Di dalam kamar Dea.
Terlihat foto seorang anak laki-laki dengan jaket berbulu di sebuah gerbong kereta tengah menjadi pusat perhatian Dea kali ini.
Seulas senyum mengembang di penghujung bibirnya penuh kehangatan, seolah dia memiliki ikatan dengan anak laki-laki yang mungkin saat ini seusia dengannya.
"Kau tidak merindukan ku?" gumam Dea mengerucutkan bibirnya sembari mengusap foto bocah itu penuh kehangatan.
"Aku sudah pulang, kita akan segera bertemu kembali. Setampan apakah dirimu saat ini?" lanjutnya masih berbicara dengan dirinya sendiri tanpa ada yang mengusiknya.
Tidak selang beberapa detik tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok ibunda tercintanya sedang berdiri dengan pakaian rapi disana.
"Dea?" panggil Soraya sembari membuka pintu kamar sang putri setelah mengetuknya.
"Iya?"
"Bersiaplah kita pergi ke pernikahan kakak sepupumu," lanjut Soraya membuat Dea menaikkan satu alisnya kebingungan.
"Dina?" tanya gadis itu setelah beberapa detik terdiam.
Soraya menganggukkan kepalanya cepat, dan Dea berlanjut berbicara.
"Kenapa aku tidak mendengar apapun soal ini? apakah tidak ada pesta? pasalnya aku tidak mendengar apapun jika dia mau menikah," ujarnya sedikit kebingungan.
Soraya tersenyum dan mendekat. "Dia menikah tanpa sepengetahuan publik. Tapi bukankah kurang sopan jika kita kerabatnya tidak menghadirinya sebagai keluarga satu-satunya?" jelas Soraya seolah memiliki kasih sayang untuk keponakannya itu, nyatanya dia datang kesana dengan rencana besar yang sudah disiapkan.
Dea mendengarkannya hanya mengangguk paham dan bergegas mengganti bajunya dengan rapi.
Tidak selang beberapa menit gadis itu sudah bersiap dan menemui ibunya di bawah yang terlihat sedang berbicara dengan asistennya.
"Lakukan semua seperti rencananya-" Begitu pelan suara Soraya tidak bisa terdengar jelas, ditambah terpotong ketika sang putri datang menghampirinya.
"Mama?" panggil Dea setelah turun dengan gaun desainer terbaik yang menjadi koleksinya. Gadis ini begitu mirip dengan ibunya yang selalu mengutamakan penampilannya.
"Pergilah!" sahut Soraya memerintahkan asistennya untuk meninggalkannya bersama sang putri.
Kemudian dia menoleh dan menjawab, "Kamu sudah siap? mari kita berangkat sebelum acaranya usai."
Mereka berdua berjalan berdampingan dengan anggun, dengan pakaian desain terbaik selalu ditonjolkan oleh sosok Soraya seolah dirinya adalah orang terkaya yang pernah ada, keangkuhannya terkadang membuat orang lain menertawakannya dalam diam.
***
Berbeda dengan Soraya yang berniat datang tanpa diundang, disini Arzan tengah duduk berdampingan dengan pengantin wanitanya yaitu Dina.
"Apa Dhafin akan punya ayah?" sebuah suara memecah keheningan.
Stella terkekeh pelan dan menjawab, "Iyup, itu benar. Mulai sekarang Tuan muda akan mempunyai ayah, apa kamu senang?"
"Yeah! asik ... paman tampan jadi ayah Dhafin ...." Begitu girang bocah itu berteriak bahagia membuat semua orang terkekeh lucu bahkan Dina yang selalu terlihat angkuh itu ikut tersenyum samar dan hampir tak terlihat.
Arzan menyahuti ucapan Dhafin dengan perlahan tepat ditelinga Dina. Membuat sang pemiliknya merasa kesal.
"Kau dengar itu? bahkan anak kecil pun mengakui ketampanan ku, kenapa kau tidak?" sahut Arzan menggoda Dina dengan ucapannya.
Dina menoleh sekilas dengan raut wajah kesal, "Terserah padamu, perlu kau ingat jika wajahmu yang tampan atau apalah itu, aku sama sekali tidak peduli bahkan tertarik sekalipun."
Arzan tersenyum kecut dan semakin tertantang menggoda calon istrinya.
"Aku akan membuatmu jatuh hati kepadaku di malam pertama nanti," ujarnya dengan lirih tetapi tegas.
Kedua pipi Dina memanas seperti kepiting rebus setelah mendengar ucapan Arzan mengenai malam pertama, entah kenapa hal itu mengusik pikirannya.
"Di- diamlah!" sahut Dina kesal dengan pipi merona yang berusaha dia sembunyikan, tetapi Arzan tetap mengetahuinya.
"Kau demam? kenapa pipimu memerah? eum? biarkan aku periksa ..." jawab Arzan semakin menggoda Dina, entah kenapa kali ini dirinya seolah tidak takut lagi akan kemarahan singa betina yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
"Diam atau kau akan kehilangan mulutmu untuk selamanya!?" sergah Dina tidak main-main dan hal itu membuat Arzan bungkam seketika dengan senyum lucu melihat raut wajah Dina.
"Baiklah mari kita mulai," ucap seorang penghulu setelah mempersiapkan semuanya.
Arzan bertanya sebelum akad dilaksanakan, "Kenapa kita menikah secara sah? aku pikir hanya siri,"
"Aku menikah hanya untuk sekali dalam hidupku!" jawab Dina penuh keyakinan. Percaya atau tidak jika yang dia ucapkan saat ini benar-benar persis dengan apa yang dikatakan sang ibu dulu.
'Menikahlah sekali dalam seumur hidupmu, jadilah wanita terbaik tanpa menurunkan kualitasnya.' Pesan mendiang sosok ibu tercinta dari Dina sebelum dia meninggalkan dunia ini dan pulang ke pangkuan Tuhan.
Arzan tertegun dan mengutarakan pikirannya, "Jika begitu, maka aku akan menjadikan pernikahan ini sebagai ikatan terbaik di dalam hidupmu."
Degh! Detak jantung wanita dingin itu tiba-tiba berdetak lebih kencang dari sebelumnya setelah mendengarkan ucapan Arzan.
Acara di mulai dan Dina terus memikirkan apa yang Arzan ucapkan barusan.
Semua orang duduk dengan rapi dan menjadi saksi akan pernikahan Dina dan Arzan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Cahayana Dina dengan mahar tersebut di bayar tunai!" ucap Arzan dengan tegas dan mantab.
"Bagaimana saksi? apakah Sah?" sahut pak penghulu yang di sahuti oleh semua orang yang menjadi saksi yaitu Stella, Danu, dan Dhafin.
Detik ini juga masa lajang mereka telah berakhir, sebuah ikatan baru telah di mulai dengan ikrar suci yang saling mengikat diantara keduanya.
Mulai saat ini suka duka mereka milik bersama, keluh kesah mereka dibagi bersama, canda tawa mereka tercipta bersama.
Mereka bukan hanya menikahi sosok manusia yang duduk di pelaminan saling berdampingan, akan tetapi mereka menikahi sebuah sifat yang kelak akan hidup bersama.
Tangan Arzan terulur mendekat ke arah Dina yang hendak bersalaman. Terdiam, membisu, dan jantungnya berdegup kencang.
Dina tidak menyangka jika hidupnya sudah sejauh ini. Ayah dan ibunya tersenyum di atas sana melihat sang putri telah memenuhi kewajibannya untuk menjadi istri dan hidup bersama suami.
Walaupun kali ini pernikahan mereka hanya sebatas perjanjian kontrak di atas kertas.
Dengan perlahan tapi pasti, Dina meraih tangan Arzan untuk disalami. Bukan hanya Dina yang detak jantungnya berlari maraton, Arzan juga demikian tak menyangka jika dia telah menjadi suami dan menikahi seorang wanita yang baru saja dia kenal.
Tepat saat Dina berhasil mengecup punggung tangan sang suami, dan Arzan meletakkan tangan kirinya di atas puncak kepala sang istri, sesosok wanita tengah diam tak bergeming dari kejauhan.
Matanya memanas melihat siapa yang tengah menjadi pengantin pria dihadapannya.
Dia adalah Dea yang baru saja tiba bersama sang ibu. Seperti dihantam ribuan belati begitu tajam, hatinya kali ini benar-benar remuk seperti kaca pecah berkeping-keping.
Salah satu alasannya untuk segera kembali ke tanah air kini tengah tersenyum menikahi wanita lain yang ternyata adalah sepupunya.
Ya, Arzan adalah cinta pertama sosok Dea. Yang kini tengah menjadi suami sepupunya. Bocah kereta yang dia temui sewaktu kecil sekaligus cinta pertamanya yang terpisah selama belasan tahun.
Pertemuan cinta yang begitu menyakitkan.