Wisata Masa Lalu

1396 Kata

Saliva itu tertahan dalam kerongkongan, tak mampu untuk dikeluarkan ataupun ditelan. Benda itu bersarang di tengah tengah membuat si empu merasa tak nyaman, "Kalo lo mau nangis, tumpahin aja, Nay. Gue temenin." Kata Ronald memandang Raina. Empatinya begitu dalam, hingga pelupuk matanya pun ikut membendung beberapa air mata, "Nay...gue tau perasaan lo gimana." "Lo gak tau, Nald. Gak pernah ada yang tau perasaan gue. Jadi gue tuh gimana. Mereka gak ada yang tau dan mau tau." Raina menyanggah, "Mereka cuman taunya kalo gue tuh anak tunggal dari orang tua yang kerja di perusahaan sama punya rumah makan. Udah itu doang." Raina menyeka air matanya agar tak jatuh membasahi pipi. "Ya kan namanya juga orang, Nay. Mereka cuman tau luar nya doang. Kalo dalemnya mah cuman diri sendiri dan Tuhan ya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN