Surat untuk Rabiah

1786 Kata

Ada satu hal yang menarik ketika tinggal di desa. Besarnya rasa ingin tahu para tetangga atau dalam hal ini ibu-ibu mengenai kehidupan seseorang. Tidak semuanya tentunya, hanya beberapa bagian namun pertanyaan mereka seringkali membuat kepala serasa berputar-putar. Menanyakan pertanyaan yang rasanya sudah masuk ranah pribadi namun seringkali diabaikan karena besarnya rasa ingin tahu. Seperti yang dia rasakan sekarang. Rabiah hanya bisa tersenyum saat ibu-ibu menanyakan apa pekerjaannya dan ketika dia mengatakan kalau dia mengajar di sebuah pondok kalian tahu apa komentar ibu-ibu yang mendengar jawabannya. “Ya ampuun sayang sekali jauh-jauh sekolah ke luar negeri hanya untuk jadi pengajar anak-anak bandel yang tidak bisa diatasi sekolah lagi.” “Apa tidak sayang sekolahmu itu. Kamu keluar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN