"Pergilah, kami akan merindukanmu," ucap Geo sedikit menahan air matanya ketika Arzan hendak pergi meninggalkan apartemen yang menjadi saksi perjuangannya bersama kedua sahabatnya.
"Ish! berhenti dramatis! kek cewe tau nggak lo!?" sahut Bram terlihat kesal, padahal dirinya sendiri juga berusaha menahan air matanya.
Geo menoleh sejenak dan tidak memperdulikannya, rasanya sedikit berat ketika tiba-tiba salah satu dari mereka akan pergi.
"Sudahlah, kalian bisa kesana kapan pun. Akan aku sambut dengan baik," ujar Arzan.
"Kau tidak takut dengan istrimu?" tanya Geo sedikit mempermalukan Arzan, dan hal itu membuat Bram melirik sembari menahan tawa lucu.
Arzan menatap mereka berdua linglung dan menggerutu kesal, "Jangan mempermalukan ku seperti itu! mau bagaimanapun aku kepala keluarga,"
"Euhm, baiklah. Dah sana, pergilah ... kita ketemu lain waktu," jawab Bram menengahi sembari merapikan koper Arzan.
"Jangan sampe lu jadi duda dadakan," gumam Geo meledek Arzan lagi.
"Nggak akan, gue tuh tipe ideal jadi suami."
"Ideal palamu! dah sana, jomblo bertahun-tahun tiba-tiba kita ditinggal nikah aja," gumam Geo masih merasa kesal.
"Haha ... cepetan nyusul ya? ntar gue kasih hadiah khusus di resepsi pernikahan lo." Tawa Arzan begitu renyah dan hanya diabaikan oleh Geo.
"Gue pergi dulu, jangan malas bersih-bersih ya lu!" ucap Arzan sembari menarik kopernya perlahan dan kembali menyahut.
"Selamat tinggal jomblo!" teriaknya sebelum benar-benar meninggalkan kedua sahabatnya.
"Mentang-mentang dah nikah ya lu!" sambut Bram sedikit berteriak ketika Arzan sudah sedikit jauh menyeret kopernya.
"Hiks-hiks, huhu ...." Suara Geo tiba-tiba merengek sembari memeluk Bram. Merasakan sebuah pelukan diperutnya yang mendadak itu membuat sang pemilik merasa geli dan memukul tangan Geo.
Plak!
"Lebay tau nggak lo!" sergah Bram sembari meninggalkan Geo di luar.
"Ah lu mah gitu! palingan ntar lu juga bakalan nangis!" sahut Geo gak terima dan tidak selang beberapa detik dia ikut menyusul Bram yang masuk ke dalam.
Sebuah persahabatan tiga orang pria yang begitu penuh rasa. Banyak jenis perdebatan yang mereka lalui selama ini, terkadang mereka gengsi untuk lebih dulu mengutarakan isi hatinya, tetapi kadang salah satu dari mereka selalu menjadi dewasa demi kedua sahabatnya.
Tiga orang pria yang selalu berusaha menyesuaikan diri, tiga orang pria tertawa bersama, dan juga tiga orang pria yang seperti keluarga.
Mereka adalah sahabat, seseorang yang selalu ada untuk saling melengkapi.
***
Hari-hari semakin berlalu, malam berganti dan pagi menyapa. Kini disebuah istana milik Dina masih terlihat sepi tanpa suara.
Di dalam kamar Arzan terlihat sang pemilik masih pulas bergelut dengan selimutnya. Wajahnya yang teduh dengan rahang tegas itu masih tenang berada di alam bawah sadarnya.
Sedetik kemudian mimpinya hancur berantakan ketika suara alarm yang terhubung dengan remote kontrol yang dikendalikan oleh Dina tiba-tiba berbunyi berulang-ulang.
Kring ... Kring ....
Kring ... Kring ....
Arzan terlonjak kaget dan berdiri seketika menuju kamar mandi, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya saat ini.
Ketika dia berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka tanpa sengaja keningnya menabrak pintu kamar mandi dengan kencang.
Dugh!
"Akh ... wanita itu memang menyebalkan!" gerutunya kesal sembari mengusap keningnya yang terasa ngilu.
Mulutnya mengumpat karena Dina membangunkannya dengan cara seperti ini. Ya, mereka tidur berpisah, tetapi kedisiplinan selalu diutamakan oleh Dina. Ketika alarm berbunyi seharusnya Arzan sudah tiba di kamar Dina, akan tetapi pria ini sedikit terlambat bangun hari ini.
"Sialan! wanita itu benar-benar membunuhku!" gumamnya sekali lagi dan berlari keluar menuju kamar sang istri.
Dan akhirnya dia tiba di depan pintu kamar Dina.
Kriekk... knop pintu itu terbuka dengan cepat oleh Arzan yang diselimuti kekesalan.
Dina menatap sebuah benjolan di kening Arzan dengan lekat, bukannya meminta maaf wanita ini malah mengkritik sang suami.
"Kau seharusnya datang paling lambat 1 menit setelah alarm berbunyi. Kau terlambat 10 menit!" tegas Dina tanpa merasa bersalah.
Arzan menatapnya tak peduli dan berjalan mendekat. Dan berteriak kesal di depan wajah Dina, rasanya ketakutannya dihadapan Dina telah sirna pagi ini juga.
"Lihat apa yang kau lakukan! Lihat!" teriak Arzan kesal sembari menunjuk ke arah benjolan di keningnya.
Dina membelalakkan mata ketika Arzan berteriak di hadapannya, bukannya kesal Dina justru mematung kaget karena jarak diantara mereka berdua hanya tersisa beberapa centi saja.
"Bisakah kau membangunkan orang lain dengan sedikit lembut? lagi pula aku ini suamimu, seharusnya kau datang ke kamar ku dan membangunkan ku dengan manis, membawakan sarapan pagi untuk ku, mencium ku, bercanda, atau apalah itu yang dilakukan suami istri yang selayaknya. Tapi- tapi apa yang kau lakukan, Ha!?" lanjut Arzan terus mengomel di depan wajah sang istri.
Dina masih terdiam dan menatap setiap sudut wajah Arzan, rasanya aneh, detak jantungnya berdegup kencang dan telinganya sedikit memanas.
Tetapi sedetik kemudian dia sadar dan meluncurkan aksinya.
Tap!
Jari telunjuk Dina mengetuk kening Arzan tepat di benjolannya dengan kencang.
"Akhh ......" teriak Arzan begitu kencang hingga seluruh isi rumah mendengarkannya dengan jelas.
"Huwaa ... sakit, akh! ... akh ...." rintihannya terdengar begitu kesakitan. Kini tubuhnya sudah terduduk meringkuk sembari mengelus keningnya. Rasanya Dina sudah kehilangan akal untuk berbuat demi kian.
"Akh! Kau gila? kau masih manusiawi kan? Akh-" lanjut Arzan kehabisan kata-kata melihat kelakuan Dina, rasanya nyawanya akan hilang jika terus bersama wanita ini.
Dina hanya menatap Arzan dengan bersedekap d**a, tanpa merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan.
"Kau merasa sakit? selemah itu?" tanya Dina.
Apa?Dia bertanya seolah-olah Arzan adalah manusia super yang tidak merasakan sakit.
Arzan mendongak dan membelalakkan matanya lebar-lebar sembari berkata, "Apa? Ap- akh! ... sudahlah!" geram Arzan tak bisa berpikir jernih lagi.
Kini benjolan di keningnya semakin membesar hingga berwarna ungu kebiruan.
Saat itu juga Danu dan Stella tiba di depan pintu karena mendengar teriakan Arzan.
"Ahh ... astaga! Tuhan? apa yang kau lakukan?" teriak Stella terkejut melihat Arzan yang berguling-guling menahan sakit.
Dengan segera Stella menghampirinya dan menolongnya.
"Bangunlah, pelan-pelan ...." ujar Stella sembari menolong Arzan untuk duduk dengan nyaman.
"Benar-benar, aku kehilangan akal sehat memikirkan wanita ini." Danu ikut bergumam pelan melihat akibat dari ulah Dina.
"Biar aku obati," lanjut Stella dan beranjak turun bersama Arzan.
Danu masih diam tak bergeming menatap Dina yang masih berdiri menatapnya.
"Ber-perilakulah sedikit lebih lembut saja, sedikit saja," ucap Danu dengan lembut tanpa di gubris oleh Dina.
"Aku tidak peduli," jawab Dina sembari berlalu turun menghampiri sang putra.
Di bawah sana terlihat Stella dengan telaten membantu Arzan mengobati lukanya.
"Akh, ish ...." rintih Arzan begitu kesakitan.
"Wanita itu benar-benar gila!" teriaknya tak tahan lagi menahan amarah. Tanpa dia sadari jika Dina kini tengah berdiri di belakangnya bersama Dhafin.
"Tenanglah, aku pikir ini sudah resiko karena berdebat dengannya," sahut Stella mengutarakan pendapat.
"Demi Tuhan dia memang tidak waras!" geming Stella ikut kesal sembari melirik Dina sesekali.