Amora segera berganti pakaian dan berkemas bersiap untuk pulang.
Namun saat keluar dari ruang ganti, Amora sudah tak melihat Alex di lokasi. Alex pergi...bahkan mereka belum bertegur sapa sejak tadi.
Apa yang Amora harapkan sekarang??? Berharap pulang bersama Alex??? Berharap Alex benar-benar datang untuk menjemputnya??? Tak mungkin Amora!!! Dasar wanita bodoh!! Amora terus merutuk dirinya sendiri.
Alex langsung melaju mobilnya dalam kecepatan tinggi, setinggi emosinya yang saat ini ada di puncak. Bagaimana mungkin Amora sanggup menatap matanya saat dia sedang bercinta dengan pria lain??? Mengapa Amora tak pernah bisa menjaga dirinya sendiri bahkan saat aku ada bersamanya??? Alex terus mempertanyakan hal-hal yang tak masuk akal tentang Amora. Amarah Alex benar-benar tak lagi mampu dikuasai. Alex bimbang, bingung, haruskah Alisha yang menjadi pendamping hidupnya??? Ataukah Amora yang selama ini menjadi tujuan arah hidupnya???
****
Alex memutar arah mobilnya menuju ke rumah Alisha. Satu-satunya tempat dimana Alex selalu mencurahkan seluruh masalahnya. Alisha seorang pendengar yang baik, selalu punya waktu untuk Alex kapanpun Alex butuh.
Saat berhenti di depan rumah Alisha, tiba-tiba Alex teringat cerita Amora tentang ibu dan adiknya, alasan mengapa Amora melakukan semua pekerjaannya sekarang.
"SIAL!!!!" umpat Alex pada dirinya sendiri sambil memukul setir mobilnya.
Alex kembali melaju ke jalanan, menuju ke sebuah klub malam. Dia membutuhkan suatu pelampiasan amarahnya dan kegalauan hatinya.
Club 48
Bunyi dentuman musik yang keras langsung membuat Alex sedikit mendapatkan keseimbangan terhadap amarahnya yang meledak.
" Hai scoth....biasa ya, gue lagi pusing nih." Ucap Alex memesan minuman yang biasa dia pesan saat sedang merindukan Amora namun tak menemukannya.
Scoth sang bartender langsung menyuguhkan pesanan Alex, dan langsung ditenggak dalam sekali tegukan.
"Tambah lagi Scoth!" Pinta Alex menyodorkan gelasnya.
"Alex??? Kau ada disini juga?" Tanya seorang wanita yang tiba-tiba sudah berdiri disampingnya bersender pada meja bar.
"Alisha??? Sedang apa kau disini?" Tanya Alex heran, karena Alisha bukanlah tipe wanita yang suka dengan suasana clubing seperti ini.
"Temanku ada yang berulang tahun dan merayakan di tempat ini. Kau ada apa datang kemari?" Tanya Alisha lalu melihat minuman beralkohol di tangan Alex dan membuatnya langsung mengerti. Alex selalu mabuk saat pikirannya penuh dengan Amora yang tak bisa ditemukan.
"Ach! Amora lagi...! Kenapa sih kau tak bisa melupakan wanita itu?!!! Apa lebihnya dia dariku?!!!" Ucap Alisha dengan kesal.
"ALISHA, AYO!PESTANYA SUDAH DIMULAI!" Teriak teman Alisha memanggilnya bergabung.
"SEBENTAR LAGI!" sahut Alisha juga berteriak karena kerasnya suara dentuman musik memang mengharuskan orang bicara dengan berteriak.
"Cukup Alex! Ayo kita pulang!" Bentak Alisha sambil menjauhkan gelas yang Alex pegang. Karena sejak Alisha disini dia sudah melihat Alex menenggak 8 gelas berturut-turut tanpa henti.
Alisha bersyukur tadi dia dijemput temannya, hingga dia hanya perlu menyetir mobil Alex saja, untuk membawanya pulang. Alisha merogoh saku celana Alex untuk mencari kunci mobil Alex. Mendadak tangannya dicekal oleh Alex dan ditahan tetap dalam saku celana Alex, tubuhnya ditarik mendekat pada tubuh Alex dengan tangan yang lain.
"Hibur aku Alisha...bukankah kau mencintaiku?" Ucap Alex dengan tatapan langsung ke mata Alisha.
"Alex....." Sahut Alisha tak mampu berkata apapun, terkunci oleh tatapan Alex yang hanya berjarak 5cm dari wajahnya.
"Baiklah, ayo kita pulang sekarang." Ucap Alisha melepaskan diri lalu memapah Alex berjalan ke parkiran mobil.
Alisha membawa Alex ke apartemen pribadi Alisha bukan ke rumah Alisha ataupun ke rumah Alex. Alisha benar-benar ingin memenuhi permintaan Alex tadi. Menghiburnya. Hingga Alex mampu melupakan wanita sialan bernama Amora itu. Apapun sudah pernah Alisha usahakan untuk merebut hati Alex, namun kekuatan nama Amora di ingatan Alex terus membuat Alex menolak Alisha.
Alisha merebahkan Alex di ranjang Alisha, melepas sepatu dan kaos kaki Alex. Saat alisha hendak melepas kancing teratas kemeja Alex tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh Alex hingga kepalanya jatuh ke d**a Alex.
"Sayang...aku membutuhkanmu..." Ucap Alex memeluk dan membelai kepala Alisha, dalam keadaan entah dimana kesadarannya.
Alisha merasa bahagia mendengar Alex memanggilnya sayang dan dia dibutuhkan Alex saat ini. Pikiran gila muncul dalam otak Alisha. Alisha tak akan membuang kesempatan ini untuk merebut pikiran Alex dari nama Amora.
Alisha mulai membuka kancing kemeja Alex, menyibakkan ke samping lalu mengecup lembut d**a Alex dari atas ke bawah dan ke atas lagi. Melepaskan ikat pinggang dan celana panjang Alex. Melihat kejantanan Alex yang menyembul di balik boxernya yang ketat.
Alisha melepas dress-nya sendiri, menyisakan bra merah dan celana dalam satinnya, mulai naik ke atas tubuh Alex perlahan sambil terus mencium dan menjilat setiap bagian tubuh Alex. terus naik ke atas dan berhenti di leher Alex, mencium leher Alex hingga belakang telinga Alex. Mencoba membakar hasrat gairah Alex dalam mabuknya.
Alisha tersenyum saat pada akhirnya Alex melenguh desahan mengharapkan lebih... Alisha tanpa ragu mulai mencium bibir Alex, dan Alex membalasnya dengan penuh nafsu, alisha melayani bibir Alex, mereka saling melumat bibir, bermain lidah, semakin panas Alex mulai membelai tubuh Alisha yang lembut mulus. Dan tangan Alex mulai menyelip berusaha mencari p******a Alisha, alisha membantu mengarahkan tangan Alex menuju payudaranya, merasakan nikmat ciuman bibir dan remasan Alex meski masih terhalang oleh bra.
"Uh...oh...ah..Alex...I want more..." Ucap Alisha mendesah manja di telinga Alex sambil menggesekkan tubuh bagian bawahnya dengan kejantanan Alex.
"Uh...Amora...." Desah Alex membuat Alisha terkejut mendengar Amora yang disebut dalam desahan Alex.
"s**t!!!" gairah Alisha langsung surut menghilang dan berdiri lepas dari Alex. Alisha memilih meninggalkan Alex dan berendam di dalam bathup di kamar mandinya.
"Amora b******k!!!" Rutuk Alisha kesal dan memejamkan matanya.
Namun gairah itu ternyata lebih merasuki pikiran Alisha, dia benar-benar ingin merasakan bercinta dengan Alex. Sentuhan Alex dan ciuman Alex masih membuat tubuh Alisha menggelenyar meski dia tahu yang dibayangkan Alex adalah Amora bukan dirinya.
Alisha lalu keluar dari rendamannya dan keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benangpun ditubuhnya. Tanpa pikir panjang Alisha kembali melanjutkan gairah nafsunya.
"Aku tak peduli meski pikiranmu berisi Amora, tapi mungkin hanya ini kesempatanku bisa merasakan bercinta denganmu Alex, maafkan aku karena hasrat gairahku padamu sudah kutahan bertahun-tahun lamanya." Ucap Alisha pada dirinya sendiri.
Alisha mulai mencium lagi bibir Alex dengan penuh nafsu rakus melumat bibir Alex dan langsung dibalas oleh Alex. Alex tak tertahan oleh gairahnya dengan serangan dari Alisha dan dibawah pengaruh alkohol.
Alex mulai membalik posisi sehingga kini tubuh Alisha ada dibawahnya.
Alex mencium penuh nafsu leher Alisha, lalu semakin turun mendapatkan p******a Alisha dan meraup putingnya dengan serakah ke dalam mulutnya, tangan lainnya meremas p******a Alisha yang satu lagi.
"Uh...Alex...do it...eh..uh.." desahan Alisha seakan memacu nafsu liar Alex. Membawa Alex menuju ke bawah Tubuh Alisha dan menjilat ke dalam kewanitaan Alisha. Semakin menggoda dan membuat Alisha menggila.
Akhirnya penyatuan mereka tak bisa ditahan lagi. Alex memasukkan juniornya ke dalam Alisha dan memompanya keras, membawa mereka berdua ke puncak nikmat, tanpa pengaman apapun. Lalu mereka tertidur dalam selimut yang menjadi penutup tubuh mereka.