara dengan Lelaki itu, Mentari bingung harus merespon bagaimana lagi. Rasa marah, sedih, dan rindu sudah menjadi satu di dalam hatinya. Mentari tidak bisa membohongi diri sendiri, bersama dengan Lelaki itu memang menyakitkan, tapi berpisah dengannya juga sangat menyakitkan. Ada rasa rindu yang mengisi hati Mentari saat Lelaki itu kembali membuka suaranya dan memanggil namanya. Bagaimana tidak rindu, dahulu, suara itu yang selalu saja mengisi hari-harinya. Hampir seharian penuh mereka selalu bersama. Mentari sudah menganggapnya sebagai bagian dari hidup Mentari. Hampir tiap malam, tidak peduli itu malam apapun, mereka hampir selalu bersama, hampir setiap malam. Mentari yang sudah hafal dengan semua kebiasaan, Lelaki itu yang selalu memakai kaus kaki ketika keluar di malam hari. Mentari pernah bertanya tentang hal itu, laki-laki itu hanya menjawab, bahwa ia tidak ingin kakinya masuk angin. Mentari hanya tertawa mendengar gurauan yang keluar dari mulut lelaki itu. Mentari bahkan rindu dengan sosok lelaki itu yang selalu memahami apa yang Mentari mau, bahkan sebelum Mentari mengucapkan apa yang ia mau kepada lelaki itu. Paling pengertian. Lelaki dan manusia yang paling mengerti tentang keadaan Mentari. Tanpa Mentari sadari, mengingat serpihan memori antara dirinya dan lelaki itu, selalu memancing air matanya untuk turun. “Halo, Ya. Ini kamu masih denger aku nggak sih.” Kata Lelaki itu. “Halo, Yaya.” Panggil Lelaki itu. Mentari masih meletakkan handphone-nya di telinganya, masih mendengar suara lelaki itu. Mentari masih ingin menikmati suara dari lelaki itu, ayah dari anaknya. Lelaki yang juga meninggalkan Mentari dengan alasan yang tidak bisa dimengerti. “Ya.” Panggil lelaki itu, sekali lagi. Mentari sudah siap untuk menangis, rongga d**a Mentari sudah dipenuhi dengan udara sesak, menunggu untuk dimuntahkan dalam bentuk tangisan. Mentari menekan tombol pemutus panggilan. Tidak ingin mendengar dan mengingat sosok lelaki itu, jauh lebih lama. Mengingatnya hanya sekilas saja, sudah berhasil membuat Mentari selalu mengeluarkan tangisannya. Apalagi kalau Mentari harus berbicara dengan normal kepada Lelaki itu. Tidak heran kalau selama ini, demi menyembunyikan tangisnya, Mentari lebih ingin berteriak dan memaki lelaki itu. Mentari merasa lebih aman ketika mengeluarkan perasaannya dengan membentaknya, seolah itu adalah cara terbaik untuk menyembunyikan kerinduan yang teramat dalam kepada Lelaki itu. Mentari sudah berulang kali merasa dirinya bodoh, sudah ditinggalkan begitu saja, tapi masih tetap bertingkah seolah ia menerima Lelaki itu kembali. Mentari mengalah, demi mengikuti kata hatinya. Mentari memang masih mencintai Lelaki itu, ayah dari anaknya, Lelaki yang juga meninggalkannya saat ia tengah berjuang untuk melahirkan anaknya. Mentari tidak kuat untuk menahan tangisnya, hanya dengan melihat anaknya yang sedang tertidur di dekatnya, tangisnya justru semakin deras. Mentari harus menahan suara tangisannya demi tidak membangunkan anaknya yang baru tertidur 30 menit yang lalu. Mentari hanya bisa melangkah menjauhi anaknya dan menangis di dekat pintu dapur rumahnya, tangisan yang sudah Mentari tahan sejak kemarin-kemarin, emosi yang Mentari pikir sudah hilang, bahkan rasa cinta yang menurutnya sudah tidak ada. Kini, kembali bangkit dan menampakkan dirinya, hanya karena Mentari mendengar suara Lelaki itu, menyebut namanya kembali, nama panggilannya. Nama panggilan yang diberikan oleh Lelaki itu, sesaat setelah Lelaki itu mengutarakan perasaannya. Nama panggilan, yang sampai sekarang, Mentari tidak tahu apa artinya, dan tidak juga menanyakan nya. Mentari hanya senang dengan panggilan aneh dari Lelaki itu yang ditujukan untuknya. Mentari tahu, kalau ia menahan tangisnya kali ini, lagi, dan untuk yang kesekian kalinya. Mentari hanya akan menunda meledaknya bom waktu di dalam dirinya. Mentari lebih memilih untuk meluapkan tangisannya sekarang. Mentari menangis, pelampiasan terbaik yang Mentari tahu, untuk saat ini. Karena bagi Mentari, tidak ada yang lebih menyakitkan bagi dirinya, selain harus terus teringat pada kenangan yang juga menyakiti dirinya. Malam itu, dengan masakan Mentari yang sia-sia -tidak jadi dimakan- Mentari hanya bisa tidur di dekat anaknya dengan air mata yang masih turun dan membasahi pipinya. Rasa rindu, marah, kecewa, sayang, dan semua perasaan itu, masih Mentari tujukan kepada Lelaki itu. Terlebih dengan Mentari yang sekarang sedang melihat anaknya tertidur. Mungkin akan jauh lebih menyenangkan, kalau Lelaki itu ada di sisi lain kasurnya, dan mengusap anaknya juga, seperti yang sekarang Mentari lakukan. Mentari tersenyum indah membayangkannya. Tidak ada cinta yang hilang menurut Mentari, tidak juga berpindah cinta yang dirasakannya, cinta Mentari untuk lelaki itu, masih tetap ada. Mentari tidak tahu, harus sampai kapan, dan harus bagaimana mengelola semua perasaan yang ia punya. Selama ini, semua perasaan Mentari hanya bisa diungkapkan sepenuhnya, melalui tulisan-tulisan yang sudah diterbitkan kemarin-kemarin. Mentari tidak sanggup, dan tidak akan pernah sanggup untuk menyembunyikan cintanya, berkali-kali Mentari memarahi Lelaki itu ditelepon, dan berkali-kali juga Mentari harus menyesal karena sudah meneriaki Lelaki meski hanya lewat telepon, dan selalu berakhir dengan Mentari yang menangis karena menyesal. Mentari tidak sanggup kalau harus mendiamkan Lelaki itu. Telepon masuk dari Lelaki itu, memang salah satu panggilan yang ia tunggu. Meskipun, selama ini, lelaki itu juga hanya menanyakan anaknya, tanpa terlalu banyak menanyakan Mentari. Itu saja, sudah membuat Mentari merasakan kebahagiaan. Mentari mengambil nafas panjang. Tidak ingin lagi untuk mengingat Lelaki itu, untuk malam ini. Sialnya, foto yang ada di samping meja tempat tidurnya, masih kembali mengingatkannya pada sosok lelaki itu. Foto Mentari dan Lelaki itu sedang tersenyum manis ke arah kamera. Seolah mereka berdua -pada saat itu- sedang berusaha memberi tahu dunia, bahwa mereka bahagia karena orang yang ada di sebelahnya. Air mata Mentari kembali turun, menemani tidurnya untuk malam ini, lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN