Kaella terjaga dari mimpu buruk, matanya menatap sendu pada dunia luar, jendela itu seolah-olah memisahkan jiwanya dengan ilusi dunia yang indah. Dari bingkai persegi itu terlihat jelas hamparan perkebunan luas dan rapi. Beberapa traktor dan mesin-mesin lainnya nampak bekerja, hilir mudik diantara petak perkebunan.
Ia turun dari tempat tidur dan langsung mendekat ke jendela.
Perkebunan.
Membuat pikirannya berkelana menuju perkebunan teh utara. Sudah hampir tiga tahun sejak kejadian itu dan waktu membuatnya membuka mata dan tersadar. Sekarang dirinya terus melarikan diri dari rasa bersalah, dan ketakutan setiap detik akan kejaran kematian.
Ia pikir selama ini dirinya adalah korban, sungguh lelucon, ketika dialah sang penjahat yang sebenarnya. Dialah yang harus disalahkan, tapi wanita itu memilih untuk tidak membencinya, karena wanita itu tidak bisa dan tak akan pernah bisa, walau Kaella yakin wanita itu sangat ingin membencinya.
Masih sangat segar diingatannya bagaimana seorang remaja tanggung menamparnya di lorong rumah sakit yang sepi. Ia memang pantas ditampar, karena hampir membuat Yui Kito, ah sekarang ia sudah menjadi Yui Sykes, meregang nyawa. Tak hanya meregang nyawa, tapi sebelumnya juga mendorong Yui untuk masuk kedalam neraka ciptaan Nicholas Sykes.
"Jalang, kau!" umpat remaja itu kesetanan, tatapannya menghujam dan sarat kebencian, "Masa kecil, masa remaja bahkan masa depannya, kau ambil semua, jalang serakah. Kau bahkan juga mengambil daddy kami. Mati saja kau sana, jalang," d**a remaja itu naik turun karena emosi yang buncah dalam dirinya. Tangannya terkepal sedang urat-urat menyembul keluar.
Kaella memegang pipinya yang berdenyut, melihat dengan mata kepala sendiri Yui tumbang dan sekarat, bertarung dengan nyawa, sudah amat membuatnya syok dan sekarang ribuan kali syok mendengar ucapan anaknya Yui.
"Gara-gara kau Mommy harus kehilangan keperawanan dan membuatnya trauma berat. Apa kau tahu tentang itu? Tidak kan, karena kau hanya sibuk memikirkan dirimu sendiri, memikirkan kesedihanmu, memikirkan semua masalahmu seakan orang lain tidak memiliki masalah lebih berat darimu. Semua itu gara-gara kau membujuknya untuk mengantikan sahabatmu Camilla karena kalian akan pergi berpesta, karena kau memintanya menjadi SPG pameran mobil" cecar gadis itu.
Kaella hampir tidak bisa menutup mulutnya yang ternganga tidak percaya. Jadi trauma inilahnya yang dibicarakan Yui dimalam pernikahannya. Ia membiarkan remaja itu terus mengata-ngatainya karena pikirannya berkelana kebanyak tempat. Dan ia amat merasa bersalah.
Ia masih sangat ingat bagaimana ia dan Camilla membujuk Yui untuk mengantikan Camilla menjadi SPG pameran mobil karena mereka berdua bakal menghadiri pesta peresmian sebuah toko parfum.
Camilla Mckenna mungkin sudah terbiasa dengan lingkungan gelap dunia SPG dan model, tapi Yui tidak. Lebih menyesakkan lagi, setelah kejadian itu Yui tetap menolongnya, tetap tersenyum kepadanya seakan tidak terjadi apa-apa.
"Kau juga telah mengambil calon suami Mommy dan lucunya lagi kau merasa kau adalah korban, kau musuhi dia seakan semuanya adalah kesalahan Mommy. Kau orang luar yang tiba-tiba masuk dalam hubungan Mommy, dan kau merasa yang salah adalah Mommy. Kau sinting atau apa? Apakah kau tidak bisa melihat diri sendiri? Kau tak punya hak untuk menentukan hubungan masa lalu suamimu karena itu dimasa lalu, kau dimana saat masa itu?"
Remaja itu menampar pipi Kaella sekali lagi. Satu tamparan saja tidak bakal cukup untuk menumpahkan segala kekesalan dan kejengkelannya. Ia menatap Kaella jijik.
"Aku melakukan semua ini karena Mommy tidak bisa melakukannya, meski aku sangat yakin ia sangat sangat ingin melakukannya, tapi ia telah berjanji tidak bakal menyakiti bahkan hanya menyimpan seujung dendam padamu, karena ia telah berjanji pada ayah kalian. Ah, benar, kau kan sama jalangnya dengan ibumu, mana kau paham janji ayah dan anak sebelum kematian memisahkan mereka"
"Apa maksudmu?" tanya Kaella akhirnya.
"Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu sebenarnya kau tahu siapa Mommy. Itu sebabnya kau selalu meminta tolong padanya, karena Mommy pasti tidak akan menolak. Karena Mommy akan selalu mengalah padamu sesuai janjinya. Kau sebenarnya tahu Mommy saudara perempuanmu?"
Kaella benar-benar dibuat terperangah. Yui adalah adiknya? Bagaimana bisa? Pantas saja banyak temannya di kampus selalu kesulitan membedakan mereka apalagi mereka selalu bersama.
Spontan Kaella langsung berlari keluar dari rumah sakit, ia ingin segera mendengar langsung dari mulut ibunya. Apalagi yang tidak ia ketahui selama ini? Berapa banyak lagi kenyataan yang tersembunyi dan berhubungan langsung dengan dirinya.
"Siapa Yui sebenarnya?" tanyanya dengan suara bergetar. Ia terengah-engah berlari keluar dari taksi ke dalam kediaman keluarga utama.
"Tenangkan dirimu dan bicara dengan jelas" gumam ibunya yang sedang duduk minum teh di pinggir kolam ikan koi, beberapa pelayan segera pergi menjauh.
Kaella menarik nafasnya, "Siapa Yui sebenarnya?" tanyanya hampir berteriak.
Anyane Kaznov, ibu kaella, mengangkat cangkir teh dengan cuek "Sepertinya kau sudah mengetahui dia adalah saudara perempuan seayahmu."
"Ibu." cicit Kaella tidak percaya "Jadi itu sebabnya ibu mengambil perkebunan teh utara dari keluarga Yui."
Anyane mengganti duduknya, menatap putrinya "Sayang, ibu hanya mencoba mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikmu, tidak lebih. Perkebunan teh itu milik ayah kandungmu, itu hakmu, Ella. Kau pantas menerimanya. Ayahmu bersemayam di sana dan melalui keluarga Sykes aku ingin memberikan padamu."
Kaella benar-benar tidak habis pikir, bagaimana semua itu terjadi dalam keluarganya yang ia kira suci. Pantas jika kakek memperlakukan keluarganya bagai sampah.
"Apa kita harus menyakiti bahkan membunuh orang lain untuk mendapatkan sesuatu yang belum tentu milik kita?"
"Itulah keyakinan yang mengakar dalam keluarga Hime, Sayang,"