"Amora..."panggil mamanya Alex yang masuk ke ruang ICU bersama seorang wanita cantik, manis dan bermartabat dibanding Amora.
Amora langsung merasa minder ketika melihat wanita itu.
"Tante oline...." Sahut Amora lalu melihat ke arah wanita itu penuh tanda tanya, dan langsung dimengerti oleh mamanya Alex.
"Ini Alisha sahabat Alex yang bantu Alex di bisnisnya. Alisha ini Amora yang Alex suka ceritain." Ucap mamanya Alex memperkenalkan kedua wanita di sampingnya.
Amora merasa sedikit terangkat dengan kalimat kalau Alex sering menceritakan dirinya ke Alisha. Amora mengajukan tangannya untuk bersalaman dengan Alisha, Namun pandangan Alisha seolah menatap dalam kebencian. Dan nyata dugaan Amora. Alisha tak membalas tangannya yang terulur, malah berjalan langsung mendekat ke Alex.
"Hai Lex, gue bakal nemenin Lo dan tante ke Singapura...gimana menurut Lo? Asiiik kan??? " Ucap Alisha sambil terkekeh.
Amora merasa ada nyeri cemburu dalam hatinya, namun siapa dirinya sekarang ini membuat Amora merasa tidak layak bagi Alex. Amora menundukkan kepalanya merasa sangat tidak pantas bersaing dengan Alisha.
"Oh Tuhan tolong tahanlah air mata ini supaya tidak menetes." Doa Amora dalam hati, karena merasa pelupuk matanya mulai memanas.
Tante oline melihat ke arah Amora dan seolah mengerti perasaan Amora.
Tante oline langsung memegang tangan Amora, memberikan senyuman hangatnya seolah menguatkan Amora, lalu merangkul Amora membimbingnya untuk duduk di sofa.
"Amora, bagaimana kabar mama dan adikmu? Dimana mereka sekarang?" Tanya Tante oline. Amora kelabakan dengan pertanyaan Tante oline tentang mama dan adiknya.
"hmm..itu Tan...hmmm...mama sm Johanna ada di malang, mama sekarang mengalami gangguan jiwa sejak papa meninggal Tan...dan Johanna terpaksa putus sekolah karena harus menjaga mama. Karena Amora harus bekerja untuk pengobatan mama dan juga kebutuhan Johanna." Cerita Amora mengalir begitu saja dan air matanya tak berhasil bertahan, mengalir deras.
"Ya ampun sayang...kenapa kalian tidak pernah menghubungi kami?" Ucap mamanya Alex terkejut.
Alex dan alisha juga tentu mendengar cerita Amora barusan.
"A...mo..Ra.." panggil Alex lirih namun masih terdengar dan membuat Amora menoleh ke arah Alex.
"Alex, kamu butuh apa? Biar aku yang ambil buat kamu...Amora kan masih curhat sama Tante oline." Sahut Alisha menjawab panggilan Alex ke Amora.
"A...mo...ra..." Panggil Alex lagi. Amora bingung harus bersikap bagaimana, saat ini dirinya benar-benar tak mampu bersaing dengan Alisha.
"Amora, Alex manggil kamu sayang..." Sahut Tante oline sambil memberi kode supaya Amora mendekat ke alex.
"Iya Alex, kamu butuh sesuatu?" Akhirnya Amora mendekat ke Alex.
Alex hanya menggeleng pelan, tangannya berusaha meraih tangan Amora.
"Tu...ng...gu...a...ku...." Ucap Alex lirih namun masih mampu di dengar Amora bahkan Alisha dan Tante Oline.
Amora hanya mengangguk namun masih tetap menangis. Amora menggenggam tangan Alex dengan erat, memberi sinyal bahwa dia pasti menunggu Alex kembali.
"Permisi nyonya, semua proses keberangkatan sudah dipersiapkan, apakah kita bisa berangkat sekarang?" Tanya seorang perawat yang masuk ke ruangan ICU ini.
"Alex, apa kau siap nak?" Tanya oline pada Alex, dan Alex mengangguk pelan. Alex kembali menatap lekat Amora untuk terakhir kalinya sebelum berangkat.
Saat ini hanya Amora seorang diri disini, karena pesawat Alex sudah berangkat bersama Tante oline dan juga Alisha tentunya.
Hati Amora nyeri, bimbang antara melepas Alex pada Alisha atau menunggu Alex menepati janjinya untuk menjemputnya.
Alisha gadis yang baik dan tentu lebih bermartabat dibanding dirinya seorang jalang dalam kedok artis.
Amora terus merasakan nyeri di dadanya, bimbang, cemburu mengetahui Alisha yang menemani Alex bukan dirinya, bercampur dengan rasa minder bahwa Alisha lebih pantas mendampingi Alex.
Hanya air mata yang terus mengalir di pipi Amora.