“Apa?” tanya Rabiah terkesiap mendengar berita yang baru saja dia dapatkan. Netranya menatap Abi, Umi dan juga adiknya Zain bergantian yang duduk di kursi rotan di ruang tamu rumah mereka. Kenapa tiba-tiba ada kejadian seperti ini? “Tapi bagaimana bisa?” tanyanya masih tidak percaya. Lebih kepada dirinya sendiri. “Ini bukan sesuatu yang bisa kita sesalkan Biah. Kita harus menrimanya dengan lapang dada.” “Tapi pesantren itu bukan hanya milik mereka Abi. Abi ikut andil dalam mengembangkannya hingga seperti sekarang. Bagaimana bisa mereka mengeluarkan Abi dari sana setelah semua yang Abi lakukan?” tanyanya tidak habis fikir. Pesantren tempatnya mengajar adalah pesantren keluarga. Selama ini yang mengelola dan menjadi pemimpin adalah pamannya-abang dari Ayahnya. Meski bukan pemilik seutuhny

