Secangkir teh panas yang membara.

1195 Kata
"Jangan terlalu memaksanya, kau sendiri yang akan terluka," ucap Stella sembari membantu Arzan mengganti perbannya. Arzan yang semula menatap kosong lantai, tiba-tiba menyahut dan memberhentikan pergerakan Stella. "Akan aku obati sendiri," sahutnya dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan. Stella hanya terdiam menatap sang majikan yang pergi menuju kamarnya sembari membawa kotak obat. "Apa dia kecewa?" gumamnya bertanya pada Danu yang sejak tadi berdiri tanpa suara. "Mungkin saja, apa yang dilakukan wanita itu kali ini?" jawab Danu dan menoleh ke arah Stella di akhir kalimatnya ketika dia mempertanyakan kondisi Dina. "Hancur sudah! dia pasti mengamuk!" sahut Stella menduga-duga. Tanpa berlama-lama mereka berdua berlari menuju kamar Dina. Sesampainya mereka di sana ternyata pintu kamarnya tidak di kunci. Danu dan Stella saling menatap dengan raut wajah kebingungan, mereka mengira jika Dina pasti mengunci dirinya seharian seperti anak kecil, tapi kali ini ternyata berbeda. Krieekk ... Pintu kamarnya perlahan dibuka oleh Danu. Perlahan mereka masuk dan mendapati sebuah pemandangan yang tidak biasa. Mereka melihat sosok Dina yang terlentang di atas kasur dengan nafas berat. "Masuklah," sahut wanita itu membuat mereka berdua tersentak kaget. "Oh, i- iya ...." "Kau baik-baik saja?" tanya Danu membuat Dina menoleh. Bukannya menjawab Dina justru mengubah posisinya yang semula berbaring kini menjadi duduk tegap. "Pergilah, dan bereskan ini semua," ucap Dina menyuruh Stella untuk keluar dan memanggil pelayan untuk membereskan kamarnya. "Kau baik-baik saja?" tanya Danu lagi setelah Stella keluar dari sana. "Seperti yang kau lihat," jawab Dina singkat tanpa panjang lebar. "Huft ... terkadang kita menganggap apa yang kita miliki tidak berarti sama sekali, tetapi belum tentu demikian dengan mereka yang peduli dengan kita," ujar Danu memulai pembicaraan serius, hal ini selalu dia lakukan ketika Dina merasa sendiri dan terpukul. "Manusia itu tidak baik, entah malaikat, monster, ataupun orang jahat semua sama di mata manusia," "Mereka api, semakin di pelihara semakin berbahaya. Mereka juga air, mampu memadamkan api dan bahkan hanya bisa mengalir pasrah," ujar Danu terus berlanjut. "Aku ingin kau kembali bersinar, seperti dulu yang selalu tersenyum dan mendapatkan kemenangan setiap saat. Aku ingin kau bersinar dan kembali bersinar," Danu tersenyum dan menatap seisi kamar Dina dengan tatapan teduh. Wanita yang dia ajak bicara sejak tadi hanya diam dan menatap tak peduli mimik wajah asistennya itu. Mereka sudah seperti ayah dan anak tetapi itu hanya di mata Danu. "Berhentilah berbicara seolah kau ayah ku," sahut Dina membuka bicara. Danu menoleh dan terkekeh kecil sembari berkata, "Baiklah aku akan berhenti melakukannya, satu hal yang aku minta. Jangan lupa untuk bersinar," Pria paruh baya itu tersenyum dan berjalan keluar meninggalkan kamar Dina. "Pria gila," gumamnya pelan lalu kembali meringkuk dengan selimut. Ketika matanya baru saja terpejam tiba-tiba dia teringat luka di lengan Arzan. "Manusia bodoh, dan tak berakal!" gumamnya kesal seraya bangun dari tidurnya. Siapa yang mengira jika Dina ternyata meraih sebuah kotak obat dan beranjak menuju kamar Arzan. Tangannya terulur membuka pintu, tepat ketika pintu terbuka Dina berhadapan dengan seseorang yang hendak dia temui. Ya, Arzan berdiri di sana dengan secangkir teh hangat di tangannya. "Ehm- ini teh hangat. Minumlah!" ujar Arzan menyadari jika tanpa sengaja mereka berpapasan, rasanya begitu canggung,sangat canggung karena mereka baru saja bertengkar. Dina menatap secangkir teh itu dalam diam, tangan kirinya menyembunyikan kotak obat yang di bawa di belakang punggungnya. "A- apa lenganmu baik-baik saja?" tanya Dina yang ikut tergagap. "Oh s**t! kenapa aku gugup!" gumamnya begitu kesal dan mengutuk dirinya sendiri. "Ah, sudah membaik. Aku kembali dulu ... istirahatlah," jawab Arzan seadanya dan terlihat sedikit berbeda. Tanpa berlama-lama Arzan segera pergi dari kamar Dina dan kembali menuju kamarnya. Dina segera menutup pintu dan menatap cangkir teh yang dia bawa. Mulutnya menggerutu kesal karena Arzan. "Pria c***l! dasar gila! seharusnya dia tidak pergi begitu saja!" ucapnya merasa kesal. Tunggu! Apa dia merasa kesal karena Arzan tidak menggodanya lagi? Oh s**t, ada apa dengan wanita ini. *** Hari berganti, dan lembaran baru telah di buka. Pagi yang ceria dan awan cerah semakin menambah keindahan pagi ini. Kali ini sosok wanita berambut pirang panjang tengah meremas jari jemarinya begitu kesal. "Bagaimana bisa dia tertangkap, dasar bodoh!" Dea menggerutu kesal mengingat jika bawahannya telah berhasil di tangkap oleh pengawal Dina. Ketika mulutnya terus menggerutu dan kaki jenjangnya tak berhenti melangkah ke sana kemarin tiba-tiba suara sang ibu membuyarkan lamunannya. "Siapa yang melakukan ini? apakah ada musuh selain diriku?" ucap Soraya ikut berpikir keras mengingat kejadian kemarin malam. Dea menoleh menatap sang ibu yang duduk di sofa sembari berfikir. Raut wajahnya begitu serius, dan Dea malah memasang raut wajah datar seolah tidak mengetahui apa-apa. "Aku pikir Mama yang melakukannya," sahut Dea masih bersandiwara. Entah kenapa dia tidak mengatakannya kepada ibunya, padahal jika mereka bekerja sama bukankah akan semakin mudah?. Mungkin saja Dea memiliki alasan untuk hal ini. "Kau mengira aku yang melakukannya? sungguh? apa kau tidak melihat jika aku hanya membawa wartawan disana? aku bahkan belum berfikir untuk menusuk traumanya kembali," ujar Soraya menjawab dan tak mengira jika pelaku kali ini benar-benar berpengalaman, seolah dia tahu seluk beluk sosok Dina. "Tapi sayang sekali dia tidak berhasil membunuhnya," lanjut Soraya menggeleng sesekali dengan senyum miring diwajahnya. Dea menatap spontan Soraya ketika mulutnya baru saja berhenti bicara. "Apa akan lebih baik jika dia dibunuh?" Dea membuka bicara tanpa berpikir panjang. Soraya menoleh aneh dan terkejut dengan maksud pertanyaan sang putri. "Ehm- maksud ku apa akan menguntungkan jika dia mati?" sergah Dea setelah menyadari ucapannya barusan. Soraya memalingkan wajahnya menatap pemandangan di depannya dengan senyum miring penuh kelicikan. "Tentu saja! kita akan di untungkan atas kematiannya, karena kita satu-satunya keluarganya yang berhak penuh atas kekayaannya. Lagi pula aku sudah begitu bosan dengan wanita itu sejauh ini." Soraya. "Bukankah ibu terlalu jahat?" tanya Dea tidak masuk akal lagi. Kenapa dia bertanya demikian jika dirinya saja juga merencanakan kematian Dina secara diam-diam. "Jahat? kau sebut ini jahat? putriku sungguh polos sekali, hahaha ...." jawab sang ibu dengan tertawa lucu dan beranjak berdiri mendekati sang putri. "Ini bukan jahat, ini usaha demi mendapatkan sesuatu. Lagi pula itu hak kita untuk meminta apa yang dia punya, tetapi wanita itu terlalu serakah dan tidak mau berbagi," lanjut Soraya menerangkan kepada sang putri, dan maksud dari ucapannya itu seolah menyudutkan Dina sebagai pihak yang bersalah dan gila harta. "Jadi apa Mama akan melakukan semua cara?" Dea menyahut dan bertanya. Soraya menatap mata Dea dalam dan menjawab penuh keyakinan. "Tentu! Aku akan melakukan segala cara agar kita tidak kembali pada masa menjijikkan itu. Dimana kita harus berhutang kesana kemari karena hidup miskin." Suara Soraya begitu penuh ambisi, tekatnya untuk berjuang demi menjalani hidup yang lebih baik memanglah tidak salah, akan tetapi caranya kali ini benar-benar tidak bisa dianggap benar. "Segala cara ... segala cara ...." batin Dea setelah mendengarkan ucapan sang ibu. Dengan perlahan dia memeluk Soraya dengan hangat sembari tersenyum aneh seolah dirinya sedang berfikir di luar dugaan. Didikan seorang ibu adalah hal terpenting untuk anak. Setiap ucapannya akan mempengaruhi seperti apa hidup sang putri ke depannya. Seorang anak memang kurang pandai melakukan hal baru, akan tetapi mereka begitu hebat untuk hal meniru orang tuanya. Jika anak salah jangan menyudutkannya terlalu jauh, tetapi ingat kembali atas apa yang dilakukan orang tuanya dahulu maupun sekarang. Produk yang baik berasal dari bahan terbaik pula.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN