"Tuan! tuan ...." teriak Stella dari kejauhan sembari melambai-lambai ke arah pria yang di panggil.
Dia adalah Arzan, saat ini Arzan masih berada di area taman, dan tiba-tiba seorang wanita sedikit berumur berteriak ke arahnya dengan sebutan tuan. Arzan yang kebingungan seketika tolah-toleh melihat sekitar dan ternyata hanya dia sendiri yang berada disana.
Jari telunjuknya mengarah ke d**a bidangnya bermaksud bertanya apakah dirinya yang dipanggil wanita itu. Dan ternyata benar, wanita sedikit berumur itu mengangguk cepat dan berlari menghampirinya.
"Anda mencari saya?" tanya Arzan saat Stella tiba dihadapannya dengan nafas terengah-engah.
"i- iya, huft ... huh ...." jawab Stella dengan cepat, dilihat dari raut wajah Arzan masih kebingungan karena tidak mengenal Stella.
"Oh, perkenalkan saya Stella ...." ucap Stella memperkenalkan diri dengan sopan sambil menundukkan kepalanya hormat, kali ini Stella harus benar-benar memperhatikan sopan santun kepada orang lain.
Arzan menaikkan salah satu alisnya kebingungan, ditambah lagi ketika Stella memberikan salam kepadanya, rasanya begitu aneh ketika seseorang yang baru bertemu bersikap berlebihan.
"Tidak- tidak, santai saj-" sergah Arzan begitu canggung dan ucapannya terpotong karena perkataan Stella yang menyahut dengan begitu cepat.
"Tidak! saya harus menghormati anda mulai sekarang, ya walaupun belum resmi ...." ujar Stella tanpa melupakan kepribadiannya dengan mulut licin itu.
"Eh, apa Anda mengatakan sesuatu?" tanya Arzan benar-benar merasa canggung.
"Oah tidak-tidak, saya hanya perlu menyampaikan beberapa informasi penting," Stella.
"Katakan," sahut Arzan mempersilahkan.
Stella menarik nafas agar rileks sebelum kembali berbicara panjang.
"Anda membutuhkan pekerjaan kan? berapa gaji yang Tuan butuhkan? 20jt perbulan? eh, 35jt?" lanjut Stella terdengar konyol dan Arzan terkejut bukan main, tetapi sayang kali ini dia menganggap Stella adalah wanita tidak waras yang lari dari rumah sakit jiwa.
"Euhm?" gumam Arzan begitu bingung dan melanjutkan bicara, "Bagaimana Anda tahu jika saya membutuhkan pekerjaan?" sahut Arzan penasaran.
Stella memasang raut wajah baru dan menjawab, "Woah, bagaimana saya tidak mengetahui jika ada pria jenius yang sedang menganggur, apakah Tuan bersedia bekerja bersamaku?"
Arzan terkekeh malu ketika Stella memujinya, kemudian kembali menyahut, "Saya memang membutuhkan pekerjaan, tetapi saya juga tidak segampang itu, kriteria gaji bulanan saya juga harus sepadan, dan juga saya tidak menerima sembarang pekerjaan. Terlebih jika ini menyangkut hukum ," ucap Arzan sedikit jual mahal, dan sekaligus berhati-hati mengenai pekerjaan yang dimaksud Stella.
Stella tersenyum kecut dan membatin keras ingin menghancurkan kepala Dina, "Akh! wanita itu membuatku terpaksa harus rela melamar pria untuknya, benar-benar wanita aneh. Aku tidak yakin dia akan menikah dengan kepribadiannya yang seperti ini, tetapi ada hal lain yang mungkin berpengaruh dalam hidupnya, yaitu uang dan harta kekayaan!"
"Aku lakukan ini demi kamu Nyonya besar kepala! ...." gumam Stella kesal dan usahanya untuk mempengaruhi Arzan mulai berjalan lancar.
"Tenang saja Tuan, euhm ... apa Anda pernah mendengar perusahaan Anca' Soft ?" lanjut Stella bertanya.
Arzan yang semula tidak menganggap pembicaraannya serius, ketika mendengar ucapan Stella seketika matanya terbelalak lebar karena kaget.
"A- apa?" tanya Arzan begitu tidak percaya hingga kalimatnya terbata-bata.
Stella tersenyum melihat respon Arzan yang gugup, dan saat itu juga watak receh Stella terlihat di depan Arzan. Jari telunjuknya menyibakkan anak rambutnya ke belakang telinga agar terlihat anggun setelah mengatakan tentang Anca' Soft, siapa yang tidak mendengar nama perusahaan terbesar dan termegah itu, bahkan Arzan sendiri tidak pernah berpikir akan bekerja disana.
"Hehe ... apa Anda pernah mendengarnya?" jawab Stella berbalik tanya.
"Te- tentu, siapa yang tidak mengenal perusahaan itu. Tapi tunggu! ini bukan rencana penipuan kan?" jawab Arzan sumringah.
Stella mengerucutkan bibirnya dan menjawab, "Aih, untuk apa saya menipu orang ... jika bersedia menerima tawaran saya, bisakah Tuan ikut saya untuk membicarakan ini lebih lanjut?"
"Oah, tentu ... sebenarnya saya sedikit sibuk hari ini, tapi tidak apalah ... sebenarnya juga banyak yang menawari saya pekerjaan, tetapi saya akan mempertimbangkan tawaran Nyonya Stella," jawab Arzan setelah menyakinkan dirinya sendiri dan kembali bersikap seolah memang orang penting, padahal sepanjang hari dia benar-benar kesulitan mendapatkan pekerjaan.
"Panggil saja Stella, kalau begitu mari silahkan ...." ucap Stella dan mempersilahkan Arzan untuk mengikutinya menuju mobil.
Mereka berdua mengemudi menuju kediaman Dina, Arzan tidak tahu jika pekerjaan yang ditawarkan oleh Stella bukanlah pekerjaan yang ada di dalam pikirannya, dirinya akan begitu terkejut ketika mengetahui faktanya nanti dari mulut Dina sendiri.
Disepanjang jalan Arzan hanya menatap ke luar jendela dengan perasaan bahagia, akhirnya usahanya untuk mencari pekerjaan akan terjawab hari ini. Entah keajaiban apa yang membuat Arzan merasa menjadi manusia paling beruntung hari ini.
Matanya menatap awan sore berwarna jingga pekat, seulas senyum tak pernah luntur dari sudut bibir pria itu, membuat Stella yang meliriknya ikut tersenyum lucu melihat kebahagiaan dari sorot mata Arzan.
Stella menggeleng pelan dan membatin, "Semoga senyummu akan terus bertahan setelah melihat atasanmu yang sebenarnya nanti," batin Stella membicarakan Dina.
Mobil berwarna putih itu melaju melewati jalanan kota dan menuju kediaman Dina, hilir mudik pengguna jalanan kota tak pernah usai selama 24jam setiap harinya. Kapasitas pengguna jalan akan semakin bertambah di hari libur, sehingga terkadang terjadi kemacetan di jalan raya kota besar ini.
***
Di kediaman Dina.
"Tuan berhentilah sebentar, habiskan dulu makanannya ...." ucap pelayang yang bersusah payah membujuk Dhafin yang berlari sembari membawa pesawat terbang mainannya.
Dhafin terkadang tidak ingin mendengarkan perintah orang lain ketika tidak nafsu makan, contohnya kali ini dia tidak ingin menghabiskan buah segar yang disiapkan Stella.
"Nggak mau, Dhafin nggak lapar Annie ...." jawab anak itu sembari menyebut nama pelayannya.
Pelayan bernama Annie itu tersenyum lembut dan berjalan menuju tempat Dhafin berdiri.
"Mau dengar Annie bercerita?" ucap Annie menawarkan cerita bukan malah memaksa Dhafin untuk makan, dan ini adalah salah satu caranya membujuk majikan kecilnya untuk kembali makan.
"Mau, Annie bercerita lah! Dhafin mau dengar ...." jawab Dhafin begitu antusias dan berlari ke pangkuan Annie.
"Uwh ... baiklah, dengarkan baik-baik ya?" ucap Annie dan dijawab dengan anggukan cepat oleh Dhafin.
"Dahulu ada sebuah desa yang banyak buah dan tanaman lainnya. Di desa itu tinggallah satu anak gadis dan neneknya. Suatu ketika mereka merasa bosan dengan buah-buahan yang ada disana, lalu mereka berniat untuk menjual semua buah-buahan dan menukarnya dengan makanan lain seperti ikan dan gandum. Semula mereka merasa puas dengan apa yang mereka makan, akan tetapi mereka lupa untuk menanam kembali hingga semua benih dan tanah disana menjadi tandus dan tidak subur. Karena hal itu mereka merasa sedih karena tidak bisa makan buah lagi, dan mereka menyesali perbuatannya yang tidak merasa puas dengan apa yang dipunya ...." Cerita Annie di dengar seksama oleh Dhafin yang duduk di pangkuannya.
"Mereka tidak makan buah lagi?" tanya Dhafin di akhir cerita Annie.
Annie mengangguk dan disahuti lagi oleh bocah itu, "Mana buah Dhafin, Annie?"
Annie tersenyum puas karena keras kepala anak itu bisa diluluhkan, tangannya mengulurkan semangkuk buah segar yang sudah di potong dadu dan diberikan kepada Dhafin.
Dengan cepat Dhafin meraihnya lalu memakannya satu persatu dengan lahap. Annie tersenyum lebar dan mengelus lembut punggung Dhafin dan berkata, "Annie suapi?"
"Euhm ...." gumam Dhafin mengiyakan untuk disuapi. Setelah mendengarkan cerita itu Dhafin menjadi anak penurut ketika diminta makan buah.
Yang dilakukan Annie adalah cara yang bagus untuk membujuk anak kecil, jauh lebih baik dari pada memaksa dan bahkan memarahinya karena tidak mau menurut. Sebenarnya anak kecil itu begiitu mudah dipengaruhi dan mudah meniru orang tua. Cara didik orang dewasa akan berpengaruh untuk anak yang tumbuh dan berkembang