Aku membuang napas setelah berteriak seperti orang gila. Kusapu rambut ke belakang. Iota masih terdiam. Aku mengambil alih semua pembicaraan. “Iya. Gue bakal suka sama lo kalau Sabda nggak ada. Tapi kenyataannya dia ada di deket gue. Lo telat. Sekarang, lo nggak berhak maksain perasaan orang lain. Jadi, berhenti, jangan diterusin. Ini kesalahan gue karena nggak bisa profesional dalam pekerjaan. Gue mau memperbaiki semua kesalahan gue.” Aku mengusap pelipis. “Gue capek. Jangan ganggu gue lagi. Jangan sekali-kali bermimpi buat ketemu lagi sama gue. Bye.” Kutinggalkan ia dalam kegemingan. Saat menoleh ke belakang, ia masih menatapku. Matanya nanar. Mau tak mau, ia harus rela kehilangan aku. Aku menatap langit dan menghela napas berat. * Berulang kali Dierja menghubungi saat aku masi

