"Kau sudah siap?" ujar Arzan bertanya kepada sang putra yang melintas di depannya sembari menuangkan sup buatannya ke mangkuk.
Dhafin mengangguk cepat dan menghampiri sang ayah dengan senyum merekah. "Kemarilah, cicipi sup ini agar harimu menyenangkan."
"Dimana Mama?" tanya Dhafin dan menerima sesuap sup hangat buatan ayahnya pagi ini.
"Tidak tahu," Arzan menjawab apa adanya, sejak tadi ia tidak melihat sang istrinya. "Apa kau senang hari ini berangkat kesekolah?"
"Tentu, Dhafin menunggu hari ini untuk bertemu teman-teman lagi," jawabnya begitu antusias dan membuat ayahnya mencubit pipinya gemas.
Stella muncul dari belakang dengan pakaian rapi bersiap mengantar putra majikannya ke sekolah. "Mari Tuan," sapanya seraya berpamitan kepada Arzan.
"Hati-hati di jalan, okey? semangat!" Senyumnya merekah melihat anaknya dengan balutan seragam. Walaupun ia bukan putra kandungnya tetapi Arzan merasakan kehangatan hubungan antara anak dan ayah di rumah ini.
"Kemana dia, apa dirinya benar-benar marah kepadaku?" gumamnya menatap sekeliling mencari keberadaan Dina. Tangannya bergerak cepat melepaskan celemeknya sembari meminta bantuan pelayan untuk menyiapkan supnya ke meja makan.
Seluruh penjuru rumah telah Arzan datangi, tetapi nihil ia tidak menemukan keberadaan sang istri pagi ini yang mendadak hilang. Mulutnya bergeming menggurutu kesal karena Dina yang seolah bermain petak umpet dengannya.
Kakinya berhenti di depan pintu utama, matanya menatap sayup-sayup bayangan seseorang yang tengah berusaha berdiri dengan tongkat. Uraian rambutnya terhunyung sepoi-sepoi angin pagi ini. Kedua tangannya meremas erat tongkat kayu yang ia jadikan penyangga untuk berdiri, wajahnya begitu serius dan sedikit ketakutan. Ya, disana. Di halaman depan Dina berada.
Arzan melangkah mendekatinya tanpa suara dari belakang, dua orang pelayan yang semula menemani Dina tiba-tiba undur diri ketika menyadari sang majikan laki-lakinya ada disana. Tunduk hormat, dan salam sapa masih begitu lekad dengan keprbadian mereka yang terlatih selama bekerja di rumah ini.
Arzan hanya diam memusatkan pandangannya ke tubuh sang istri yang terus berusaha berdiri dengan tongkatnya. Tubuhnya belum berdiri tegak, masih sedikit membungkuk kesusahan. Perlahan namun pasti Dina terus mencoba menggerakkan kakinya, namun alhasil ia hampi tersungkur ke depan karena terlalu memaksa.
Sang suami yang semula diam memeperhatikannya tiba-tiba terkejud dan dengan cekatan menarik tangan istrinya agar tidak terjatuh. Dan alhasil posisi mereka berdua saling berpelukan dan menatap satu sama lain.
Diam, dan hening. Mereka dapat merasakan nafas yang berhembus satu sama lain, detak jantungnya terus berpacu dan membuatnya sama-sama gugup.
"Hati-hati, jangan terlalu memaksa." Arzan membuka suara sembari membantu Dina untuk duduk kembali ke kursi rodanya.
"Aku tahu kau ingin berjalan bebas seperti semula, berjalan kesana kemari dan mengomel sepanjang hari-" lanjutnya terus berbicara, dan kini seolah tidak ada satus batasan untuk Arzan berbicara bebas.
"Iya, mungkin ini waktunya para pelayan itu bernafas sedikit lega karena tidak mendengar teriakanmu sepanjang hari yang mempermasalahkan ini itu."
"Ya! apa yang kau ucapakan, cerna itu sebelum kau bicara," sergah Dina geram dan mendongak menatap suaminya yang berdiri tegap disampingnya.
"Aku membicarakan fakta-" sahut Arzan membela diri dan terpotong ketika Dina hendak berbicara tetapi ia urungkan.
"Ya walaupun fakta itu membuatmu terluka, fakta tetaplah fakta," pria tampan itu kembali melanjutkan bicaranya dan membuat Dina terdiam mendengar perkataannya.
"Sudahlah, lupakan. Sup ku akan dingin jika terlalu lama disana." Dengan segera Arzan mendorong kursi roda itu ke meja makan, hidangan sup hangat buatannya sudah bersiap menyambut untuk disantap.
Suasana hening, Dina tak bersuara dan sesekali mencuri pandang sang suami. Tangannya mencekal sendok itu dalam diam dan sedikit melamun, tetapi sedetik kemudian lamunannya terbuyar karena Arzan.
"Kenapa kau berusaha keras untuk sembuh?"
Dina mendongak, matanya menatap Arzan yang serius bertanya.
"Tidak bisakah kau menemukan jawabannya sendiri? tidak ada seseorang yang berkeinginan untuk cacat seperti ini,"
"Tapi dahulu ada seorang wanita yang berkeinginan aneh. Jangankan cacat, bahkan ia berkeinginan untuk mati."
Degh! Dina membisu, perkataan Arzan jelas-jelas menyindirnya. Satu suap sup yang hendak masuk ke mulutnya itu ia urungkan dengan nafsu makan yang menghilang.
Dina tersenyum miring sekilas dan menjawab, "Ada seorang pria aneh yang memberitahuku tentang tugas seorang wanita jika telah menjadi istri dan ibu. Kewajiban itu yang menyadarkanku yang selama ini hanya diam memerintah dan egois akan kehendak ku semata."
Arzan ikut terdiam, ia tidak menyangka jika perkataannya tadi pagi membuat Dina berpikir seperti itu. Fakta yan ia akui sejauh ini adalah Dina sosok wanita berhati batu, tetapi ternyata itu tak sepenuhnya benar.
Untuk beberapa saat suasana menjadi hening, Arzan yang merasa kurang nyaman langsung mencairkan suasana. "Ahh, sup nya sebentar lagi dingin. Makanlah, agar kau merasa hangat."
Dina hanya diam menurut saja dan mereka berdua kembali menikmati sup ayam untuk sarapan pagi ini. Tanpa Dina sadari Arzan bermaksud lain di akhir kalimatnya, hangat. Sekarang ia akan mencoba kehangatan yang baru.
Di gedung sekolah taman kanak-kanak.
"Ibu ... aku ingin pulang," seorang anak perempuan merengek kepada sang ibu yang hendak berpamitan unuk pulang. Anak itu terlihat takut tidak ada yang menemani jika ibunya meninggalkannya di sekolah.
Dhafin yang baru saja tiba bersama Stella menatapnya dari kejahuan. Tangannya yang digandeng oleh Stella tiba-tiba bergerak memberikan kode.
"Kenapa dengan anak itu?" tanyannya polos membuat Stella menatap ke arah anak yang merengek bersama ibunya.
"Mungkin ia masih takut untuk ke sekolah sendiri," jawab Stella sekilas.
"Dhafin juga kesini sendiri, tidak ada ibu dan ayah ...." tuturnya mengerucutkan bibir kesal dan berlari menghampiri anak perempuan itu dan membuat Stella terkejut karena ia berlari begitu saja tanpa aba-aba.
"Hati-hati," respek Stella berteriak pelan dan segera menyusul Dhafin. Terlihat dari lahan parkir dua orang bodyguard sedang berdiri disana, Stella melarangnya untuk ikut masuk ke dalam.
Setelah Dhafin tiba di hadapan anak perempuan itu, tangannya terulur untuk berjabat tangan.
"Kau mau berteman denganku?"
Anak dan ibu itu menoleh kaget, awalnya Dhafin di tolak karena anak itu sedikit malu karena baru pertama kali mengenal Dhafin.
"Kita berteman, jadi kau tidak sendiri. Ibumu ia akan kembali nanti jam pulang sekolah. Ayo, aku akan menemanimu teman." Mendengar perkataan Dhafin yang berusaha membujuk ibu itu tersenyum dan mengangguk menatap putrinya. Anak perempuan itu menyeka air matanya dan menerima jabatan tangan Dhafin.
"Ara, namaku Ara." Perkenalan singkat dengan senyuman manis dan lesung pipi cantik, Dhafin ikut tersenyum melihat wajah anak bernama Ara itu. Begitu juga dengan Stella dan ibu Ara, mereka saling menyapa dan berkenalan singkat hingga akhirnya Dhafin dan teman barunya masuk ke dalam kelas bersama-sama.
Hari ini adalah hari dimana dua orang laki-laki sama-sama memulai awal barunya. Arzan dan Dhafin, mereka memulai awal baru dengan kehidupannya masin-masing. Ayah dan anak yang dipertemukan tanpa ikatan darah, tetapi akan abadi menjadi bahagia menjalin hubungan cinta kasih sayang.
Di Kantor.
"Tunggu!" panggil Dina ketika Arzan hendak membuka pintu mobil untuk keluar. Pria yang dipanggil namanya itu menoleh dengan raut wajah bertanya-tanya. Matanya menatap sang istri yang mengeluarkan sesuatu dari dalam tas barunya.
"Apa itu?" tanyanya kebingungan. Dina mengulurkan satu kotak kecil berwarna hitam ke Arzan sembari berkata, "Bukalah, anggap saja hadiah untukmu."
Seulas senyum kecut tergambar di sudut bibirnya, ia kembali tersadar seperti apa status mereka saat ini yang masih sebatas kontrak pernikahan di atas kertas. Tangannya membuka kotak tanpa berlama-lama, sebuah jam tangan bermerk mahal terpampang indah disana.
Arzan menoleh sekilas menatap wajah yang istri yang ikut memperhatikannya. Dina berkata, "Kenapa? kau tidak suka?"
"Tidak, bukan maksudku seperti itu. Hanya saja sedikit aneh mendapatkan hadiah darimu."
"Aneh? apa kau kira aku mencurinya untukmu?" sergah Dina kesal dan segera meraih jam tangan itu kemudian memasangkannya ke pergelangan tangan Arzan.
"Hari ini adalah kali pertama kau akan duduk di hadapan banyak orang, peresmian ini harus terlihat sempurna. Aku tidak suka kesalahan sekecil apapun itu," lanjutnya dan di dengarkan oleh Arzan.
Beberapa menit setelahnya mereka turun dari mobil dengan kondisi Dina yang masih sama. Tetapi kini ia bukan dilihat sebagai direktur seperti sebelumnya, akan tetapi istri dari seorang direktur Arzan Nickley. Para body guard yang berjejer di depan pintu utama menyambut atasan mereka dengan penuh sanjungan, dan tidak selang beberapa menit beberapa klient juga tiba disana.
"Apa yang kau lihat?" tanya Dina yang memergoki suaminya menatapnya sembari tersenyum. Seketika Arzan menyembunyikan seulas senyumnya dan menjawab, "Tidak ada. Antingmu cantik."
Dina menatapnya saja tanpa peduli, sejujurnya mereka sama-sama belum mengerti pasti akan perasaan masing-masing, masih terjebak di lingkaran yang menempatkan mereka pada ke-egoisan yang tak mau kalah.
Dan kini semuanya sudah berkumpul di ruang rapat. Kali ini bukan sekedar rapat, tetapi juga perkenalan dan sekaligus mencicipi hidangan yang ada. Terlihat dari posisi Dina, sang bibi tidak banyak bicara sejak tadi dan hal itu membuatnya sedikit kebingungan, ia takut jika Soraya akan melakukan hal yang mengejutkan kali ini.
"Bagaimana kabarmu?" tanya seorang rekan wanita berbaju merah muda yang duduk di depan Dina.
Dina menoleh sedikit kaget, "O-oh, tentu ... bagaimana denganmu? kalian semua?"
"Tidak selalu baik-baik saja, tetapi kami selalu memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Bukankah begitu pak Direktur?" kali ini seorang pria muda yang duduk di seberang yang menyahuti sembari bertanya kepada Arzan.
Mata mereka bertemu, entah kenapa Arzan sedikit tak suka dengan sorot mata rekannya itu. Sedetik kemudian ia tersenyum dan berucap, "Tentu saja. Semua akan bekerja sepenuh hati untuk menanam hasil panen masin-masing, pastinya tidak ada petani yang menginginkan hasil panen buruk bukan?"
"Hahaha ... tentu saja pak Arzan," suara tawa Soraya membuat semua orang menoleh, ia yang sejak tadi diam menikmati makanannya tiba-tiba menyahut saat Arzan berbicara.
Dina menatapnya tak suka, sedetik kemudian asistennya mencairkan suasana.
"Perkenalkan dia Mr. Cloferts, rekan kita dari Italia," ujarnya yang didengarkan semua orang. Arzan membelalakkan matanya takjub, pantas saja sejak tadi ia merasa wajah pria yang duduk di depannya itu nampak sedikit asing.
Dan kemudian ia menyapanya dalam bahasa internasional, "Nice to meet you, Sir ..."
*Senang bertemu dengan anda, Tuan*
Cloferts tersenyum dan mengangguk, "I hope we can work together well."
*Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik*
Arzan tersenyum dengan ramah, kemudian seorang pelayan datang membawakan hidangan selanjutnya. Suasana masih terasa canggung, beberapa orang hanya diam dan menikmati hidangan, contohnya seperti Dea. Wanita itu sejak tadi terus memutar garpu nya dengan tatapan kosong.
"Ini hidangan khusus yang di pesan Mr. Cloferts. Makanan Italia," ujar asisten kantor dengan ramah.
Raut wajah Arzan seketika muram, seolah kehilangan nafsu makannya. Sejujurnya pria ini tidak menyukai makanan berbau aneh, seperti hidangan bernama Risotto. Makanan yang nampak aneh di mata Arzan, bentuknya saja sudah membuat Arzan kehilangan nafsu makan. Makanan dengan bahan dasar nasi yang ditumis dengan mentega, kaldu, dan white wine yang dimasak hingga cairan habis dan mengental.
Sedetik kemudian Cloferts menatap Arzan dan berkata, "Buon appetito"
Arzan menatapnya kacau, dan bibirnya bergumam pelan. "Tototo ...." dengan raut wajah melemas pasrah.
Dina membelakkan mata mendengar ucapan sang suami, tangannya menyikut tubuh Arzan dengan cepat dan memberikannya tatapan tajam. "Sapa dengan benar!"
"Bagaimana aku mengerti apa yang ia ucapakan!" geming Arzan penuh penekanan, mereka berdua kini berbicara sembari berbisik.
"Ishh! dia mengatakan selamat makan, apa kau tidak mengerti? bukannya kemarin Stella sudah memberitahu jika ada klien dari Italia?" sergah Dina merasa kesal.
"Lalu aku harus jawab apa?" ujarnya kesal dan melihat Cloferts yang menatapnya aneh, karena terkejut Arzan asal celetuk saja dalam menjawabnya. "Ya, gamsahabnida ...."
*Terimakasih*
Jleb! semua orang menatapnya kaget. Dina semakin kehilangan akal melihat perbuatan Arzan. Ia menjawab dengan asal dalam bahasa korea, entah apa yang ia pikirkan saat ini.
"Ya, k-kau! ish- diam!" sergah Dina memanas dan menyuruh Arzan untuk diam, kemudian ia sendiri yang menjawab ucapan Cloferts.
"Scusate. Per favore riprova ...."
*Maaf. Silahkan cicipi kembali* ujar Dina menjawab dengan sedikit pengetahuannya tentang bahasa Italia itu, dan semua orang tersenyum lucu menatap Arzan.
Soraya terkekeh dan berucap, "Haha ... gamsahabnida," ujarnya meledek ucapan Arzan. Dea ikut tersenyum kecil karena tingkah Arzan yang mengejutkan.