Mobil mewah yang dikendarai Danu dan atasannya kini melaju kencang melewati sepanjang jalan raya yang nampak sepi. Pepohonan rindang berderet rapi dengan daunnya yang rindang, netra wanita bernama Dina itu hanya diam menatap ke arah jendela mobil, pikirannya kembali mengingat satu persatu kejadian tak terlupakan itu.
"Aku sudah menghubungi dokter," ucap Pak Danu dalam keheningan, mendengar hal itu Dina yang semula menatap luas jalanan dibuat menoleh ke arah pria yang menyetir mobilnya.
"Kenapa kau melakukannya!?" tanya Dina menjawab dengan gertakan tegas.
"Dengarkan aku, kau tidak bisa berbuat semau mu seperti ini. Selagi kau bisa kenapa tidak berusaha untuk memperbaiki semuanya?" jawab Danu masih menjelaskan opininya sembari fokus menyetir.
"Kau bicara soal ke-tidak putus asaan?" sahut Dina sembari terkekeh lucu tak menyangka jika Danu akan berkata demikian. Diam sejenak dan kembali berkata, "Dengarkan aku, tidakkah sia-sia jika berbicara dengan orang yang sudah tidak menginginkan hidupnya sendiri? mereka saja tidak peduli dengan hidupnya, kenapa kau peduli?"
Danu terdiam dan kembali menjawab, "Bukan urusan kita soal hidup dan mati manusia!" tegasnya.
Dina tersenyum miring dan menunduk sesekali kemudian berteriak dengan amarahnya yang tak tertahan, "Lalu, bukan urusanmu apa yang akan aku lakukan dengan nyawaku sendiri! bukan urusanmu!" teriaknya begitu lantang dan kencang, hingga urat lehernya menegang.
Danu yang semula menahan sabar tiba-tiba membelokkan setir mobilnya agar berhenti ke sisi jalan.
"Kenapa kau tetap egois!? kenapa!? kau tahu? kau terlalu beropini singkat hingga akal sehat mu itu tidak bisa kau cerna kembali!" teriak Danu lebih kencang ketika mobil mereka sudah menepi.
Tubuhnya berputar menatap Dina dengan sorot mata tajam, wanita angkuh itu mulai tak habis berpikir dan berucap, "Kau berteriak? kau meninggikan suaramu?"
"Ya! aku berteriak! aku akan terus berteriak hingga keras kepalamu itu hilang! kenapa hidupmu selalu suram? karena kau sendiri tidak pernah berusaha menemukan titik terangnya," tegas Danu tidak bersabar lagi.
Dina masih sesekali tersenyum miring mendengar pria tua itu memarahinya, "Lalu- lalu apa yang akan kau lakukan? Apa!?"
"Aku akan memberikan apapun yang aku punya demi dirimu,"
"Berhentilah bertindak seolah kau adalah ayahku!" sahut Dina penuh penegasan, tapi Danu tidak mau mendengarkannya lagi.
"Kau tahu senja itu masih sama," ucap Danu kembali berbicara sembari menunjuk ke arah senja di sebelah barat mereka, dan kembali berkata, "Kenapa kau tidak kembali bersinar seperti dia? dia memang akan tenggelam malam ini, tapi tidak melepas kemungkinan dia akan kembali besok? karena apa? karena kita menaruh harapan kepadanya".
"Harapan? hanya manusia bodoh yang masih berani menaruh harapan! omong kosong harapan!" jawab Dina masih keras kepala.
"Buktikan itu kepadaku, aku tidak akan membuatmu kehilangan harapan lagi," jawab Danu membuat Dina terdiam, mulutnya tertutup rapat mendengar penjelasan pria tua itu.
Setelah mereka berbicara dengan suasana menegang, Danu kembali menghela nafasnya berat dan melajukan mobilnya kembali ke rumah. Dan wanita angkuh itu tetaplah angkuh, kepercayaannya benar-benar hilang sejak lama, dan kini sosok pria paruh baya bernama Danu itu kembali menegaskan seolah membuatnya kembali yakin apa itu harapan.
Hanya harapan, harapan, dan harapan. Tidak menutup kemungkinan jika itu akan berubah menjadi penyesalan.
Mobil yang semula berhenti di tepi jalan kini mulai melaju menyusuri jalanan menuju kediaman Dina. Setelah perdebatan sengit, Dina hanya diam tak berucap sepatah katapun. Matanya melamun menatap jalanan, tanpa dirinya sadari telapak tangannya sudah gemetar meremasnya kuat-kuat.
Bulir air matanya kembali lolos tak terduga, batinnya menangis tak berdaya. "Aku pernah mengharapkan mu, tapi kau tidak memenuhi jawabanku," gumamnya pelan sembari mengusap kasar air matanya yang mengalir.
Demikian dengan Danu, pria tua itu hanya diam fokus ke jalan raya. "Aku tidak akan membuatmu jatuh lebih dalam lagi," gumamnya penuh tekad sembari meremas kuat setir mobilnya.
Kakinya menginjak gas lebih cepat, Dina masih diam tanpa niat membuka suara. Lima menit kemudian Danu merasakan sebuah keanehan. Tepat ketika jalanan hendak berbelok laju kecepatan gas mobilnya tidak terkendali.
Kakinya menginjak rem sesekali tetapi tidak membuahkan hasil, pria tua itu menjadi gugup ketika menyadari jika ada yang salah dengan mobil yang dia kemudi.
"Ada apa?" sahut Dina cepat bertanya kepada Danu ketika menyadari raut wajahnya yang menegang.
"Apa?" ucapnya kembali mengulang pertanyaan.
"Pegangan!" jawab Danu tegas dan membuat Dina paham. Raut wajah Dina berubah seketika, tegang, takut. Ya, dia takut jika kali ini akan menjadi hari kematiannya.
Wanita yang menginginkan kematian itu kini sedang dihadapkan dengan maut, tetapi perasaannya menolak untuk mati. Tangannya menggenggam erat pegangan mobil di sampingnya dengan detak jantung ketakutan.
Sedangkan Danu terus berusah mengendalikan laju kecepetan gas yang mustahil berhenti, pikirannya teringat tentang pria bertopi hitam di parkiran mobil. Dan kali ini dia baru menyadari jika pria itu telah berniat mencelakai mereka berdua.
"Sialan!" umpat Danu kesal karena terlambat menyadari.
"Ini bukan hari kematianku!" gumam Dina ketakukan, dan pelipisnya telah basah karena keringat dingin.
Kecepatan mobil itu terus bertambah tak terkendali, tangan Danu terus berusaha mengendalikan setir mobil walaupun dia tahu jika tidak bisa memberhentikan mobil ini dengan selamat. Kecepatan terus bertambah saat melewati jalanan yang berkelok-kelok, hanya Tuhan yang tahu apakah mereka akan pulang bersama malaikat maut atau tidak.
"Pegangan!" teriak Danu sembari memutar setir mobil dengan cepat, hingga membuat tubuh Dina terdorong ke kanan. Mulut Dina membisu, tak sanggup berbicara dan hanya diam dengan derai air mata ketakutan.
Dan kini mereka hampir tiba jembatan kota, tetapi laju kecepatan masih tak terkendali. Mata Danu menatap tikungan di depannya, nafasnya tersengal dan detak jantungnya berpacu lebih cepat, tangannya meremas setir mobil sekuat tenaga dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan lagi.
Kakinya masih belum menyerah menginjak rem, walaupun hasilnya nihil tidak bisa. Mobilnya lebih dekat dengan tikungan itu, Dina hanya bisa diam seribu bahasa tak kuasa melawan ketakutannya, memori pikirannya kembali mengingat satu persatu kecelakaan di masa lalu yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.
Raut wajahnya menegang, nafasnya tersengal hingga tulang lehernya terlihat. "Dina, pegangan erat-erat! bertahanlah!" teriak Danu sembari memutar setirnya sekuat tenaga hingga membuat mobil itu menghantam pembatas jembatan begitu keras dan terpental ke belakang.
"Tidak, tolong ... kali ini saja," lirih Dina tak kuasa menahan tangis dan memejamkan matanya ketika mobil itu berputar ke sudut jembatan.
Bruk!!
Mobil itu menghantam besi pembatas dan terpental kebelakang dengan posisi terbalik bersamaan dengan teriakan Dinam, "Aaa ...."
Hening ...
Sesaat kemudian hujan tiba-tiba turun, mobil yang dikendarai Dina dan pak Danu itu kini sudah hancur lebur dengan setengah badan mobil menggantung ke tepi jembatan.