Jalan raya nampak dipadati kendaraan, hari sudah malam. Kini sebuah taksi yang tengah melaju menjadi sorotan utama. Di dalam taksi tersebut adalah Dina, masih dengan pakaian perawat dan tatapan mata kosong, siapa yang menyangka jika wanita ini telah kabur dari rumah sakit.
Wajahnya masih memucat, bola matanya terdiam tak bergerak menatap ke arah jalanan. Memori kepalanya teringat hari kemarin yang masih sempat berdebat dengan almarhum Danu yang kini hanya tinggal nama.
Saat Dina masih melamun menatap jalanan tangannya tanpa sadar meremas kuat dan setetes air mata lolos begitu saja. Menyadari hal itu Dina segera menghapusnya dan menunduk sesekali sembari membuang nafas berat.
Dua jam berlalu, kini taksi yang dia naiki sudah tiba di depan pagar rumahnya dan bergegas turun tanpa berucap sepatah katapun. Rumahnya nampak sepi tanpa seorang pun, semua pekerja sudah di liburkan dan kini berada di rumah sakit untuk menghadiri proses pemakaman.
Di depan pintu rumah, Dina terus berjalan tertaih memaksakan kakinya yang hampir tak kuasa bergerak lagi. Ujung ibu jarinya memar karena terus berjalan sembari di seret, wajahnya memucat ketika tiba di depan ruang keluarga.
Matanya menatap layar televisi dengan tubuh gemetar sembari berjalan perlahan mendekatinya. Posisinya kini sudah terduduk lemas di lantai dan membuka kasar laci berisi DVD dan almbum photo.
Telihat jelas dari kertas usang itu senyum gadis berusia 9 tahun merekah cerah disamping wajah seorang almarhum Danu. Tangannya menggenggam kuat remote kontrol dan menyalakan layar elektronik itu.
"Hahaha ... lihat, ini dia tuan putri kita," Tawa seoang pria yang membawa camera rekaman terdengar jelas disana sembari menampilkan seorang gadis dengan gaun penari yang indah.
"Paman, jangan menyebutku tuan putri ...." jawab Dina yang masih berusia 9 tahun, wajahnya memerah karena malu sembari membawa buket bunga ditangannya.
"Apakah kamu tersipu malu? hahaha ..." Sekali lagi tawa pria tinggal nama itu terdengar ceria dan bahagia, hari itu adalah pertunjukan terakhir Dina semasa hidupnya setelah orang tuanya meninggal dunia.
Tiba-tiba layar TV itu mati, terdengar isakan tangis pilu dari bibir seorang Dina. Wanita yang hampir kehilangan segalanya dan kini segalanya telah direnggut.
"H-hiks ... aku membencimu! aku tidak akan lagi mengingatmu!" teriaknya frustasi begitu kacau sembari melempar DVD yang berserakan di depannya. Tubuhnya mungkin sudah sehat, tapi hatinya sudah benar-benar terpuruk dalam semalam.
"Hiks ... a-aku membencimu ...." lirihnya merintih kesakitan sembari meringkuk di lantai. Tangannya memukuli kedua pahanya dengan perasaan kebencian yang luar biasa. Matanya terus menangis sambil tertidur di lantai dingin, tidak ada yang mengetahui keberadaannya sekararang.
***
Pagi tiba.
"A-apa maksudnya Nyonya?" tanya sekretaris Dina kebingungan kepada sosok Soraya yang berdiri di hadapannya dengan dokumen pemindahan saham ditangannya.
"Apa? Atasanmu sekarang adalah aku. Dina, wanita itu sudah tak mampu berjalan lagi apalagi mengurus perusahaan ini," jawab Soraya kepada semua pekerja disana, semua orang terkejut dengan keputusan Soraya yang mendadak.
"Lakukan rapatnya hari ini," sahut wanita paruh baya itu dengan isyarat jari telunjuknya dan kemudian berlalu meninggalkan kerumunan. Siapa yang menyadari jika Dea sejak tadi tersenyum diam-diam.
Di kediaman Dina.
"Kami akan merekrut pelayan khusus mulai hari ini, ada yang bersedia mengajukan diri?" tanya Stella di hadapan pelayan yang berbaris rapi. Hari ini dirinya hendak memilih pelayan khusus yang akan mendampingi Dina kapan saja.
Terdiam, tidak ada yang menjawab. Stella melihat satu persatu wajah para pelayan yang masih diam menunduk. Wanita berbaju modis itu terkekeh pelan dan maju selangkah.
"Bagaimana dengan gaji 15 juta perbulan?" ucapnya mulai memberikan penawaran, tetapi nihil semua pelayan itu tidak ada yang menjawab.
"70 juta?" tawar Stella mulai menggila dengan gaji sekian banyak, membuat pelayan itu saling menatap temannya dengan perasaan berat jika menolak uang sebanyak itu, tetapi tidak ada dari mereka yang sanggup melayani majikannya secara khusus. Mereka telah paham seperti apa watak majikannya.
"100 juta!?" Stella mulai memberikan penawaran di luar nalar. Arzan yang sejak tadi berdiri di belakang barisan pelayan itu dibuat tertegun dan tersenyum miring sembari membatin, "Tidak ada yang akan menerimanya sebagai majikan."
"Atas perintah siapa?" Semua orang menoleh ke arah Dina yang baru saja datang dengan kursi rodanya.
"Aku tidak membutuhkan pelayan, keluar saja jika kalian ingin. Akan aku berikan upah bulan ini," lanjutnya tanpa berbasa-basi sekaligus tidak tertarik dengan penawaran Stella.
"Tidak ada?" Dina masih berbicara dan Stella menggeleng frustasi karena majikannya.
"Ah, sudah-sudah. Kalian bubar saja, lanjutkan pekerjaan," sahut Stella memberikan perintah.
Saat pelayan itu bubar satu persatu, Arzan melepaskan tangannya dari saku sembari hendak berjalan menuju kamarnya.
"Mau kemana kau?" sahut Dina membuat langkah sang suami terhenti begitu juga dengan Stella yang ikut menoleh menatap Dina.
"Why?" tanya Arzan singkat.
"Duduklah, aku rasa kontrak kita selesai hari ini." jawab Dina.
"A-apa? woahh ...." gumam Stella menutup mulutnya rapat-rapat begitu terkejut.
Mendengar hal itu Arzan menunduk sesekali dan terkekeh, "Oke Arzan, bersiaplah mencari pekerjaan untuk mengembalikan denda."
"Tidak! tidak bisa, aih ... kau serius? ini gila!" sahut Stella mengeluh tak percaya sembari berdiri di antara kedua majikannya.
"Pergilah, ambil surat kontraknya," tukas Dina mengabaikan keluhan Stella.
"Tidak!" Stella masih kekeuh menolak.
"Kau tidak bisa memutus kontrak begitu saja tanpa alasan yang jelas,"
"Kau perlu alasan?" sahut Dina terkekeh pelan. Arzan masih diam memalingkan wajahnya.
"Aku tidak sudi menjalin hubungan dengan seorang yang terlalu ikut campur!" jawab Dina penuh penekanan di akhir kalimatnya.
Stella masih menyangkal, kali ini bukan Arzan yang mempertahankan posisinya justru Stella yang mempedulikannya.
"Sudah biarkan, turuti saja ucapannya." Akhirnya Arzan membuka suara sembari melangkah duduk di sofa. Stella mengumpat kasar mendengar ucapan majikan laki-lakinya, bukannya mempertahankan justru dirinya terlihat pasrah.
Stella melangkah mengambil surat kontrak yang semula mereka sepakati, saat itu juga Arzan bangkit menghampiri sang istri. Dina menatap wajah sang suami dengan tatapan jengah.
"Aku menemukannya kemarin," ucap Arzan sembari mengulurkan sebuah surat. Dina hanya menatap tangan Arzan tanpa berniat berbicara.
"Bacalah, tidak ada yang membacakan surat untukmu lagi," lanjut Arzan sedikit menyindir sang istri. Mendengar hal itu Dina meraih surat itu dengan cepat dan membukanya.
Matanya menatap isi surat itu, dan sedetik kemudian matanya memanas.
"Kau membaca surat ini? aku harap kau baik-baik saja sekarang. Bagaimana kesehatanmu? baik kan? tentu saja, kau mendapatkan donor sum-sum terbaik hahaha. Mulai hari dimana kamu membaca surat ini berjanjilah kau akan meneruskan hidupmu sebaik mungkin, bersinarlah ... masih ada mimpi yang harus kau wujudkan-" Surat itu di remas kuat oleh Dina dan melemparnya sembarang sembari menatap sekeliling menahan tangisnya.
"Mungkin aku datang hanya untuk ini, bersinarlah. Hujan akan segera reda, pelangimu segera datang. Jalanilah hidupmu lebih baik dari sekarang, ingat jika separuh dari itu adalah nyawa orang lain." ucap Arzan dengan lembut sembari menatap sang istri.
"Tinggalkan rumah ini sebelum fajar," jawab Dina singkat sembari memalingkan wajahnya.
Arzan terenyum kecut dan menunduk menahan tangis, kaki jenjangnya mendekat ke arah sang istri dan berjongkok di hadapannya.
"Sayangku," panggil Arzan begitu lembut membuat Dina tak kuasa menahan tangis lagi, entah kenapa panggilan Arzan begitu menyentuhnya kali ini.
"Kau masih istriku saat ini, entah kau akui atau tidak aku masih punya hak secara hukum maupun agama atasmu." lanjutnya berbicara sambil menahan tangis, dengan perlahan Arzan menggenggam tangan Dina. Jantung mereka berdegup lebih cepat dari sebelumnya.
"Berbahagialah, kau berhak atas hidupmu kali ini," pungkas Arzan sebelum Dina melepas kasar tangannya dari genggaman Arzan.
"Pergilah, hentikan sandirwaramu," Dina.
Arzan bangkit dan berjalan menuju kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya. Dina menunduk dalam diam di atas kursi rodanya, mulutnya ia bungkam rapat-rapat menahan tangis. Siapa yang menyangka jika ada dua orang yang mendengarkan pembicaraan suami istri itu. Stella mendengar pembicaraan kedua majikannya dari balik tembok, dan bocah laki-laki itu menangis melihat orang tuanya bertengkar dari kejahuan.
"Tuhan, apa Dahfin harus kehilangan ayah dan ibu lagi?" tanya bocah itu dengan isakan tangis sembari menatap langit-langit rumahnya.