" Udah Lah Miii... ngalah dikit buat perusahaan. ini juga kan demi ke untungan loe juga." Hampir seminggu Moumi belum juga meminta maaf secara pribadi pada Bayu. Manda sepertinya juga risih dengan banyaknya orang yang komplain masalah ini.
Para pemegang saham tidak ingin rugi dengan project yang di tawarkan oleh pengusaha muda se-Asia itu. Mereka sudah menghitung hasil yang di dapatkan kelak akan banyak memberi pundi pundi rupiah untuk mereka.
" ya udah atur sana jadwal buat gue ketemu sama Bayu." pinta Noumi yang akhirnya mengalah
" kalau loe buat jadwal dulu itu berarti bukan minta maaf secara pribadi Mii. Loe datang aja ke kantornya udah beres kan."
" terus gue harus gimana Man." Noumi sebenarnya mengerti apa yang di minta mereka tapi ia masih enggan untuk melakukannya. Mendatangi Bayu ke kantornya itu bukan minta maaf secara pribadi tapi atas nama perusahaan namanya.
" loe pintar kan, masak gue harus jelaskan secara detail sih." Manda merasa kesal sendiri dengan tingkah bos sekaligus sahabatnya itu.
Malas bicara panjang lebar kali tinggi yang ujung ujungnya sama arti, ia lebih memilih keluar dari ruangan Noumi.
Noumi mengambil ponsel dalam tasnya. Mencari kontak Bayu di sana. Lama ia memandangi nomor Bayu tapi belum di juga di deal untuk memanggil. Mengirimkan pesan terlihat kurang sopan, di telpon secara langsung ia gengsi mau bicara apa nanti.
Keputusan terakhir, ia hanya memberikan pesan saja pada Bayu. Sedetik kemudian pesan langsung di buka Bayu setelah Noumi mengirimnya tapi sampai menjelang sore belum juga mendapatkan balasan membuat Noumi kesal saja.
" Sombong sekali." gumamnya.
Kantor sudah sepi dari sejam yang lalu sudah waktunya pulang tapi Noumi masih betah dalam ruangannya. Bahkan Manda saja sudah meninggalkannya sendirian di sana.
Gengsinya saat ini memang harus di turunkan demi ratusan karyawan yang menggantungkan hidupnya sehari hari padanya. Ia kembali membuka kontak Bayu dan memanggilnya. Satu kali panggilan tidak di jawab, di panggilan kedua terdengar sapaan dari sebatang sana terdengar seperti rayuan yang membuat Noumi ingin muntah saja.
" selamat sore menjelang malam wanita pujaanku." sapa Bayu dari sana.
" Bisa kita bicara secara pribadi Pak Bayu." pintanya langsung ke inti
" dengan senang hati Nona Noumi."
" baiklah saya berikan lokasi di mana kita harus bertemu satu jam lagi."
Naumi menutup telponnya dengan geli mendengar suara Bayu seperti itu. Ada rasa merinding sendiri dari tubuhnya saat ini.
Di salah satu tempat hiburan dalam pusat kota, Noumi dan Bayu duduk secara berhadapan. Noumi memilih tempat itu dengan alasan ingin lebih santai dan rileks saja, di temani minuman alkohol dalam teko kaca yang cantik dan dua gelas seksi di depan keduanya.
Otak nakal Bayu sudah merancang sedemikian rupa, saat Noumi mengirimkan lokasi tadi. Dia tau bahwa Noumi sudah terbiasa dengan suasana seperti ini, tapi untuk malam ini akan Bayu buat menjadi luar biasa yang tidak akan Noumi lupakan seumur hidupnya.
Bayu mengangkat gelasnya, memberi isyarat pada Noumi agar isi dalam gelas segera mereka minum.
" Maaf kalau saya mengajak anda bertemu di tempat seperti ini pak Batu. Saya kira kalau di tempat seperti ini kita berdua bisa lebih santai dalam mengobrol." Noumi mulai berbasa basi sebelum pada intinya.
" it's ok." Bayu terlihat sangat santai saat ini. Ada kesenangan sendiri dari dirinya bisa bertemu Noumi di tempat yang tidak mengurung mereka dengan hal yang selalu menyangkut kerja.
" saya atas nama perusahaan ingin minta maaf sama pak Bayu atas tidak sopannya saya saat meeting penting tempo hari." berat sekali Noumi mengucapkannya.
Saat ini Bayu menyadari bahwa lawan bicara sedang nerves terlihat dari gerakan kakinya yang sedari tadi tidak bisa diam terus saja bergoyang. Namun Noumi tutupi dengan meneguk minuman berwarna biru itu tanpa meminta Bayu secara bersamaan.
Kismark Bayu muncul, sudut bibirnya terangkat dengan samar.
" Bisakah ngobrol secara santai saja tidak perlu seformal itu Mimi." Noumi mengangkat pandangannya saat Bayu memanggil nama sapaannya saat bersama orang orang tertentu yang dekat dengannya.
" ehmm baiklah." jawaban Noumi saat ini terlihat gugup. Kalau ia ngobrol santai terus bagaimana cara mengobrolnya tentang kerjasama mereka.
" ada satu permintaan dari saya, jika kamu mau meneruskan kerjasama ini. tapi itu tergantung kamu mau apa tidak karena perusahaan ada di keputusan kamu." Bayu mulai melancarkan aksinya.
Insting Noumi sudah mulai tidak baik, apa mungkin dia akan di minta menikah dengannya lagi seperti tempo hari permintaan ibunya.
" jangan bilang anda minta saya menikah dengan anda lagi."
" tepat sekali." Bayu menyandarkan tubuhnya di badan sofa.
" hah.. ha ha ha." Noumi tertawa sumbang, memutar bola matanya dengan angkuh.
" ratusan karyawan dan beberapa pemilik saham ada di tanganmu sayang." ucapan Bayu seperti memojokannya untuk menerima lamaran kedua kalinya.
" Bangun pak Bayu, jangan mimpi terus terusan." Noumi meninggalkan Bayu yang masih santai menikmati minuman mereka yang belum kurang dari setengah teko kaca itu.
" ku pastikan belum ada seminggu kamu sendiri lah yang datang padaku untuk menerima lamaranku, tanpa aku meminta lagi Noumi." gumamnya dengan percaya diri entah apa lagi yang akan ia lakukan selanjutnya.
Dalam mobil selama perjalanan Noumi terus mengutuk Bayu yang gila menurutnya. Sampai tiba di belokan arah rumahnya, ada mobil yang dengan sengaja menghadang laju mobil Noumi. Spontan ia mengerem mobil dengan mendadak.
Masalah satu belum selesai, satu masalah muncul lagi. Pria masa lalunya kembali menemui. Noumi masih dalam mobil saat pria itu mengetuk kaca mobil. Ia mendesah seakan frustasi malam ini
" apa lagi yang kamu inginkan hah." bentak Noumi membuka kacanya.
" kamu." ucapnya santai
" gila, kenapa sehari ini hidupku di penuhi dengan pria gila." Pria itu mengangkat sebelah alisnya, mendengar ucapan Noumi yang di penuhi kata pria gila.
" Dengarkan gue terakhir kali Rama Brahmantyo, jauhi hidup gue. Kembali bertemu denganmu sama halnya gue mengorek luka lama gue yang setengah mati udah gue buang dan gue pendam hidup hidup. Loe singkirin mobil loe apa gue tabrak aja." Pria yang bernama Rama itu seakan menulikan telinganya atas semua kata kata Noumi baru saja.
Noumi sendiri juga berfikir kalau sampai ia menabrakkan mobilnya berarti mobilnya sendiri juga akan rusak dong. Dari pada ia merusakkan mobilnya sendiri lebih baik ia mundurkan saja mobilnya dan mencari jalan lain menuju rumahnya.
Lelah sekali hari ini bagi Noumi, setelah mandi ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang memberikan akses kenyamanan bagi tubuhnya. Selain lelah fisik ia juga merasa lelah fikiran. Bagaimana bisa Rama tau alamat rumahnya, apa dia tidak memiliki pekerjaan selain menguntitnya.
Jika di biarkan Rama semakin jauh melangkah, jika seperti itu di pastikan ia akan lebih dekat dengan masa lalu kelamnya. Terlintas di pikirannya untuk menerima lamaran Bayu, tapi ia masih belum ingin menikah. Bagaimana kehidupan ia selanjutnya kalau saja ia menikah apa lukanya akan timbul lagi atau bahkan malah lebih parah lagi. Trauma akan rasa sakit akibat penghianatan akan selalu menghantui hidupnya, luka itu begitu membekas dalam dirinya walaupun ia kini sudah berubah menjadi sosok orang lain.
Noumi berteriak dengan kuat hanya sekedar mengusir rasa emosi dan rasa terkekangnya saat ini, tak sadar ia sampai membangunkan Mak Asih yang sudah tertidur beberapa menit yang lalu.
" ada apa neng ?." tanya Mak Asih yang sudah membuka pintu kamar Noumi.
Noumi merentangkan kedua tangannya minta Mak Asih mendekat dan memeluknya. Itu lah yang bisa membuat Noumi nyaman, meredahkan rasa emosi, rasa kecewa, rasa marah dan rasa trauma saat Noumi mengingat sesuatu di masa lalunya.
Beginilah saat Noumi sedang ingin di manja oleh Mak Asih. Ia tidur di paha Mak Asih sebagai bantal kemudian menceritakan keluh kesahnya.
" ia semakin jauh melangkah Mak bahkan dia sudah tau tempat tinggalku, itu berarti masa laluku akan semakin dekat." suara seraknya tidak bisa di bohong kalau saat ini keadaannya sedang ketakutan dan cemas.
" biarkan saja neng, ibarat luka akan semakin sakit jika ia akan sembuh.."
" Mak masih ingatkan soal pria bernama Bayu yang belakangan ini mengajak kerjasama dengan perusahaan Mimi. Tadi secara langsung melamar Mimi lagi Mak."
" Neng sekarang masih muda memang bisa merasa bangga dengan kesendirian tapi neng harus ingat suatu hari nanti akan ada masa di mana yang di sebut sudah tua seperti Mak ini. Bukan menyuruh neng menikah dengan Tuan Bayu tapi alangkah baiknya jika neng Mimi mau dan bisa membuka hati neng Mimi dengan pria lain. Sepertinya keluarga Tuan Bayu baik dan ramah meskipun mereka orang kaya. Contohnya tadi Nyonya Indah datang kemari dengan baik dan sopan padahal Mak kan cuma ART dan pengasuh neng Mimi."
Noumi bangun dari pangkuan Mak Asih, yang sepertinya keceplosan saat memberi wejangan untuk Noumi yang sudah di anggap seperti anak gadisnya sendiri.
Padahal Mak Asih sudah berjanji pada Bu Indah untuk merahasiakan kunjungannya tadi siang. Sekarang Mak asih sendiri yang bingung harus menjawab apa nantinya saat Noumi mencercahnya dengan berbagai pertanyaan maksud kunjungan Bu Indah.
Noumi merasa penasaran dengan diamnya Mak Asih saat ini, yang sepertinya masih merangkai kata sebagai jawaban.
Memang iya, dalam pikiran Mak Asih saat ini bagaimana bisa menjawab semua pertanyaan Noumi tanpa harus menceritakan secara detail tujuan bu Indah datang tadi siang.
" Mak..." teriak Noumi yang membumbuyarakan rangkaian kata yang di susun sebagai jawaban.
Makin bingung saja Mak Asih melihat mode alis Noumi yang sudah di angkat sebelah memberikan isyarat untuk segera menjelaskan tanpa di minta dengan kata kata.