Sepanjang hari, Mama mengomel. Ini karena anak perempuannya sedang masuk angin gara-gara kelayaban sampai jam satu pagi sambil menunggu hujan reda. Aku sudah menjelaskan kalau sedang ada proyek baru dengan seorang penulis yang harus kulaporkan segera. Sekarang, aku berakhir di kamar. Izin tidak masuk kerja. “Kamu itu loh, kebiasaan waktu masih di kampus jangan dibawa lagi. Kelayaban sampai jam satu. Kalau masuk angin begini yang repot kamu sendiri, kan!” Mama memijitku sangat keras, membuatku memekik. “Padahal, Mama sama Papa mau pulang dua hari ke depan.” “Ya ampun, Ma. Aku cuma masuk angin.” “Jadi, kalau nggak ada ortu, kamu bisa kelayaban sampai subuh, gitu? Mama bakal minta Nak Sabda buat nuturi kamu.” Bola mataku berputar. “Sabda punya kesibukan lain juga, keles. Hidup dia bukan

