Semua orang menegang setelah melihat kejadian yang menjadikan Arzan sebagai korban. Si pria berbaju serba hitam itu melarikan diri sekuat tenaga setelah menyadari jika sasarannya meleset.
Danu dan Stella berlari segera menghampiri kedua majikannya itu, dimana terlihat Arzan telah terbaring lemas tak berdaya.
"Arzan!" teriak Dina berusaha menghampiri Arzan dengan kakinya yang melemas tak mampu berdiri. Lagi-lagi Dina terpukul melihat peristiwa yang sempat membuatnya trauma.
Kakinya benar-benar melemas, sejujurnya dia tidak mampu berkata apa-apa lagi. Dia memaksakan dirinya agar tetap kuat dan menolong sang suami.
"Nyonya! bangunlah Nyonya ...." sahut Stella menolong Dina yang terus berusaha menggapai Arzan.
Saat ini Dhafin sudah aman bersama para pelayannya.
Danu dengan cekatan membopong Arzan menuju mobil untuk pergi ke rumah sakit.
Arzan menatap Dina setengah sadar, dan seulas senyum nya terlihat mengembang menatap Dina yang baik-baik saja.
"Tidak apa, jangan menangis," gumam Arzan begitu lirih ketika Dina berhasil meraihnya dan mengelus wajahnya lembut.
Dina tak bisa berkata apapun, rasanya kali ini mental nya kembali terguncang hebat.
Semua tamu telah pergi meninggalkan kediaman Dina, dan kini mereka ... Danu, Stella, Dina dan sang suami segera menuju rumah sakit.
***
Setelah hampir satu jam mereka sudah sampai di rumah sakit.
"Tidak apa Nyonya, atur pernafasan Nyonya dengan baik ...." Stella berusaha menenangkan Dina yang terus meremas bajunya kuat-kuat itu.
"Akh ...." rintih Dina secara tiba-tiba ketika berada di lorong ruangan VIP.
Kedua tangannya meringkuk menutupi kedua telinganya dengan erat, semua memori yang telah berlalu perlahan-lahan menusuk kembali ingatan Dina.
Semua yang dia ingat berwarna hitam putih. Remang-remang satu persatu wajah asing kembali dia ingat, mulai dari wajah dua orang pria bertubuh besar, seorang anak yang tersenyum padanya semua itu menjadi teka-teki untuk Dina.
Telinganya berdecit hebat, seketika wanita dingin itu berteriak begitu kencang karena kesakitan.
"Akhhh ...."
Stella menatapnya ketakutan, lagi-lagi Dina kembali seperti beberapa tahun lalu yang terjebak traumanya.
Semua perawat dengan sigap menangani Dina dan dibawa menuju ruang penanganan khusus. Melihat hal itu Stella hanya menggigit bibirnya cemas, Danu dan Arzan sudah sejak tadi berada di UGD.
"Demi apapun pelaku ini memang kehilangan akal!" gumam Stella kesal, bagaimana mungkin hal ini terjadi di dalam area rumah Dina. Dimana pengawasan sudah begitu ketat setiap harinya.
"Dimana Dina!?" sergah Danu dari kejauhan dan spontan membuat Stella menoleh cepat.
"Dia sedang di rawat, mentalnya kembali terguncang," jawab Stella melemas dan hal itu membuat Danu meraup wajahnya kasar sembari mengumpat.
"Sialan! Akhhh ...."
"Semua akan berantakan jika seperti ini!" lanjutnya masih bergumam, kali ini dia merasa jauh lebih kesal karena si pelaku terus menerus mengincar Dina. Dan kali ini kecurigaan Danu berlabuh pada sosok Soraya, tetapi dia tetap berusaha tenang dan tidak gegabah.
"Pastikan dia berada di pengawasan penuh!" sahut Danu memberikan perintah pada Stella.
Jika terus seperti ini maka kesehatan Dina akan terus berada di dalam bahaya.
Semua orang terdiam, duduk di kursi tunggu dengan raut wajah gusar. Semua penjaga berdiri tegap di depan ruangan rawat Dina dan di depan UGD.
Saat semua orang tak bersuara, tiba-tiba Arzan memecah keheningan sembari bertanya dari kejauhan.
"Dimana Dina?" Stella dan Danu menoleh.
"Tuan? Tuan baik-baik saja?" sergah Stella begitu cemas sembari menatap perban di lengan Arzan.
Arzan tersenyum sekilas dengan artian jika dirinya baik-baik saja.
"Aku tidak percaya ini! bagaimana jika mental nya terguncang lagi!? Akh!" gumam Danu terus merasa kesal.
"Percayalah, dia wanita kuat. Aku yakin dia tidak akan menyerah begitu saja," jawab Arzan menyimpulkan pendapatnya.
Tidak selang beberapa menit dokter keluar dari ruang rawat Dina, dan sedikit terkejut karena melihat banyak pria bertubuh kekar yang berdiri di depan ruangan.
"Oh! astaga kau mengejutkan ku!" ucapnya dengan raut wajah terkejut dan sesekali tersenyum lucu.
Semua orang menoleh, dan mereka bertiga menghampiri sang Dokter cantik itu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Danu.
Dokter itu tersenyum dan menjawab, "Tidak perlu terlalu dikhawatirkan, tadi dia berteriak karena efek dari nyeri di kepalanya akibat ingatan lamanya yang sempat hilang kini perlahan-lahan mulai kembali. Dan saya harap kejadian seperti ini tidak terjadi lagi,"
Arzan menghela nafas panjang dan merasa lega, sejujurnya jantungnya hampir lepas kendali sejak tadi, akan tetapi dia begitu pandai menutupinya.
"Baiklah, terimakasih Dok." Danu.
"Sama-sama, saya permisi dulu, mari ...." ucap Bu Dokter sembari berjalan menuju ruangannya kembali.
"Huft, baiklah mari kita pulang!" sergah Danu sembari merenggang tangannya yang sejak tadi menegang.
Arzan membelalakkan matanya melihat raut wajah Dina yang tidak berubah sama sekali, begitu dingin dan angkuh seperti tidak terguncang sama sekali.
"Sungguh!? ekspresi apa yang dia tunjukkan itu!? ta- tadi dia menangis, sekarang? Woah! wanita gila!" gumam Arzan tak percaya sembari melihat Dina yang berjalan dan di kawal para bodyguard nya.
"Mari Tuan," ucap seorang pria bertubuh kekar dan mempersilahkan Arzan untuk berjalan terlebih dulu.
Arzan hanya mengangguk singkat dan masih tak percaya dengan raut wajah Dina.
"Kalau begitu percuma saja aku mengkhawatirkan mu!" batin Arzan kesal, begitu kesal. Dirinya benar-benar tidak mengerti cara berpikir Dina.
***
Di kediaman Dina.
Terlihat semua sudah kembali bersih, selama mereka di rumah sakit para pelayan sudah sigap membereskannya.
"Pergilah," ucap Dina setelah berhasil mendudukkan bokongnya di sofa sembari menyuruh para penjaga untuk pergi.
"Baik! laksanakan!" Teriak mereka semua begitu lantang dan tegas yang berjumlah hampir 20 orang itu.
Mendengar hal itu Arzan terlonjak kaget karena suara para pria bertubuh kekar itu begitu kencang.
"Apa mereka juga di bayar untuk berteriak?" gumamnya sembari menatap satu persatu para penjaga yang pergi meninggalkan mereka. Di situasi seperti ini Arzan masih memikirkan hal konyol seperti itu.
Tidak selang beberapa menit ponsel Dina bergetar.
"Katakan." Begitu singkat dia menjawab panggilan telepon itu.
"Bawa ke hadapan ku sekarang!" tegasnya dengan amarah menggebu-gebu.
Arzan, Danu, dan Stella yang mendengarnya seketika paham apa yang di maksud Dina. Dan benar saja, baru saja Dina menutup ponsel nya segerombol penjaga datang bersama seseorang yang di ikat kedua tangannya.
"Dia pelakunya Nyonya!" ucap salah satu dari mereka.
Dina berdiri, dan semua orang menatapnya.
"Apa kau tau apa yang kau perbuat?" tanya Dina memulai bicara.
"Kau mengincar nyawaku? atau kau ingin mempermalukan ku?" lanjutnya dengan raut wajah dingin.
"Ma- maaf Nyonya! saya hanya orang bayaran," jawab pria yang menjadi pelaku itu begitu ketakutan.
"Sungguh!? Apa aku bertanya?" jawab Dina sedikit terkekeh, dan di akhir kalimatnya sebuah tendangan melayang kencang di perut si pelaku.
Dugh!
Satu tendangan melayang sempurna, melihat itu Arzan membelalakkan matanya lebar-lebar. Sedangkan semua orang hanya menatap Dina tanpa terlihat kaget, sepertinya ini tidak sekali dua kali dilakukan oleh Dina.
Mulutnya menganga, dan Arzan menelan ludah mentah-mentah.
"Satu tinju untuk kau yang berani masuk kemari!" lanjut Dina dan menghujaninya dengan tinju.
Dugh!
"Yang ke dua untuk kau yang berani sampai sejauh ini!"
Dugh!
"Yang ke tiga karena kau bisa membahayakan putraku!"
Dugh!
"Yang ke empat karena kau tidak berpikir panjang untuk melakukan hal ini!"
Dugh!
"Dan ini yang terakhir sebuah tamparan dariku, wakilkan ini untuk atasanmu!"
Plak! Wajah pria itu sudah babak belur dan sudut bibirnya sudah mengucurkan darah segar.
Arzan hanya bisa menatapnya tanpa berkedip, dia merasa dalam bahaya jika berani melawan Dina. Bukan wajahnya saja yang menyeramkan tetapi pukulannya begitu mengerikan.
"Demi Tuhan dia bukan wanita! aku yakin dia pria!" sahut Arzan tak percaya dan membuat Stella dan Danu terkekeh lucu.
"Bawa dia!" titah Dina yang sudah di pahami oleh para pengawalnya.
Dia menoleh mendengar ucapan Arzan, perlahan dia maju dan mendekati Arzan.
"Aku pria?" tanyanya dengan raut wajah dingin dan sorot mata menyeramkan.
"Tidak! A-aku hanya bercanda! Sungguh!" jawab Arzan ketakutan dan berusaha melindungi dirinya sendiri.
"Satu pukulan karena kau menyebut ku pria!" sahut Dina sembari melayangkan tangannya yang siap untuk meninju.
"Aaa ...." teriak Arzan kaget, dan pipinya tidak merasakan apapun, matanya terbuka dan tangan Dina hanya mengambang di udara.
Wajahnya menatap bingung semua orang. Dan kini Danu dan Stella sudah menahan tawanya.
"Hahaha ... dasar bocah!" Bukan Danu atau Stella yang berucap, akan tetapi itu adalah suara Dina.
Arzan mematung menatap senyum di wajah Dina, pertama kali Arzan melihat senyum tulus di wajah sang istri.
"Cantik," batin Arzan tersenyum lembut melihat tawa Dina.
Terkadang sebuah senyuman mampu merubah segalanya. Tersenyumlah dan rubah duniamu, jangan sampai dunia yang merubah senyum mu.