Hari itu dengan senyuman di atas duka.

1438 Kata
Susana rumah besar milik Dina begitu tenang dan damai. Dedaunan hijau, rerumputan yang terpangkas rapi, kelopak bunga warna warni, dan awan biru yang cerah menjadi pelengkap keindahan pagi hari ini. Saat semua terasa tenang dan damai untuk dinikmati tiba-tiba sebuah teriakan amarah merusak suasananya. "Aaaa ...." Wanita bernama Dina itu berteriak kencang penuh amarah sembari berjongkok di tengah halaman rumah. Semua orang berlari menghampirinya, pelayan yang semula begitu sibuk tiba-tiba dibuat kaget dan meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Arzan yang entah sejak kapan berada di luar juga ikut berlari menghampiri Dina, begitu juga dengan Stella dan Danu. "Siapa yang bertugas di halaman hari ini?apa kalian ingin membuat ku terpeleset daun hingga mati?" ujar Dina di selimuti amarah sembari berdiri dengan sehelai daun yang dia genggam ditangannya. Tujuh belas pelayan itu saling menatap ke semua rekannya, raut wajah bertanya-tanya dan sedikit ketakutan. Arzan mengerucutkan bibirnya tak percaya, hanya karena sehelai daun saja amarah Dina akan begitu tersulut seperti ini. Danu dan Stella yang sudah terbiasa dengan Dina yang selalu marah akan hal sepele sudah tidak kaget lagi. Mereka berdua masuk ke dalam dengan raut wajah datar. Arzan mendekat dan menengahi perdebatan antara majikan dan pembantunya. "Ah sudah-sudah, kembalilah bekerja. Sudah-sudah kembalilah ...." Arzan menyahuti sembari mengulurkan tangannya bermaksud menyuruh pelayan itu bubar dan kembali bekerja. Dina menatap kesal punggung Arzan yang membelakanginya itu. "Berhenti!" teriak Dina semakin kesal ketika pelayan itu melangkahkan kakinya menuruti perintah Arzan. "Sudah-sudah, bubar saja-" sahut Arzan yang terus menyuruh pelayan itu bubar. "Aku bilang berhenti!" sahut Dina semakin berteriak membuat semua pelayan disana kebingungan akan mendengarkan ucapan siapa. "Ini bukan urusanmu! ini di luar wewenang mu Arzan," geram Dina menatap tubuh Arzan yang tidak berpaling sama sekali. "Apakah aku harus merubah kontrak mu kali ini?" lanjutnya semakin kesal. Arzan menghela nafas panjang dan kembali berkata tanpa merubah keputusannya. "Sudahlah kalian bubar saja," tukas Arzan. "Berhen-" Sebelum Dina menyahut dengan teriakannya lagi Arzan terlebih dulu berbicara. "Aku yang akan membersihkannya! diam dan berhenti berteriak!" sahut Arzan ikut meninggikan nada bicaranya. Dina menatap kesal wajah sang suaminya itu, benar-benar menjengkelkan untuknya. "Kau benar-benar kehilangan akal! bersihkan ini dan jangan masuk sebelum selesai!" tukas Dina sudah kehabisan kata-kata untuk menanggapi ulah Arzan. Dengan cepat dirinya berjalan masuk ke dalam dan meninggalkan Arzan di luar yang menggerutu lebih kesal. Kaki jenjangnya menghentak di tanah sembari meraih sapu halaman yang berada di sisi kanannya. "Sungguh? aku menikahi wanita keturunan dinosaurus!" gumam Arzan kesal sembari menyapu halaman dengan kasar dan tak beraturan. "Pria konyol!" umpat Dina sembari masuk ke dalam dan bersiap-siap untuk menghadiri rapat besar di kantornya. *** Lima belas menit berlalu, sosok Arzan yang semula hanya duduk santai di bawah pohon seketika berdiri dan bergegas kembali menyapu ketika melihat Dina yang keluar dengan pakaian rapi bersama asisten pribadinya. Mata mereka bertemu, Arzan memilih berpura-pura menyibukkan dirinya dengan sapu lidi dan dedaunan yang tak berhenti gugur dari pohonnya itu. "Pria konyol," gumam Dina menatap Arzan yang masih sibuk menyapu. Dirinya semakin kesal pasalnya Arzan terlalu baik kepada para pelayan itu hingga menyulitkan dirinya sendiri untuk menyapu halaman itu. Hari ini Dina telah bersiap dengan pakaian kerjanya untuk menghadiri rapat besar di perusahaan. "Mari Nyonya," ucap Danu sembari membukakan pintu mobil untuk sang majikan. Mobil mewah itu melaju menerjang kepadatan jalan raya kota. Arzan hanya menatapnya dalam diam entah kenapa kepergian Dina untuk kali pertama kembali ke kantor membuatnya sedikit merasa resah. "Papa?" Dari kejauhan sosok Dhafin berlalu dan menghampiri sang ayah. "Iya?" "Kenapa Papa yang nyapu? dimana Annie?" ujar Dhafin bertanya-tanya dan membuat Arzan gemas. "Papa hanya ingin mengerjakannya saja, Dhafin mau kemana?" jawab Arzan sembari bertanya ketika mendapati sang putra sudah berpakaian rapi. "Kami akan mengunjungi panti, Tuan." Stella yang menjawab dari kejauhan. "Dhafin rindu teman-teman Dhafin, Pa. Bolehkah Dhafin menemuinya?" sahut bocah itu meminta izin. Arzan tersenyum dan menjawab, "Pergilah, jangan sampai teman-teman mu menunggu, eum?" Dhafin mengangguk dan merangkul kaki Arzan setinggi tubuh mungilnya. "Hahaha ... jaga diri baik-baik," ucap Arzan sebelum Dhafin berangkat bersama Stella. Dan sekarang hanya Arzan yang berada disana bersama para pelayan. Tinggal di rumah besar sendiri adalah hal membosankan untuk dirinya. *** Di Perusahaan. "Kenapa dia ada disini?" tanya Dina tepat di depan pintu utama dan berpapasan dengan Soraya dan Dea yang baru saja tiba disana. "Rapat kali ini juga melibatkan perusahaan mereka Nyonya," jawab Danu. Dina hanya diam tanpa berniat membalasnya, matanya menatap bibi dan sepupunya yang tersenyum lebar ke arahnya. "Selamat pagi keponakan ku?" sahut Soraya dengan senyum merekah menyambut Dina yang berdiri di depannya, dan hal itu benar-benar membuat Dina merasa muak. Dea ikut menyusul sang ibu dan ikut menyahut, "Selamat pagi Mbak Din," Dina tak menjawab dan hanya memasang raut wajah datar, dan hal itu membuat mereka berdua tersenyum kecut melihat respon Dina yang tak pernah baik kepada mereka berdua. "Haha ... selamat-" ujar Soraya kembali dan kini hendak merangkul Dina. Dengan spontan Danu menghadangkan tangan kanannya dan membuat Soraya terhenti seketika. "Mari kita masuk saja." Danu. Mendengar ucapan Danu barusan membuat Soraya merasa kesal atas tindakan pria tua itu. "Dia hanya seorang pelayan! posisinya sekarang membutakan asal usulnya dulu!" gumam Soraya kesal sembari menatap punggung Dina dan Danu yang masuk ke dalam. "Ayo," sambut Dea dengan senyum lembut mengajak sang ibu untuk masuk ke dalam. Semua orang menatap kehadiran Dina yang di ikuti Soraya di belakangnya. Sambutan hangat ditujukan untuk mereka berdua, akan tetapi hanya di jawab oleh Soraya yang selalu bersikap seolah-olah begitu dekat dengan semua orang. "Selamat pagi Ibu CEO," ucap seorang pria berjas hitam bermaksud menyambut kedatangan CEO yang ia maksud. Akan tetapi bukannya Dina yang disapa akan tetapi justru Soraya yang berdiri di belakangnya. Langkah kakinya terhenti seketika, wajahnya menoleh dan melihat Soraya tersenyum puas. Semua orang menatap mereka bertiga- Dina, Soraya, dan pria tua yang berstatus sebagai rekan bisnis. "Dia salah memberikan sambutan," gumam beberapa orang yang menyadarinya. Pria paruh baya itu belum menyadari apa yang dia ucapkan, dan kini berlanjut menyapa Soraya kembali. "Senang bertemu dengan mu Nyonya," ucapnya menyambut Soraya. Dina tersenyum lucu melihatnya. "Bahagiakan wanita tua ini, dan sambutlah dengan jabatan ku," ucap Dina menyindir Soraya dan pria paruh baya itu. Semua orang terdiam dan terkesan dengan ucapan Dina. Soraya dan Dea mendengarnya begitu merasa kesal, lagi-lagi Dina berhasil mempermalukannya di depan publik. Dan kini rapat sedang berlangsung. Danu diam berdiri di luar ruangan menunggu sang majikannya keluar. Saat dirinya sibuk menunggu tiba-tiba ponselnya bergetar. Danu beranjak meninggalkan tempatnya menuju parkiran untuk menjawabnya. "Halo?" ucapnya menjawab telepon ketika sudah berada di parkiran tidak jauh dari tempat mobilnya berada. "Bagaimana dengan kelanjutannya?" ucap Danu begitu serius, entah apa yang sedang dia bicarakan disana. Tepat saat itu juga seorang pria berpakaian serba hitam tiba-tiba muncul dari balik mobilnya begitu saja. Berjalan cepat tanpa menyapa. Danu hanya melihatnya begitu saja, dan kembali fokus dengan panggilan teleponnya. *** Dua setengah jam berlalu, rapat telah berakhir dan keputusan telah di resmi di buat. "Dina! tunggu! apa maksudmu untuk mengambil alih perusahaan yang aku pegang!?" sergah Soraya di selimuti amarah sembari mengejar Dina yang berjalan cepat di depannya. "Tenanglah Ma," ucap Dea berusaha menenangkan sang ibu yang dipenuhi kemarahannya. Soraya berhasil meraih lengan Dina, dan sang pemiliknya berhenti melangkah saat itu juga. "Apa yang membuatmu begitu membenciku Din! Apa kesalahan ku! katakan padaku! apa kau begitu membenci keluarga mu ini?" ucap Soraya bertubi-tubi dengan begitu kesal mempertanyakan alasan mengapa Dina bersikap demikian kepadanya. "Tolong lepaskan!" sahut Danu dari kejauhan sembari berlari dan melepaskan cengkraman Soraya dari tangan Dina. "Wanita kejam!" sahut Soraya dengan amarah memuncak karena Dina membuat keputusan jika sang bibi tidak lagi mengambil alih perusahaan sekecil apapun itu. "Hah?" gumam Dina menoleh dan tersenyum lucu mendengar ucapan Soraya. "Kejam?" lanjut Dina dengan senyumannya itu, dan membuat Soraya merasa kesal. "Apa kesalahan ku!? kenapa kau berbuat seperti ini!?" tanya Soraya lagi seolah buta akan apa yang telah dia lakukan sejauh ini. "Kenapa? karena bibi tersenyum hari itu!" jawab Dina tegas dengan sorot mata kebencian ketika mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Degh! Soraya membisu, dan semua orang juga demikian. Beberapa tahun lalu, tepat di hari kematian ayah dan ibu Dina. Semua orang berduka di pemakaman, menatap iba wajah gadis dengan raut wajah datar tanpa senyuman. Pucat pasi, dan mengenaskan. Dua jenazah yang terbujur kaku terbaring di depan matanya. Saat penghormatan terakhir, sosok Soraya mendekap erat sang ponakan sebagai keluarga satu-satunya yang tersisa. "Tidak apa, kau harus tetap baik-baik saja ...." ucap Soraya di sela-sela pelukan mereka berdua. Dan saat itu dirinya tersenyum tanpa sepengetahuan orang lain, akan tetapi Dina merasakan pergerakan wajah sang bibi. Saat itu juga kebencian pada diri gadis kecil itu mulai hidup hingga saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN