Antara ayah dan anak.

1122 Kata
"Papa?" Sebuah suara terdengar jelas memanggil Arzan dengan sebutan Papa. Arzan yang tengah duduk di sofa untuk mengobati lukanya itu seketika menoleh dan mendapati Dhafin berdiri di samping sang ibu. Stella dan Danu yang juga berada di sana seketika ikut tersenyum mendengarnya. Anak itu kini telah mendapatkan sosok ayah sesuai keinginannya. Arzan masih terdiam, tidak bisa dipungkiri jika hatinya bergetar ketika mendengar panggilan itu. Dia tidak menyangka jika ternyata dia telah menjadi seorang ayah. "Pa- papa?" Ulang Arzan sembari menatap Dhafin. Anak itu mengangguk cepat dan tersenyum lebar. "Papa," ucapnya semakin jelas kepada Arzan, tanpa berlama-lama lagi dia berlari menuju pelukan sang ayah. "Papa, paman tampan adalah Papa Dhafin," lanjutnya tepat di dalam dekapan Dhafin. Arzan terdiam dan membalas pelukan Dhafin, hatinya benar-benar menghangat saat ini. Stella menitikkan air matanya melihat pemandangan antara anak dan ayah di depannya, Danu tersenyum lembut, dan Dina hanya diam tak bergeming. "Papa jatuh? Papa berkelahi?" ujar Dhafin ketika melihat luka di kening Arzan. Arzan melirik Dina dengan sorot mata penuh kekesalan. Sebelum Arzan menjawab tiba-tiba Dhafin menyahut kembali. "Mama yang melakukannya?" Arzan membelalakkan matanya mendengar ucapan sang putra. Begitu juga dengan yang lain, mereka tidak menduga jika Dhafin menebak nya dengan benar. "Bukan Mama," sahut Dina dari belakang bermaksud membela dirinya. Arzan menatapnya semakin kesal. "Apa dia tidak punya malu? tidak mengakui kesalahannya!" "Mama bohong!, Dhafin mencium aroma Mama di tubuh Papa." Dhafin menjelaskan alasannya dengan detail, tidak bisa dipungkiri jika dia memang memiliki kecerdasan yang tidak bisa di remehkan. Semua orang membelalakkan matanya, dan Arzan berkata, "Kau mencium nya? sebelah mana?" "Leher Papa," jawab anak itu dengan polos. Semua orang semakin membulatkan matanya menduga-duga pikirannya masing-masing, Stella tertawa konyol mendengarkannya. "Apa? Kau mencium di leher Papa mu?" sahut Stella semakin menggoda Arzan dan Dina. "Mama mencium papa?" tanya Dhafin semakin membuat kedua orang tuanya menahan malu. "Tidak!" jawab Dina dan Arzan dengan kompak menolak pertanyaan putranya. Danu menahan tawanya dalam diam, Stella terkekeh lucu melihat kedua majikannya itu. "Mama kemarilah," panggil Dhafin. "Minta maaf sama Papa," lanjutnya dan itu membuat Dina tersentak. Arzan membulatkan matanya, dia tidak bisa membayangkan jika wanita menyeramkan itu akan meminta maaf kepadanya. "Tadi Papa terjatuh, jadi Mama tidak perlu meminta maaf," tolak Dina berbohong. Semua orang mengerucutkan bibirnya setelah mendengar ucapan Dina. "Eum ... iya kah? baiklah, kalau begitu gendong Dhafin," jawabnya sembari meminta gendong pada Arzan. Arzan terkekeh dan menggendongnya. "Mama cium Dhafin," ujarnya lagi dan Dina menurutinya begitu saja. Dengan perlahan Dina memajukan wajahnya untuk mencium sang putra yang berada di gendongan Arzan. Bocah itu begitu cerdas, ketika jarak nya dengan sang ibu semakin dekat tiba-tiba kepalanya mundur menjauh dengan cepat. Alhasil bukannya pipi Dhafin yang Dina kecup, akan tetapi bibir Arzan. Cup! Bibir mereka bertemu. Satu kecupan mendarat tanpa terduga di bibir Arzan dan hal itu membuat semua orang membelalakkan matanya lebar-lebar, sekaligus terkejut luar biasanya. Bocah laki-laki ini memang begitu pandai menyatukan kedua orang tuanya. Pipi mereka berdua memanas dan merah padam. Semua orang tersenyum lebar hingga deretan gigi putihnya terlihat. "Nah, kan Dhafin suka lihat nya," sahut Dhafin menatap ayah dan ibu nya yang kelimpungan menahan malu. Benar-benar malu dan sangat malu, mereka berdua kehilangan first kiss-nya karena sang putra. "Dasar anak nakal, lihat tuh Mama malu," sahut Arzan merespon ucapan Dhafin. "Wah, apa ini disebut cinta?" Jleb! Semua orang membisu tidak menyangka jika Dhafin akan bertanya sejauh ini, entah dari mana dia belajar hal semacam itu. Dina menatap Stella begitu lekat, seolah sorot matanya itu mengartikan jika dia mencurigai Stella untuk hal ini. "Haha, hahaha ... Sayang, ayo kita bermain di luar ya? mari sayang ...." sahut Stella terkekeh canggung melihat tatapan sang majikannya. Anak polos itu hanya menurut patuh dan pergi bersama Stella, tidak selang berapa lama ponsel Dina bergetar dan sang pemilik menjawabnya sembari meninggalkan Arzan dan Danu disana. Hanya ada mereka berdua, yaitu Arzan dan Danu. Hanya keheningan yang menyelimuti keadaan disana, Arzan berdiri dan hendak menuju kamarnya untuk mandi, akan tetapi terhentikan oleh Danu. "Tunggu sebentar Tuan," panggil Danu menghentikan langkah sang majikan. Arzan berhenti dan menatap Danu yang berjalan ke arahnya, kali ini pria paruh baya itu lebih sopan dari sebelumnya ketika berbicara dengan Arzan. "Bisakah kita berbicara sebentar?" tanya Danu. "Silahkan," ujar Arzan memberikan izin. Danu menolehkan kepalanya menatap sekitar dan terkekeh canggung sembari berkata, "Saya rasa berbicara disini kurang nyaman, bisa kita bicara di luar?" Arzan terkekeh lucu dan berkata, "Sudahlah Pak Danu, jangan berbicara begitu formal dengan saya. Santai saja, lagi pula saya lebih nyaman seperti itu." "Tidak bisa Tuan, saya harus-" jawab Danu terpotong. "Ini perintah," tegas Arzan agar Danu tak lagi menolak. Pria paruh baya itu hanya mampu tersenyum dan mengiyakan perintah Arzan. *** Mereka saat ini berada di taman depan. "Kau masih ingat dengan yang aku bicarakan kemarin?" tanya Danu memulai bicara. "Soal Dina?" jawab Arzan bertanya dan Danu mengangguk cepat. "Aku tahu ini bukan tugas mu, dan ini berada di luar perjanjian kontrak. Sejujurnya aku tidak ingin melibatkan mu dengan hal ini, akan tetapi aku tidak tahu lagi harus berbuat apa," lanjut Danu melemas. Arzan mendekat dan menepuk bahu pria paruh baya itu. "Ada apa?" "Kemarin kami datang ke rumah sakit, dan semakin lama penyakitnya semakin ganas. Dokter menyarankan untuk segera melakukan operasi, tetapi dia menolaknya begitu saja. Semangat hidupnya benar-benar mati kali ini," ujar Danu dengan mata berkaca-kaca, dirinya merasa terluka mengingat kondisi Dina yang sekaligus ikut mengingatkannya dengan mendiang sahabatnya- ayah Dina. Arzan paham dengan apa yang diucapkan Danu, tidak bisa dipungkiri jika Dina memang wanita keras kepala yang ingin mati setiap harinya. "Aku akan melakukannya," sahut Arzan yang paham dengan maksud Danu. Danu mendongak kaget dan berkata, "Tapi, jika kau melakukannya kau akan kehilangan kontrak ini, dan bahkan kau harus mengembalikan sejumlah uang darinya." Arzan memejamkan matanya dan berjalan membelakangi Danu. "Kau pernah mendengar cerita tentang pertemuan dua ekor semut? Mereka tidak bertemu begitu saja, begitu juga dengan kami. Percaya atau tidak jika aku ditakdirkan bertemu dengannya pastinya dengan sebuah alasan," "Mungkin ini rencana Tuhan agar aku membawakan secercah harapan untuknya," lanjut Arzan sembari menatap rerumputan di depannya. Pikirannya kembali mengingat sebuah memori masa kecilnya, dimana saat dia diselamatkan oleh anak perempuan di laut. Saat itu Arzan lah yang hampir kehilangan nyawanya, dan gadis itu memberikan kesempatan untuk Arzan hingga berada di detik ini. "Bagaimana bisa kau membayar akibat dari keputusan mu ini?" tanya Danu. "Manusia hidup untuk berjuang dan berusaha, terlebih lagi jika dia bisa berkorban. Setidaknya hidupku sekarang harus lebih berarti dari yang dahulu," jawab Arzan begitu bijak dan dewasa. Dia telah menentukan pilihannya kali ini, jika pertemuannya dengan Dina hanya untuk sementara maka dia akan merelakannya. "Setidaknya aku bisa menjadi malaikat penolong seperti dia dulu," gumam Arzan begitu lirih sembari mengingat sosok gadis yang menolongnya dari maut dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN