Syifa sakit

1047 Kata
Malam perlahan turun menyelimuti pulau kecil itu. Langit yang tadinya kelabu kini berubah menjadi gelap pekat, hanya dihiasi cahaya remang dari bulan yang tertutup awan tipis. Angin berembus lebih dingin, menusuk kulit dan membawa suasana sunyi yang terasa asing. Di dalam tenda sederhana beratap daun, Syifa terbangun dengan wajah meringis. Tangannya refleks mencengkeram perut. Sakit. Nyeri yang datang tiba-tiba itu terasa begitu kuat, seperti ada sesuatu yang memutar dan menekan dari dalam. Napasnya tercekat, tubuhnya menegang. “Aduh… sakit…” rintihnya pelan, hampir tak terdengar. Ia mencoba mengatur posisi. Duduk bersila, lalu memeluk lututnya. Tidak membantu. Ia mencoba berbaring, mengangkat kaki, bahkan sampai setengah berjongkok. Tetap sama. Sakit itu tidak berkurang. Justru semakin menjadi. “Kenapa sih…” gumamnya frustasi. “Sumpah perih banget…” Keringat mulai membasahi pelipisnya. Napasnya tak teratur. Ia menggigit bibirnya, menahan rasa sakit yang tak kunjung reda. Dalam kondisi seperti itu, satu-satunya orang yang terlintas di pikirannya hanya satu Regan. Dengan susah payah, Syifa bangkit. Kakinya masih lemas. Ia berjalan tertatih keluar dari tenda, berpegangan pada batang pohon agar tidak terjatuh. Langkah demi langkah terasa berat. Namun ia tetap memaksa. Di luar, Regan terlihat tertidur di dekat api yang mulai meredup. Wajahnya tenang, seolah dunia di sekitarnya tidak sedang kacau. Syifa mendekat. “Bangun…” ia menepuk lengan pria itu pelan. Tidak ada respons. “Bangun! Bangun, dong!” suaranya mulai panik. “Please… perut gue sakit banget…” Kata-katanya mulai tak jelas, bercampur dengan napas yang memburu. Regan mengerjap pelan. Matanya terbuka setengah, mencoba menangkap situasi. Namun sebelum ia benar-benar sadar Syifa kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh ke depan… tepat menimpa tubuh Regan. “Uh—” Regan refleks menahan napas. Tubuh gadis itu terasa hangat. Terlalu hangat. “Bangun…” ucapnya serak. Namun Syifa tidak merespons. Tubuhnya lemas. Regan langsung tersadar sepenuhnya. Ia segera menggeser tubuh Syifa ke samping dengan hati-hati, lalu bangkit duduk. Dalam cahaya api yang redup, ia menatap wajah Syifa dengan lebih jelas. Pucat. Berkeringat. Dan tangannya masih menekan perut. “Kamu kenapa?” tanyanya, kali ini dengan nada serius. Tidak ada jawaban. Regan mengulurkan tangan, menyentuh dahi Syifa. Panas. Sangat panas. “Demam…” gumamnya. Tanpa membuang waktu, ia berdiri. “Tunggu di sini. Saya keluar sebentar.” Namun baru saja ia melangkah, tangannya ditarik. Syifa menatapnya dengan mata setengah terbuka. “Jangan pergi…” Suara itu lemah, hampir seperti bisikan. Regan menatapnya sejenak. Ada keraguan di matanya, tapi hanya sesaat. “Sebentar saja,” ujarnya lebih lembut. Ia perlahan melepaskan genggaman tangan Syifa, lalu bergegas masuk ke dalam hutan. Ingatan tentang tanaman yang ia lihat siang tadi kembali muncul. Jika ia tidak salah, daun itu bisa membantu meredakan sakit. Ia bergerak cepat, menembus gelapnya hutan. Dan beruntung Daun itu masih ada. Regan segera memetik beberapa lembar, lalu kembali ke tempat mereka. Sesampainya di dekat tenda, ia langsung menyalakan kembali api kecil dan merebus daun itu menggunakan sisa air botol yang masih ada. Sambil menunggu, ia kembali ke sisi Syifa. Di tangannya, ada sebotol air minum. “Ini, minum dulu,” ujarnya. Syifa menggeleng pelan. “Nggak mau…” “Minum,” ulang Regan, lebih tegas. “Atau saya tinggal.” Ancaman sederhana itu cukup membuat Syifa menyerah. Dengan bantuan Regan, ia duduk perlahan. Tangannya gemetar saat menerima botol itu. Ia minum beberapa teguk, lalu mengembalikannya. Regan menatapnya. “Bilang apa?” Syifa mengernyit. “Apa?” “Terima kasih.” tekan Regan Syifa mendesah pelan. “Iya… terima kasih.” Regan mengangguk singkat, lalu berdiri. “Sebentar.” Ia kembali mengecek rebusan airnya. Uap panas sudah mengepul tanda sudah siap. Regan menuangkan air rebusan itu ke wadah seadanya, lalu membawanya ke hadapan Syifa. “Apa lagi itu?” tanya Syifa curiga. “Minum.” Syifa ragu. Ia menatap cairan itu dengan ekspresi tidak percaya. Namun akhirnya ia tetap mencobanya. Seteguk. Dan seketika Wajahnya berubah. “Pahit banget!” Ia hendak memuntahkannya, namun Regan lebih cepat. Tangan pria itu langsung menutup mulutnya. “Telan.” Nada suaranya tegas, tidak bisa dibantah. Syifa menatapnya kesal, tapi tetap menelan cairan itu. Begitu dilepas, ia langsung mengeluh. “Pahit! Jahat banget sih lo! Gue lagi sakit, bukan lagi bercanda!” “Saya juga lagi tidak bercanda,” balas Regan tenang. “Kalau gue mati—” Belum selesai, Regan sudah berdiri hendak pergi. Syifa panik. Ia segera menarik tangan pria itu. “Mau ke mana?!” “Kamu sudah minum obat. Istirahat. Saya mau tidur.” Syifa langsung menggeleng. “Nggak! Di sana dingin. Di sini lebih hangat…” Ia kembali berbaring, seolah itu sudah menjadi tempatnya. Regan menghela napas panjang. Menghadapi Syifa benar-benar menguras kesabaran. “Kamu mau tidur dengan saya?” tanyanya datar. Syifa langsung bangkit. “Bukan gitu maksud gue!” Wajahnya memerah. “Kita tukeran aja! Gue di sini, lo di sana!” “Saya nggak mau.” “Ih, jahat banget sih!” Regan menatapnya sebentar, lalu berkata santai, “Kalau mau, tidur di sini. Kalau nggak, kembali ke tenda.” Ia kemudian masuk ke dalam tenda dan berbaring, menutup pintu seadanya dengan daun. Syifa terdiam. Kesal. Malu. Tapi juga… takut sendirian. Akhirnya, ia ikut masuk. Dengan wajah cemberut, ia berbaring di samping Regan. Tenda itu sempit, membuat mereka harus tidur sangat dekat. Bahkan punggung mereka saling bersentuhan. Sunyi kembali menyelimuti. Namun entah kenapa Untuk pertama kalinya, Syifa tidak merasa sendirian. Pagi datang perlahan. Cahaya matahari menyusup di sela-sela daun, menerangi wajah Syifa yang perlahan terbangun. Matanya mengerjap. Dan berhenti. Tepat di depan wajahnya, hanya berjarak beberapa inci Regan. Wajah pria itu terlihat jelas dalam cahaya pagi. Garis rahangnya tegas, napasnya teratur, dan ekspresinya… tenang. Syifa terdiam. Ia menatapnya. Beberapa detik. Atau mungkin lebih lama dari itu. Sampai— “Jadi ini maksud kamu mau tidur dengan saya.” Suara itu membuat Syifa tersentak. Matanya langsung melebar. “Apaan sih lo!” katanya gugup, buru-buru memalingkan wajah. Regan masih memejamkan mata, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. “Sudah puas lihat wajah saya?” Syifa langsung duduk. “Nggak! Gue nggak lihat apa-apa! Ge-er banget!” Regan membuka mata, menatapnya langsung. “Padahal dari tadi diam saja.” Wajah Syifa semakin merah. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung keluar dari tenda. Kabur. Di luar, ia menarik napas panjang. Jantungnya berdebar. Bukan karena takut. Tapi… karena sesuatu yang bahkan ia sendiri belum bisa jelaskan. To Be Continued…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN