Pagi ini di dapur.

1265 Kata
Pagi tiba, sang mentari kembali lagi untuk memperlihatkan sinarnya. Dunia yang semula gelap telah kembali terang, sang surya bagaikan ibu untuk dunia yang gelap ini. "Pagi Mama," sapa Dhafin sembari duduk di sofa dengan robot mainannya. Anak itu sudah bangun sejak pagi-pagi buta, sedangkan sang ibu sudah sibuk dengan tanamannya. "Pagi sayang, kemarilah ...." ujar Dina menjawab sembari memanggil anaknya untuk mendekatinya. "Pangeran ibu sudah bangun ternyata," lanjutnya sembari menciumi wajah Dhafin penuh kasih sayang, bocah laki-laki itu hanya diam menurut atas perlakuan ibunya. "Kau sudah bersiap?" tanya Stella sembari membawa sehelai surat putih dan pena hitam. Dina menatapnya bingung dan bertanya, "Apa itu?" "Oah, aku lupa memberitahumu kemarin. Ini surat wali untuk pendaftaran sekolah." "Dhafin mau sekolah hari ini, hehehe ...." sahut anak itu terkekeh hingga memperlihatkan deretan gigi susunya. Dina mendengarnya hanya mangut-mangut saja kemudian meraih pulpen dan menyuratkan tanda tangannya disana. "Sudah." "Mari pergi mandi," Stella merentangkan tangannya lebar-lebar dengan senyuman dan disambut bahagia oleh Dhafin. Melihat hal itu Dina teringat ucapan Stella beberapa hari lalu "Kau masih hidup, apa kau akan membuang anak itu juga?" pertanyaan itu benar-benar masih membekas pada pikiran dan hatinya. Kepalanya menunduk pelan dan hatinya merasa bersalah wajahnya muram tak tahu lagi apa yang telah dia pikirkan kemarin. Kini semuanya masih utuh, Arzan masih satu atap dengannya mungkin kali ini adalah kesempatan untuk Dina agar menebus kesalahannya sejauh ini. Arzan melangkahkan kakinya menuruni anak tangga satu persatu, matanya masih mengerjap menyesuaikan cahaya disekitarnya. Wajah bantalnya masih terlihat jelas, rambut berantakan dengan piyama biru tua membuatnya terlihat semakin tampan natural. Matanya mengedip sembari berhenti di tengah tangga, di depannya terlihat Dina sedang terdiam menunduk dalam di atas kursi rodanya, matanya menatap kedua kakinya yang tengah lumpuh itu. Arzan terdiam dan ikut merasa iba sedetik berlalu senyumnya terlihat untuk kali pertama di pagi hari ini. "Pagi sayang ...." Entah apa yang merasuki pria berwajah bantal itu hingga memanggil sang istri begitu manis dengan sebutan sayang. Dina menoleh, menatap tajam mimik wajah sang suami tanpa berniat menjawab ucapan Arzan. "Kau baik-baik saja?" lanjut Arzan ketika tiba di hadapan Dina dan mendudukkan bokongnya di sofa abu-abu. "Tentu," ujar wanita berkaki lumpuh itu dengan singkat. "Jangan memanggilku seperti tadi-" ucapannya terpotong, Arzan menatapnya dengan raut wajah bingung dan bertanya-tanya. "Jangan menyebutku seperti itu! kau s-seperti anak kecil! ya anak kecil, membosankan!" lanjutnya terlihat gugup entah apa yang ia rasakan di dalam hatinya. Arzan tersenyum kecil sembari meregangkan otot bahunya dengan nyaman. "Kau mau sarapan?" ujarnya bertanya di sela-sela aktivitasnya. "Kau memiliki sesuatu?" tanya Dina menatap sekeliling. "Tidak, aku hendak membuat sup di dapur. Apa kau mau?" "S-sup?" Dina tergagap, sejujurnya ia hendak menolak tapi saat ini ia memang merasa lapar sekali. "Apa kau bisa memasak?" "Kau meragukan ku?" sahut Arzan sedikit merasa kesal kemudian tangannya terulur melepas piyama tidurnya dan membuat Dina membulatkan matanya sempurna karena kaget. "Why?" tanya Arzan mendapati raut wajah sang istri yang tersipu malu. "Why? kau tanya kenapa? Ya gi*la! kau mau apa?" sergah Dina menahan kekesalannya saat Arzan tiba-tiba bergerak melepaskan piyamanya. "Berganti pakaian," jawab Arzan begitu enteng dan semakin membuat istrinya kesal. "Apa kau tidak punya ruangan disini ha!? kau tidak malu dipandangi semua orang disini?" Dina masih mengomel karena kesal. Setelah mendengar penuturan sang istri, dirinyapun menjawab "Tidak ada orang, hanya kita berdua". Pipi Dina memanas ketika mendapati apa yang dikatakan Arzan memanglah benar, hanya ada mereka berdua disana, tetapi sama aja menurutnya Arzan adalah pria yang tidak tahu malu. "Tetap saja! ganti di kamarmu. Menyingkirlah!" Raut wajah Dina memanas sembari sedikit mendorong kaki Arzan yang menghalangi jalannya. Seulas senyuman lucu tergambar di wajah rupawan seorang pria yang kini menjadi direktur, walaupun hanya sementara. Tangannya menarik gagang dorong kursi roda Dina dengan cepat membuat sang pemilik menoleh kaget. "Ayo, kita buat sup untuk sarapan pagi ini," ucap Arzan mengajak sang istri menuju dapur dengan cepat membuat Dina tak mampu berkata-kata dan hanya dia menuruti tindakan Arzan. Di dapur. Seorang pria yang semula mengenakan piyama tidur kini sudah berganti dengan kaos hitam polos sembari mengikatkan kain celemeknya dengan telaten. Terlihat di depan meja dapur Dina setia duduk diam di atas kursi rodanya menatap setengah tak yakin jika Arzan hendak memasak. "Apa yang kau lihat? hem?" sahut Arzan tiba-tiba ketika mendapati Dina yang terus menatapnya sejak tadi. "Tidak ada," jawabnya ketus dan memalingkan wajahnya kesembarang arah begitu saja. "Kau suka sosis atau ayam?" tanya Arzan sembari membuka lemari es. "Apa saja," istrinya masih begitu dingin dalam berkomunikasi, menyadari hal tersebut Arzan terkadang senyum diam-diam menyabarkan dirinya sendiri. "Tentu, kau bahkan menyukai kubis." Bahu Arzan bergidik geli ketika mulutnya menyebut kubis, faktanya pria ini benar-benar membenci kubis bagaimanapun bentuknya setelah dimasak. Dina mengangkat sebelas alisnya heran, ia tak menyangka jika suaminya tidak menyukai kubis. Tanpa Arzan sadari Dina terkekeh kecil sembari memalingkan wajahanya. Lima menit berlalu. Beberapa alat masak dan bahan-bahan untuk membuat sup sudah berjejeran di atas meja dapur. Arzan tetap diam tanpa sepatah katapun terus berkutat dengan pekerjaannya. Hingga tiba-tiba suara Dina mengejutkannya. "Berikan padaku," ujarnya mengulurkan tangan kepada Arzan, bermaksud meminta beberapa potong wortel yang belum dikupas. "Ini?" Bukannya memberikan wortel itu kepada Dina justru ia malah bertanya. Dina mengangguk sekilas dan membuat Arzan mengrenyitkan dahinya ragu, "Ishh ... aku tidak yakin kau bisa mengupasnya." "Berikan padaku," geram Dina tetap meminta wortel yang Arzan pegang. Melihat raut wajah sang istri yang begitu serius membuat Arzan tak berani membantah dan memberikan semangkuk wortel dan pisau untuk mengupasnya. Dina menatap pisau dan semangkuk wortel itu dipangkuannya, sejujurnya dia tidak pernah memegang pisau dapur. Apalagi mengupas bahkan memasak seperti ini. Bibirnya bergerak ragu dan sesekali ia gigit perlahan. Arzan menatap lucu sang istri yang tidak bisa menggunakan pisau dengan benar, posisi antara wortel dan pisaunya saja sudah salah bagaimana ia akan mengupasanya. Arzan memilih diam dan pura-pura tidak melihat sembari mengaduk masakannya. "Lakukan saja, asal dikupas pasti benar," gumam Dina menyakinkan dirinya sembaru mengupas wortel itu dengan sembarangan. Arzan membelalakkan matanya tak percaya melihat apa yang dilakukan wanita itu, satu kupasan saja begitu tebal, membuang banyak dagingnya terbuang hanya untuk mengupas kulit tipisnya itu. Terlebih posisi jari Dina sangatlah salah, dan benar saja pisau tajam itu menggores jari telunjuknya. "Ishh ... si*al! aku benci memasak di dapur," gerutunya kesal saat jarinya mengeluarkan darah segar. "Sudah aku bilang kau tidak bisa melakukannya, kau itu hanya bisa mengacau, memerinta, dan di layani. Terima saja memang itu faktanya," Arzan mengoceh terus menerus sembari meraih pisau dan wortel dari pangkuan sang istri. Netra Dina terdiam menatap raut wajah Arzan yang memarahinya seperti ibu-ibu. Mendengar perkataan Arzan membuatnya sedikit kesal, bibirnya bergerak hendak menjawab tapi terpotong. Cup-!! Jari telunjuk Dina yang terluka itu Arzan hisap ke dalam mulutnya tanpa ragu. Membuat Dina terdiam membisu, posisinya begitu dekat sekarang, jantungnya berdegup kencang dan wajahanya mematung. "Diam saja dan jangan lalukan apapun. Biar aku yang memasak," perintah Arzan dengan perlahan mepelasakan tangan Dina dan mengusapnya dengan tisu kering dan kembali melanjutkan pekerjaannya. "Apa kau tidak kecewa jika istrimu tidak bisa memasak?" tiba-tiba Dina bertanya dan membuat suasana menjadi canggung. Arzan membatin bingung, "Sejak kapan ia peduli tentang hal ini. Wanita aneh." "Tidak, aku bisa melakukannya. Lagi pula seorang wanita tidak akan terus seperti ratu jika sudah berumah tangga, walaupun dia punya banyak pelayan. Suami dan anaknya adalah tanggung jawabnya, bukan pelayan," ujar Arzan mengutarakan pikirannya dan membuat Dina menatapnya seketika. "Baguslah, cari istri yang seperti itu nanti." Dina menggerakkan kursi rodanya pergi dari dapur begitu saja, sang suami mengerucutkan bibirnya bingung dan bergumam, "Apa dia marah?".
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN