Keras kepala seorang wanita.

1353 Kata
"Apa kau tidak merasa jika ini berlebihan?" tanya Stella sembari duduk di hadapan sang majikan yang menyemprot tanaman dengan air. Dina menjawab tanpa menoleh, "Tidak." "Dia tidak melalukan kesalahan, dia menolongmu. Apa itu salah?" lanjut Stella masih kekeuh memberikan penjelasan. "Dia saja tidak menggugat perintahku kenapa kau bersih keras membelanya? kau juga ingin mengundurkan diri?" Dina meletakkan semprotan air dan menoleh ke arah Stella. "Dia tidak berdaya untuk menolak keputusanmu Nyonya, ayolah pikirkan sekali lagi." Stella. "Aku merekrutnya hanya untuk sebagai wali jika aku mati, tapi aku masih hidup karena dirinya, apa aku membuat kesalahan?" ujar Dina mengutarakan pemikiran. "Tidak." Bukan Stella yang menjawab tetapi Arzan yang turun dari kamarnya sembari membawa kopernya. "Dia tidak salah, dia benar. Aku yang memilih memutuskan kontrak pekerjaan-" lanjut Arzan berhenti berbicara dan melanjutkan dalam hatinya, "Aku tidak gila harta hingga membiarkan seseorang meninggal hanya karena jasanya." "Kalian berdua- akh! sungguh tidak bisa berpikir sehat," keluh Stella kehabisan kata-kata. "Peraturan ada untuk dipatuhi, keputusan ada untuk dijalani. Dia yang bertindak bodoh, bukan- lebih tepatnya sok jagoan hahaha ...." Dina menyahut sembari terkekeh menyepelekan Arzan, keras kepalanya masih belum hilang sampai saat ini. "Sepertinya kau harus mengajari dia cara berterimakasih," ucap Arzan kepada Stella secara tak langsung menyindir sang istri sembari memberikan surat pengunduran diri kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua. "Tunggu-" sahut Dina membuat langkah Arzan terhenti. "Aku tidak suka berhutang budi," lanjutnya sembari mengulurkan segebok uang di dalam amplop. Arzan menatapnya sembari membatin lucu, "Memang sampai kapanpun orang miskin akan tetap dianggap rendah." "Terimakasih," ucap Arzan penuh penekanan dan meraih uang itu cepat, jika dia menolak maka masalah akan semakin rumit. Kaki jenjangnya berjalan menuju pintu utama untuk meninggalkan kediaman yang menjadi tempat tinggalnya sebelumnya. Saat Arzan hampir sampai di pintu tiba-tiba. "Papa! ...." Suara Dhafin membuat semua orang menoleh. Degh! Arzan membisu, kakinya membatu seketika. Tubuhnya berbalik dan Dhafin berlari sekuat tenaga menghampiri sang ayah. Bruk! bocah itu jatuh ke dalam pelukan sang ayah dan mencengkramnya kuat-kuat seolah tak mampu lagi jika harus kehilangan. Arzan baru menyadari jka sejak kemarin malam dirinya tidak memikirkan anak ini. "Jangan pergi ..." lirihnya memohon dengan mata berkaca-kaca. Mendengar kata yang keluar dari bibir mungil Dhafin membuat Arzan tersentuh dan mensejajarkan tubuhnya. "Maafkan Papa ya Nak? tempat Papa bukan disini, Dhafin harus jadi anak yang kuat dan hebat nantinya, okey?" ucap Arzan menahan tangis di sela-sela perpisahan ini. "Hiks ..." Kepalanya menggeleng dalam isak tangisnya, benar adanya anak ini tidak mampu kembali kehilangan orang tua. "Dhafin ikut," lanjutnya masih menahan sang ayah. Arzan tersenyum kecut dan menggeleng, "Lihat Mama, dia membutuhkan Dhafin. Dhafin harus mengajari Mama berjalan lagi, Dhafin harus merawat mama sebaik mungkin. Nanti jika ada waktu Papa akan mampir lagi." "Kau lihat? anak itu bahkan tidak mampu kehilangan ayahnya. Kau mengadopsinya karena ingin mati, sekarang kau masih hidup. Apa kau juga akan membuangnya?" ujar Stella penuh dengan duri dikalimatnya. Mendengar hal itu Dina mengepalkan tangannya rapat-rapat, sejujurnya tidak dapat dipungkiri jika wanita itu juga tak rela kehilangan seperti ini akan tetapi dirinya terlalu egois dan mengganggap Arzan sebagai alasannya berpisah dengan Danu. "Berhentilah egois, dunia ini tak mampu kau kendalikan sesuai keinginanmu," lanjut Stella memberikan penuturan lagi saat itu juga air mata Dina lolos keluar bersamaan dengan Stella yang meghampiri Dhafin. "Bagaimana dengan Papa?" tanya anak itu masih terus menahan kepergian sang ayah. "Papa? tentu Papa juga akan menjaga diri dan menjalani hidup lagi," jawab Arzan terus terang. "Bagaimana dengan keluarga Papa?" tanya Dhafin membuat Arzan tercengang. Arzan hendak menjawab tapi terpotong oleh Stella, "Sudah, biarkan saja. Tidak semua bisa kita paksakan, eum?" "T-tapi Dhafin ngga mau kehilangan ayah lagi. D-Dhafin ngga mau," tolaknya. "Biarkan dia pergi! jangan kau hentikan," sahut Dina yang sejak tadi terdiam dan membuat Dahfin terkejut kemudian menangis dalam pelukan Stella. "Hiks ... hiks," "Sukses, semoga berhasil. Kita ketemu lain kali," lirih Stella memberikan salam perpisahan sambil menahan tangis menatap wajah majikannya dan memaksakan senyumnya. Arzan tersenyum dan mengusap air matanya kasar, diraihnya koper hitam miliknya dan membungkukkan badannya memberi salam dengan berat hati, tetapi dirinya juga tak berdaya lagi, sebab sebelumnya ia juga sudah memikirkan baik buruknya dengan matang. Arzan melangkahkan kaki menuju pintu, baru saja dia tiba di depan pintu tiba-tiba banyak orang berlarian masuk dengan beberapa reporter, dan membuat Arzan tertabrak dan terdorong ke lantai. "Aish!! sial*an!! ada apa dengan manusia bodoh ini!" umpatnya kesal karena terdorong ke lantai, tangannya mengibas-ngibas kesakitan yang meninggalkan bekas memar di telapaknya. Dina menoleh kaget melihat kerumunan orang yang menerobos masuk ke dalam rumahnya tanpa undangan, begitu juga dengan Stella. Melihat hal itu Dhafin segera di bawa pergi oleh pelayan untuk mengamankannya, memang benar hingga saat ini wajah Dhafin masih belum pernah terekspos di media cetak. "Ada apa ini?" tanya Dina terkejut dan sesaat kemudian matanya menangkap sosok sang bibi dan putrinya tiba dari pintu. Melihatnya Dina sedikit paham jika ini adalah sandiwara baru Soraya. Arzan yang hendak pergi sedikit penasaran dan mengulur niatnya. "Cih, manusia penyihir. Mereka masuk seolah ini tempat umum?" Arzan masih menggeturu kesal seraya bangkit berdiri. Seorang reporter membuka suara dengan pertanyaannya, "Apakah benar jika perusahaan yang semula atas nama Nyonya sudah dipindah alihkan?" Degh! Dina membelalakkan matanya kaget dan terkekeh lucu sembari melirik ke arah Soraya yang tersenyum licik di hadapannya. "Apa kalian mengarang novel? berita macam apa yang kalian bawakan hari ini?" sahut Dina merasa geram dengan tindakan sang bibi yang kelewatan batas. "Rapat akan dilakukan sore ini, kau tak mampu berjalan lagi. Kau cacat! aku sudah berbaik hati untuk meneruskan perusahaan itu agar tidak bangkrut," sahut Soraya menjawab dan membuat Dina meradang. Mulutnya kelu tak bisa berkata-kata, yang dikatakan Soraya memang benar akan tetapi Dina tidak akan melepas alih begitu saja. "Datanglah ke kantor sore ini, dan berikan argumenmu. Lagipula tidak ada insfestor yang akan menyetujuimu sebagai direktur dengan kondisi seperti ini, jika kau tidak datang maka akan aku anggap persetujuan." tutur Soraya begitu percaya diri, padahal faktanya adalah para infestor itu sudah disuap bahkan di ancam dengan kelicikan wanita berumur ini. Dina masih tak berkata-kata, dirinya tidak mampu lagi harus berbuat seperti apa. Kondisinya memang tak memungkinkan untuk menang. "Baiklah pemirsa, keputusan yang sesungguhnya akan kami hadirnya sore nanti. Nantikan tayangan eklusif hari ini- ...." Para reporter mulai menutup acara mereka dan satu persatu mulai meninggalkan tempat. Soraya juga ikut pergi, terlihat Dea masih berdiri mematung menatap Arzan dengan kopernya, wajahnya terlihat bingung dengan apa yang terjadi. Begitu juga dengan Arzan, dirinya merasa aneh ketika Dea menatapnya begitu lama. "Siapa sebenarnya dia, kenapa seolah kita pernah bertemu," gumam Arzan merasa familiar dengan wajah Dea. Tanpa berlama-lama Arzan berbalik untuk meninggalkan tempat. "Tidak sudah dipedulikan, itu urusannya. Tidak perlu ikut campur lagi," gumam Arzan menegaskan kepada dirinya sendiri untuk tidak ikut campur lagi. "Ini membuatku kehilangan akal! sialan!" umpat Stella menggerutu kesal melihat majikannya yang hanya diam, sedetik kemudian dia berteriak memanggil nama Arzan agar tidak pergi. "Tunggu Tuan!" Dina menatap Stella kebingungan, "Apa yang dia lakukan? sialan!" batin Dina tak mengerti dengan kondisi, kepalanya menjadi begitu sakit memikirkan semuanya. "Aku mohon, kita bicarakan ini kembali," lanjut Stella memohon dan Dina tidak memberikan penolakan. Arzan masih diam ditempat dan merasa ragu apakah ia harus pergi atau bertahan. "Akh! ..." rintih Dina membuat Stella menoleh kaget, Arzan seketika berlari melihat istrinya merintih kesakitan sembari meremas kepalanya kasar dan meringkuk di atas kursi roda. "Kenapa? kau kesakitan?" sahut Arzan mencekal kedua tangan Dina yang masih meremas kepalanya. "Ah, dia tidak meminum obatnya!" sahut Stella mulai kesal menyadari jika pagi tadi ternyata Dina berbohong saat dirinya membawakan obat ke kamarnya. "Kau! membuat kesal saja. Kau menyuruhku pergi sedangkan kau sendiri masih seperti anak kecil," ujar Arzan kesal dan siapa yang menduga jika dirinya justru menggendong Dina menuju kamarnya. Mata Stella membulat melihat perlakuan sang majikan kepada sang istri, "Oah ... kenapa dia begitu manis," lirihnya menggigit jarinya karena tak kuasa melihat pasangan itu. "Kapan jodohku tiba?" gumamnya kesal menatap langit-langit rumah, tidak bisa dipercaya jika selama puluhan tahun Stella hidup dirinya tidak pernah berpacaran dengan seorang pria, entah nasib cintanya buruk atau bagaimana. "Aku harap jodohku tidak meninggal dunia!" gumam Stella penuh penegasan berharap jika dirinya masih memiliki kesempatan untuk menikah nantinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN