Keraguan

1689 Kata

“Sabda, aku nggak yakin kamu melakukan ini karena mau.” Mobil Sabda berhenti di samping trotoar depan kontrakanku. Aku menatapnya setengah gila. “Kenapa?” tanyanya. “Terlalu cepat, ya? Atau... kamu ragu?” Aku mendesah pelan. “Kalau ini cuma bikin kamu ‘mengikatku’ seakan-akan aku tawanan, mending jangan.” “Tawanan?” nadanya naik. Ia mengembuskan napas, memandangku lekat. “Nuansa, aku nggak pernah mikir begitu. You don’t... want me to propose you?” Duh ganteng, masalahnya lagi nggak tepat! Aku berusaha tetap berpegang teguh pada realita dan memikirkan pandangan ke depan. Aku tak senang sesuatu yang tergesa-gesa. Meskipun ia adalah orang yang kusuka sejak pandangan pertama dan sudah berada dalam jangkauanku, aku tetap tidak bisa memutuskan secepat ini. “Kamu ingat yang diucapkan Masya?

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN