"Dina! berhenti sebentar! kali ini saja dengarkan aku!" teriak Danu dengan sekuat tenaga terus berlari mengejar wanita keras kepala itu.
Namun dia yang namanya terus dipanggil tidak mendengarkan sama sekali, terus berlari dengan mata berkaca-kaca dan bahunya semakin rapuh menahan beban sejauh ini.
Mereka terus berlari saling mengejar, yang satu terus berusaha kekeuh meruntuhkan keras kepala yang lain, sedangkan yang satunya terlalu keras untuk dilunakkan. Inilah kenyataannya, ketika harapan satu-satunya sudah tidak didengar lagi dan diri yang meminta telah hancur tak tersisa.
Saat ini mereka tiba di atap rumah sakit, tenaganya sudah tidak sanggup lagi untuk berlari semakin jauh. Dina berhenti dengan bahu gemetar menahan tangis tepat di tepi atap yang memperlihatkan pemandangan kota yang semakin sore dari ketinggian.
"Huh-huh ... aku mohon berhentilah, dengarkan aku kali ini saja ...." ucap Danu perlahan sambil mengulurkan tangannya kepada Dina agar mau menenangkan dirinya.
Danu sudah begitu hafal dengan sikap wanita itu, melihat situasi saat ini membuat Danu kembali teringat peristiwa dua tahun lalu, dimana Dina berusaha mengakhiri hidupnya di tepi jembatan kota yang membentang disepanjang sungai.
"Dengarkan aku, kita bicara dengan perlahan, oke?" lanjut Danu masih berusaha menenangkan Dina, ketakutan akan peristiwa dua tahun lalu akan terulang lagi membuatnya harus lebih memahami Dina.
"Ibuku, ayahku ... mereka masih hidup di dalam diriku." ucap Dina perlahan sambil melangkahkan kakinya mendekati tepi atap.
Danu terdiam seketika mendengarkan ucapan wanita di depannya, kakinya yang semula tinggal beberapa langkah mendekati Dina kini terhenti dan diam ditempat.
"Sudah cukup aku terus bernafas dalam dunia hampa ini, sudah cukup aku berjuang sendiri. Biarkan kali ini aku memutuskan hidupku sendiri, aku bukan anak kecil yang terus menangis melihat dua mayat yang terbaring pucat dia lantai rumah ...." lanjutnya dipenuhi luka ketika bayangan masa lalu kembali teringat di dalam pikirannya.
"Memang seharusnya aku tidak bisa menyerah, tetapi adakah seseorang yang mampu berdiri sendiri pada satu tali tanpa tiang dan keseimbangan?" ucap Dina masih berlanjut dan hal itu membuat mulut Danu terbungkam sembari menunduk menahan tangis.
"Kamu tidak sendiri, ada aku dan Stella-" jawab Danu yang terpotong.
"Berhenti seolah-olah kau tahu tentang hidupku! berhenti memanggilku seperti itu! berhenti bersikap kau adalah keluargaku! ... aku bisa memecat mu sekarang juga, jadi tutup mulutmu itu!" Kali ini nada bicara Dina sudah begitu tinggi dan berteriak.
Emosinya begitu kuat untuk dipadamkan kali ini, lukanya yang terpendam semakin membuatnya terpuruk, seharusnya Dina melampiaskan hal itu pada sekitar, akan tetapi wanita ini selalu memendam apapun dengan begitu dalam.
Danu menunduk dan setetes cairan bening terjatuh membasahi sapu tangan yang dia genggam. Saat ini Dina sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi, pipinya sudah basah karena air mata. Urat lehernya tergambar jelas ketika dia berteriak dan menahan tangis.
Kedua telapak tangannya menggenggam kuat menahan amarahnya, hidupnya sudah berada di penghujung waktu yang akan segera berakhir.
"Dengarkan aku ...." sergah Danu berusaha menentang Dina.
Dina hanya diam tak menjawab ketika Danu mendekat ke arahnya. Tangan kirinya di tarik perlahan menuju tepi atap untuk duduk berdua disana. Dina menurut pasrah tanpa memberontak.
"Kau lihat senja itu?" tanya Danu ketika mereka berdua sudah duduk di tepi atap dengan kaki tergantung dari ketinggian.
Dina terdiam dan menatap tak peduli pemandangan di depannya.
"Begitu indah kan? kau masih menyukainya?" lanjut Danu kembali menanyakan tentang masa lalu Dina yang dahulu begitu menyukai senja.
"Cantik dan menawan, begitu juga denganmu. Apapun yang terjadi aku akan selalu disisimu sama seperti dulu, sebelum semua terlanjur mari kita perbaiki dan membuat pelangi bersama ...." Danu terus berbicara dan Dina seketika tersenyum lucu.
"Sudahlah, aku memang ingin mati setiap harinya. Dan Tuhan sepertinya mendengarkan doaku yang meminta untuk mati, Dia memang unik ... hahah ....." jawab Dina menertawai dirinya sendiri.
"Biarkan aku menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan agar bisa pulang dengan tenang. Aku akan memberikan hak waris kepadamu juga nanti, jangan mengkhawatirkan hal itu-" lanjut Dina yang terpotong karena teriakan Danu yang naik pintam.
"Diam! sudah cukup! aku tidak peduli dengan harta atau apalah itu! tidakkah kau berpikir tentang betapa menyesalnya diriku karena tidak bisa menyelesaikan keinginan ayahmu?" sergah Danu mulai meradang.
"Kau membentak ku?" tanya Dina tidak percaya jika Danu membentaknya untuk yang pertama.
Danu menunduk kehabisan kata-kata.
"Dengarkan aku kali ini, diamlah dan lakukan apa yang seharusnya kau lakukan!" ucap Dina menutup pembicaraan dan bangkit berdiri menuju parkiran dan meninggalkan Danu yang masih duduk berdiam diri disana.
Diusapnya dengan gusar wajah yang semakin menua itu, kedua tangannya lurus menopang tubuhnya ke lantai semen.
"Kau melihat itu? keras kepalanya masih sama, bahkan membuatku kewalahan ... hahah .... tapi tidak apa, dia bersikap seperti ini karena hatinya begitu dingin, seseorang harus datang dan menghangatkannya sebelum waktu berakhir," gumam Danu sambil menatap awan berwarna jingga dengan penuh kesedihan, seolah saat ini dirinya sedang berbicara dengan mendiang Haris- ayah Dina.
Warna senja semakin pekat, hembusan angin sore mulai terasa. Saat ini Danu kembali mengemudikan mobil untuk mengantarkan Dina kembali pulang ke rumah. Mobil berwarna hitam itu melaju kencang melewati jalanan dan semakin jauh lalu menghilang.
***
Hidup memanglah pilihan, tetapi menerima takdir adalah sebuah paksaan yang harus diterima tanpa merasa terpaksa.
Hidup ada dua macam, dengan kelebihan atau dengan kekurangan. Sosok pria bertubuh tinggi dengan rahang berbalut Hoodie merah muda dan sepatu sport tengah berjalan di sekitar taman kota dengan banyak pikiran.
Kaki jenjangnya menendang kasar kerikil yang tak bersalah di jalanan beraspal. Pria ini berbeda dari Dina yang dingin dan selalu memendam segala hal, dirinya begitu ramah dan terkesan humble, dia bernama Arzan lebih tepatnya Arzan Nickley.
"Akh! kapan krisis pekerjaan di kota ini berakhir? akh itu membuatku tersiksa selama beberapa hari!" gumam Arzan melampiaskan amarahnya pada kerikil tak berdosa itu.
Saat ini Arzan sedang mencari pekerjaan setelah hampir satu bulan lulus kuliah. Ya, pria ini masih begitu muda, usianya baru memasuki 23 tahun.
Mencari pekerjaan ternyata tidak semudah yang dia pikirkan sebelumnya, semula Arzan berpikir jika dengan pendidikan tinggi dia bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah, akan tetapi hal itu berbeda dari realita yang ada.
Terlebih jika ternyata mendiang orang tuanya meninggalkan hutang jutaan demi menyambung hidup, tetapi Tuhan berbalik arah dari rencana ayah dan ibunya. Satu tahun yang lalu mereka harus terpaksa pulang ke sisi Tuhan satu persatu. Sang ayah meninggal karena kecelakaan dan sang ibu mengidap kanker kronis yang tak pernah diobati, jadilah sekarang Arzan harus mampu menjalani hidup tanpa mengeluh lagi kepada orang tuanya.
"Huft ... tenanglah Arzan, berdoa saja kamu akan mendapatkan cinta dari gadis kaya raya dan menyelamatkan hidupmu," gumamnya mulai berhalusinasi untuk menghibur dirinya ketika stres.
"Kira-kira apakah dengan wajah tampan saja aku bisa menikahi gadis kaya? wah, pastinya bisa! ketampanan ku ini tidak ada yang bisa menandinginya! aih ... berkeluarga dengan wajah tampan sepertinya tidak akan mudah, pasti istriku akan terus cemburu, hahaha ...." lanjutnya masih berimajinasi dan tertawa ria disepanjang jalan taman kota, benar-benar selera humornya mampu menghibur orang lain.