Berdebat dan berdebat.

1320 Kata
Satu hari setelah kematian Danu ternyata tak berlalu begitu saja. Masalah demi masalah satu persatu mulai berdatangan silih berganti, sosok Dina yang semula terlihat hampir sempurna dan tangguh dalam melewati masalahnya sendirian kini menjadi wanita lemah yang tak berdaya tanpa kakinya. Sejak siang masalah di kediamannya tak kunjung selesai, mulai dari pertengkarannya dengan Arzan bahkan hingga rencana Soraya sang bibinya yang mulai terang-terangan dihadapannya. "Maaf," lirih Arzan sembari memijat kaki Dina yang terbujur di tempat tidurnya. Sejak tadi mereka hanya terdiam tanpa ada yang memulai pembicaraan. Arzan mengurungkan niatnya untuk pergi hari ini, mungkin sore nanti setelah Dina membaik ia akan meninggalkan rumah ini. "Maaf karena aku tak setangguh dirimu, maaf karena aku harus terlibat dalam masalah ini," lanjutnya masih bergeming lirih. "Tenang saja, aku akan pergi sore ini," tuturnya membuat Dina yang semula berpaling kini menatapnya sekilas, raut wajahnya terlihat sulit diartikan kali ini. "Lihatlah dirimu, kondisi seperti ini kau masih tetap keras kepala. Berhentilah bersikap bodoh, atau kau akan menyesal lagi untuk kesempatan kali ini." Kini Stella yang menyahut dari pintu sembari membawa obat dan segelas air minum kemudian diberikan kepada Arzan. Pria berparas tampan itu dengan telaten melayani sang istri. "Kau akan tetap pergi?" tanya Stella disela-sela Dina yang meneguk obatnya. "Tentu, bukankah peraturan ada untuk dipatuhi?" jawab Arzan mengikuti gaya bicara Dina. "Siapa yang membuat pepatah seperti itu, sungguh terdengar bodoh. Seharusnya peraturan itu ada untuk dilanggar." ujar Stella mencibir, Arzan mendengarnya terkekeh pelan sambil meletakkan obat Dina di atas laci. "Aku pergi dulu," ucap Arzan seraya bangkit dari duduknya dan membuat Dina menatapnya kaget, mulutnya hendak bicara tapi egonya terlalu besar untuk dikalahkan. "Kemana? k-kau bilang akan pergi sore ini." Akhirnya Dina angkat bicara dan membuat mereka berdua terkejut bukan main. Ujung bibir Stella terangkat menahan senyum, dirinya sudah menduga jika majikannya akan berpikir dua kali untuk ini. Arzan menatapnya kebingungan, raut wajahnya yang polos sedikit salah tingkah ketika Dina berkata demikian. "A-aku? hanya ingin ke toilet." Dina memalingkan pandangannya menahan malu. "Bod*oh! kenapa aku bertindak seperti ini," batinnya menahan kesal. "T- tidak, a- aku," ucapnya terbata dan seketika berteriak kesal. "Aishh! kenapa aku terbata seperti orang bodoh! Kau punya uang untuk membayar denda?" lanjutnya mulai berbicara kasar seperti sedia kala. "Aku tidak punya dan tidak bisa dikatakan menyerah begitu saja," Arzan. "Kau mampu membayarnya 10 kali lipat?" tanya Dina membuat Stella mengerucutkan bibirnya kesal. "Kenapa kau sangat lamban? bilang saja jika kau tidak ingin dia pergi," sahut Stella begitu terang-terangan dan membuat Dina kembali gugup. "Tidak!" sahutnya cepat menolak ucapan sekretarisnya. "Aku hanya mempedulikan uangku, aku tidak ingin menerima kerugian," lanjutnya membela dirinya sendiri. "Sejak kapan? why?" Stella memajukan wajahnya dengan raut wajah geram menahan kekesalan. "Tutup mulutmu dan diam saja!" Dina yang merasa terpojokkan lagi-lagi hanya bisa menjawab dengan ancaman. Arzan sejak tadi hanya diam menggaruk tengkuknya melihat perdebatan kedua wanita di depannya. "Jawab dengan benar, apa kau mampu membayar uang itu 10 kali lipat?" lanjut Dina masih bertanya, entah apa yang sedang wanita ini maksudkan. "Sejujurnya tidak, mencari pekerjaan di kota ini tidak semudah yang aku pikirkan. Mungkin aku bisa membayar uang itu setelah setahun, dua tahun? lima tahun?" jawab Arzan menimbang-nimbang. "Apa aku akan mendapat uang itu setelah menjadi mayat?" sindir Dina merasa kesal. "Ya, mungkin saja. Tidak ada yang ta-" Bruk! Sebuah bantal mendarat sempurna di wajah pria itu membuat Stella yang melihatnya terkekeh lucu, dirinya masih tertarik melihat ending peperangan ini, antara wanita yang egois dan pria yang tak berdaya. "Tutup mulutmu! kau tak perlu membayar uang itu," ujar Dina membuat Arzan berbinar. "Dengan satu syarat!" Mendengarnya seketika wajah Arzan menjadi masam. "Apa?" tanyanya melemas. "Aku rasa penyihir ini tidak akan membiarkanku bernafas begitu saja," batinnya menimbang-nimbang. "Pegang perusahaan ku dibawah kendaliku hingga aku kembali sehat." Degh! Stella menoleh dan terkekeh seketika, "Woah wanita ini benar-benar cerdas. Dia mempertahankan dua keinginannya dengan satu bidikan." Benar yang dikatakan Stella, dari sini dapat dilihat jika Dina berhasil membuka peluang besar yang sangat menguntungkan. Satu posisi dirinya bisa mempertahankan Arzan dan disisi lain sekaligus bisa terus menjaga perusahaan yang menjadi hak nya. "A-aku?" tanya Arzan tak habis pikir. "Kau pikir menjadi direktur itu seperti membalikkan telapak tangan? woahh ... ditambah aku harus bertempur dengan bibi mu sang penyihir itu setiap hari." "Memang itu yang menjadi keunikannya, tanpa monster pahlawan tidak akan mendapat peran, setuju?" jawab Dina begitu keren sembari menunjuk ke arah Stella. "Setuju!" jawab Stella cepat sembari mengacungkan kedua jempolnya dan memberikan tepuk tangan bangga akan cara berpikir majikannya. Arzan tersenyum kecil melihat raut wajah sang istri, tidak bisa dipungkiri jika dirinya juga menginginkan untuk tetap berada disini dan melindungi Dina, sesuai apa yang telah Danu titipkan padanya. *** Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.15 sore. Arzan terlihat tampan dengan balutan jas berwarna hitam dan sepatu hitam berkilau. Di sampingnya terlihat sang putra ikut tersenyum melihat penampilan ayah angkatnya itu. "Papa? ...." ucap Dhafin pelan sembari menarik pelan celana Arzan membuat sang pemilik menoleh kebawah. "Iya?" jawab Arzan seraya jongkok dihadapan anaknya. Cup! satu kecupan mendarat di pipi Arzan, ini adalah ciuman pertama yang dia rasakan sebagai seorang ayah. Diusianya yang masih terbilang muda ini benar-benar penuh kejutan, mulai dari pernikahannya yang mendadak dan lika-liku perjalanannya yang lainnya. Dan kini dirinya seolah mendapatkan kelengkapan menjadi sosok ayah untuk Dhafin. "Love you Dad, big heart for you ...." lirih Dhafin saat tenggelam kedalam pelukan sang ayah. Arzan tersenyum lembut dan sangat menyayangi bocah ini, perlahan-lahan dirinya kembali merasakan seperti apa kasih sayang antara anak dan ayah. Satu menit kemudian Dina datang dengan kursi rodanya bersama Stella, balutan baju desainer ternama menjadi kesan menonjol pertemuan kali ini. Hari ini adalah saat dimana semua orang akan mengetahui seperti apa kekuatan seorang Cahayana Dina. Wanita berwajah dingin dengan keputusan yang tidak bisa diganggu gugat. "Dad," lirih Dhafin membuat Arzan yang semula menatap kagum Dina seketika menoleh kaget. "Kapan Dhafin punya adek?" Degh! satu rumah mematung, terdiam, dan membisu. Pertanyaan bocah ini benar-benar membuat jantung kedua orangtuanya naik tutun drastis. Stella menahan tawanya disana, beberapa pelayan yang berdiri disana juga hanya bisa menunduk diam menahan senyumannya. Sedetik kemudian Arzan melihat Dina yang menatapnya dengan mata elangnya. Takut, itu yang pria ini rasakan. Sorot mata Dina seolah bertanya apa yang telah Arzan ajarkan kepada anaknya hingga bertanya demikian. Arzan menggeleng cepat menyadari tatapan sang istri, lagipula tidak ada yang disalahkan disini. Anak seusia Dhafin bertanya seperti ini adalah hal wajar, teman dan keluarga adalah saudara baginya. Hidupnya berbeda dari panti asuhan, disana setiap hari dipenuhi tawa saudara/i nya sedangkan disini hanya ditemani mainan modern dan pelayan yang terus mengawasinya sepanjang waktu. "Hehehe ..." Arzan terkekeh palsu berusaha mencairkan suasana, dirinya sendiri juga tidak menyadari jika Dhafin akan bertanya hal sensitif seperti ini disini. "Ngga bisa sayang, adek asli itu mahal. Buatnya butuh waktu lama loh," ujar Arzan berusaha membohongi pemikiran anak kecil itu. "Ya sudah, Papa buat yang palsu," sahutnya membuat Arzan membelalakkan matanya kaget dan melirik wajah sang istri yang masih menatapnya tajam. "Hahaha, hahah, hahaha" Arzan terus tertawa garing tak bisa berkata-kata lagi, sungguh anak ini tidak sepolos yang dia pikirkan. "Daddy! Dhafin mau adek kembar kek temen-temen disekolah," lanjutnya masih merengek di situasi seperti ini. "Kembar?" pekik Arzan tanpa sadar membuat semua orang menatapnya. "Iya, kalau ngga kembar ngga apa-apa asalkan dua. Tapi kalau kembar Dhafin mau empat! hihihi ...." lanjutnya mengutarakan keinginannya. Mendengar hal itu Dina tak sanggup lagi menahan malu di hadapan semua orang. "Suruh saja ayahmu yang melahirkan, biar Mama yang kasih bibit kecebongnya!" kritik Dina sembari menjalankan kursi rodanya ke luar rumah. Mendengar hal itu semua orang tak kuasa menahan tawanya, termasuk Stella. Wanita itu sudah guling-guling menahan sakit perutnya karena tertawa. Sedangkan Arzan masih diam ditempat dengan raut wajah datar. "Aku melahirkan? oke!! aku melahirkan, aku yang hamil! dia yang ternak bibit kecebong unggul!" teriak Arzan geram sembari merentangkan tangannya frustasi ke atas sembari berjalan mengikuti Dina yang sudah berada di luar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN