Kini semua orang sudah pergi meninggalkan ruang utama untuk melakukan pekerjaannya masing-masing, dan tinggallah Arzan dan Dina yang masih berada di sana.
Perlahan Dina beranjak berdiri menuju kamar nya. Tetapi suara Arzan membuatnya berhenti dan menoleh.
"Tunggu!"
Dina menoleh tanpa menjawab.
"Bisakah kita bicara?" lanjut Arzan sedikit ragu untuk melakukannya.
"Katakan." Dina kembali duduk untuk berbicara dengan Arzan.
Arzan ikut duduk di depan Dina dengan nafas berat, dia tidak yakin jika Dina akan mendengarkan ucapannya kali ini.
Dina masih menatap Arzan yang masih diam tak berbicara, salah satu alisnya terangkat bingung sembari menatap Arzan.
"Jangan membuang waktuku," sahutnya bermaksud menyuruh Arzan untuk segera bicara.
"Bisakah kau menyetujui perkataan dokter untuk operasi sum-sum tulang belakang?" Arzan akhirnya mengutarakan apa yang seharusnya dia katakan, walaupun dia tahu apa yang akan menjadi akibatnya.
Dina masih diam dan tidak mengeluarkan respon apapun untuk kali ini. Arzan menatapnya was was hingga akhirnya Dina membuka bicara.
"Jadi kau sudah tahu? baiklah akan aku jawab permintaan mu tadi. Pertama, ini bukan urusanmu. Kedua, lakukan apa yang harus kau lakukan berdasarkan keputusan kontrak yang aku buat. Lagi pula apa kau tidak tahu akibatnya jika melanggar perjanjian?" ujar Dina masih dengan tenang.
"Aku tahu itu semua, tapi bisakah kita bicara bukan sebagai rekan kontrak ini? mari kita bicara sebagai suami istri," sahut Arzan tanpa sadar mulai menyulut amarah Dina.
"Kenapa kau selalu menganggap jika kita suami istri yang layak?" tanya Dina begitu dingin dan merasa kesal karena Arzan.
"Karena memang itu faktanya Din, pertimbangkan permintaanku kali ini. Lagi pula jika kau melakukannya kau tidak akan membuang uang mu cuma-cuma untuk membayar upah ku, jika kau sehat bukankah itu lebih baik?" Arzan ikut merasa kesal.
"Berhenti mengurusi hidupku Arzan! lakukan apa yang seharusnya kau lakukan!" Kini Dina sudah menaikkan nada bicaranya karena kesal. Bahkan sekarang posisinya sudah berdiri sembari menatap Arzan tajam.
Arzan melihatnya tak menyerah begitu saja, kaki jenjangnya ikut berdiri dan melangkah mendekati Dina.
"Apa kau di rugikan untuk hidup?" ucap Arzan sembari mendekat.
"Apa kau tidak bisa sekali saja bersyukur atas apa yang kau punya? Tidak bisakah kau membuat hidupmu sendiri lebih berarti!?" lanjutnya ikut memanas.
"Ini jalan ku! berhenti berdebat," geram Dina berusaha menahan amarahnya untuk kali ini agar tidak terlampiaskan kepada Arzan.
Kali ini suasana begitu tegang dan memanas, mendengar teriakan Arzan dan Dina membuat Danu dan Stella datang menghampirinya, tetapi tidak berani mendekat. Mereka hanya berdiri dari kejauhan dan mendengarkan perdebatan mereka.
Danu menatap iba dua manusia yang berdebat di depannya, salah satu dari mereka terlalu keras kepala, dan satunya berusaha menjadi seseorang yang berguna untuk yang lainnya.
"Apa lagi yang terjadi disini," gumam Stella tak berani angkat bicara. Suasana benar-benar memanas kali ini.
"Bagaimana aku berhenti! Setidaknya ini yang bisa aku lakukan!" Arzan berteriak karena geram di depan wajah Dina. Matanya kini berkaca-kaca.
Dina menatapnya kaget, kedua mata mereka saling bertatapan kali ini.
"Siapa yang menyuruhmu untuk melakukannya? Apa aku memintanya? Apa aku memintanya!?" Teriak Dina lebih kencang.
"Aku bisa melakukan sesuatu untuk mu! dengarkan aku!" Suara Arzan semakin meninggi.
"Kau bukan siapa-siapa Arzan!" bantah Dina dengan teriakannya yang sudah tidak tertahan lagi.
"Lalu- Lalu apakah aku harus duduk dan menonton? apa- apa yang akan terjadi setelah kau mati? kau tersenyum disana? Kau pikir penderita mu akan selesai!?" Arzan tak habis pikir jika Dina akan sekeras ini untuk di bujuk.
"Saat aku bisa menolong mu apakah aku harus diam dan menonton saja!?" lanjut Arzan dengan setetes air matanya perlahan-lahan terjatuh.
Tanpa dia sadari jika luka ditangannya kembali terbuka ketika tanpa sadar memukul meja. Alhasil perban nya penuh darah yang menetes di lantai.
Stella dan Danu menatapnya kaget, tetapi mereka juga tidak bisa berbuat sesuatu kali ini.
"Jangan melewati batasanmu!" Dina kembali mengingatkan Arzan akan batasan, dan hal itu membuat Arzan semakin kesal.
"Ya! Aku akan melewatinya! lakukan semua yang membuat mu senang. Tapi, berjanjilah kepada dirimu sendiri untuk bertahan lebih lama lagi. Aku mohon ...." jawab Arzan dengan derai air mata, siapa yang menyangka jika dirinya sampai memohon seperti ini demi mempertahankan nyawa seseorang, dimana orang tersebut bahkan tidak peduli sama sekali.
"Kenapa aku begitu mempedulikan ku?" tanya Dina dengan raut wajah merah padam, matanya ikut berkaca-kaca menatap Arzan.
"Bagaimana aku bisa hidup tanpamu! Bagaimana!?" Dan kini Arzan mengutarakan beban di hatinya.
Degh! Dina terdiam, begitupun dengan semua orang disana.
"Bagaimana? bagaimana aku bisa hidup tanpamu?" ucap Arzan sekali lagi sembari mendekat.
Setetes demi setetes darah mengalir dari lengannya tanpa dia sadari. Selangkah demi langkah mendekat ke arah Dina.
Tangannya dengan perlahan menyentuh sisi kanan wajah sang istri. Percaya atau tidak jika dirinya merasa begitu terluka ketika melihat Dina seperti wanita gila tanpa semangat hidup.
"Demi apapun, dia mengutarakan isi hatinya ...." gumam Stella membungkam mulutnya tak percaya.
"Arzan ... berhentilah! aku lelah dengan semua ini," sahut Dina setelah lama terdiam, tangannya melepaskan sentuhan Arzan di pipinya dengan begitu kasar sebelum pergi menuju kamarnya.
Arzan terdiam, mulutnya kelu kehabisan kata-kata. Matanya menatap kosong lantai di depannya. Rasa sakit di lengannya seolah tak berasa lagi kali ini. Hubungannya dengan Dina semakin merenggang kali ini.
"Tuan ...." sahut Stella sembari berjalan cepat menghampirinya bermaksud untuk menolong.
Danu masih mematung di tempatnya berdiri. Menatap raut wajah Arzan yang begitu menderita.
"Tuhan mengirim mu kemari memang bukan tanpa alasan, kau disini untuk menemukan cintamu." Danu.
Terkadang menyerah adalah jawaban terbaik untuk mereka yang kehilangan arah. Tetapi berbeda dengan mereka yang mencintainya, menyerah adalah awal kematian dari kehidupannya.
***
Di dalam kamar Dina.
Brak! Pintu kamarnya di banting kasar, kali ini Dina dibuat tak habis pikir karena ulah Arzan yang semakin lama semakin melawati batasannya.
Tanpa disadari jika Arzan telah mencintai wanita yang sama seperti mayat hidup.
Prang!
kaca almari itu telah pecah berkeping-keping karena di lempar pot bunga oleh Dina. Semua telah hancur berantakan, tak ada yang tersisa barang-barang di dalam kamar itu.
Terlihat mengenaskan, sang pemilik tengah meringkuk di pojok kamar sembari menangis. Sorot matanya penuh dengan luka, kecewa, dan tidak ada kepercayaan lagi disana.
"Tidak bisakah aku pergi saat ini juga?" gumam Dina menatap kosong kamarnya.
"Kenapa dulu Kau tidak membawaku bersama ibu dan ayah ku? Kenapa!?" lanjutnya lagi-lagi berteriak seolah menuntut Tuhan.
"Aku hidup, aku bernafas, aku berjalan, dan aku makan. Tapi aku ingin mati dan mengakhiri penderitaan ini! setiap hari-hari ku aku hanya dikelilingi oleh para penipu, apakah kau menatapku iba?"
"Bertahun-tahun seperti ini, ketika aku bangun dari keterpurukan ku ternyata aku salah, aku merasa bebas padahal aku hanya hidup sementara. Lalu apakah tidak bisa kau membiarkan ku untuk menikmati hidupku yang sementara ini?" gumamnya berbicara sendiri.
Tidak ada yang akan sanggup melihatnya seperti ini, meringkuk di pojok kamar. Menangis dan berteriak ketakutan, mentalnya lagi-lagi yang menjadi percobaan takdir.
Hampir mati, dan tenggelam. Kapal ini sudah usang dan hampir karam.