"Ap- apa? konyol? woah, kau gila?" sahut Arzan semakin membuat semua orang menatapnya begitu kaget.
"Apa dia menyebut Nyonya gila?" gumam Stella tak percaya.
"Kurasa begitu, dia orang pertama yang berani melakukannya ...." jawab Danu ikut bergumam tak percaya dengan mata terbelalak kaget tanpa berkedip
Semua orang masih terdiam menatap Arzan, dalam hitungan detik Dina berdiri dan berteriak, "Apa?! ulangi perkataan mu bodoh!"
Deg! nafas mereka terhenti seketika melihat kemarahan Dina.
Sepertinya dunia akan hancur kali ini karena perang antara mereka berdua.
Dina menatap tajam wajah Arzan setelah menyebut Dina sebagai orang gila, masih diam dan menatap. Arzan menyadari tingkah wanita dingin itu seketika menelan ludah mentah-mentah karena gugup. Semua orang terdiam dan Dina bangkit dari duduknya dengan perlahan.
"Hancur sudah pemuda ini!" gumam Danu sembari memadamkan amarah Dina.
"Hehe ... tidak, dia hanya asal bicara hehe ... kita langung saja ke-" lanjutnya menenangkan Dina tapi terpotong seketika.
"Diam! perkataannya tidak bisa ditarik lagi!" sergah Dina meradang sambil mendekat ke arah Arzan yang berdiri dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Ulangi sekali lagi!" lanjutnya ketika tepat dihadapan Arzan.
"Ka- kau memang gila, raut wajahmu itu memang menyeramkan, sifatmu yang selalu memerintah orang lain itu benar-benar menyebalkan, kau dengar itu ha?!" jawab Arzan terbata-bata setengah memberanikan dirinya untuk melawan Dina, walau sebenarnya dia merasa begitu tegang.
"Sungguh? berengsek!" balas Dina begitu geram. Kedua tangannya saat ini sudah berada dibagian kepala Arzan sembari mencekal erat rambutnya.
Mata Arzan terbelalak kaget ketika Dina hendak menjambaknya dengan sekuat tenaga, bukan meminta maaf ataupun mengalah, Arzan justru ikut menarik rambut panjang Dina.
"Woahh?" teriak Danu dan Stella tidak percaya melihat dua orang didepannya yang saling menjambak dengan kesal.
"Apa yang harus kita lakukan? demi Tuhan pemuda ini memang gila!" lanjut Stella begitu panik dan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Ulangi ucapan mu! berani sekali kau ha?!" sergah Dina meradang dan terus menjambak rambut Arzan dengan kencang membuat sang pemiliki merasa kesakitan.
"Aku memang benar! kau itu mirip seperti penyihir! kau dengar itu? kau mirip penyihir!" jawab Arzan tak mau kalah.
Dan akhirnya mereka berdua terus bertengkar saling menjambak satu sama lain, tetapi ketika Danu hendak memisah mereka tiba-tiba Dina meraih sepiring kue dan melemparkannya ke wajah Arzan.
Bugh!
"Berani kau melawanku lagi?" teriak Dina tepat setelah wajah Arzan penuh dengan krim kue. Danu dan Stella semakin membelalakkan matanya ketika Arzan masih tidak mau menyerah, diapun ikut meraih sepiring kue lainnya dan ikut melemparkannya ke wajah Dina dengan tawa puas.
"Rasain! Hahaha ...." tawa Arzan dengan kencang.
"Berengsek!" umpat Dina dengan amarahnya kemudian menarik kepala Arzan dengan sekuat tenaga sembari dilumatkan dengan sepiring kue di meja.
"Aduh, mereka berdua sama-sama keras kepala!" gumam Danu kewalahan.
"Nyonya-nyonya, hentikan ... ini hanya salah paham," sahut Danu menarik kedua tangan Dina dari kepala Arzan, Stella yang melihatnya segera meraih Arzan yang diam pasrah dengan wajah dipenuhi kue.
"Seharusnya kau minta maaf, tidak akan ada gunanya melawan singa betina yang lapar!" gumam Stella berbisik di telinga Arzan.
Dina sudah dibawa pergi oleh Danu menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya.
***
Di kamar Dina
"Pria itu gila! dia berani melawanku? wah berani sekali dia! dia tidak akan mendapatkan kontrak itu lagi!" teriak Dina kesal setelah sampai di kamar sekaligus membuat Danu membelalakkan mata kaget.
"Hehe ... jangan diambil hati, dia pria baik hanya saja mungkin sikapnya terlalu keras kepala," jawabnya berusaha menenangkan Dina, dirinya tidak tahu lagi harus mencari kandidat siapa lagi jika Arzan gagal kali ini.
"Tamatlah riwayatku yang harus mencari kandidat baru, Tuhan tolong selamatkan aku kali ini ...." batin Danu berdoa dengan segenap hatinya, pasalnya dia sudah tidak tahu lagi akan mencari kandidat siapa lagi yang sesuai dengan kemauan Dina.
"Lepaskan aku! aku ingin mandi!" sahut Dina melepaskan tangan Danu dari bahunya dan berlalu menuju kamar mandi.
Di bawah terlihat Stella membantu Arzan membersihkan wajahnya.
"Apa aku boleh mengatakan sesuatu?" ujar Stella berhati-hati untuk bicara.
Arzan hanya diam tak menjawab membuat Stella memilih melanjutkan bicaranya, "Sebenarnya baru kali ini dia bisa bersikap peduli dengan perkataan orang lain, selama ini dia hanya diam tak peduli dengan ucapan orang yang melawannya, dalam artian Tuan adalah orang pertama yang melakukan hal ini."
"Kenapa dia mencari suami dengan cara seperti ini? apa tidak ada yang melamarnya?" sahut Arzan mulai bertanya.
"Ada banyak yang meliriknya dengan perasaan, tetapi tahu sendiri jika wanita itu terlalu dingin dan keras kepala. Dan juga setiap pilihannya tidak ada yang buruk, termasuk Tuan sekalipun, dia melakukan ini karena memiliki alasan khusus untuk memilih Tuan sebagai suaminya," jelas Stella berkata apa adanya kepada Arzan.
"Tapi aku juga punya kehidupan pribadi juga kan? apa kalian tidak memikirkan jika mungkin saja aku memiliki pacar, bagaimana jika pacarku kemari dan mengamuk?" jawab Arzan berbohong mengenai pacar, dia melakukan itu demi mencari alasan untuk menolak keputusan Dina.
"Pa-pacar? mungkin saja, lagi pula Tuan juga masih muda. Akan tetapi aku tidak mendapatkan informasi jika Tuan memiliki kekasih, apa informasiku kurang terjamin?" gumam Stella meragukan ucapan Arzan.
Mendengar hal itu Arzan berusaha menutupi kebohongannya agar terlihat realistis.
"Tentu saja. Informasimu belum maksimal, jadi aku rasa aku tidak bisa menerima penawaran kalian."
"Sudahlah jangan mencoba membuat drama, apa kamu tidak memikirkan keuntungannya?" Bukan Stella yang menjawab akan tetapi Danu yang berjalan menuruni tangga.
"Apa kamu yakin mampu membayar hutang itu? apa kamu yakin akan tenang setelah keluar dari rumah ini?" lanjutnya.
"Apa ini ancaman untukku?" tanya Arzan sedikit sinis.
"Tentu saja tidak, aku hanya ingin kamu mempertimbangkan keputusan ini." Danu.
"Coba kalian pikirkan, bagaimana mungkin aku menikahi singa betina itu? apa kalian mempermainkan nyawaku?" sahut Arzan mulai geram.
"Duduklah, pembicaraan ini sepertinya semakin serius ...." titah Danu sembari ikut mendudukkan bokongnya di sofa.
Kini mereka bertiga saling duduk tenang dan memulai pembicaraan.
"Ada banyak yang tidak diketahui orang lain di dalam diri singa betina itu, sebenarnya dia tidak seperti yang kamu lihat saat ini. Sesuai apa yang dikatakan orang jika kondisi mungkin saja merubah kepribadian seseorang, dan itu terjadi padanya ...." tutur Danu memulai pembicaraan dan terus berlanjut.
"Wanita yang kamu lihat begitu dingin dan kasar itu sebenarnya sangatlah rapuh, begitu rapuh hingga harus benar-benar dijaga. Dia kehilangan orang tuanya sejak kecil, dia yang dulu begitu ceria dan penuh tawa kini menjadi pendiam. Sebelumnya apa yang kamu lihat di rumah ini berada di bawah kendali sang bibi, tetapi dia berhasil bangkit dari setengah keterpurukannya lalu mengambil alih haknya,"
"Kau tahu anak yang bermain denganmu tadi? dialah satu-satunya anggota keluarga baru yang menjadi semangat hidupnya saat ini, dan itu juga termasuk rencananya di penghujung waktu nanti ...." ujar Danu terus berlanjut dan Stella menundukkan kepalanya sedih ketika mendengar kalimat terakhir Danu.
"Dimana ayahnya?" tanya Arzan menyahut.
"Dia bukan anak kandungnya, bocah itu diadopsi dari panti." Danu tersenyum simpul mengingat drama sebelum Dhafin diadopsi.
Arzan semakin kebingungan dengan kehidupan di dalam rumah itu.
"Apa kamu ingin mendengarkan alasan utama atas keputusan ini? jika ingin maka berjanjilah jika pembicaraan ini hanya ada diantara kita," lanjut Danu dan diangguki paham oleh Arzan.
"Katakanlah ...."
"Wanita yang kau sebut singa betina itu mengidap kanker darah stadium dua," ujar Danu membuatnya tak kuasa menahan tangis, dengan perlahan kepalanya menunduk duka, begitupun dengan Stella.
Degh! Arzan terdiam membisu.
"Bahagiakan dia diakhir hidupnya kali ini, mungkin saja dengan kedatanganmu akan ada pelangi di kehidupannya dan rumah ini. Anggap saja aku memohon kepadamu kali ini ...." lanjut Danu dengan derai air mata bahkan sekarang dia mengatupkan tangannya ke arah Arzan.
Arzan terkejut mendengar fakta sejauh ini, batinnya berkecambuk seolah ikut merasakan derita semua orang di hadapannya.
"Ada banyak orang yang menyayangimu, akan tetapi justru kau memilih untuk mempersulit kehidupanmu sendiri. Apakah ini maksud dari mimpiku semalam?" batin Arzan seraya meraih kedua tangan Danu yang memohon kepadanya. Pikirannya pun kembali meningat tentang mimpi yang dia maksud semalam, apakah ini takdir untuk mereka berdua?
Dengan perlahan Arzan menatap sebuah bingkai foto Dina di atas meja dekat vas bunya dengan senyum mengembang dan hati yang hangat. Kali ini Arzan telah mempertimbangkan keputusannya.