Soraya dan sang putri telah tiba dikediaman Dina yang nampak begitu tenang dan hening.
"Sepertinya ini memang sengaja dilakukan diam-diam ...." gumam Soraya ketika keluar dari mobil sembari melepaskan kaca mata berwarnanya.
"Mari kita lihat hadiah apa yang aku beri untuk keponakan kesayangan ku ini," lanjutnya sedikit bergumam keras kemudian berjalan masuk dan diikuti Dea dari belakang.
Semua pelayan yang melihat kedatangan Soraya dan Dea hanya bisa menatap kaget dan kebingungan. Kepala mereka menunduk hormat ketika mengingat kembali siapakah sosok Soraya ini, di dalam hati mereka juga membagikan jika akan ada masalah yang datang bersamaan dengan wanita paruh baya satu ini.
Annie membuka kan pintu dengan sopan dan tunduk hormat, matanya menangkap sosok Soraya sedang tersenyum licik di depannya. Firasatnya benar-benar buruk kali ini.
"Semoga malapetaka tidak datang bersama tamu tidak diundang itu!" batin Annie kesal karena dia sudah tahu pasti seperti apakah sosok Soraya yang senggani banyak orang itu.
Ekor mata Annie melirik seorang gadis seksi yang belum pernah dia lihat, mungkinkah dia rekan bisnis Soraya atau bahkan putrinya?, Annie hanya bisa diam tanpa berkomentar lebih lanjut demi keselamatannya.
Dea berjalan anggun mengikuti langkah sang ibu sembari membawa seikat bunga segar berkualitas.
"Mari kita ucapkan selamat untuk dia Nak," ujar Soraya pelan dan sesekali menoleh ke arah sang putri sembari berjalan melewati koridor rumah Dina.
Mereka tiba di depan pintu dan langkahnya terhenti karena mereka datang tepat saat akad baru saja selesai, semua para saksi mengatakan sah dengan bahagia.
Melihat hal itu Soraya tersenyum lebar dan menyahut dari depan pintu membuat semua orang menoleh kaget ke arah nya.
"Sah! ... selamat keponakan ku, akhirnya kamu menemukan pendamping hidup sesuai keinginanmu," sahut Soraya dari kejauhan diiringi senyum sumringahnya yang palsu.
Semua orang menatap Soraya dengan raut wajah kaget, begitu juga dengan Dhafin. Bocah laki-laki itu seolah mengetahui seberapa liciknya wanita yang berbicara di hadapannya itu.
Semua orang sibuk menatap kedatangan Soraya, sedangkan Dea mematung di depan pintu dengan telinga memanas bersamaan dengan matanya yang berkaca-kaca.
Netranya menangkap sosok pria yang dia nantikan selama bertahun-tahun jauh berada di negeri asing kini tengah berdiri dihadapannya dan tengah menikahi kakak sepupunya.
Pertemuan cinta macam apa ini, apakah ini takdir yang terang-terangan mempertemukan sebuah cinta tanpa balasan? Demi apapun hatinya tengah hancur berkeping-keping saat ini.
Arzan yang masih asing dengan Soraya yang tiba-tiba datang hanya bisa terdiam dan menyimak semua orang. Dimana matanya akhirnya bertemu dengan sosok gadis yang tidak dia kenal di depan pintu.
Arzan menatap setetes cairan bening jatuh dari pelupuk matanya, Arzan terdiam. Hatinya merasakan perasaan aneh ketika melihat Dea menitikkan air matanya, seolah dia paham jika luka yang Dea rasakan dikarenakan olehnya.
Dea berjalan perlahan menghampiri semua orang, seikat bunga itu masih setia dia genggam dengan erat penuh luka.
Dina berdiri dengan pelan menatap kehadiran sang bibi bersamaan dengan putrinya.
"Kau datang? Siapa yang mengundang mu?" tanya Dina begitu dingin ketika dihadapan sang bibi.
"Aku ucapkan selamat untukmu anak ku, berbahagialah ...." ucap Soraya tak menjawab pertanyaan Dina justru memberikan ucapan selamat yang sama sekali tidak diharapkan olehnya.
"Aku tidak membutuhkannya." Begitu singkat Dina menjawab dan memalingkan wajahnya.
"Aduh, apa aku tidak membuatmu senang? Di hari berbahagia ini seharusnya kau juga ikut senang kan?" sahut Soraya mengusap lembut wajah Dina seolah dia tulus mencintai keponakannya itu.
Dengan sigap dan cepat Dina meraih tangan Soraya kemudian di hempasan dengan kasar. Satu hal yang paling dia benci adalah menerima sentuhan dari Soraya yang dimatanya tidak lebih dari seorang penyihir kejam.
"Jangan pernah menyentuh ku!" tegas Dina tanpa menatap mata Soraya.
Soraya mendengarkannya tiba-tiba terdiam dan menahan kesal, tangan yang dihempaskan kasar oleh Dina kini menggenggam erat menahan kesal dan membatin, "Percaya atau tidak tangan yang kau buang ini nantinya akan menjadi alasanmu untuk menyesal!"
"Oah, hahaha ... kau begitu sensitif. Oh ya, sambutlah sepupu mu yang baru saja pulang tadi, dia menyempatkan diri untuk menghadiri pernikahan mu ditengah-tengah kesibukannya ini," sahut Soraya menyembuhkan amarahnya dan mengalihkan pembicaraan agar tidak semakin menegang.
Penghulu disana entah kapan sudah pamit pulang dan diantarkan oleh Danu.
Stella memeluk erat Dhafin dengan hangat, dia begitu paham alasan apa yang membawa wanita ini datang kesana.
Arzan seketika paham jika mereka adalah sosok keluarga yang dimaksud oleh Danu sebagai malapetaka kehidupan Dina.
"Selamat Kak, ini untukmu ...." sahut Dea menyerahkan satu buket bunga ditangannya dengan ramah, senyuman di bibirnya seolah membuat lukanya berhenti berdarah.
"Dea?" ujar Dina bertanya menatap Dea.
"Kau masih ingat denganku?" jawab Dea kembali bertanya dengan ramah.
Dina tersenyum lucu dan menjawab, "Bagaimana aku bisa lupa dengan gadis kecil yang selalu merebut mainan ku."
Degh! Ucapan Dina kembali membuat suasana memanas.
Dea terdiam merasa terluka dengan ucapan Dina, wanita dingin itu masih ingat jelas seperti apa kehidupannya di masa lalu. Hal itu juga yang membuatnya terbiasa dengan kejamnya keluarga sang bibinya.
Soraya menyahut berusaha mengalihkan pembicaraan, "Oah, hahaha ... lupakan saja, mari kita berkenalan dengan anak muda ini."
Dina menoleh spontan ke arah Soraya dan mengerti kemana arah pembicaraan wanita tua ini, jika dia berniat mengenal orang baru maka dipastikan mata jahat akan terus menghantuinya.
Dea tersenyum dan mengulurkan tangannya bahagia ke arah Arzan. Arzan tidak menolaknya, dia turut membalas uluran tangan Dea.
Akan tetapi ternyata terhenti karena tangan Dina yang menyelanya.
"Perkenalkan dia, suamiku. Kalian dengar? dia suamiku, ku rasa perkenalkan ini sudah lebih dari cukup." Dina menyahut dengan cepat sembari meraih tangan Arzan untuk dirangkul erat.
Arzan membelalakkan matanya sempurna ketika Dina menyebutkan sebagai suami dan bahkan menyentuhnya tanpa ragu.
Dea tersenyum kecut dan tangannya ditarik kembali dengan canggung.
"Apa-apaan kau ini, biarkan aku membalas uluran tangannya dulu," geram Arzan dengan pelan merasa kesal dengan perlakuan Dina yang tiba-tiba bertingkah demikian.
"Diam!" tegas Dina sembari lebih mengeratkan rangkulannya di lengan Arzan, membuat sang pemilik meringis menahan sakit.
"Perkenalkan aku Dea, senang bertemu denganmu kakak ipar," sahut Dea memperkenalkan diri kepada Arzan dengan senyum ramah. Hatinya begitu sakit melihat kedekatan Dina dengan pria yang menjadi cinta pertamanya, bahkan saat ini telah menjadi kakak ipar.
"Salam kenal-" jawab Arzan lagi-lagi terhentikan.
Tetapi kali ini bukan oleh Dina, akan tetapi segerombol wartawan datang berbondong-bondong beberapa menit setelah kedatangan Soraya dan Dea.
"Selamat pagi Nyonya, bisakah Anda memberikan tanggapan mengenai hal ini?"
"Mengapa pernikahan ini disembunyikan dari publik?"
"Tolong berikan suara Anda Nyonya!"
Suara mereka menggema satu persatu tanpa henti.
Melihat itu Dina terdiam dan sudah paham dengan situasi. Dia paham dengan maksud kedatangan Soraya yang ingin mempublikan pernikahannya ini.
Semua orang menatapnya kaget, terutama Arzan. Dia tidak menyangka jika hal ini terjadi hari ini.
"Tidak-tidak, aku belum siap masuk tayangan TV dengan penampilan seperti ini!" ujar Arzan tidak masuk akal, di kondisi seperti ini dia masih memikirkan tentang wajahnya yang akan terekspos di saluran TV.
"Apa ini lucu?" tanya Stella merasa geram setelah lama terdiam.
Arzan terdiam mendengar ucapan Stella, dan tidak lama suara Soraya kembali terdengar.
"Astaga! Kenapa kalian bisa datang kemari? astaga, silahkan kalian bubar!" sahut Soraya seolah terlihat panik dengan rencana yang telah dia buat sendiri.
Dian terkekeh pelan dengan keras membuat semua orang menatapnya takut.
"Haha ... Hahahaha ...." Tawa Dina menggema disudut rumahnya.
Soraya menoleh kebingungan, bukannya merasa kesal Dina justru tertawa kencang hingga deretan giginya terlihat jelas.
"Apa yang kau lakukan? Kau mengusir tamu yang kau undang?" lanjut Dina ditengah-tengah tawanya membuat Soraya membelalakkan mata kesal.
Dea hanya diam menyimak kejadian di depannya. Danu yang baru saja datang dan melihat kedatangan Soraya seketika dibuat paham dengan keadaannya.
"Silahkan kalian bubar, tidak ada yang perlu-" sahut Danu berusaha membubarkan kerumunan wartawan itu yang terhentikan oleh ucapan Dina.
"Berhenti! Tunggu dulu, tidak baik jika kita membiarkan tamu kita pergi dengan tangan kosong," sergah Dina membuat Soraya tersenyum, sepertinya rencananya berjalan lancar, dan Dina hanya mengikuti permainan sang bibi, kali ini belum saatnya untuk melemparkan kartu serangan.
"Mari," lanjut Dina sembari menggandeng mesra lengan sang suami.
Arzan yang diperlukan demikian hanya terdiam dan diikuti Stella bersama Dhafin di belakangnya.
"Dia suamiku, maafkan aku jika tidak mengundang kalian semua di hari berbahagia ini. Tenang saja, setelah ini akan aku adakan pesta sambutan untuk suami tercintaku. Iya kan sayang?" ujar Dina tepat di depan kamera yang menyorotinya. Arzan tergagap seketika mendengar ucapan itu muncul dari bibir Dina.
"I- iya" jawabnya tergagap.
"Salam bahagia dari keluarga kecil ku," lanjut Dina menutup pembicaraan, dan kemudian dilanjutkan oleh para wartawan.
"Baiklah pemirsa, sesuai kabar yang kita dengar jika Nyonya Dina memang benar mengadakan pernikahan secara diam-diam dari publik. Akan tetapi sesuai dengan apa yang beliau katakan jika akan segera mengadakan pesta penyambutan untuk anggota keluarga barunya." ucap para wartawan menyampaikan berita kepada publik.
Semua orang hanya diam menyimak, dan Soraya tersenyum puas karena ini seusai rencananya. Sedangkan sang putri merasa kesal dengan hati berkecamuk mengetahui akhir dari cintanya.