Bruk!!
Mobil itu menghantam besi pembatas dan terpental kebelakang dengan posisi terbalik bersamaan dengan teriakan Dina, "Aaa ...."
Hening ...
Sesaat kemudian hujan tiba-tiba turun, mobil yang dikendarai Dina dan pak Danu itu kini sudah hancur lebur dengan setengah badan mobil menggantung ke tepi jembatan.
Di kediaman Dina.
"Ah, kenapa hujan tiba-tiba turun hari ini. Aku rasa ramalan internet itu palsu," gumam Arzan yang tengah berada di halaman dengan sapu lidi di tangannya. Pria muda yang berstatus sebagai suami bayaran wanita angkuh bernama Dina itu masih setia menyapu halaman sejak pagi karena dedauan yang tak berhenti gugur karena angin.
"Aku bisa gila disini seharian, bagaimana mungkin aku terus menyapu jika daunnya terus gugur! akh!" lanjutnya mengumpat kesal sembari melempar sapunya sembarangan.
Sedetik kemudian telinganya berdenging kencang, Arzan merasakannya dan merintih sesekali. "Akh ... ada apa ini, apa?"
Saat telinganya berbunyi dirinya teringat satu kejadian beberapa tahun lalu dihari kematian ayah dan ibunya. Matanya yang semula mengerjap kini membelalak kaget sembari menutup telinga kirinya.
"Tidak, tidak mungkin!" ucapnya menolak pemikiran dirinya sendiri.
"Tidak mungkin hal itu terjadi lagi," lanjutnya.
Karena perasaannya terus merasa gundah akhirnya Arzan memutuskan mengambil ponselnya dari saku celana. Layar ponselnya basah karena tetesan hujan, tanpa pria itu sadari tangannya sudah gemetar. Tidak bisa dipungkiri jika Arzan masih menyimpan ketakutan karena peristiwa itu.
Panggilan terhubung ....
"Selamat sore, ada yang bisa kami bantu?" ucap seorang wanita yang bertugas sebagai resepsionis. Ya, Arzan menghubungi kantor Dina.
"Apa Dina sudah meninggalkan kantor?" tanya Arzan cepat.
Resepsionis itu mengrenyitkan dahi diseberang sana karena bingung dengan pria yang menghubunginya.
"Ah, maaf maksud saya Nyonya Dina," lanjut Arzan memperbaiki ucapannya.
"Dengan siapa?" bukannya menjawab, resepsionis itu kembali bertanya.
"Ar- eh, suami. Saya suaminya,"
"Oah maaf Pak, Ibu Dina sudah meninggalkan kantor sejak siang tadi,"
Tuutt ....
Arzan tidak menjawab dan langsung menutup panggilan, dan beralih menghubungi ponsel Dina.
Di jembatan kota, di dalam mobil yang rusak parah suara panggilan masuk terdengar disana.
Tutt ....
Suara itu dari ponsel Dina. Asap tebal terus keluar dari mesin mobil yang terbakar itu, badan mobil itu terus bergerak tak seimbang, awak belakangnya sudah siap untuk jatuh ke jurang.
Krieekk ....
"Tolong ...." gumam Dina yang masih sadarkan diri, wajahnya sudah berlumuran darah karena kepalanya terbentur. Hanya jari jemarinya yang masih mampu bergerak.
Matanya sayu-sayu melihat kondisi pak Danu yang tak sadarkan diri di kursi kemudi, melihat hal itu Dina tak sanggup bergerak lagi karena takut jika mobilnya akan terjatuh.
Ponselnya terus berdering di bawah kursi, Dina mendengarnya tapi dirinya juga tak kuasa untuk bertahan lagi.
Arzan yang sejak tadi menghubungi istrinya tetapi tidak dijawab seketika merasa khawatir dan terus menggerutu kesal, "Wanita ini memang gila! jika aku bertemu dengan mu akan ku bunuh kau hidup-hidup!"
Setelah berucap pria tampan itu berlari mengambil kunci mobil dan bergegas menuju kantor Dina. Di dalam mobil jarinya tak berhenti bergerak mengetuk giginya karena gusar. Kakinya menambah laju gas agar lebih cepat tiba di kantor Dina.
Tanpa disadari matahari sudah tenggelam, malam telah tiba dan hujan tak kunjung berhenti. Jalanan begitu licin dan air menggenang di lubang jalan raya, tetapi pria bernama Arzan itu tidak sanggup menahan kekhawatirannya dan terus melaju kencang menembus jalan raya.
Tiba di jembatan, kecepatan laju Arzan menjadi standar saat lampunya menyoroti sebuah mobil yang berada di tepi jembatan. Matanya membulat untuk memastikan apa yang dia lihat didepannya.
Mobilnya berhenti, Arzan turun menghampiri pemilik mobil, tetapi ternyata mobil itu sudah rusak parah karena kecelakaan. Netranya melirik plat nomor, dan nafasnya kembali tersengal.
"Tidak, aku mungkin salah lihat." Kakinya terus mendekati mobil tersebut dengan tubuh gemetar.
Sebuah tangan keluar dari kaca jendela yang sudah pecah, bersamaan dengan suara seoang wanita yang meminta bantuan, "Tolong .... tolong si- siapapun disana tolong saya."
Arzan mematung menatap sebuah cincin pada jari manis wanita itu, kakinya melemas dan terduduk seketika tak berdaya. Tangannya gemetar dan sulit bernafas, air matanya lolos ketakutan.
"T- tolong, bantu kami tolong ...." rintih Dina memohon pertolongan, dan ini kali pertamanya dia memohon kepada orang lain setelah sekian lama.
Krieeekk ... mobil itu terus bergerak tak seimbang dan hendak jatuh. Arzan berusaha sekuat tenaga melawan ketakutannya dan berdiri menghampiri wanita yang sudah dia ketahui jika itu adalah Dina.
"Pak danu ... kau mendengarku?" ucap Dina masih berusaha memanggil sekretarisnya, Arzan mendengarnya dan kembali yakin jika itu memang Pak danu dan istrinya.
Matanya terus menangis, dan menelan ludah kesusahan karena takut. Berhenti, kakinya berhenti berjalan dan menarik nafas sesekali.
Matanya mengatup perlahan dan akhirnya berjalan cepat menghampiri Dina. "Tidak, kau akan selamat ...." gumam Arzan terus berusaha berjalan sekuat tenaga. Dan saat itu juga polisi dan pemadam kebakaran berserta ambulan telah tiba.
Mereka berdua berhasil terselamatkan sebelum jatuh ke jurang, dengan Dina yang tak sadarkan diri karena luka berat, dan pak Danu yang dinyatakan meninggal dunia.
"Bertahanlah, aku mohon! tolong ...." ucap Arzan berlinang air mata sembari memeluk tubuh Dina ke dalam pangkuannya.
"Tolong, kali ini saja bertahanlah," lanjutnya terus meminta kepada sang istri untuk bertahan sedikit lagi, tangannya meremas kuat jari jemari Dina yang berlumuran darah.
Arzan menatap liontin yang Dina kenakan yang dia pilihkan siang tadi dengan derai air matanya, pria itu lagi-lagi harus menyaksikan hidup dan mati seseorang yang berarti untuknya.
Arzan diam menatap tubuh Dina yang digotong oleh petugas ke dalam mobil ambulan, dan menoleh melihat jasad pak Danu di dalam ambulan. Kepalanya menunduk bersamaan dengan air matanya yang lolos tak kuasa menahan tangis.
"Maaf, maafkan saya. Sa- saya tidak bisa menolongmu, ma- maaf ...." gumam Arzan menunduk dalam dan merasakan penyesalan melihat jasad pria yang sempat memberikan kesan dalam hidupnya. Beberapa hari lalu mereka masih sempat bertukar cerita, tetapi kini ternyata pak Danu yang memilih terlebih dulu untuk mengakhiri cerita.
"Hiks ... Maaf," lirih Arzan tak kuasa menahan tangisannya, tangannya menggenggam kuat dan meninju aspal sekuat tenaga untuk melampiaskan amarahnya atas penyesalan yang lagi-lagi menjadi bagian dari kisahnya.
Hidup ini penuh dengan kejutan, sesuatu yang kita inginkan belum tentu harus kita dapatkan. Mereka yang kita pertahankan akan pergi pada akhirnya. Hidup dan mati seseorang hanya berjarak sedetik disetiap menitnya. Hembusan nafas yang semula kita miliki untuk bertahan, pada akhirnya harus pulang ke Sang pemiliknya.
Hujan masih belum mereda, dan kini hujan itu seolah dikirim Tuhan untuk menyapu bersih setiap tetesan darah karena kecelakaan ini. Hujan kali ini seolah hadir untuk memeluk tubuh dingin seorang pria yang tinggal jasadnya saja.
Di sebuah rumah sakit.
Kembali disini, ruangan bercat putih kembali menjadi tempat Dina dan Arzan berada. Namun beberapa orang terlihat mengenakan pakaian serba hitam di sebuah ruangan.