Suara gemercik air terdengar dari kamar mandi pribadi Arzan. Kali ini sang penghuni kamar itu sedang melakukan ritual mandinya.
Begitu tenang dan santai, tidak ada yang mengganggu aktivitasnya.
Senandung nada bergumam dari bibirnya perlahan hingga terdengar begitu bahagia.
"Nana ... nanana, oi yap yap!" Suara Arzan menggema di dalam kamar mandi terdengar begitu riang bersamaan dengan jatuhnya bulir-bulir air dari rambutnya yang basah.
Perlahan pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok Arzan yang hanya memakai celana boxer berwarna merah maroon itu keluar dari kamar mandi seraya berjoget ria.
Handuk putihnya hanya tersampir sembarang di pundaknya, otot perutnya terlihat begitu seksi dan menawan.
Perlahan kaki jenjangnya yang kekar itu melangkah menuju cermin sembari terus bernyanyi.
"Yap yap! Ohooaaa ... Huuuu ...." Suara aneh itu terus keluar dari bibir Arzan begitu bahagia seolah tiada beban hidupnya.
"Woah, wah ... Siapa pria yang bercermin ini? sangat tampan!" ucapnya menatap cermin dengan senyum merekah.
"Kau sangat tampan, kenapa kau begitu tampan? Aku sangat iri kepada mu, bisakah kita berkenalan?" lanjut Arzan bertanya kepada sosok di cermin, yang ternyata adalah dirinya sendiri.
Pria ini memang terdengar aneh, kepercayaan dirinya begitu tinggi hingga tanpa malu berterus-terang memuji dirinya sendiri dihadapan orang lain.
Dagu lancipnya itu menoleh ke kanan dan ke kiri sembari terus bercermin ria, seolah dia begitu bangga akan paras yang dia miliki saat ini.
"Woah, ternyata aku memang begitu tampan. Patut saja Dina sampai mengejar-ngejar ku begini." Arzan terus bergumam sembari menatap cermin selama berjam-jam.
Pinggulnya terus bergoyang tanpa henti, tanpa di sadari jika ternyata di dalam kamarnya itu dia tidak sendiri, melainkan ada Dina yang duduk di tepi ranjang tidurnya.
"Ekhem!" Suara itu membuat Arzan membelalakkan mata menatap cermin.
Degh! Gerakannya terhenti seketika seraya menoleh cepat.
Terlihat jelas sang istrinya sedang duduk diam menatapnya dari kejauhan. Dalam artian sejak tadi tingkah Arzan telah dilihat dengan jelas oleh Dina.
"Apa? sejak kapan dia disini?" gumam Arzan mematung menatap Dina yang hanya terdiam menelusuri sisi tubuhnya.
"Hei!" teriak Arzan setelah tersadar sepenuhnya.
Dina hanya mendongak tanpa mengeluarkan suara.
"Se- sejak kapan kau disini?" sergah Arzan dengan otot perutnya yang terlihat jelas.
Dina menatap jengah kemudian berdiri, terlihat pasti jika wanita ini sama sekali tidak malu bahkan peduli dengan penampilan Arzan saat ini.
"Sejak kau memuji wajah konyol mu itu!"
"Simpan ini dan bersiaplah dengan pakaian itu," lanjutnya.
Arzan tidak menjawab dan masih mematung ketika menyadari jika jaraknya sudah sangat dekat dengan Dina.
"Satu hal lagi, berhenti memakai celana itu! aku tidak menyukai warnanya." Imbuh Dina seraya melangkah menuju pintu.
Sebelah alis Arzan terangkat ke atas pertanda jika dia sedikit kebingungan.
"Ha? untuk apa aku peduli jika dia tidak menyukai warna boxer ku, wanita aneh!" gumam Arzan sambil terkekeh lucu dan sebuah ide konyol melintas di pikirannya.
"Tunggu!" sergah pria itu sembari mencekal tangan sang istri yang hendak pergi.
Dina menoleh dan menatap tangannya yang dipegang erat Arzan. Sebelum dia kembali berbicara, Arzan lebih dulu menariknya dengan cepat, sehingga posisi mereka menjadi begitu dekat tanpa jarak sedikit pun.
Degh! Dina membulatkan matanya begitu lebar ketika tubuhnya bersentuhan dengan d**a bidang Arzan yang tidak tertutup sehelai kain sedikitpun.
Dina terdiam dan mendengar ucapan sang suami. "Kenapa kau terburu-buru?"
"A- apa maksudmu?" Entah kenapa Dina justru merasa gugup karena posisinya dengan Arzan saat ini.
"Kau tidak menyukai boxer ku?" tanya Arzan dengan tatapan menggoda.
Dina mendongak dan melihat raut wajah Arzan dengan begitu kesal.
"Tutup mulutmu! kau gila? lepaskan aku!" jawab Dina menggerutu sembari berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Arzan yang begitu erat itu.
Arzan terkekeh dan menjawab, "Apa aku kurang menggoda? atau kau malu-malu?"
Pipi Dina memerah padam seperti kepiting rebus setelah mendengar ucapan sang suami. Entah kenapa kali ini dia merasa malu.
"Kau ... kau tidak merasakan sesuatu?" tanya Arzan membuat Dina tak bergeming, terlebih ketika dia membawa tangan Dina untuk meraba-raba menelusuri d**a bidangnya.
Degh! Jantung wanita itu sudah tidak karuan lagi, ritme detak jantungnya begitu kencang hingga dia takut jika Arzan akan mendengarnya.
Pipinya semakin memanas ketika tangannya digenggam erat dan bergerak perlahan-lahan menyentuh setiap otot perut sang suami.
Benar-benar aneh perasaanya kali ini untuk di deskripsikan begitu saja.
Tangan Dina terhenti secepatnya sembari berkata, "Diam dan simpan saja kepercayaan diri mu yang begitu tinggi itu! utarakan kepada dia yang mau peduli dan mendengarkan mu!"
Arzan menggeleng pelan dan tertawa ketika dia menyadari jika pipi Dina memerah, tetapi Arzan memilih diam dan membiarkan sang istri pergi begitu saja.
"Wanita aneh, aku yakin jika dia pasti belum pernah bertemu dengan pria setampan diriku." Seulas senyum lebar hingga deretan gigi putihnya terlihat menjadi pesona sendiri bagi Arzan.
Rasanya sudah lama dia tidak menggoda seorang wanita sejak tahun ke dua menjadi mahasiswa.
Matanya menatap sebuah style jas berwarna hitam yang terbeber rapi di atas kasurnya, kemudian Arzan kembali melirik amplop putih yang diberikan Dina tadi.
Dengan rasa penasaran Arzan membukanya sembari duduk di tepi ranjang.
Hatinya bergetar, perasaan aneh yang tidak dia pahami lagi-lagi datang tanpa memberikan isyarat ketika matanya membaca isi sebuah surat nota keterangan LUNAS.
Pikirannya kembali mengingat pembicaraannya dengan Danu di taman. Percaya atau tidak Arzan mulai merasakan sesuatu hal yang seolah menahannya agar tetap bersama Dina dan Dhafin di rumah ini.
"Lakukan apa yang harus kau lakukan Arzan! Berhenti berpikiran konyol!" gumamnya menggertak dirinya sendiri dan segera bangkit untuk bersiap.
***
Di bawah sana terlihat begitu megah dan mewah sebuah pesta penyambutan Arzan ternyata akan dilakukan hari ini juga tanpa pemberitahuan dari Dina sedikit pun.
Para pelayan sudah bersiap untuk melakukan tugasnya sebaik mungkin. Mereka bertiga- Danu, Stella, dan Dhafin sudah bersiap dengan gaun terbaiknya masing-masing.
Siapa yang menduga jika pesta penyambutan Arzan kali ini telah menyebar undangan sebanyak 500 orang lebih. Dan hal ini memang sengaja di lakukan oleh Dina, dia pun juga tak lupa mengundang Soraya.
"Siapa yang menyangka jika sahabat kita berhasil merebut hati wanita kaya Bram!" gumam Geo yang baru saja tiba bersama Bram di depan pintu sembari memuji kemewahan pesta khusus untuk Arzan.
"Tak selamanya dia berada di bawah," jawab Bram menimpali dan melangkah masuk bersama para tamu undangan yang lain.
"Silahkan masuk tuan tuan," Sambut Danu ketika melihat sahabat majikannya baru saja tiba.
Geo dan Bram menoleh dan tersenyum canggung, rasanya mereka memang menjadi tamu khusus disebuah istana megah ini.
Tidak selang beberapa detik, terlihat jika Soraya dan Dea baru saja tiba dengan beberapa hadiah yang dia bawa.
Kali ini berbeda dari sebelumnya, sosok Dea penuh tatapan dingin dan kebencian melihat setiap sudut rumah Dina.
"Aku datang membawa hadiah agar hidup mu terbebas dari penyakit yang mengutuk mu itu Din." gumam Dea.