Terlihat jelas pantulan bayangan sosok wanita bernama Dina dari sebuah cermin yang berdiri kokoh nan menawan. Dengan balutan jas kerja berwarna cokelat senada semakin menambah kecantikan darinya, hanya saja sejak hari itu senyumnya seolah direnggut paksa membuat dirinya selama bertahun-tahun tak pernah menampakkan senyumannya ke semua orang.
Tok ... tok ... tok
Suara ketukan pintu membuat Dina menoleh perlahan kemudian berkata, "Masuklah ...."
Krieek ... kenop pintu itu di putar dan terbuka hingga memperlihatkan sebagian isi kamar mewah milik Dina serta pemiliknya yang berkutat dengan pakaiannya di depan meja rias tanpa senyum sedikitpun.
"Ehm, ada apa?" lanjut Dina bertanya setelah mengetahui jika itu adalah Danu.
"Kali ini aku mendapatkan kandidat ke tuju," ucapannya terdengar santai, ya memang benar jika Danu akan berbicara santai jika tidak ada orang disekitarnya saat bersama Dina. Dalam diri pria paruh baya itu sudah menganggap Dina seperti putrinya sendiri, tidak bisa dipungkiri jika usianya yang memasuki 39 tahun tidak memiliki pasangan terlebih istri.
Mengingat pesan dari almarhum ayah Dina yang dahulunya adalah sang majikan, 'Rawatlah putriku dengan baik, perlakukan dia seperti keluargamu. Selama kamu masih hidup maka putriku masih menjadi tanggung jawabmu'.
Pesan ayah Dina masih diingat dengan jelas pada ingatan Danu, dengan kesetiaan dan kejujurannya dia berhasil membesarkan Dina sejauh ini dan mendampinginya untuk merebut kembali apa yang menjadi hak nya yang sempat di ambil paksa oleh sang Bibi.
Dina menoleh perlahan, seulas senyum miring hampir tidak terlihat pada sudut bibirnya. Kandidat? apa Danu membicarakan perihal pengganti pelayan tadi pagi?.
"Kamu memang bisa diandalkan ...." jawab Dina tanpa bahasa formal, mungkin itu karena sejak kecil dirinya sudah bersama Danu.
"Berikan biodatanya," lanjutnya membuat Danu mendekat sambil mengulurkan beberapa lembar kertas bersisi biodata seseorang yang menjadi kandidat.
Dina membacanya dengan teliti, beberapa detik terdiam dan kembali berkata.
"Dia membutuhkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya?" ujar Dina bertanya tanpa memalingkan wajahnya dari kertas itu.
"Iya, dia membutuhkan pekerjaan itu untuk melunasi hutang almarhum orang tuanya," jawab Danu.
"Cukup menarik, terus awasi dia dan tunggu perintahku selanjutnya. Pergilah," balas Dina memberikan perintah dan menyuruh Danu untuk meninggalkan kamarnya.
"Huft ... yang satu ini sepertinya jauh lebih baik, aku harus mendapatkannya." Perlahan Dina bergumam lalu melipat kertas itu ke dalam tasnya kemudian berjalan turun ke bawah.
***
"Dhafin ...." panggil Dina ketika berada di anak tangga paling bawah.
Anak itu menoleh dan menjawab, "Mama? ... Mama mau pergi?"
"Euhm, Mama harus mengunjungi seseorang hari ini. Bermainlah di rumah dan jangan lupa telepon Mama ya?" sahut Dina sembari mengusap puncak kepala Dhafin dengan lembut.
Stella dan Danu yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua sebenarnya sudah tahu kemana tujuan Dina hari ini. Mereka terkadang merasa bangga kepada Dina, terkadang juga mereka sedikit membencinya karena sifat egoisnya yang begitu besar. Akan tetapi hal itu tidak merubah kasih sayang Stella dan Danu yang hidup bersama Dina selama belasan tahun.
"Kamu melupakan sesuatu?" sahut Stella dari kejauhuan, dia pun sama seperti Danu yang tidak formal lagi kepada Dina kecuali jika kondisi sedang memanas.
"Tidak," jawab Dina dengan singkat seperti biasanya.
Stella tersenyum simpul mendengar ucapan majikannya itu kemudian lanjut berbicara, "Pergilah, jaga dirimu baik-baik ...."
Dina tidak menjawab dan hanya beralalu pergi menuju pintu, Stella hanya tersenyum lagi dan lagi, dirinya sudah begitu hafal dengan tingkah laku Dina. Tidak selang beberapa detik Danu ikut menyusul Dina untuk mengantarkannya.
Ya, setiap hari Danu adala sopir pribadinya. Dina sendiri tidak pernah mempercayai siapapun untuk menjadi sopirnya semenjak kecelakaan besar dia masa lalu.
Mobil mewah berwarna hitam melaju perlahan menyusuri jalanan kota besar yang begitu ramai. Lalu lalang pengemudi dari mobil, bus, motor, hingga sepeda sudah memiliki jalur lintas masing-masing.
Dina menatap ke luar jendela mobil dengan tatapan kosong, terdiam, dan hanya bernafas perlahan. Pikirannya tidak pernah tenang sama sekali, banyak hal yang mengusik dirinya terlebih lagi mengenai kesehatannya.
***
Satu jam berlalu, mobil yang ditumpangi Dina kini berhenti di halaman luas rumah sakit kota.
Ternyata rumah sakit adalah tujuannya kali ini, dengan alasan tertentu dirinya tidak pernah memberi tahu siapapun kecuali Stella dan Danu.
Dengan perlahan Dina keluar dari mobil setelah dibukakan oleh Danu. Kaki jenjangnya berhasil menginjak halaman rumah sakit yang dia kunjungi setiap satu minggu sekali.
"Mari ...." ucap Danu sembari mempersilahkan wanita dingin itu untuk menggandeng tangannya dan berjalan bersama memasuki rumah sakit.
"Selamat pagi Bu ...." ucap seorang perawat secara bersahutan ketika Dina melewati mereka. Begitu di hormati dan disegani, namun sayang wanita ini terlalu dingin dan irit bicara, ketika di sapa seperti itu dirinya hanya mengangguk kecil tanpa senyum bahkan menoleh.
Hanya Danu yang membalas sapaan mareka yang ramah, dan hal ini pula yang selalu dia lakukan ketika mendampingi Dina di tempat ramai.
"Bisakah kamu menyapa mereka sekali saja?" ungkap Danu sembari berbisik lirih ditelinga kanan Dina.
"Tidak menarik sama sekali." Begitu singkat dan penuh sorot mata dingin tidak peduli dengan sekitar.
Danu hanya tersenyum kecut mendengar jawaban wanita malang itu, walaupun dirinya sudah tahu jika Dina pasti menjawab demikian.
Tibalah mereka di lantai lima setelah menaiki lift.
Sebuah ruangan bertuliskan 'Doc: Sp.JP. Stevean' menjadi tujuan Dina saat ini, dengan perlahan pintu itu terbuka, aroma obat-obatan yang begitu semerbak menjadi aroma khas tersendiri bangunan ini.
"Silahkan masuk ...." ucap Dokter Stevean dengan ramah kemudia menoleh dan mendapati Dina yang berdiri bersama asistennya.
"Wah, ketemu lagi disini, Pak Danu juga ...." lanjutnya menyapa tamunya bergantian.
"Hehe ... selamat siang Dok," balas Danu.
"Selamat siang juga Pak Danu, mari-mari silahkan duduk senyaman mungkin. Baiklah, kita langusung saja, ehm ... apa ada keluhan yang baru-baru ini Bu Dina rasakan?" ucap Stevean begitu profesional.
Dina hanya menjawab seadanya tanpa ada niat berseda gurau seperti Danu.
"Tidak, hanya terkadang saya merasa kelelahan berlebih," jawab Dina mulai serius berbicara.
"Baiklah kita lakukan pemeriksaan sekarang juga." Stevean.
Setelah Stevean berkata demikian Dina hanya menurut patuh dan berjalan mendekat ke ranjang rumah sakit kemudian berbaring perlahan.
Masker kesehatas, sarung tangan khusus, jas berwarna putih, serta stetoskop menjadi kesan tersendiri untuk Stevean yang mengabdikan diri di rumah sakit selama empat tahun lamanya.
Pemeriksaan dilakukan, dengan teliti Stevean memeriksa pasiennya.
"Euhm begini, saya harus benar-benar menjelaskan hal ini secara gamblang ...." ucap Stevean memulai pembicaraan kepada Dina yang sudah duduk berhadapan didepannya.
"Kanker darah ini semakin lama akan semakin parah dan tentunya akan sangat berbahaya, dari hasil pemeriksaan tadi ternyata sudah memasuki stadium B tahap B, dimana pembesaran kelenjar getah bening pada lebih dari tiga lokasi dan jumlah sel darah putih tinggi. Mungkin akan mudah merasa lelah dan belum memiliki gelaja yang begitu jelas, saya menyarankan-" lanjutnya terpotong oleh Dina yang tiba-tiba berdiri.
"Tidak perlu, sekian pertemuan kita Dok. Terimakasih atas waktunya ...." ujar Dina dengan raut wajah muram dan berlalu cepat keluar dari ruangan.
Danu terbelalak kaget, mencoba mencegahnya tetapi gagal dan memilih kembali duduk dan berbicara dengan Stevean yang sedikit terkejut.
"Dina, Din ... akh!" ucapan Danu sudah tidak didengar lagi oleh wanita keras kepala itu.
"Maaf atas perlakuannya barusan, dia berubah seperti itu karena beberapa hal. Saya begitu kagum sekaligus bangga melihatnya sejauh ini, tetapi apa yang bisa diperbuat jika ternyata penyakit langka sudah mendiami tubuhnya ... andai bisa memilih maka aku akan meminta bertukar posisi dengannya ...." lanjut Danu terbawa suasana.
Stevean tertegun, memang dia sendiri juga menyadari jika melawan kanker tidaklah semudah yang kita bayangkan, terlebih jika semangat hidup sudah tidak ada lagi.
"Apa yang bisa kita lakukan untuk menolongnya?" sergah Danu bertanya lebih serius.
"Lakukan operasi segera, bukan dengan saya akan tetapi saya merekomendasikan profesor saya di Bangkok, saya yakin jika dia bisa membantu krisis ini. Tetapi untuk hal itu juga diperlukan semangat hidup dari pasien," jawab Setevan.
Danu terdiam dan membatin, "Sudah cukup keras kepalamu selama ini, tidak akan aku biarkan mautmu mendahuluiku!"
"Baiklah, terimakasih atas waktunya, saya permisi ...." sergah Danu dan berlalu cepat menyusul wanita keras kepala itu.
"Oh iya, silahkan ...." Stevean.
"Bersemangatlah untuk hidup, karena itu adalah satu-satunya harta terbesar yang kita miliki ...." Stevean.