Kesepakatan

1142 Kata
Tap ... Tap! Suara sendal terdengar dari arah tangga, terlihat sang tuan rumah baru saja keluar dari kamarnya. Semua orang menoleh dengan cepat dan berdiri menatap Dina. Arzan terdiam terpaku menatap Dina tanpa suara, entah apa yang dipikirkan oleh pria ini. "Aku berharap ini berjalan lancar," gumam Danu pelan. Dina datang dihadapan mereka bertiga dan kembali duduk di sofa dengan tatapan begitu dingin. Arzan masih diam tak bergeming dengan batinnya. "Baiklah kita lanjutkan pembicaraan ini, apa kau menyetujuinya?" ucap Dina membuka bicara. Arzan tersenyum singkat dan menjawab dengan pertanyaannya, "Pertama aku ingin bertanya kepadamu, apa alasanmu memilihku?" Dina yang semula menatap meja di depannya seketika menoleh setelah Arzan mengutarakan pertanyaannya. "Cukup sederhana, aku hanya membutuhkan rekan kontrak yang tepat." Dina hanya menjawab seadanya tanpa berniat membahas alasannya yang sebenarnya. Arzan tersenyum lucu dan mendekati Dina, sebenarnya dirinya sendiri sudah tahu mengapa Dina tidak mau mengutarakannya. "Benarkah hanya itu saja?" tanya Arzan dengan raut wajah serius, Stella dan Danu menatapnya kaget sekaligus khawatir jika dia akan mengatakan semua yang telah diketahuinya. "Apa maksudmu?" tanya Dina dengan satu alisnya yang terangkat. "Aku yakin jika kamu mungkin jatuh cinta dengan ketampananku, iya kan?" jawab Arzan dengan konyol, sekaligus membuat Stella dan Danu bernafas lega. Dina terdiam, matanya bertemu dengan netra Arzan. "Katakan saja jika kamu memang terpana dengan ketampananku," lanjut Arzan terus menyombongkan ketampanannya, jujur saja memang benar jika dirinya berwajah tampan, akan tetapi hal itu tidak berlaku untuk Dina. "Apa aku peduli?" sahut Dina dengan raut wajah datar, membuat senyum Arzan luntur seketika. Stella dan Danu berusaha menahan tawanya mendengar jawaban Dina. "Lihat saja, suatu saat nanti kau pasti akan benar-benar menyukaiku," tegas Arzan seolah memperingatkan wanita di depannya itu. "Aku merasa tertantang," ujar Dina tak peduli. "Apa jaminan jika aku menyetujui ini?" tanya Arzan kembali serius. Tangan Dina bergerak memberikan kode kepada Stella untuk memberikannya dokumen perjanjian kontrak. "Ini ...." Jari telunjuknya menunjuk ke arah kertas dengan satu persatu. "Jaminan seumur hidup, dengan syarat kau benar-benar merawat putraku. Pertama, 80 juta perbulan. Kedua, pesawat pribadi dan hutangmu lunas. Ketiga, kau bebas meminta tanpa melanggar peraturan," lanjutnya menyebutkan tiga point penting yang akan diterima oleh Arzan. Arzan tersenyum membatin, "Wanita ini benar-benar tidak menikmati hidupnya ...." "Apa peraturannya?" tanya Arzan menyahut. "Dengarkan baik-baik ... satu, kau harus bangun pagi dan melakukan kewajibanmu sesuai kontrak. Dua, tidak ada perlakuan suami istri diantara pihak pertama dan kedua. Tiga, selalu diingat untuk pihak kedua (Arzan) untuk selalu mematuhi perintah pihak pertama (Dina). Empat, tidak adak kencan dengan wanita luar. Lima, tidak ada ikut campur dalam privasi masing-masing ...." ucap Dina menjelaskan hanya sampai lima point, sedangkan masih ada tiga puluh point tersisa. Arzan tercengang mendengarnya, menurutnya dia hanya mendapatkan keuntungan 30% dari 100 kontrak tertulis. "Apa kau berniat membunuhku di usia muda?" gumam Arzan tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas putih itu. "Kenapa? ada yang tidak kau setujui?" jawab Dina bertanya. "Tentu saja! bagaimana bisa aku tidak berkencan dengan wanita lain sedangkan tidak ada perlakuan suami istri diantara kita? mau bagaimanapun aku juga pria normal!" sergah Arzan geram. "Kembali pada point ketiga!" jawab Dina dengan tegas. Arzan melemas, kali ini dia benar-benar ingin membuat semua orang mengira jika dirinya menyetujui ini hanya demi keuntungan saja, tanpa orang lain ketahui jika di dalam diri pria ini tersembunyi setitik rasa yang asing. "Hanya 80juta perbulan?" tanya Arzan sembari memanyunkan bibirnya seolah berpikir. "Itu bahkan melebihi gajiku, apa masih kurang?" Bukan Dina yang menjawab akan tetapi Stella. "Okey, lagi pula aku tidak merasa terlalu dirugikan disini. Baiklah aku menyetujui kontrak ini," jawab Arzan menyakinkan dirinya dengan sepenuh hati jika ini adalah keputusan yang tepat. "Okey, kita sepakati besok pagi!" sergah Dina seraya bangkit dan pergi menuju kamar sang putra. "Terimakasih, aku yakin kau membawa energi positif ke rumah ini ...." ucap Danu seraya pergi bersama Stella. "Aku memulainya dari sini, aku akan berusaha mengembalikan senyummu ...." Arzan. *** Dilain tempat di kediaman Soraya- bibi Dina. "Katakan!" tegas sosok wanita paruh baya bernama soraya yang terduduk di sofa dengan kedua kakinya diselonjorkan di atas meja berisi buah segar. Seorang pria bertubuh kekar dengan kaos hitam polos menuju ke arahnya dengan tunduk hormat. Sepertinya dia adalah seorang mata-mata sekaligus pelayan pribadi janda beranak satu itu. "Saya mendengar jika mereka telah berhasil merekrut rekan kontrak Nona Dina ...." jawab pria itu dengan sopan. Soraya tersenyum miring dan menurunkuan kakinya kemudian berdiri sembari berjalan perlahan-lahan mengitari sofa. Wajah wanita paruh baya itu penuh ketamakan serta kelicikan, hasratnya akan harta kekuasaan seolah tak pernah berhenti di usianya yang tak muda lagi. "Apa yang ingin gadis itu perbuat kali ini, mencari perlindungan baru? benar-benar membuatku repot saja!" ucapnya dengan kasar tetapi senyum liciknya tak pernah luntur. Semua pria bertubuh kekar yang notabennya adalah pelayan itu hanya menunduk hormat sejak tadi,serta mendengarkan ucapan majikannya. "Awasi saja pria itu, sepertinya dia juga akan menjadi petaka kali ini," lanjut Soraya yang entah sejak kapan sudah mencekal segelas bir ditangannya. Satu tegukan bir dengan kenikmatan penuh seolah itu adalah pelampiasan akan kekesalannya. "Pergilah." Begitu singkat Soraya memberikan perintah agar semua orang beranjak pergi dari sana tepat saat seorang gadis feminim datang dari balik pintu. "Selamat pagi Nona ...." ucap semua pelayan itu dengan kompak bersamaan dengan kepalanya yang menunduk. "Euhm ...." gumam gadis yang dipanggil sebagai Nona itu dengan singkat kemudian mengacuhkan 7 orang pria itu dari hadapannya. "Mama! ... Dea pulang," Gadis itu berlari menuju pelukan sang ibu. Mendengarkan suara yang mengejutkannya itu seketika membuat Soraya menoleh. "Eh? putri Mama sudah pulang?" sambut Soraya dengan senyum mengembang menyambut kedatangan sang putri semata wayangnya yang baru saja tiba dari negeri asing untuk menyelesaikan studinya. Dua orang pelayan terlihat berdiri dibelakang Dea dengan beberapa koper dan tas besar ditangannya. Matanya sesekali menatap ibu dan anak itu dalam diam. "Jam berapa kamu tiba? Mama kan bisa menjemput mu ke bandara," lanjut Soraya begitu bahagia melihat sang putri setelah dua tahun di Singapura. "Dea mau kasih kejutan ke Mama hehe,jadi ini adalah ... suprise ....!" jawab gadis itu dengan tawa sumringah sembari menggenggam kedua tangan ibundanya penuh cinta. "Euhm ... anak Mama memang yang paling tercantik, iya kan?" sahut Soraya membanggakan Dea. "Iya dong, putri siapa dulu? hahaha ...." Tawa mereka menggema diseluruh sudut rumah dengan penuh kebahagiaan yang dibawa gadis itu setelah sekian lama. Mereka begitu akrab seolah seperti saudara, semenjak ayah Dea meninggal dia mencoba membahagiakan sang ibu yang selalu murung di setiap harinya, untuk itu pula Dea selalu berbuat apapun demi kebahagiaan sang ibu. Ketika melihat wajah Soraya, gadis itu kembali teringat dimana sosok wanita kurus dengan baju lusuh yang selalu menangis di sudut kamar. 'Aku akan membahagiakan Mama mulai saat ini, aku akan menggantikan posisi ayah untuk membahagiakan Mama.' Kata-kata itulah yang Dea ucapkan beberapa tahun lalu tepat ketika dia menduduki kelas 1 SMA. Setiap orang memiliki kisah masing-masing, cara kasih sayang mereka juga akan berbeda-beda untuk diutarakan. Tetapi satu hal yang tidak pernah berubah yaitu, kasih sayang ibu yang melebihi usianya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN