"Bagaimana bisa kita menjadikan orang asing sebagai pemimpin," teriak orang-orang dengan suara keras yang menentang Arzan sebagai Direktur sementara. Pria itu menunduk dan tersenyum samar sembari membatin, "Orang asing, benar ... siapa yang ada di dunia ini untukku? tidak ada."
Di luar ruangan, lebih tepatnya di lantai lima.
"Dina!" teriak Soraya dengan amarahnya, terlihat sang putri berusaha menahan sang ibu yang berjalan cepat menghampiri Dina.
"Why? kenapa kau mempermalukan ku!?" teriak Soraya di depan wajah Dina. Melihat hal itu Arzan sedikit tidak terima dan hendak menyahuti ucapan Soraya, namun ditahan oleh Dina sembari menghadang kan sebelah tangannya ke depan Arzan.
"Karena kau yang menyulut api ini, bukan aku."
Soraya mengepalkan tangannya sembari menekankan nada bicaranya, "Kau tidak tahu terimakasih sama sekali, bertahun-tahun aku merawat mu bertahun-tahun aku membantumu namun, inikah balasan yang ku dapatkan?"
Dina terkekeh mendengarnya, "Kapan? sejak kapan kau peduli denganku? ingat satu hal ini ... kita bukan keluarga!"
"Wanita kurang ajar!" maki wanita berumur itu sembari mendorong kursi roda Dina dengan sekuat tenaga hingga membuatnya tersungkur di lantai dengan keras.
Bruk! "Dina!" panggil Arzan sembari menolong sang istri. Dina terdiam, menahan kekesalannya. Tubuhnya masih tak bergerak sedikitpun, tangannya mengepal erat, "Andai aku bisa membalas mu sekarang juga!"
"Pelan-pelan," ucap Arzan sembari membantu Dina kembali ke kursi rodanya.
"Cukup Nyonya, saya rasa ini sudah keterlaluan!" Arzan ikut angkat bicara.
"Tutup mulutmu! kau tidak berhak ikut campur!" sahut Soraya menentang ucapan Arzan yang masih terdengar sopan.
"Begitu? baiklah, dengarkan saya baik-baik. Saya sebagai calon Direktur yang akan diresmikan besok dan sekaligus suami dari wanita yang anda kasari ini sepenuhnya tidak menerima perlakuan anda!" Arzan menekan kata 'suami' di dalam kalimatnya sekaligus membuat Soraya semakin kesal, di belakang wanita berumur itu Dea menatap tanpa berkedip wajah pria yang sempat menjadi tokoh dalam kisahnya di masa lalu.
"Selamat tinggal dan semoga bisa bertemu diperesmian saya besok," Arzan menundukkan kepala hormat seraya pergi bersama sang istri.
"Sudah, biarkan. Diam bukan berarti kita kalah, hanya saja ada saatnya kapan kita harus bertindak," lerai Dea dan mengelus bahu sang ibu dengan lembut. Sejujurnya gadis ini menyimpan lebih banyak dendam melebihi sang ibunya sendiri, setiap kejadian yang terjadi sejauh ini ternyata adalah permainannya, dengan kata lain Dea adalah dalang dibalik semuanya.
***
Di dalam perjalanan pulang.
"Sebagai suami, suami!" Dina terdiam membisu menatap jedela mobil, pikirannya masih terbayang suara Arzan yang menegaskan dirinya sebagai suaminya entah kenapa akhir-akhir ini Dina tidak seperti biasanya. Ia yang dulunya selalu bertindak tanpa mengulur waktu kini selalu berpikir lebih lama sebelum melakukan keinginannya.
"Ada apa?" ujar Arzan bertanya sembari sibuk mengendarai mobil dengan tenang.
Dina masih diam dan tak menjawab sedetik kemudian Arzan kembali menyahut dan membuat sang istri menatapnya garang. "Kau memikirkan soal permintaan Dhafin?"
Dina menoleh, "Apa?" tanyanya tenang masih belum mengerti sepenuhnya maksud Arzan.
"Soal adik kembar. Kau memikirkannya?" tanya Arzan sebelum akhirnya mendapat satu pukulan sempurna di kepalanya.
"Ishh ... akh, why!?" rintih Arzan dan berteriak tak terima atas perilaku Dina.
"Berhenti membicarakan itu! sama sekali tidak lucu!"
"Aku hanya bertanya! jangan berpikir terlalu jauh. Lagi pula kau bukan tipe ku, jika kau tipeku mungkin sekarang sudah aku perk*osa-"
Plak! satu pukulan kembali menyakiti kepala Arzan.
"Aku bersyukur kali ini kepada Tuhan karena aku bukan tipe mu! dan aku kasihan kepada wanita yang nanti jatuh cinta kepadamu! bod*oh!"
"B*odoh? kau benar-benar gila-" umpat Arzan tak terima dan satu pukulan hampir mengenai wajahnya jika tidak ditahan oleh sang pemilik.
"Diam! tutup mulutmu! dan jangan berbicara sambil menyetir!" tekan Dina begitu kesal kemudian memalingkan wajahnya dari hadapan sang suami.
Arzan terkekeh lucu melihat mimik wajah Dina ketika sedang merajuk itu, apakah wajahnya lucu atau imut? tidak, bahkan wajahnya begitu menyeramkan. Tapi Arzan begitu suka menggoda Dina hingga berapi-api seperti tadi seakan-akan itu adalah hobi barunya.
Satu jam berlalu.
Hari sudah malam, Arzan masih setia berdiri di depan jendela kamarnya. Satu menit kemudian pintu kamarnya terbuka perlahan.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Stella ketika pintu terbuka. Arzan menoleh dan melihat Stella sedang berdiri di depan pintu.
"Baik. Masuklah,"
"Ini beberapa set baju yang harus kau pilih untuk besok, pakailah sesuai keinginanmu," ujar Stella sembari meletakan lima tas belanjaan di atas ranjang Arzan.
"Apa ini semua perlu? pakaian ku masih banyak yang layak pakai," tutur Arzan menjawab. Memang benar pria ini begitu sederhana dan menghargai apa yang ia miliki selagi masih layak untuk dipakai. Tetapi dirinya kini berada di lingkup yang berbeda, dimana beberapa orang bersaing dengan brand bermerk setiap harinya.
"Kau bisa menyimpannya juga, pilih beberapa untuk besok," Stella menyahuti dengan singkat.
"He'em, terimakasih."
Stella hendak pergi dari kamar Arzan tetapi terurungkan karena sesuatu, "Oh iya satu hal lagi."
Arzan mendongak menatap asistennya, "Apa?"
"Jadwal dan beberapa berkas ada di dalam sini untuk besok," sahut Stella sembari memberikan sebuah Flash disk kepada Arzan.
Arzan hanya menjawab dengan anggukan dan menerima benda itu dari tangan Stella. "Ada lagi?"
"Tidak, mulai besok kau akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Nyonya," tutur Stella membuat Arzan mengernyitkan dahinya bingung.
"Hahaha, tidak usah canggung denganku. Aku tahu sesuatu-" lanjut Stella sembari memberikan sebuah kode dengan dua jari telunjuknya yang saling tertaut.
Arzan menatapnya kesal, entah apa yang Stella pikirkan tentangnya dan hal itu membuatnya kesal. "Sudah selesai bukan? keluarlah!" Arzan menyuruh Stella meninggalkan kamarnya.
Di dalam kamar Dina.
Sorotan bulan purnama menjadi sebuah keunikan yang Dina lihat kali ini. Wajahnya sayu menatap indahnya sinar bulan dari balik jendela kacanya. Separuh tirai kamarnya masih terbuka dan bergerak diterpa angin malam.
Sesekali wanita itu menghela nafas berat dan menunduk menatap kedua kakinya yang tak sanggup bergerak. Wajahnya terlihat mengenaskan, namun seakan air matanya sudah kering untuk kembali menangis lagi.
"Apa kau bisa mengabulkan permintaanku?" gumam Dina menatap rembulan. Perlahan wajah kedua orang tuanya tergambar di bulan itu, Dina membulatkan matanya tak percaya. Ibu dan ayahnya tersenyum manis dan selang beberapa detik mereka menghilang dan berganti dengan wajah Danu yang terkekeh menatapnya.
Dina ikut tertawa lucu melihat halusinasinya, bahkan di dalam hayalnya Danu masih sempat tertawa ke arahnya. "Aku punya satu ayah, tapi kasih sayangmu membuatku mendapatkan kembali siapa itu ayah."
"Baiklah, akan aku jalani. Jika mungkin ini adalah ganjaran atas apa yang aku lakukan aku tak bisa berbuat apapun. Penyesalan terbesar dalam hidup adalah menyesal kepada mereka yang sudah pulang ke sisi Tuhan. Duduk dengan tenang disana, dan aku jalani disini sembari menunggu undangan ku datang nanti." Dina.
Tengah malam telah tiba, semua orang sudah terlelap dalam tidurnya masing-masing. Alam mimpi datang untuk memberikan kesan baru untuk mereka. Untuk ia yang sedang lelah aku harap kau mendapatkan mimpi paling bahagia dari semua orang, untuk kau yang sedang mencari siapa dirimu, aku harap kau tidak akan menyesal di akhir ceritamu. Untuk kau yang sedang patah hati aku harap kelak ada pangeran/puteri yang mendapatkan tahta di dalam hatimu itu. Berbahagialah ....