bc

Fate's Final Answer

book_age16+
125
IKUTI
1K
BACA
billionaire
contract marriage
CEO
sweet
bxg
brilliant
city
office/work place
first love
wife
like
intro-logo
Uraian

Ini berkisah tentang kehidupan dua orang tua yang menikah tanpa cinta. Skandal hidup si wanita membuat keadaan semakin rumit, mereka mengadopsi seorang anak bernama Dhafin. Tetapi ternyata wanita bernama Dina itu meninggal dunia, dan suaminya Arzan tak bisa berbuat banyak.

Dhafin tumbuh dewasa, rasa balas dendam telah memenuhi isi hatinya. Ia bertekad menyelesaikan masalah kedua orang tuanya yang belum tuntas.

Dia berkorban segalanya demi keadilan untuk sang ibu, disepanjang perjalanan hidupnya Dhafin bertemu seorang gadis yang mengambil hatinya.

Fate Final Answer. Jilid 1 dan Jilid 2

chap-preview
Pratinjau gratis
Semua dimulai dari sini
Suasana yang tidak asing lagi, menggambarkan kejadian beberapa tahun lalu yang dipenuhi derai air mata. Kepergian sekaligus perpisahan akan selalu menjadi penghujung cerita setiap orang. "Ibu ... tunggu! aku mohon kali ini saja, a- ayah ...." gumam seorang gadis kecil dengan rambut hitam tergerai panjang. Pakaiannya yang semula putih bersih kini menjadi kotor penuh bercak darah segar berwarna merah pekat, keningnya ikut meneteskan darah akibat luka kecelakaan beberapa jam lalu. Matanya berkaca-kaca menatap dua orang dewasa yang berjalan semakin jauh dari tempatnya berdiri, dia adalah ayah dan ibu dari gadis yang bernama Dina. "A- aku mohon kali ini saja, ini akan menjadi permintaan terakhirku. Aku mohon, Tuhan ...." lanjutnya dengan sepenuh hati. Raut wajah Dina penuh rasa kesedihan yang mendalam menatap kedua orang tuanya yang dipenuhi luka berat semakin menjauh menuju sebuah dinding dengan cahaya putih yang begitu terang. Tangan kanan Dina terulur seolah berat melepas kepergian mereka, semakin jauh dan Dina hanya terdiam mematung di tempatnya berdiri, kakinya seolah lemas tak berdaya, kekuatannya hilang perlahan-lahan. "Selamat jalan ibu, ayah ... Aku berhenti meminta permohonan." Bibir Dina mengatup perlahan antara rela tak rela melepaskan kedua orang tuanya akibat kecelakaan yang mereka alami beberapa jam lalu. Seorang wanita berdagu lancip sekaligus berwajah dingin kini sedang menggeliat tidak nyaman di atas ranjang tidurnya, keringat dingin berhasil membasahi tubuhnya dengan ketakutan yang masih terlihat jelas. "Tidak- aku mohon ... ibu, ayah ... ajak aku bersama kalian, aku mohon ...." gumam Dina penuh ketakutan sambil meremas erat selimutnya dengan mata yang masih tertutup. "Ibu! ...." teriaknya seketika terbangun dari tidurnya. Netranya menatap seisi ruangan kamar yang sudah tidak asing lagi dimatanya, nafasnya terengah-engah dengan keringat yang masih mengucur deras. Perlahan kedua tangan Dina mendekat ke arah keningnya dan mengusap wajahnya dengan kasar, lagi-lagi dirinya terbangun dari tidur dengan mimpi buruk yang sama setiap harinya. Mimpi yang membuatnya kembali teringat akan perpisahan beberapa tahun lalu tepat di hari ulang tahunnya yang ke sembilan tahun. "Huft ... kenapa mimpiku selalu berwarna. Aku membenci itu semua! akhh ...." ucap Dina frustasi sambil menarik rambutnya ke arah belakang sambil menutup mata dan mendongak menatap langit-langit kamarnya. Dengan perlahan Dina menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjang dengan perlahan setelah mengenakan sendal berbulunya menuju kamar mandi. Raut wajah wanita ini tidak pernah ceria setelah kejadian beberapa tahun lalu, selalu muram dan dingin. Kepribadiannya yang dulu ramah dan penuh tawa kini berubah menjadi dingin tanpa banyak bicara. Kaca bening yang melekat pada dinding kamar mandi yang dilengkapi wastafel menjadi objek yang dipandang oleh Dina. Kaki jenjangnya yang sedikit melemas perlahan-lahan mendekat dan mencuci wajahnya perlahan. Celepuk! .... Tangannya melemas dan jatuh ke dalam air, matanya mengatup perlahan diikuti kepalanya yang menunduk berat. Terlihat wanita ini sedang berusaha mengendalikan emosinya. "Huft ... tenang, huft ...." gumam Dina sembari menghela nafas berulang kali untuk merilekskan tubuhnya yang menegang sedikit ketakutan. Kejadian itu memberikan efek emosi tersendiri baginya selama kejadian itu berlalu hingga sampai sekarang. Namun semua berbeda, dulu Dina adalah gadis pendiam yang selalu dikendalikan oleh Bibinya setelah orang tuanya meninggal dan membiarkan hak waris perusahaan berada dibawah sang Bibi yang tamak. Tetapi kini gadis pendiam itu telah berubah menjadi Cahayana Dinayang sekarang, begitu dewasa hingga keputusannya tidak bisa dibantah oleh siapapun, termasuk sang Bibi yang gila harta itu. Sekarang Dina lah yang memegang 80% dari perusahaan mendiang ayah dan ibunya, sedangkan sang Bibi telah Dina berikan 20% anak cabang kecil di timur kota. Namun namanya manusia pastilah tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah dia miliki dan dapatkan, hal itu pula yang membuat sang Bibi masih begitu tamak dan penuh kebencian kepada Dina. "Mama ...." suara bocah laki-laki terdengar menggema di dalam kamar Dina. Dina yang berada di kamar mandi seketika keluar saat dirinya dipanggil mama oleh bocah itu. "Iya?" jawab Dina sembari menutup pintu kamar mandi, lalu pengelihatannya menatap bocah laki-laki berusia lima tahun yang berdiri di samping ranjang tidurnya dengan nampan berisi sarapan pagi. "Dhafin, kan Mama sudah bilang untuk tidak melakukan hal itu ... lagi pula di luar banyak pelayan yang bisa melakukannya Nak," lanjut Dina perlahan dan mendekati putranya. Bocah laki-laki itu ternyata adalah anak dari Dina, yang dia besarkan seorang diri. Apa yang Dina katakan memanglah benar, di rumahnya yang begitu besar itu bukan hanya dihuni satu atau dua orang, akan tetapi ada 20 orang disana. Empat belas pelayan, dua orang manager pribadi Dina di rumah, beserta Dina dan putra tunggalnya, kekayaan Dina sudah tidak di ragukan lagi, terlebih Dina adalah wanita yang begitu berpengaruh dalam dunia per-bisnisan. Perusahaannya sudah dikenal internasional dan menginvestasikan saham bersama kolega bisnis bermacam-macam, sehingga keuntungannya hampir mendekati gaji CEO tertinggi di dunia yang menghasilkan Rp8,5 triliun sepanjang tahun 2019. "Dhafin ingin melayani Mama, Dhafin menyukainya," lanjut anak itu mengutarakan pendapatnya kepada sang ibu. "Baiklah, kalau kamu ingin melakukannya maka harus bersama Stella ... jangan membawa sendiri seperti ini, mengerti?" sahut Dina menasehati sang putra. Stella adalah sekretaris pribadinya selama di rumah, sekaligus berperan penuh mengawasi Dhafin selama Dina tidak berada di rumah. "Ehem ... baiklah Mama tercantik se-dunia ...." jawab bocah itu dengan cerita sembari memuji sang ibu sebagai ibu tercantik di dunia. Sesungguhnya Dhafin begitu bahagia ketika dirinya kembali mendapatkan sosok ibu yaitu Dina, dirinya begitu menyayangi Dina sebagai ibunya sejak mengadopsinya dari panti. Ya, Dhafin adalah anak yang Dina adopsi sebagai anggota keluarganya, tetapi walaupun demikian diantara mereka berdua sama sekali tidak ada keraguan untuk saling percaya dan menyayangi satu sama lain. Dhafin yang dulu adalah anak yang pendiam dan selalu murung, kini dia menjadi begitu ceria dan bahagia ketika dibesarkan oleh Dina di bawah atap rumah mewahnya dengan penuh kasih sayang, hingga membuat anak itu tidak merasakan kekurangan sekalipun. "Mari makan, Dhafin suapi Mama. Aaa ...." Tangan mungilnya mengambil sesendok bubur hangat dan diarahkan kepada sang ibu. Dina tersenyum melihat putranya yang begitu manis itu, ada beberapa alasan yang mengharuskan Dina untuk mengadopsi Dhafin. Dan alasan itu mungkin akan menjadi salah satu jalan bagi Dina untuk menemukan kebahagian. "Kamu makan juga, buka mulutnya ... Aaa ...." Kini Dina bergantian menyuapi sang putra. Pagi yang cerah dengan kasih sayang yang saling diutarakan tanpa keraguan, mereka berdua yang semula asing kini menjadi dekat dengan ikatan ibu dan anak. Tak sedarah tetapi begitu berarti. Saat ini Dina dan Dhafin menuruni anak tangga di ikuti salah satu pelayannya yang membawa nampan yang sebelumnya di bawa oleh Dhafin. "Pergilah main ke luar, ehm?" ujar Dina mendadak kepada sang putra. Dhafin yang mendengarkan ucapan sang ibu hanya bisa menurut patuh dan berlari keluar untuk bermain, lalu di ikuti seorang pelayan yang bertugas mengawasinya. "Siapa yang membiarkannya membawa nampan itu?" Suara Dina terdengar jelas di telinga semua orang yang berbaris rapi di depannya. Empat belas orang wanita sebagai pelayan itu menunduk diam, terlihat raut wajahnya begitu ketakutan. Selama mereka bekerja bersama Dina tidak ada satupun yang berani membantah, satu kesalahan maka dia dipecat. Masih terdiam, tidak ada yang menjawab. "Kalian tidak dengar? siapa yang membiarkannya membawa nampan itu ke kamar ku?" ulang Dina lagi sedikit naik oktaf. Masih membisu dengan wajah ketakutan, jari jemari mereka bertautan dan diremas kuat menahan takut. "Huft, baiklah! tidak ada yang menjawab maka kalian semua dipecat!" ujar Dina membuat keputusan dan semua orang disana membelalakkan mata, termasuk Stella dan Danu. "Aduh! berantakan lagi ini!" gumam Stella memijit pelipisnya perlahan, bagaimana dia tidak pusing memikirkan sang majikan, dalam dua bulan mereka sudah memecat hampir 30 orang karena membuat kesalahan. Danu yang berkedudukan sama seperti Stella ikut pusing memikirkannya, pria satu ini sudah tidak muda lagi, dia adalah pria paruh baya yang dulunya adalah pelayan di rumah Dina sejak orang tuanya masih hidup, dan Danu sendiri diberikan amanah untuk mendampingi putrinya. "Istirahatlah, jangan membuat keputusan seperti ini-" ujar Danu menyahuti ucapan Dina, hanya dirinya lah yang berani mengendalikan Dina disituasi seperti ini. "Diam, tanya ke mereka siapa yang membuat kesalahan!" sergah Dina membuat ucapan Danu terpotong. Mendengar hal itu Danu hanya bisa menghela nafas berat dan berbalik badan menatap semua pelayan sambil memijit pelipisnya perlahan. "Kalian semua dipecat!" sahut Dina lagi-lagi membuat Danu terhenti bicara. Semua orang menatap sang majikan dengan penuh kesedian, mengasihani diri sendiri untuk kali ini. Sejak awal mereka bekerja satu bulan lalu dengan penawaran gaji dua kali lipat membuat mereka bersemangat akan tetapi hal itu seolah akan berakhir hari ini karena satu orang yang membuat kesalahan. "Saya yang melakukannya Nyonya, maafkan saya ...." sahut seorang wanita bertubuh ramping yang berdiri barisan paling depan. "Saya tahu!" jawab Dina begitu dingin yang ternyata sudah mengetahui hal itu sebelumnya. "Saya lalai meletakkan nampan itu di meja makan karena terburu-buru mematikan kompor di dapur-" lanjut pelayan itu membuat Dina kembali bicara. "Saya tidak menanyakan alasannya! Baiklah, hanya dia yang dipecat!" jawab Dina dengan tegas lalu meninggalkan semua orang menuju kamarnya kembali.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

MENGGENGGAM JANJI

read
484.2K
bc

MY DOCTOR MY WIFE (Indonesia)

read
5.1M
bc

Rewind Our Time

read
168.7K
bc

Dear Doctor, I LOVE YOU!

read
1.2M
bc

Everything

read
283.5K
bc

Just Friendship Marriage

read
515.2K
bc

KISSES IN THE RAIN

read
58.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook