Sore ini adalah waktu dimana takdir akan kembali bermain peran diantara Dina dan Arzan. Ikatan yang semula diatas kertas ini kelak akan terus bersatu hingga hembusan nafas terakhir mereka. Sebuah keluarga yang kelak akan bahagia setelah jutaan kesedihan yang ada.
"Why? kenapa kau membawaku ke kursi depan?" tanya Dina merasa kesal ketika Arzan menggendongnya bukan ke kursi belakang melainkan duduk di depan bersama pengemudi.
"Tutup mulutmu, aku bukan supirmu! ingat itu," jawab Arzan memberikan keputusan dan baru kali ini Dina diam menurut begitu saja.
"Aku rasa kakimu yang lumpuh ini adalah alasan yang tepat untuk menemukan cinta," gumam Stella tersenyum lebar melihat tingkah ke dua majikannya.
"Berani sekali dia mengancamku sekarang, lihat saja akan aku tendang dengan kaki ku nantinya," gumam Dina menahan kesal sembari menatap Arzan yang berjalan untuk duduk di kursi kemudinya.
"Selamat jalan Nyonya, semoga berhasil dan selamat sampai tujuan ...." ucap Stella memberikan salam dan membungkukkan tubuhnya hormat diikuti para pelayan lainnya.
Dina hanya diam tak menoleh, Arzan tersenyum kecut melihat tingkah istrinya yang tak pernah berubah. "Okey, kita jalankan mobilnya," ucap Arzan sembari menancapkan gasnya dan melaju di tengah jalan raya.
Setengah jam berlalu, di dalam mobil mewah itu hanya ada keheningan saja. Sejak tadi Arzan tak henti memperhatikan raut wajah Dina yang menegang, mungkin saja ia sedang gugup.
"Kau gugup?" ucapnya bertanya dengan lembut.
Dina menoleh dan menjawab, "Tidak, tidak apa-apa."
"Baiklah, kau tidak pandai bersandiwara dihadapanku," jawab Arzan dan berhenti bicara sejenak. Tangannya mengulurkan sapu tangan miliknya ke arah sang istri, "Ini, bawalah ...."
Dina menatap sapu tangan berwarna putih itu dengan raut wajah kebingungan, melihat itu Arzan dibuat paham dan kembali berucap, "Bawalah itu jika nanti kau merasa gugup, yakinkan dirimu jika kau tidak sendiri. Aku, ada aku ... untukmu."
Degh! Dina merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya tetapi dirinya memilih tak peduli dan membuang muka dari sang suami. Hubungan sepasang suami istri ini masih begitu canggung dan datar, tetapi tanpa Arzan sadari jika dirinya secara tidak langsung telah membuat gejolak perlahan-lahan dalam hati Dina.
Suasana kembali hening, tangan Dina masih setiap menggenggam sapu tangan yang diberikan Arzan. Perlahan ia membuka lipatan kain putih bersih itu, dan matanya tercengang mendapati sesatu yang tertulis disana. Sebuah bordiran berbentuk hati berwarna merah membuat wanita itu menatap wajah rupawan sang suami dalam diam, dirinya sendiri tidak bisa menafsirkan apa yang ia rasakan yang pasti detak jantungnya terus naik turun seperti rollercoaster.
"Di dalam mobil bersamanya semakin lama membuatku mati jantungan," gumam Dina merasa gugup dan menelan ludahnya mentah-mentah.
Arzan melirik mimik wajah sang istri yang memalingkan wajahnya ke jalan raya dan membuatnya mengangkat bahu kebingungan karena suasana yang canggung ini.
Satu jam berlalu, kini mereka berdua sudah memasuki lahan parkir perusahaan milik Dina. Ini bukan kali pertamanya disini, tetapi hari ini adalah pertempuran yang sesunguhnya yang harus ia menangkan.
"Ayo, kau bisa." Arzan meraih tangan sang istri dan mengusapnya perlahan sembari mengangguk sebagai tanpa jika mereka pasti bisa memanangkan rapat ini.
Dina masih diam dan menarik nafas kemudian membuangnya dengan perlahan sembari menatap Arzan yang berjalan untuk membukakan pintu untuknya.
"Ternyata ia masih memaksakan diri dengan kondisi seperti ini," bisik-bisik para repoter yang melihat Dina datang dengan kursi rodanya bersama Arzan. Semua kamera menyorotnya saat ini, raut wajahnya yang semula gugup kini menjadi tenang seperti sebelumnya, sungguh Dina pandai melakukan perannya.
"Selamat datang keponakan ku," sambut Soraya sembari berjalan ke arah Dina di depan pintu. Terlihat Dea ikut memberikan salam hormat tanpa membuka bicara sejak kemarin.
"Ucapkan salam untuk kakak mu," sahut Soraya seolah begitu menghormati Dina.
Dea tersenyum ramah dan memberikan salamnyam, "Sore kak Din."
Degh! Arzan merasakan sesuatu yang terdengar aneh, matanya seketika meneliti penampilan sepupu iparnya itu, suara Dea terdengar aneh di telinga Arzan.
"Mari masuk," ucap Dina yang sejak tadi terdiam, dirinya mengajak Arzan untuk masuk tanpa tertarik dengan pembicaraan kedua kerabatnya itu. Soraya menatap kesal punggung Arzan yang mendorong kursi roda istrinya, sedangkan Dea lagi-lagi terkekeh entah apa maksud dari tawanya itu.
***
Di dalam ruang rapat eklusif.
Arzan tersenyum ke arah Dina yang berdiri di hadapan anggota rapat yang terdiri dari para infestor dan bagian penting perusahaan maupun klien nya. Siapa yang menyangka jika sejak tadi Dina masih setia menggenggam sapu tangan Arzan. Kondisi seperti ini seolah ia mendapat kekuatan dari Arzan yang bisa dibilang orang baru dalam hidupnya tetapi sekaligus telah menorehkan peran penting dari setiap tindakannya.
"Mari kita dengarkan sambutan Direktur kita," ucap Soraya seraya bangkit dari kursinya dan memberikan tepuk tangan yang diikuti oleh semua orang. Arzan masih diam di sudut podium dan memusatkan pandangannya ke arah Dina.
Dina masih diam, gemuruh tepuk tangan itu perlahan mereda dan Dina menelan ludahnya kesusahan dan menarik nafas panjang.
Terlihat raut wajah Soraya tersenyum licik dan bergumam sembari meraih sebotol air mineralnya, "Kita lihat sampai dimana dia akan terus menjadi lakon disini."
"Selamat sore, dan selamat datang di perusahaan saya. Saya sebagai direktur sekaligus pemilik perusahaan dan pemegang saham terbesar dengan senang hati memberikan sambutan. Beberapa jam lalu saya diberitahu jika kalian menentang kedudukanku karena kondisi fisik yang tak memungkinkan," ujar Dina membuka suara dengan begitu profesional.
"Tentu saja, kami akan menentang siapapun di posisi Anda jika kondisinya sama," sahut seorang pria yang duduk di sebelah Soraya. Mendengarnya Dina tersenyum sekilas menebak permainan.
"Lanjutkan," ujar Dina meminta semua orang yang ingin mengutarakan pendapat.
"Kami menentang jika pemimpin kami adalah orang cacat!" Tekan seorang pria lainnya dengan tubuh besar yang duduk di kursi paling tepi. Soraya tersenyum mendengarnya dan terus menatap raut wajah Dina yang masih berusaha menahan diri disana.
"Baiklah, aku mengerti pendapat kalian semua. Disini, saya sebagai kerabat sekaligus orang yang memegang saham kedua telah bersedia mengembangkan perusahaan ini menjadi lebih baik." Soraya berdiri dan memberikan suaranya.
"Aku sanggup mengembangkan perusahaan ini lebih baik darimu," lanjutnya membuat Dina terkekeh. Sedetik kemudian Dina kembali menatap sekeliling dan berbicara.
"Apa kalian semua mencintai bisnis ini dengan benar? apa kalian semua melakukannya dengan senang hati?" ujarnya.
"Aku, aku disini sudah berapa tahun? apa kalian mengalami kebangkrutan sekali saja? apa kalian kehilangan harga saham? apa kalian pernah mendapat kerugian?"
"Lalu sehari setelah kabar tentangku menyebar ke publik kalian begitu saja membuat keputusan untuk menggugat kedudukanku? dan kau!" lanjut Dina memberi penakanan kepada Soraya di akhir kalimatnya. Melihat hal itu semua orang menatap Dina dengan serius.
"Apa kau mencintai perusahaanku? atau, atau kau hanya mencintai keinginanmu agar tidak menjadi gelandangan seperti dulu?" ujar Dina dan terkekeh lucu dengan kalimatnya sendiri.
Degh! Dea dan ibunya berdiri seketika dengan urat yang menegang kesal, begitu juga dengan semua orang yang ikut berdiri kaget mendengar ucapan Dina yang terdengar keterlaluan.
"Jaga ucapanmu!" tukas Soraya dengan urat lehernya mulai menegang karena kesal.
"Tenanglah, tidak perlu terburu-buru," sindir Dina.
"Kita akui jika ibu Soraya memang luar biasa dalam bisnisnya di anak cabang kita, keuntungannya berhasil menembus target selama ini. Tapi, aku tidak bisa memindah alihkan begitu saja," lanjutnya.
"Lantas apa kau akan tetap bertahan dengan tubuhmu yang telah cacat!?" teriak pria bertebuh besar itu dengan amarah menggebu-gebu sejak tadi.
"Tidak, aku tidak menyerah ataupun bertahan," jawab Dina membuat semua orang kebingungan karenanya. Sorot matanya yang semula tenang kini menjadi tatapan elang mematikan dan menatap satu persatu wajah para infestornya.
"Aku akan memindah alihkan sementara hak milik kepada orang yang tepat," lanjutnya membuat semua orang menegang dan was-was disetiap kalimat Dina yang penuh api dan ancaman, wanita ini tidak berubah sama sekali. Racun dari perkataannya masih mematikan sama seperti dulu.
Suasana hening, megegang, dan menantikan Dina melanjutkan bicara.
"Masuklah!" perintah Dina kepada seorang pria yang berdiri di sudut podium, semua orang beralih pusat pendangan ke arah langkah kaki seorang pria yang belum terlihat jelas wajahnya.
"Arzan Nickley. Direktur Arzan Nickley!" lanjut Dina menyebut nama Arzan dengan penekanan yang begitu jelas membuat semua orang tertekan karena Dina yang seperti bom nuklir di setiap rencana Soraya.
"Tidak! aku menentangnya!" teriak Soraya dengan raut wajah memanas.
Dina tersenyum miring dan mengangkat bahunya meledek sang bibi, "Why? aku berhak sepenuhnya akan keputusan ini."
"Tapi aku lebih mampu membuktikan kemampuan dari pada pria itu! bagaimana mungkin orang asing menjadi pemimpin kami!" lanjut Soraya mendebat.
"Asing? hahaha, kau lupa Nyonya Soraya? kau juga orang asing yang bertindak sok berkuasa di wilayahku!"
Degh! Soraya bisa mati karena keponakannya dengan mulut tajam ini, disetiap detiknya dia mampu membelah musuhnya dengan kalimatnya itu.
"Kami juga menentangnya! bagaimana mungkin orang asing menjadi pemimpin begitu saja," sahut para infestor memberikan penolakan.
"Ahhh, sepertinya kau perlu bukti. Baiklah, dia akan membuatmu menjadi gila harta karena keuntungan yang kau dapat selama masa jabatannya," jawab Dina dan berhenti sejenak, "Dengan kata lain, biarkan dia menyihirmu dengan uang," lanjutnya terkekeh lucu hingga deretan giginya terlihat jelas, baru kali ini Dina tertawa seperti itu lagi, hal ini benar-benar lucu untuk membuatnya tertawa.