Hutang.

1372 Kata
Terpampang jelas rekaman video yang diambil oleh sekelompok wartawan itu telah diunggah pada beberapa tayangan televisi. Soraya dan Dea sudah pulang selang beberapa menit setelah wartawan itu meninggalkan kediaman Dina. Saat ini sang pemilik rumah tengah duduk tegap dihadapan kaca televisi yang berukuran besar itu. Matanya berfokus menatap gambar dirinya yang merangkul mesra Arzan. Hari ini Soraya telah berani masuk ke dalam rumahnya kembali, dan hal itu tidak akan dibiarkan begitu saja oleh Dina. "Penyihir bodoh!" gumamnya pelan sambil tersenyum miring mengingat apa yang telah Soraya lakukan, walau hal ini tidak diakui oleh dia sendiri. "Aku mau pergi keluar!" Saat semua hening tanpa suara tiba-tiba Arzan berkata sembari pergi melewati Dina begitu saja. "Berhenti!" sahut wanita berwajah angkuh itu dengan cepat. Langkah kaki Arzan terhenti tanpa membalikkan badannya, seulas senyum jengah nya kembali terlihat karena ulah Dina. "Apa?" tanya Arzan dengan senyum palsu yang mengembang, padahal di dalam lubuk hatinya dia merasa jengah dengan Dina. "Kau mau kemana?" sahut Dina. Arzan terkekeh sembari menggoda Dina, "Aih kau mengkhawatirkan ku? kau takut aku pergi? iya kan?" "Diam dan tutup mulutmu! simpan saja energi mu untuk hal yang lebih berguna," jawab Dina begitu dingin dan melunturkan senyum di wajah Arzan. "Iya-iya, ada apa?" "Pulang lah sebelum sore, itupun jika kau peduli dengan hutangmu." Dina berkata demikian sembari berdiri kemudian menatap Arzan sejenak dan melangkahkan kakinya menuju dapur. Arzan menatapnya jengkel, di matanya Dina adalah wanita yang begitu angkuh dan menyeramkan. Semakin lama dia berpikir jika mungkin hanya dia yang berani menghadapinya sejauh ini. "Dia berbicara seolah uang nya tidak berarti sama sekali. Malang sekali nasib uang-uang itu, kalau saja aku yang memilikinya sudah pasti akan aku perlakuan mereka dengan baik," gumam Arzan menatap iba punggung wanita yang telah berstatus istrinya itu. Sebelum Dina pergi semakin jauh Arzan dengan segera membuka suara lagi sembari berteriak. "Aku pergi dulu sayang ... jaga diri baik-baik ya ...." teriak Arzan semakin menggoda Dina. Dina yang berada di dapur mendengarkannya merasa begitu jengkel, hingga sebuah panci dia lempar ke luar dengan suara yang begitu keras. Klontang ....! Mulut Arzan menganga kaget melihat reaksi Dina, tidak berhenti disana saja wanita yang dia goda itu keluar dari dapur sembari membawa pisau di tangannya. Melihat hal itu tanpa berlama-lama lagi Arzan berlari dari sana secepat kilat, detak jantungnya seolah berhenti berdetak karena ketakutan melihat Dina yang membawa pisau. Dina yang keluar dari dapur hanya menatap bingung kenapa Arzan berlari kencang setelah melihatnya membawa pisau dan semangkuk buah segar untuk di kupas. "Mereka benar-benar pasangan yang menyeramkan ...." gumam Danu yang melihat semuanya dari atas, senyum manisnya melebar dengan tulus melihat tingkah laku majikannya itu. "Cepat atau lambat keyakinan ku pasti benar, kau akan membawa pelangi untuk awan mendung yang ada di rumah ini," lanjutnya begitu bahagia seraya berlalu setelah menatap wajah tampan sosok Arzan. *** "Apa yang akan aku katakan kepada mereka? Akhh ...!" gumam Arzan kesal ketika sudah berada di gang menuju apartemen yang sebelumnya dia tinggali bersama kedua temannya. "Akhhh!" teriaknya begitu geram dengan kedua tangannya meringkuk pada kepalanya sembari menunduk kesal. Bagaimana mungkin dia bisa tenang jika tidak pulang selama berhari-hari dan ketika pulang ternyata sudah berubah status menjadi seorang suami. "Lebih baik aku menyelinap saja!" lanjutnya masih bergumam dan berjalan cepat menuju apartemennya. Dengan berhati-hati dirinya berjalan disepanjang jalan yang tengah sepi itu. Ketika Arzan sibuk mengamankan dirinya sendiri tiba-tiba seorang ibu-ibu menyapanya. "Lama tidak berjumpa ... bagaimana kabarmu Arzan? selama berhari-hari ini kedua temanmu mencari mu,kau dari mana?" ucap seorang ibu itu dengan ramah membuat Arzan menoleh kaget. "Oah, iya terimakasih Bu ... sa- saya baru kembali bekerja, ah iya bekerja ... Hahaha," jawab Arzan mengarang alasan dengan begitu baik hingga ibu itu mempercayai ucapannya. "Baiklah, saya permisi duluan, mari ...." lanjut Arzan segera pergi mencari tempat aman untuknya. Rasanya benar-benar canggung jika tiba-tiba semua orang mengetahui bahwa dirinya sudah menikahi wanita tanpa kabar apapun. Sebenarnya itu bukanlah hal yang begitu bermasalah akan tetapi dia sangat tidak bisa memikirkan bagaimana reaksi kedua temannya itu. "Sialan! Ini membuatku gila! akh ...." geram Arzan sekali lagi seolah kepalanya hampir meledak memikirkannya. Sepuluh menit berlalu, setelah menaiki tangga akhirnya Arzan tiba di depan pintu apartemennya. Bukannya masuk Arzan justru berjalan gusar di depan pintu. "Buatlah alasan yang logis Arzan, berpikirlah dengan cemerlang!" gumamnya sembari menggigit jari telunjuknya gusar. Kedua kakinya juga tidak bisa berhenti berjalan saat ini "Sepertinya mereka tidak ada di dalam, lebih baik ambil barang-barang mu dan segera pergi!" lanjutnya percaya diri sehingga memutuskan untuk menyelinap masuk. Kriekk .... Pintu itu terbuka perlahan-lahan, tidak ada tanda-tanda pergerakan kedua temannya di dalam sana. Selangkah demi langkah perlahan masuk tanpa membuat suara, matanya terus mengitari sekitar dengan teliti. Setelah memastikan jika memang benar kedua temannya tidak ada disana Arzan menegakkan punggungnya dan berjalan normal. Sedetik kemudian sebuah suara membuatnya terkejut. "Dari mana lo?" ujar Geo yang tengah berdiri bersama Bram dari arah belakang Arzan. Degh! Arzan terdiam dan menoleh perlahan. "Hehe ...." Bukannya menjawab Arzan hanya tersenyum bodoh dan membuat kedua temannya kesal. "Dari mana lo, ha? berani-beraninya lo pergi dari rumah berhari-hari tanpa kabar, kek cewe tau nggak lo!" sahut Bram ikut kesal, kemudian mereka berdua menyeret Arzan dengan rasa jengkel yang tak kunjung selesai. "Dengerin gue dulu, biar gue jelasin-" sergah Arzan berusaha mengendalikan situasi. "Lo kalau ada masalah tuh ngomong, kita juga tahu kalau lo lagi butuh uang, bukan malah ngilang! Lo nggak berniat bunuh diri kan Zan?" sergah mereka berdua secara bergantian dan membuat Arzan terbelalak kaget mendengar pikiran teman-temannya. "Jangan putus harapan Bro, kita selalu ada buat lo kapan pun itu, semangat!" sahut Geo mengira jika Arzan kabur dari rumah karena hutang. "Lo kenapa sih, ha? gue nggak hilang akal ya, mau bunuh diri gue juga mikir dulu kali! baperan tau nggak lo berdua!" jawab Arzan kesal kemudian beranjak pergi menuju tempat tidurnya. Geo dan Bram membulatkan matanya dan saling menatap satu sama lain. Mata mereka seolah mengisyaratkan jika mereka tahu apa yang telah dilakukan Arzan selama beberapa hari ini, senyum konyol mereka saling bersahutan sebelum menangkap basah Arzan. "Lo kencan?" ucap mereka dengan kompak. Degh! Arzan terdiam dan menoleh cepat. "Lo tau semua?" tanya Arzan dengan panik. "Jadi lo beneran kencan? Wah gila Zan, gila ...." sahut Bram begitu kaget hingga mulutnya terbuka lebar. "Gue nggak kencan. Ah baiklah gue terus terang ke lu semua, jadi gue udah nikah hari ini. Lebih tepatnya tadi pagi," jawab Arzan tak bisa lagi menyembunyikan fakta dari kedua sahabatnya itu. Diam, membisu, tanpa suara. Sedetik kemudian mereka berdiri dan menatap Arzan tak percaya. "Lo gila? lo nikah? jangan drama ya lu Zan!" sahut Geo geram. "Gue serius, awalnya gue juga nggak niat ngelakuin ini, semua terjadi begitu aja!" ujar Arzan membela diri. "Anak siapa Zan lu buat bunting? astaga!tahan dikit Zan kalau lu nafsu!" Bram. "Palamu! gue masih suci!" sergah Arzan membela diri lagi. "Jadi?" tanya mereka berdua kebingungan. "Ceritanya panjang, intinya gue sekarang udah menikah sama Dina." Arzan menjawab tanpa mau panjang lebar menjalankan kejadian sebelumnya. "Dina siapa? Dina alumni kedokteran di kampus?" tanya Bram bertanya. "Bukan," tolak Arzan singkat dan duduk di sofa sambil memijit pelipisnya. "Bentar, gue kek pernah dengar ...." gumam Geo berpikir keras. Arzan hanya menatapnya jengah. Setelah beberapa saat semua orang terdiam Geo tiba-tiba berdiri dan meraih remote tv dan menyalakannya. Arzan menatapnya aneh, begitu juga dengan Bram. Televisi itu menyala dan menampilkan sebuah saluran berita dengan topik pernikahan seorang CEO wanita secara diam-diam. "Sialan!" umpat mereka berdua menatap televisi itu tak percaya. Arzan hanya menundukkan kepalanya pening tanpa berkomentar. "Lu nikah sama CEO? lo main santet dimana Zan? tampar gue Bram! gue nggak mimpi kan?" suara Geo menggelar dengan lantang ketika baru saja menyadari jika saluran berita yang dengan memanas hari ini adalah pernikahan sahabatnya sendiri. "Santet palamu peyang!" jawab Arzan kesal dan kembali menenggelamkan kepalanya. "Coba jelasin ke kita Zan," ujar Bram meminta penjelasan. "Gue nikah demi bayar hutang." Hanya itu yang Arzan mampu jelaskan, lagi-lagi Arzan membuat dirinya terlihat sengaja memanfaatkan Dina. Selebihnya dia tidak bisa berterus-terang kepada siapapun. Mereka terdiam mendengar jawaban dari mulut Arzan, pria yang menjadi sahabatnya sekaligus dikenal sebagai pria baik hati itu ternyata menikahi gadis demi sejumlah uang untuk membayar hutang. "Memang benar jika uang benar-benar mampu melumpuhkan seseorang." Bram.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN