Matanya terbuka ...
Hening, bola matanya menatap sekeliling yang nampak asing. Kepalanya berdenyut ketika menyadari tangannya telah ditembus jarum infus. Dina telah sadarkan diri, kini dirinya berada di rumah sakit.
Tubuhnya terasa aneh, saat dirinya berusaha bangun tetapi ada sesuatu yang membuatnya terkejut, yaitu kakinya tidak bisa bergerak. Menyadari hal itu Dina membelalakkan matanya lebar-lebar sembari memukuli kakinya sendiri.
"Kenapa? a-apa yang terjadi? apa!" ucapnya berteriak tak kuasa menerima keadaan. Sedetik kemudian Arzan datang dengan kantong belanjaan. Matanya membulat kaget mengetahui jika Dina sudah sadarkan diri.
Mata mereka bertemu, setetes bulir air mata Dina menetes menatap wajah Arzan sembari bertanya, "Apa yang terjadi?" tanyanya melemas.
Arzan menunduk sesekali dan meletakkan kantong belanjaannya sembari memegang bahu sang istri bermaksud untuk menenangkannya. Namun Dina justru menepis tangan sang suami dengan kasar sembari bertanya penuh penegasan, "Katakan padaku! apa yang terjadi? ... Danu! dimana dia?"
Arzan menunduk diam, dan Dina kembali bertanya sembari menelusuri penampilan Arzan, "Kenapa dengan baju hitam? kenapa!?" teriaknya tak kuasa lagi.
"Tenanglah, tenang ...." ujar Arzan.
"Katakan, apa?" Dina hanya bisa bertanya dengan derai air mata. Arzan meneguk slavina sesekali dan menjawab, "Dia mendonorkan tulang sumsumnya untukmu, itu keinginan terakhirnya,"
Jleb! Dina terdiam masih berusaha mencerna perkataan Arzan.
"Te- terakhir?" tanya Dina memastikan apa yang ia dengar, Arzan mengangguk dan menjawab, "Kecelakaan itu membuat kakimu lumpuh," ujarnya terpotong bersamaan dengan air matanya yang tak terbendung lagi.
Dina masih mendengarnya dalam diam sembari menyibakkan selimut dan menatap dua kakinya yang masih utuh tetapi tak mampu berjalan.
"Dan kecelakaan itu merenggut nyawa pak Danu," lanjut Arzan lirih sembari menyeka air matanya kasar.
Dina menatap kakinya dalam diam, hanya diam. Dunianya kembali runtuh, dia mendapatkan kehidupan dengan kepergian seseorang yang berarti dalam hidupnya.
"Siapa yang menyetujui operasi ini?" tanya Dina menahan tangis dan berusaha menatap mata Arzan.
"A- aku," jawab pria itu dan menunduk dalam tak bisa menutupi fakta yang ada.
Dina terkekeh dengan derai air mata, "Kenapa? siapa yang memberikanmu izin? siapa!?"
"Atas hak apa kau ikut campur perihal hidup dan matiku? kenapa!?" teriak Dina tak kuasa lagi, terisak dan berteriak frustasi. Arzan hanya bisa diam dan menunduk tanpa sepatah katapun.
Dina yang semula duduk diam, kini memaksakan dirinya untuk bangun hendak menemui jenazah Danu.
Bruk!! tubuhnya jatuh dari ranjang, Arzan menatapnya kaget dan segera berlari untuk menolong sang istri. Tapi lagi-lagi Dina menepis bantuan Arzan dan terus berusaha menghampi Danu dengan cara mengisut.
"Lepaskan aku! menjauhlah dari hadapanku! aku muak melihatmu," geram Dina sembari terus mengisut.
"Dengarkan aku," jawab Arzan dengan nada lirih tak berdaya sembari terus berusaha menghentikan Dina.
"Aku bilang lepaskan! apa maumu!? kenapa? kau suka melihatku menangis dihadapan jenazahnya? kau senang melihatku memohon? kau suka!?" teriak Dina dengan nada tinggi sembari terus memukul d**a bidang Arzan.
"Kenapa? kenapa dia harus memberikan donor bodoh ini kepadaku? kenapa?" ucap Dina tak menyerah dan masih bruntal keras kepala.
"Diam!" bentak Arzan tak tahan lagi dan membuat Dina menatapnya.
"Tolong, dengarkan aku sekali saja, ku mohon ...." lanjutnya sembari mencekal bahu sang istri.
"Kau bisa membenciku, kau bisa membenci dirimu sendiri, kau bisa membenci semua orang. Tapi satu hal yang harus kau ingat, ini bukan sumsum mu! ini milik pak Danu! kau tidak berhak memutuskan untuk menyerah atas apa yang sebelumnya menjadi milik orang lain!" bentar Arzan berusaha menenangkan Dina, walaupun dirinya tahu seletah apa yang terjadi dirinya akan pergi jauh dan menerima konsekuensinya.
***
Semua orang menoleh dan memusatkan pandangan ke arah seorang wanita yang duduk di kursi roda yang didorong oleh Arzan, dia adalah Dina.
Wajahnya pucat pasi, keningnya masih ada beberapa bekas luka yang hendak mengering. Pakaiannya masih dengan seragam pasien, sedangkan semua orang disana berpakaian hitam untuk memberikan penghormatan terakhir untuk pak Danu.
"Aku tidak menyangka akan seburuk ini akhirnya," bisik-bisik beberapa orang yang berada dissana. Dina yang mendengarnya hanya diam tanpa menoleh ataupun berkedip, dirinya tak bisa apa-apa lagi kali ini. Penyakitnya mungkin sembuh, tapi sebagai gantinya kakinya justru melumpuh tak mampu berjalan.
Dina tiba di depan pintu, dari sana dirinya melihat seorang mayat yang terbujur kaku di lantai dengan kain putih bersih. Mata Dina memanas ketika menatap sebuah foto dengan rangkaian bunga di depannya. Wajahnya menunduk tak berdaya menahan tangis kesedihannya.
Arzan masih mendorong kursi roda Dina untuk mendekat ke arah jenazah pak Danu. Diam, semua orang manatap wajah Dina dengan tatapan miris.
Pelahan Dina turun dari kursi roda dan terduduk di lantai, semua orang terkejut disana. Dimana semua orang menangis, tetapi Dina justru tertawa dengan kencang di hadapan jenazah.
"Hah, hahaha ... kenapa kau menggunakan pakaian baru?" ucap Dina terkekeh menatap kain putih yang menutupi tubuh Danu.
"Kau telat makan? kenapa wajahmu pucat?" lanjutnya mengelus wajah jenazah pak Danu.
"Kau kedinginan?" tanyanya lagi sembari merasakah tubuh dingin sang mayat. "Bangunlah, jangan tidur dilantai, bangunlah! aku membutuhkan mu,"
Semua orang menunduk tak kuasa menahan tangis mendengar kalimat demi kalimat yang Dina utarakan.
"Bangunlah! kenapa kau tidak mendengarku!? kau ingin aku pecat? kau bosan dengan pekerjaanmu? katakan, katakan berapa persen yang harus aku bayarkan untukmu," Dina masih terus berkata di hadapan jenazah yang terbujur kaku itu. Arzan tak kuasa melihatnya lagi, dengan perlahan tangannya meraih bahu Dina untuk mengajaknya pergi.
"Kenapa dia tidak bangun?" tanya Dina dengan senyum mengenaskan diwajahnya.
Arzan menggeleng perlahan sembari mengelus kepala sang istri, saat Dina sudah duduk di kursi roda tiba-tiba Soraya dan sang ptrinya tiba.
Wanita berumur itu terduduk melemas dan menangis tersedu-sedu. Arzan, Dina, dan Stella menatapnya jengah, bagi mereka setiap tindakan wanita tua itu adalah sebuah drama yang direncanakan.
"Danu ... kenapa kau begitu cepat meninggalkan dunia ini? kau lihat gadis itu masih membutuhkanmu, dia tidak bisa apa-apa tanpa bantuanmu, bahkan dia tidak bisa berjalan tanpa kakimu, huhuhu ...." Soraya mengeluh seolah benar-benar merasa kehilangan.
Dea hanya diam tanpa sepatah katapun disana, matanya terus menatap foto Danu yang masih sempat tersenyum, entah apa yang gadis itu pikirkan saat melihat foto almarhum begitu lama.
***
Di luar ruangan jenazah.
"Siapa yang melakukannya?" gumam Soraya sembari mengibaskan tangannya kepanasan.
Apa yang ia katakan? semua orang berpikir jika ini adalah rencananya, tetapi raut wajahnya seolah benar-benar tidak mengetahui apapun.
"Bukankah kau yang melakukannya?" tanya seorang pria yang bekerja sebagai sekretarisnya.
"Aku? aku memang membenci pria itu, tetapi aku tidak akan mengambil langkah secepat ini," jawab Soraya sembari menatap sinis sekretarisnya. Dan sedetik kemudian mata Soraya menatap wajah sang putri yang sejak tadi diam tanpa sepatah kata.
"Dea?" panggilnya membuat gadis bernama Dea itu menoleh dengan wajah polos.
"Tidak ada, tidak mungkin kau yang melakukannya," lanjut Soraya menyahuti ucapannya sendiri dan menepis pikirannya yang mencurigai Dea sebagai dalang dibalik semua ini.
"Lupakan, entah siapapun dia yang pasti dia adalah sekutu yang luar biasa untukku," Soraya tersenyum girang dan berjalan menuju pintu keluar dan diikuti oleh Dea dan sekretarisnya.
Terkadang penampilan hanyalah kemasan yang menipu banyak orang, dan sebaik apapun seseorang menyembunyikan fakta pada akhirnya semua akan terbongkar.