Pertemuan Pertama

1258 Kata
Stella tiba bersama Arzan di kediaman CEO ternama yang menjadi panutan banyak wanita, dan sekaligus disegani para pebisnis setiap tahunnya karena meraih penghargaan terbaik. "Turunlah, kita sudah sampai ...." ujar Stella kepada Arzan sembari melepaskan sabuk pengaman kemudian turun lebih dulu. Arzan mengangguk paham, matanya menatap bangunan megah di depannya dengan tatapan kagum. Tanpa berlama-lama dirinya ikut keluar dari mobil dan mengikuti Stella. Saat Arzan tiba di sisi pohon dengan sebuah kursi tiba-tiba langkahnya terhenti saat tubuhnya ditabrak seseorang. Bruk! "Maaf paman, aku tidak sengaja ...." Seorang bocah laki-laki dengan pesawat mainannya mengucapkan maaf karena tanpa sengaja menabrak Arzan, dia adalah Dhafin. Arzan menoleh sedikit terkejut kemudian terkekeh pelan dan berkata, "Oah, tidak apa ... kau sedang bermain?" "Paman baik sekali hehe ...." jawab Dhafin setelah mengangguk cepat. Arzan tersenyum lebar dan membungkuk sembari berkata, "Kamu juga anak yang baik, euhm?" "Paman mau bermain denganku?" tanya Dhafin yang merasa nyaman dengan Arzan yang baru saja dia temui. Arzanpun tak menolak ajakan anak itu kemudian mengiyakan dan bertanya, "Eh tunggu, paman belum tahu namamu ...." "Haha, iya lupa Paman ... namaku Dhafin, senang bertemu paman," jawabnya dengan kekehan kecil hingga deretan gigi kecilnya terlihat. Saat Dhafin tersenyum hingga matanya menyipit hal itu sekaligus membuat Arzan semakin gemas, menurutnya anak kecil adalah seseorang yang paling dicintai di dunia ini, saat mereka beranjak dewasa mereka yang semula hanya memikirkan permainan, saat itu harus berubah menjadi anak yang tegar ketika dihantam keadaan. Terlihat dari kejahuan Arzan terlihat antusias bermain bersama Dhafin hingga membuatnya lupa apa tujuannya kemari. Beberapa menit berlalu dan mereka terlihat kelelahan kemudian berbaring terlentang di atas rerumputan sembari menatap awan sore yang cerah. "Paman kemari mau menjadi ayahku?" Tiba-tiba pertanyaan Dahfin mengejutkan Arzan yang semula menutup mata dan menikmati hembusan nafasnya. "Euh?" gumam Arzan terkejut sambil menoleh cepat. "Bukankah paman kemari menjadi ayahku? ibuku yang memanggil Paman kan?" lanjut Dhafin bertanya terus terang. Arzan terdiam dan sejenak berpikir mengenai ucapan Dhafin barusan, di dalam pikirannya sedang menduga jika yang dimaksud oleh Stella mengenai pekerjaan itu adalah menikahinya dan menjadi ayah untuk putranya. "Apa?!" teriak Arzan terkejut dengan pemikirannya dan terduduk seketika. "Stella ingin aku menikahinya? wah, apa tadi dia melamarku? tidak-tidak! jangan asal berpikir Arzan, jika dia ingin melamarmu kenapa dia mengajakmu ke rumah majikannya?" gumam Arzan bergelut dengan pikirannya. "Dhafin! ...." teriak seorang wanita berwajah dingin dari kejahuan. Dhafin seketika berlari cepat menghampiri wanita itu, Arzan bangkit dan kembali kebingungan. "Apa dia Dina? CEO wanita itu? woah ... ternyata yang dikatakan media memang benar jika wanita itu berwajah dingin," gumam Arzan menduga-duga jika wanita itu adalah Dina yang di sebut sebagai CEO tanpa senyum. Mata mereka saling bertemu, Arzan berusaha menutupi kegugupannya saat Dina menatapnya dengan sorot mata tajam. "Kenapa kamu main keluar di sore hari?" tanya Dina kepada sang putra. "Dhafin bosan di dalam Ma," jawabnya polos. Arzan membatin kesal, "Hanya bermain itu dianggap membuat kesalahan? wanita macam apa dia menegur anak orang lain sedangkan ibunya membiarkannya saja, cih ...." "Sekarang masuk dan bersihkan dirimu!" sahut Dina memberikan perintah. Dhafin menurut dan berlari masuk ke rumah dan di ikuti lima pelayan yang siap melayaninya. Anak yang semula hidup di panti kini menjadi pangeran ketika diadopsi sosok ibu ratu, memang benar jika roda itu berputar, nasib seseorang tidak ada yang pernah tahu. Dina menatap datar pria yang berdiri tidak jauh di depannya kemudian berlalu masuk dan mengabaikannya. Pria paruh baya di belakangnya menghampiri Arzan. "Tuan Arzan?" tanya pria paruh baya itu yang ternyata adalah Danu. Lagi-lagi orang-orang itu memanggil dirinya dengan sebutan Tuan, hanya bekerja dan disebut Tuan? sungguh hal ini membingungkan Arzan. "Eh- hehe ... iya saya Arzan, kalau boleh tahu kenapa Tuan dan Nyonya Stella memanggilku seperti itu?" tanya Arzan berbalik menyebut mereka lebih tinggi darinya. Danu terkekeh ketika mendengar ucapan Arzan, pria paruh baya itu menepuk pelan bahu Arzan dan berkata, "Jangan memanggil kami berdua dengan sebutan yang lebih tinggi darimu, untuk alasannya kamu akan mengatahuinya sebentar lagi ... oh ya, mari masuk ke dalam ...." Arzan hanya menurut patuh dan masih kebingungan, rasanya hari ini orang-orang itu sedang membuat kejutan untuknya. Mereka berdua berjalan bersama dengan Arzan yang merasa begitu canggung dan berpapasan dengan Stella yang tersenyum menutupi kesalahannya karena meninggalkan Arzan di luar. "Tadi-" ucap Stella terpotong oleh Danu. "Lupakan, kau memang begitu ceroboh. Kalau singa betina itu mengamuk maka kau yang akan aku jadian santapannya!" sergah Danu dan berlanjut berjalan diikuti oleh Arzan yang hanya tersenyum canggung. Stella tersenyum kecut mendengar perkataan Danu dan mengikuti mereka masuk ke dalam. Terlihat dekorasi mewah dan bergaya memenuhi setiap sudut rumah berukuran besar itu, mata Arzan tak berhenti melirik takjub, wajar saja kehidupannya begitu berbeda dari Dina yang serba kecukupan, terlebih lagi ketika orang tuanya meninggal bersama hutang puluhan jutanya. "Silahkan duduk ...." ucap Danu dan membungkuk hormat diikuti Stella juga. Arzan tersadar dan menatap seorang wanita yang duduk diam di kursi dengan wajah datar tanpa ekspresi. Tanpa beralama-lama Arzan segera mendudukkan bokongnya dengan cepat ketika kembali menatap wajah Dina yang menyeramkan dimata Arzan. "Wanita ini membuatku ketakukan! menyebalkan!" gerutunya di dalam hati dengan begitu kesal. Dina mengubah posisi duduknya dengan tegak kemudian berkata, "Dimana datanya?" Stella segera mendekat dan menyerahkan sebuah map biru berisi data diri Arzan. "Arzan Nickley, 23 tahun, mahasiswa lulusan teknologi universitas Samgan ...." ucap Dina dengan jelas membaca sebagian isi dari dokumen itu dan sekaligus membuat Arzan terkejut ketika mengetahui jika mereka mendapatkan data dirinya tanpa sepengetahuannya. "Woah, itu biodataku? bagaimana mungk-" sergah Arzan terkejut dan berdiri sembari menunjuk ke arah Dina dengan kesal. Semua orang menatapnya seketika, dengan sorot mata Dina yang menakutkan membuat Arzan menelan ludah dengan susah payah. "Husshh ... duduk lagi, duduk ....." bukan Dina yang menjawab melainkan Stella, dirinya memberikan arahan kepada Arzan yang berani berdiri ketika Dina duduk bahkan berbicara dengan nada tinggi dihadapannya. Mendengarkan hal itu membuat Arzan bungkam dan menurunkan jari telunjuknya sembari mendudukkan bokongnya kembali. Dina yang semula menatap Arzan dengan tajam kini kembali fokus pada berkas yang dia pegang. Bruk! berkas itu di lempar ke meja dengan cepat, kemudian sang tuan rumah mulai berbicara. "Kau tahu kenapa dipanggil kemari?" tanya Dina membuka bicara. Arzan mendongak dan menjawab, "Bekerja?" "Euhm, kau tahu pekerjaan apa?" lanjut Dina bertanya. "Pegawai? direktur? pimpinan? wakil direktur? sekretaris?-" jawab Arzan menyebutkan satu persatu dugaannya dan berhenti seketika saat telapak tangan Dina mengarap ke arahnya sebagai pertanda memintanya untuk berhent bicara. "Kau akan mendapatkan semua itu dengan satu syarat, yaitu menerima kontrak pernikahan denganku" sahut Dina masih dengan raut wajah dingin. Stella dan Danu menunduk seketika, dia takut jika Arzan akan mengeluarkan respon tidak terduga. "Apa!?" dan benar saja jika Arzan terbelalak kaget hingga dia kembali berdiri lagi, menyadari sikapnya itu Arzan seketika tersenyum canggung dan kembali duduk. "Tunggu, apa maksudnya ini semua? kau? aku? pasangan? woah, kalian bercanda?" lanjutnya masih belum percaya. Semua orang terdiam dan membiarkan Dina dan Arzan berbicara. "Apa aku begitu buruknya dimatamu hingga begitu terkejut?" jawab Dina sedikit merasa kesal dengan respon Arzan. "Buk- bukan begitu, tetapi apakah tidak ada orang lain selain aku?" lanjut Arzan masih bertanya. "Aku tidak merekrut sembarang orang, jika aku memilih maka dia memiliki kelebihan, walaupun itu konyol sepertimu." Suara Dina sedikit lebih keras di akhir kalimatnya. "Ap- apa? konyol? woah, kau gila?" sahut Arzan semakin membuat semua orang menatapnya begitu kaget. "Apa dia menyebut Nyonya gila?" gumam Stella tak percaya. "Kurasa begitu, dia orang pertama yang berani melakukannya ...." jawab Danu ikut bergumam tak percaya. Semua orang masih terdiam menatap Arzan, dalam hitungan detik Dina berdiri dan berteriak, "Apa?! ulangi perkataanmu bodoh!" Degh! nafas mereka terhenti seketika melihat kemarahan Dina. Sepertinya dunia akan hancur kali ini karena perang antara mereka berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN