Arzan berdiri mematung di atas tangga utama. Matanya menatap ratusan tamu yang berdiri di depannya, saling bercengkrama dan bertukar cerita. Yang membuat dia bingung adalah untuk apa semua tamu ini.
Saat Arzan diam menatap semua orang dan berpikir tiba-tiba Dina datang dari sampingnya dengan balutan gaun desainer ternama.
Tangannya merangkul mesra lengan Arzan dengan perlahan, membuat sang pemilik menoleh spontan.
Rambut panjang yang selalu tergerai itu kini di gulung indah hingga memperlihatkan leher jenjangnya dengan jelas, membuat Arzan diam terpaku menatapnya.
Matanya menelusuri setiap sudut wajah Dina dengan perlahan, dan tanpa dia sadari sudut bibirnya tersenyum lembut sembari bergeming, "Cantik!"
"Kau mengatakan sesuatu?" sahut Dina menoleh cepat dan bertanya.
Arzan tersadar dari lamunannya dan menggeleng cepat, "Tidak!"
Dina hanya menatap jengah sang suami, jika bukan di saat penting seperti ini dia tidak akan mau merangkul mesra Arzan.
"Kapan pesta ini disiapkan?" tanya Arzan masih bergeming.
"Saat kau memuji wajah konyol mu yang tak berguna itu," jawab Dina dengan raut wajah tak peduli.
Arzan tersenyum kecut tanpa berniat akan menjawab lebih lanjut. Saat mereka diam menatap para tamu, dan Dina terlihat menatap lekat sosok Soraya yang berdiri di pojok ruangan.
Melihat hal itu sudut bibirnya tersenyum miring dan mengalihkan pandangannya.
"Cek ...cek, halo? wah selamat malam para hadirin yang berbahagia. Saya ucapkan selamat datang di pesta penyambutan anggota keluarga baru kami, yaitu Tuan Besar Arzan Nickley." Sebuah suara mengalihkan pembicaraan semua orang, terlihat di atas podium Danu sedang membuka acara.
Arzan membelalakkan matanya kaget dan berucap, "Ini penyambutan ku? apa aku begitu berharga?"
"Tutup mulutmu, ini hanya sekedar hal cuma-cuma karena aku sudah berjanji kepada mereka," jawab Dina tanpa menatap Arzan.
"Kau bilang ini cuma-cuma? pesta besar ini tentunya membutuhkan dana besar, apa kau tidak menyayangi uangmu? lagi pula aku pikir jika kau hanya bergurau saat itu," sergah Arzan tak percaya dengan jawaban Dina.
"Uang ini tidak akan aku bawa mati. Dan juga aku tidak pernah bermain-main dengan ucapan ku," jelas Dina begitu dingin, dan hal itu tak mampu Arzan debat lagi. Dirinya sudah cukup paham seperti apa nalar sang istri kontraknya itu.
"Mari kita sambut pasangan baru kita, Tuan dan Nyonya Nickley ...." lanjut Danu menyambut kedatangan mereka berdua dan hal itu semakin membuat Arzan membelalakkan matanya lebih lebar.
"Ka- kau, kau menggunakan marga ku? sungguh!?" ujar Arzan tak percaya dan hampir berteriak.
"Diam dan tutup mulutmu itu! kau itu suamiku sudah jelas jika aku mengikuti marga mu, kau benar-benar-" jawab Dina sangat geram melihat tingkah Arzan.
Mendengar penuturan Dina membuat Arzan terdiam.
Tanpa berlama-lama mereka turun bersama dengan senyum Arzan yang mengembang ramah. Ditambah perpaduan gaun indah milik Dina yang disandingkan dengan singgel breasted milik Arzan.
"Tersenyumlah sedikit, apa senyum mu terlalu mahal?" geram Arzan ketika menyadari jika Dina sama sekali tidak tersenyum sedikitpun.
Dina merasa kesal di dalam hatinya, tetapi situasi sama sekali tidak memungkinkan untuknya melampiaskan kekesalannya kali ini, dan akhirnya mau tidak mau dia terpaksa tersenyum.
Semua orang menatap takjub Dina, gaun mewah nya yang begitu cocok ditambah wajahnya yang terkesan dingin itu sedang tersenyum menyambut para tamu, dan ini adalah kali pertama Dina tersenyum pada publik.
Danu dan Stella tersenyum lembut melihat senyum Dina, karena Arzan dia mampu tersenyum walaupun kali ini dia terpaksa. Tetapi keyakinan mereka tak pernah luntur jika suatu saat nanti Dina akan kembali tersenyum seperti dulu.
Semua orang menatap Dina dan Arzan dengan senyumannya, tak lupa para wartawan juga hadir disana. Hanya dua orang yang sama sekali tidak tersenyum sedikitpun, yaitu Dea dan Soraya.
Anak dan ibu itu memiliki sebuah rasa kebencian yang begitu besar ketika melihat Dina tersenyum dan menyulut api di hatinya.
"Tersenyumlah untuk terkahir kalinya," gumam Dea begitu membenci melihat sepupunya yang bersanding dengan pria pujaan hatinya.
"Baiklah mari kita dengarkan sambutan dari mereka berdua," sahut Danu mempersilahkan sang tuan rumah memberikan sambutan.
Siapa yang menyangka ketika Arzan dan Dina tiba di podium, sebuah suara membekukan kaki Arzan untuk melangkah lebih jauh.
"Pemuda itu berhasil mendapatkan sebuah sumber kekayaan yang bisa dia manfaatkan,"
Degh! Arzan terdiam, Dina yang mendengarnya juga ikut terdiam dan melirik wajah merah padam Arzan.
Wanita dingin itu melirik ke arah seorang wanita muda yang diketahui adalah seorang model perusahaan Dina. Bukannya marah Dina justru tersenyum lembut menatap wajah sang model.
Kemudian dia mendekatkan langkahnya ke arah Arzan.
"Bisakah kau lebih rapi sayang?" ucap Dina begitu lembut dan manis seraya merapikan jas Arzan.
Sang pemilik menatapnya aneh, dan hanya diam tanpa berniat membalasnya.
Semua orang menatapnya kaget, terutama Dea yang kian semakin memanas.
"Wah wah ... lihat betapa mesra nya mereka berdua, memang cinta akan datang di waktu yang tepat!" teriak seorang ibu-ibu yang kegirangan melihat tingkah manis Arzan dan Dina.
Tidak berhenti begitu saja, tangan Dina terulur meraih kedua lengan sang suami dan diarahkan ke punggung bawahnya, agar Arzan merangkulnya mesra.
Arzan hanya diam menuruti semua perlakuan Dina kepadanya, ketika kedua tangannya berhasil merangkul Dina matanya menatap dalam wajah sang istri.
Terdiam. Mereka berdua saling diam dan menatap satu sama lain.
Arzan tak bergeming dan menikmati keindahan wajah sang istri yang berdiri begitu dekat didepannya itu.
Siapa yang menyangka jika Dina bertindak lebih, wajahnya mendekat perlahan pada bibir Arzan. Semua orang membungkam mulutnya masing-masing melihat perlakuan romantis Dina.
Arzan masih diam dan ....
Cup!
Bibir mereka bertemu, dengan Dina yang terlebih dulu memulainya. Mereka diam dan saling menatap ketika kedua bibirnya saling bersentuhan.
Dengan perlahan Arzan menggerakkan mulutnya dengan lembut, dan siapa yang menyangka jika Dina justru membalasnya.
Alhasil mereka berdua saling memejamkan matanya dan menikmati ciuman panas itu.
Stella membuka mulutnya lebar-lebar karena kaget, dengan spontan tangannya terulur menutup kedua mata Dhafin agar bocah itu tidak melihat tindakan kedua orangtuanya.
Bukan hanya Stella semua orang disana bertepuk tangan meriah melihat tingkah Arzan dan Dina. Itu adalah sambutan terbaik yang mereka berikan untuk para tamu.
Di sisi lain Soraya merasa jengah melihat perilaku sang keponakannya itu. Sedangkan Dea sudah mengepalkan kedua tangannya begitu geram hingga memerah.
Entah kenapa dia merasa jika Dina sengaja melakukannya untuk menyulut amarahnya. Tanpa berlama-lama lagi Dea membuka ponselnya dan menghubungi sebuah nomor panggilan tanpa nama.
"Lakukan sekarang!" geramnya lirih tetapi penuh kekerasan. Entah siapa yang dia hubungi dan apa yang dia maksud tidak ada yang tahu.
Terlihat di sisi lain, lebih tepatnya tepat di sebelah sebuah lampu utama berada. Pria dengan pakaian serba hitam sedang menatap Dea sembari mengangguk paham.
Kedua tangannya meraih gergaji besi dan hendak memotong pengait lampu itu ketika semua orang sibuk bertepuk tangan dan mendengarkan irama musik sehingga tidak ada yang menyadari jika ada seseorang yang hendak menjatuhkan lampu berukuran besar itu.
Dimana posisi Dina dan Arzan tepat berada di bawah lampu.
Perlahan lampu itu bergerak tak seimbang. Ke kanan ke kiri dengan perlahan, pengait yang hanya berukuran 1 inci itu semakin kehilangan keseimbangannya.
Kriekk ....
Dalam hitungan detik lampu itu akan jatuh tepat di atas mereka berdua.
Dalam hitungan mundur nyawa mereka tidak ada yang bisa menjamin selamat atau tidaknya.
Kriekk ....
Prang! .... Kaca bohlam lampu besar itu pecah hingga membuat sebuah suara yang nyaring. Semua orang berteriak kaget. "Aaaa ....."
Mata Arzan terbuka, mendongak dan mendapati lampu itu akan jatuh menimpanya bersama Dina.
Dina terdiam, mulutnya terkunci melihat Arzan yang mendongak dan memeluknya begitu erat. Tepat ketika lampu itu dua jengkal berada dia atas kepalanya Arzan memeluk Dina sembari berputar menjauh.
Dengan spontan lengan Arzan terkena pecahan kaca itu karena menyelamatkan Dina.
Prang!
Podium itu telah dipenuhi pecahan kaca yang berserakan. Tepat saat itu lengan Arzan mengucurkan darah segar yang menetes deras membasahi sepatunya.
Dina melemas. Lagi-lagi dia harus melihat darah dengan mata kepalanya sendiri. Dan kini dia terduduk lemas di lantai dengan perasaan ketakutan.
Matanya menatap lengan Arzan tanpa berpaling. Sedetik kemudian dia berteriak.
"Tangkap dia dan bawa di hadapan ku hidup-hidup!" Teriakannya begitu kencang hingga urat lehernya terlihat jelas.
Semua penjaga yang berada disana berlari seketika mencari si pelaku. Ada juga yang bertugas mengamankan para tamu untuk meninggalkan pesta.
"Arzan!" teriak Dina berusaha bangkit dan menghampiri Arzan yang terbaring tak berdaya dengan lumuran darah merah segar.