Lucu sekali. Melihat gerombolan bebek berjalan mengikuti induknya seperti melihat kumpulan titik berbaris yang semakin lama semakin mengecil. Sinar keemasan yang membalut tubuh mereka membuatnya seperti gumpalan emas yang menyilaukan. Sungguh pemandangan yang sayang untuk dilewatkan. “Kenapa tertawa?” Suara Umi membuat Rabiah menoleh. “Lucu.” Komentarnya menunjuk gerombolan binatang berkaki rata itu dengan gemas. “Sebentar lagi kamu akan melihat yang lebih indah.” “Apa Umi?” tanya Rabiah penasaran. “Pasti Umi mu mau bilang senja di desa ini.” celutuk Abi yang tiba-tiba datang dengan cangkir di tangan. Kepulan asap yang menguar dari gelas besar itu menggoda indra penciumannya. “Abi masih suka minum teh yang dicampur madu?” tanya Rabiah saat mencium aroma dari kepulan asap cangkir Abi-

