Sebuah harapan.

1091 Kata
"Selamat datang dan selamat pagi negeriku tercinta ...." Seorang gadis berteriak begitu riang ketika indra penciumannya berhasil menghirup aroma negeri kelahirannya setelah empat tahun tinggal di negeri asing. "Bocah kereta aku pulang ....!" lanjutnya dengan segenap hati menyebut nama 'bocah kereta'. Entah siapa yang Dea maksud dengan bocah kereta. Kaki jenjangnya yang dibalut rok mini di atas lutut dengan riang melangkah menjauhi area parkir pesawat. Tidak selang beberapa detik dua orang pria bertubuh kekar datang menghampirinya sembari berkata, "Biar kami yang bawa, Nona ...." Dea tersenyum dan menyerahkan barang bawaannya kemudian berjalan cepat menuju mobil, kali ini kepulangannya sengaja disembunyikan dari sang ibu tercinta. Tiga jam berlalu, saat ini gadis berwajah cantik itu sudah sampai dikediamannya. Kaki jenjangnya masuk dengan ceria tanpa banyak bicara, ketika dia sampai di ruang keluarga tiba-tiba sebuah suara memberhentikan langkahnya. "Saya mendengar jika mereka telah berhasil merekrut rekan kontrak Nona Dina ...." ucap seorang pria yang berstatus sebagai mata-mata pribadi. Ibunya yang bernama Soraya itu tersenyum miring dan menurunkan kakinya kemudian berdiri sembari berjalan perlahan-lahan mengitari sofa. Dea diam mematung dan mengerti apa yang direncanakan sang ibu. "Apa yang ingin gadis itu perbuat kali ini, mencari perlindungan baru? benar-benar membuatku repot saja!" ucap Soraya menyahuti. Dea tersenyum sekilas dan berlari riang menuju ke pelukan sang ibu. Dengan senyum bahagia menyambut sang putri terlihat begitu merekah di wajah Soraya sehingga memperlihatkan beberapa kerutan di ekor matanya. Satu pelukan hangatnya yang begitu dirindukan oleh Dea seolah kini telah terbalaskan. Satu-satunya orang yang paling berharga di dalam hidupnya dan tidak akan pernah Dea kecewakan. "Dea akan buat Mama bahagia, Dea akan dapatkan apa yang Mama inginkan," gumam gadis itu sembari berpelukan hangat saling memecah kerinduan setelah bertahun-tahun tak bertemu. "Dea lapar, boleh minta sarapan Nyonya?" ucap gadis itu membuat lelucon kecil. "Haha ... ada-ada saja kamu. Ayo, Mama buatkan sarapan untuk putri Mama tercinta ini," jawab Soraya dengan raut wajah begitu bahagia seolah ketamakannya sirna ketika bersama sang putri, memang benar jika setiap orang memiliki alasan masing-masing untuk membuang lukanya bersama orang yang berarti lebih dari hidupnya. Dea menatap dengan senyum teduh melihat partisipasi sang ibu yang begitu gembira menyambut kedatangannya. Saat ini mereka berkutat di dapur untuk membuat sarapan bersama, di dalam rumah yang begitu besar itu hanya ada tiga orang wanita. Yaitu Soraya, Dea, dan satu pembantu. *** Jam terus berlalu, bukan lagi di kediaman Soraya saja yang sedang sibuk, akan tetapi istana milik seorang Dina saat ini sedang disibukkan dengan sebuah acara yang memang seharusnya terlaksanakan dengan cepat. "Seharusnya aku mematuhi pesan ibu yang memintaku untuk menikah dengan bahagia dan juga dengan cinta. Akan tetapi aku merubahnya kali ini," gumam Dina di depan jendela dengan kebaya putih sederhana. Hari ini adalah akad nikahnya dengan Arzan, sesuai apa yang mereka sepakati tadi malam. Matanya menatap kosong pemandangan di luar jendela, pikirannya teringat tentang seorang gadis kecil yang berlarian disepanjang halaman yang luas itu kini tengah berubah menjadi wanita dewasa yang tak bisa menikmati masa hidupnya. "Inilah jalan yang sudah aku tentukan dengan keyakinan penuh, dan sekarang aku tinggal menjalaninya saja ...." lanjutnya berbicara dengan dirinya sendiri. "Nyonya?" sahut Stella dari balik pintu. Dina menoleh dan Stella melanjutkan bicara, "Apa kita bisa bicara sebentar?" Dina hanya mengangguk pelan kemudian mendudukkan dirinya tepi ranjang dengan raut wajahnya yang begitu dingin di hari pernikahannya, sama saja untuknya tidak ada yang berubah, hatinya sudah mati. "Masa lajang mu akan berakhir hari ini, apa kau memiliki keinginan?" ujar Stella dengan lembut. "Tidak ada." Begitu singkat dan jelas, seorang Dina memang lebih mirip seperti patung es berjalan. "Ayolah, katakan yang sejujurnya. Jika tidak memiliki permohonan maka buatlah sekarang," sahut Stella belum menyerah, wanita ini juga sudah kebal dengan sikap majikannya. Dina terdiam dan berpikir sejenak, entah kenapa ucapan Stella ingin dia turuti kali ini. "Aku berharap akan ada pelangi sebelum kematian ku, aku harap Tuhan mau mendengarkan ku." Dengan perlahan Dina mengutarakan keinginannya sembari menatap kosong karpet berbulu di kamarnya. Stella tersenyum karena wanita yang terlihat dingin ini setidaknya masih memiliki secercah harapan, walau sudah hampir padam. "Aku berharap bisa hidup seperti Nyonya," sahut Stella ikut mengutarakan keinginannya, dan hal itu membuat Dina menoleh bingung tak percaya. "Hah, apa yang membuatmu tertarik hingga ingin sepertiku?" tanya Dina penasaran. Stella tersenyum dan menjawab, "Memiliki kelebihan adalah keinginan semua orang, andai dulu aku bisa memiliki uang sebanyak sekarang ini, mungkin aku bisa menyelamatkan nyawa ibu ku." Dina terdiam, telinganya panas seolah kata-kata Stella menyentuh hatinya. "Mungkin Nyonya berpikir jika aku konyol dan bodoh, tetapi memang benar jika kaya tidak selamanya bahagia dan juga sebaliknya. Akan tetapi setidaknya dengan uang aku bisa memenuhi harapan dan keinginan orang yang aku sayang," lanjut Stella mengutarakan isi hatinya, baru kali ini dia berbicara dari hati ke hati dengan majikannya. "Apa kau menyesal karena tidak bisa menyelamatkan ibumu?" tanya Dina dengan raut wajah datar, dan pertanyaannya tidak dipahami oleh Stella. Dengan kata lain mengapa dia bertanya hal seperti itu kepada orang lain. "Tentu tidak, semua yang terjadi sudah kehendak Tuhan. Jika dulu aku tidak miskin dan kehilangan ibuku mungkin aku tidak bisa ada disini dan bertemu Nyonya, mungkin selamanya aku tidak akan pernah mengenal Pak Danu," jawab Stella apa adanya. Dahulu dia adalah gadis yang begitu putus asa dan tak memiliki harapan, akan tetapi dia berhasil bangkit dan kini seolah takdir mempertemukannya dengan Dina yang berada diposisinya dulu. Dunia itu penuh pendidikan dan membuat manusia menjadi siswa. Setiap hari mereka belajar, belajar mengerti arti kehidupannya. Dengan sakit dan derita yang menjadi guru mereka, dan suka cita menjadi hadiah atas prestasinya. Dina terdiam, ucapan Stella membuatnya membisu, kali ini dia tidak bisa mencerna ucapan sekretarisnya itu. "Sudahlah, lupakan saja. Aku terlalu serius haha ... mari kita turun Nyonya?" sahut Stella mengajak Dina beranjak keluar dari kamar dan turun ke bawah. *** Disebuah kamar dengan jendela terbuka membuat cahaya sang surya semakin bebas masuk ke dalam sekaligus menusuk mata seorang pria bernama Arzan. Pakaian formal tengah dia kenakan saat ini, dengan perpaduan jas dan celana cokelat tua menjadi daya tarik tersendiri untuk penampilannya. "Huft ... tenanglah Arzan! kenapa kau begitu gugup, apa kau takut melihat wanita keras kepala itu? akh, tidak-tidak! untuk apa aku takut," gumam Arzan terlihat gugup dan mondar-mandir di dalam kamarnya, sikapnya kali ini benar-benar tidak bisa dimengerti oleh dirinya sendiri. "Jalankan semuanya sesuai rencana, ayo turun dan nikahi dia agar rencananya berjalan lancar," lanjutnya berusaha menyeimbangkan detak jantungnya yang berlarian maraton. "Ayo pergi!" Penuh tekat dan keyakinan Arzan menuju ruang utama untuk melaksanakan akad pernikahannya. Semua yang terjadi setelah ini adalah buah dari pilihannya, dan hal itu sudah direncanakan matang-matang oleh pria tampan ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN