Catatan pengarang;
Salam sejahtera. Disini saya sebagai pengarang sekaligus penulis hanya mau mengingatkan bahwa Bagi kalian yang minat silahkan baca, tapi tolong jadi silent Reader saja. Jangan berkomentar ya ... Please.
_____
Fidelio akhirnya masih terdiam tanpa kata, tetapi dari cara pandangnya kian dimengerti langsung oleh Benhard. Maka, tak mau menunggu jawaban darinya dulu, Benhard raih telephone genggam di tangan sang sahabatnya itu.
"Eh," Kejut Fidelio tetapi belah bibir bungkam tak berani berkata-kata tepatnya semasih Benhard Otak-atik isi Galeri hapenya.
Tidak lebih dari lima menit berselang, Benhard memberikan kembali Hape itu.
"Nih, Sudah aman Terima kasih sobat." Membubuhkan senyuman.
"Ini ... Maksudnya gimana Ben?" Tanya Fidelio belum mengerti pasti tentang tujuan Benhard lantas dia tengok sendiri bagian Chat.
"Eh, Ben?"
"Hm,"
"Ka-kamu yakin dengan ini?"
"Tentu,"
"Tapi ... tadi ... Visca?" Fidelio masih bingung dengan maksud tujuan Benhard, lantaran saat Benhard mengajaknya beraksi, dia tak menyebutkan tujuan dia yang sebenarnya.
"Ciuman kan' maksudmu?" To the poin Benhard.
"Apakah sebenarnya kamu menyukai Visca?" Tanya Fidelio.
Benhard masih diam, menampilkan cengiran kuda yang membuat Fidelio semakin bertanya-tanya.
"Jangan bilang kalau sebenarnya kamu BI ya, Ben?" Lanjut Fidelio.
"Cih, BI apaan? So ... Apakah sebuah Ciuman harus didasari dengan rasa Cinta?"
(Author; B I = Bisexual, menyukai laki-laki dan perempuan)
"Em ... gak tau juga sih, Lalu ...?" Fidelio yang Notabenya polos kian menunjukkan kepolosannya.
Benhard lekas mengedipkan satu matanya.
"Aih ... Beneran jadi orang kejam kau rupanya Ben," Sarkas Fidelio langsung tau apa maksud Benhard, "Parah," Menggelengkan kepala tapi diiringi senyum.
"Berisik. Baru tau kah kalau Sahabatmu ini orang yang sangat kejam?" Canda Benhard mengatur kerah-nya sok Cool.
"Dih, malah kepedean!" Sarkas Fidelio.
"Hehehe, tenang aja Fid. Masalah itu urusanku, aku cuma minta pengertianmu aja. Apakah kamu bisa membantuku?" Benhard sudah tak lagi menangguhkan sifat (Tak munafik itu)
"Hum, apapun demi kebaikanmu aku pastikan akan selalu mendukungmu Sobat." Jawab Fidelio penuh kesungguhan akan hal lain, tapi tak dapat dimengerti sedikitpun oleh Benhard.
"Cakep .... kamu memang sobat terbaiku Fid. Yasudah. Ayo kita ke kelas" Pungkas Benhard.
Fidelio masih diam saja.
"Hei, Apakah kamu gak ikut ujian sesi 3 ini Fid?" Panggil Benhard lagi saat dia menolehnya sejenak.
Membuat lamunan Fidelio tercabik, "Eh, Hum Okelah let's Go!" Susul Fidelio dengan cerianya.
Semula Fidelio memang masih berkutat tentang urusan pribadi Benhard itu. Namun, dia jua tak kuasa memaksakan kehendak yang tak mungkin dia raih bagaikan Menuang secangkir madu di tengah samudra yang tak akan mungkin bisa merubah rasa. Baginya asal masih bisa di sisinya sebagai sahabat terbaiknya akan lebih baik daripada menunggu hal yang tak ada kepastian cenderung akan menyakiti hatinya lebih dalam.
___
Pada hari berikutnya, Tepatnya di waktu pagi hari sebelum mulai Ujian sesi pertama, Benhard tak berjumpa sang sahabat yang biasanya selalu ada disisinya.
"Tumben sekali anak itu" Tak lama dia cari di berbagai sisi, akhirnya dia menemukan keberadaannya sedang bersama seorang siswi di suatu sudut koridor tepatnya tak jauh dari ruang kelas bahasa.
"Fid," Panggilnya mendekat.
"Eh Ben," sapa balik dia.
Lantas berbincang sejenak tentang apa tang hendak di perbincangkan. Maka, diketahui siswi yang sedang bersama Fidelio itu adalah kekasih baru Fidelio.
"Wah, mantul juga rupanya kamu Fid, Diam-diam menghanyutkan." Goda Benhard semasih berjalan bersama-sama menuju kelas mereka selepas perbincangan singkat dengan siswi itu usai.
"Hm ... Itu pujian apa ejekan Ben?" Sarkas Fidelio.
"Hehehe, Enggak kok ..." - Benhard.
____
# Next Story
Selepas mengetahui sang sahabat memiliki kekasih sekaligus sang sahabat sudah 100% mengetahui hal pribadinya, menjadikan Benhard leluasa menjalin hubungan terlarang yang masih berlangsung dengan Zevano.
Meski status diri masih terpantau oleh sang ayah, hubungan kekasih dengan Zevano masih lancar-lancar saja tanpa kendala. Semua itu terjadi ulah rencana yang dibuatnya beberapa hari yang lalu berupa Video rekaman ciuman dengan Visca tersebut dia kirimkan pada Venanim melalui Fidelio. Bahkan Fidelio jua berperan penting dalam drama yang dibuat Benhard, sehingga semua itu membuat Venanim percaya bahwa sang anak tunggalnya masih normal/Heteroseksual.
____
# Penggunaan Kalimat Frontal
Pada suatu malam, cuaca cukup ekstrim lantaran sedang musim penghujan. Usai mengerjakan tugas sekolah, Benhard merasakan rindu dengan sang kekasih, angan-angan suatu kenikmatan itu telah merasuk kedalam angan, hingga fokus belajar kian mengurang.
Berimajinasi dan terus berimajinasi membuka Laptop bukan untuk membaca materi melainkan membuka situs pribadi berisikan hal yang memuncakkan birahi. Aplikasi andalan yang dimilikinya sebatas aplikasi yang sudah hits sejak dulu kala (Twitter) tetapi Disana terdapat konten porn0 lengkap meski mayoritas durasi hanya sekitar 2:30 menit, tetapi lebih memanjakan mata lantaran banyak gaya yang beraneka ragam jenisnya. Mulai adegan yang biasa maupun yang ekstrim, baik pasangan Normal, Bisexual, Lesbian maupun gay.
Tentu, yang Benhard buka ialah konten s*x Gay-Only lebih dominan ke-Orgy-gangb'ang lantas napsu kian memuncak menginginkan s*x setelah sekian lamanya tak pernah melakukannya dengan sang kekasih lantaran menghindari amarah dari sang ayah. Selama ini dia memang masih bisa bertemu Zevano secara diam-diam. Tetapi dalam durasi yang terbatas serta terpantau sang sahabat.
Kini, Benhard bermain sendiri (Colli) namun, samasekali tak membuatnya terpuaskan, bahkan cairan pun susah keluar lantaran dia benar-benar menginginkan kehangatan milik kekasihnya.
Tidak banyak berpikir lantaran hasrat sudah sangat memuncak, beranjak pergi kerumah Fidelio. Setibanya disana pintu dibukakan langsung oleh sang sahabat.
"Nah, kamu rupanya. Ada apa Bend? apa ada tugas sekolah yang perlu bantuanku kah?" Tanya-nya. Sementara Benhard menoleh ke kanan dan ke kiri tak memperhatikan Fidelio bicara.
"Bend, kamu sedang mencari siapa?" Ulang Fidelio tampak polos.
"Kenapa rumahmu sepi sekali, Fid?" Tanya balik Benhard begitu tiba di kursi sofa.
"Oh … Iya, papa dan mama lagi pergi ke luar kota. Dan para pembantu lagi cuti beberapa hari, Bend" jawab Fidelio.
"Ka-kamu ... Dirumah sendiri?"
"Hu um"
Bagai kesempatan emas bagi Benhard lekas ia mengemukakan suatu siasatnya "Fid, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" Ucapnya lembut, mendekatkan wajahnya pada Fidelio yang kini duduk disebelahnya.
Tersirat senyum merekah dari bibir Fidelio lantaran salah mengartikan semua itu.
"Em … meminta apa Ben?" sedikit malu-malu, rona pipinya tampak memerah.
"Ak--aku sudah tidak tahan Fid, aku … ingin minta bantuanmu"
"Ma-maksudnya Bantuan apa Bend?" ekspresi Fidelio berubah secepat jet bus.
"Aku … Panggil Zevano kesini ya, aku kangen banget sama dia, ak-aku benar-benar sudah tidak tahan Fid. Tolong bantulah sahabatmu ini, Fid. Ya, ya, ya, Please ..."
Hati bagai tersayat seribu badik yang Fidelio rasakan seakan hendak tumpah air matanya, orang yang ia cintai meminta bantuannya untuk bertemu dengan kekasihnya di rumahnya sendiri.
"Tap-tapi Bend …"
"Apakah di rumahmu dipasang pengawas CCTV?" penggal Benhard seraya menolah-noleh.
"Ada dibagian depan Pintu dan dibeberapa ruang Bend, tapi nanti gimana dengan papa kamu …"
"Jangan pikirkan itu Fid, aku akan tanggung resikonya. Aku jamin kamu tak akan terlibat masalah ini. Tenanglah" Benhard menyakinkan.
Fidelio masih bungkam penuh keraguan, sementara Benhard sudah langsung menghubungi Zevano tanpa menunggu jawaban dari Fidelio.