21+
____
Tidak lama berselang, terdengar suara bel rumah berbunyi.
Ting ... tong ... ting ... tong ...
Fidelio pun beranjak untuk membukakannya.
"Hai Kawan, selamat malam …" Sapa sang tamu itu, sudah terduga dialah Zevano, bediri tepat didepan pintu, mengedipkan satu matanya tampak sangat tampan dan menawan, tetapi bagaimanapun tampannya paras pria itu sangat memuakkan bagi Fidelio yang terbakar api cemburu serasa ingin sekali dia mencabik-cabik paras pria tampan itu.
Apalah daya, dia tak mampu berkutik lantaran status Zevano adalah kekasih sahabat yang ia cinta, maka ia mampu menutupi ekspresi tidak menyukainya itu, seolah biasa saja.
"Iya, Selamat malam juga. Silahkan masuk, Benhard ada didalam." Senyum palsu Fidelio luncurkan untuk menutupi perasaannya sendiri.
Zevano senyum nan menyeringai seraya menggigit bawah bibir pertanda bahagia dapat berjumpa sang kekasih dalam suasana seperti ini.
Begitu masuk, Zevano lekas menghampiri Benhard di kursi sofa. Awal mula keduanya bersikap biasa saja cenderung Formal disertai perbincangan yang tak berarti. Lantas Benhard beranjak berdiri tanpa basa-basi langsung memeluk tubuhnya erat sebagai lambang rindu sekian hari tak bertemu.
"Van, aku kangen banget sama kamu." Ucap Benhard seraya menenggelamkan kepala di leher Zevano.
Tentunya membuat Zevano terbelalak penuh kejut mendapati Benhard melakukan demikian tak ayal dia pun menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Em ... Ben," melepaskan Benhard secara langsung, tak ingin apabila penghuni rumah Fidelio melihat adegan yang sedang mereka lakukan ini.
"Kamu tidak kangen sama aku kah?" Benhard mengerutkan kening seolah kecewa dengan respon balik Zevano meski dia tahu apa yang Zevano pikirkan saat ini.
"Bukan begitu Ben ..."
"Sttt ... Santai sayang, disini aman." Benhard memeluknya lagi.
"Benarkah?" Lirih Zevano.
"Hu um"
Semasih adegan saling peluk berlangsung, mereka tak mempedulikan letak posisi Fidelio yang kini berdiri tak jauh dari mereka dan 100% kedua netra Fidelio melihat adegan mereka.
Akhirnya, Fidelio berdehem.
"Ehem … Maaf," mendekat, Lantas Benhard segera melepaskan kembali pelukannya dari tubuh Zevano- menolehnya.
"Eh, ya Fid …"
"Kalian mau minum apa? teh manis, jus, minuman kaleng dingin, beer, atau kopi?" basa-basi Fidelio.
"Terima kasih kawan, sebenarnya aku hanya ingin minum s**u kental manis dari kekasihku saja." Sahut Zevano secara tiba-tiba seraya mengedipkan satu matanya pada Benhard disebelahnya.
"...." Fidelio.
"Bicara apa sih kamu, Van," Jawab Benhard sedikit mencubit Zevano, kemudian menoleh Ke arah Fidelio "Jangan repot-repot, Fid." Ucapnya
"Tidak Bend, santai aja. Aku rasa … malam ini cuaca cukup dingin, apa kalian mau aku buatkan teh jahe?" Lanjut Fidelio senyum penuh keramahan, mereka berdua mengangguk.
"Baiklah, tunggu sebentar ya" pamit Fidelio beranjak ke dapur untuk membuatkannya.
___
Selepas Fidelio berlalu dari ruang tamu itu, kedua pasangan kekasih itu saling mendekatkan jarak satu sama lain. Kedua netra saling mengunci tatapan, tak lama berdrama mata, kedua bibir mereka merekat, sebagai lambang rindu sekian hari tak bertemu.
Melumat lembut penuh perasaan hingga hasrat masing-masing dalam diri mereka memuncak. Tak kuasa menahan asa Benhard mendorong tubuh Zevano ke arah sofa dilanjutkannya hinggap di atas tubuhnya.
Zevano membelalak penuh terkejutan meski napsu sesama tak tertahankan, "Ben …" menahan sejenak d'da Benhard yang sudah tak ada jarak sedikitpun di kulitnya.
Benhard mengerti, kemudian menjawabnya "Di ruangan ini aman tak ada CCTV Van, Aku sudah tak tahan" - Benhard.
"Lalu bagaimana dengan temanmu?" - Zevano masih menahan d'da Benhard dengan tangannya.
"Dia sudah tau semua tentang kita. Tidak ada yang perlu di khawatirkan" Benhard lekas melumat bibir Zevano kemudian turun ke lehernya, rasa yang telah lama tak ia rasakan kini berada dalam dekapan, hingga hasrat benar-benar tak mampu ditahan.
Tangan mengulur ke d'da Zevano kemudian membuka setiap anak kancing busana si dia. Dilanjutkannya melumat bibir dan memainkan Put!ng kecil milik si dia dengan lidahnya.
"Aahh ... Ben" Zevano mencengkram rambut Benhard, memejam dan meresapi gerakan lidah dan bibir Benhard di d'da dan kedua put!ng kecilnya. Terasa geli tetapi bercampur nikmat, hingga angan terbang melayang yang sulit untuk di gambarkan.
Benhard sudah tak terkendali, segera melucuti setiap helai busananya sendiri disusulnya melucuti busana milik kekasihnya hingga seluruh raga tampak didepan mata keduanya. Menikmati kecupan dan belaian setiap raga yang saling bergantian membuat gairah Keduanya semakin tak tertahankan.
Mengulum benda pusaka meski berdurasi tidaklah panjang seperti yang setiap kali mereka lakukan kian membuat gairah semakin tak tertahankan.
Maka ... Benhard tarik bahu Zevano kemudian didorongnya lagi hingga menghadap ke belakang. Begitu mendapat letak posisi yang disukainya, tak memakai kelembutan dan irama Benhard lesakkan segera benda pusakanya didalam goa si dia.
Sleeeeb!
"Arrggh Ben, anjing!" Zevano penuh terkejutan, memejam merasakan sakit luar biasa begitu benda pusaka itu bersarang di Goanya secara tiba-tiba lantaran tak memakai benda cair si pelancar jalan masuknya. Benhard Lekas membekap mulutnya seraya lekas memainkannya tanpa irama.
"Aaahh ...! F"ck aahh ... Bangs't!"
__
Sementara disisi Fidelio kini masih diam dan melamun di ruang dapur seraya memandangi area taman melalui jendela yang kini masih diguyur rintikan hujan, berlarut-larut hingga air di panci sudah mendidih sedari tadi tak dilihat olehnya.
'Andai kamu tahu perasaanku ini Ben, aku sangat sakit melihatmu dengan dia. Sakit sekali Ben. Kenapa … kenapa aku masih saja menyukaimu Benhard?'
Berlinanglah air matanya menahan gejolak batin yang amat menyiksanya lara sejak lama. Lantas begitu tangan kiri tergigit nyamuk, dia timpuk
Plak!
Menjadikan lamunannya tercabik.
"Ah, airnya sudah mendidih ternyata, Ya ampun ... untung aja gak keabisan. Bisa gosong pula nanti panci ini. Hadeh ... Fidelio, Fidelio bodohnya kamu!"
Sejenak menyapu air mata di pipi, kemudian beranjak untuk segera menyeduh minuman jahe kedalam gelas yang sudah tertata rapi di atas Nampan.
Sesudah dia aduk, perlahan melangkah pelan-pelan menuju ke ruang tamu.
"Sudah berapa menit aku tadi di dapur ya? mereka pasti keasikan pacaran. Huh!" Gumamnya berbicara sendiri.
Lantas begitu tiba di ruang tengah hendak menuju kursi sofa dimana kedua insan itu berada, membuatnya terperangah dalam kejutan melihat adegan yang sedang terjadi tampak didepan matanya itu.
'Oh Tidak. Bendhard ...?'
Bagai hati tersayat seribu badik melihat adegan itu dengan mata telanjang seseorang pemuda yang sangat ia cintai sedang melakukan kegiatan terlarang!
Yang tampak di mata Fidelio kini Posisi mereka (Doggystile) Benhard = 1 (Top) sedangkan Zevano = 0 (Bot)
Suara khas tercipta terdengar memenuhi ruang,
Plock! Plock! plock! Plock!
Nama-nama mahluk penghuni kebun binatang beserta kalimat kotor pun sudah meluncur tanpa perantara dari mulut Zevano, mengiringi setiap gesekan didalam permainan.
"Aahhhh … Bangsaaaat! Fu'ck Ahh … Ahhh .... Anjiingg! Kont0l kau Anjinggg!!! Bangsaatt kau Ben, Kampangggg!!! Babiiii Aaahh ... Fu'ckk Aahhh ... anjingg k*****t Kont0l Babi! Perseeetaaaann!!"
____
Tangan Fidelio gemeteran tak menentu serta hati serasa hancur bagaikan tersambar petir. Dia coba menahan diri supaya nampan berisikan dua gelas minuman itu tidak jatuh dan pecah.
Beranjak mundur kemudian sampai lagi di ruangan dapur. Dia taruh nampan itu di meja, kemudian bersandar dan jongkok di depan kulkas sembari menangis sesegukan.
"Benhard, kenapa kamu seperti ini ..."
Dia menangis kesakitan melihat hal yang dilakukan oleh Benhard, tak pernah terpikir olehnya tindakan Benhard benar-benar sudah melampaui batas. Walau sebenarnya Benhard tadi sudah mengatakan suatu kalimat (Tolong sahabatmu ini Fid, aku sudah tak tahan)
Fidelio mengartikan kata "Tak tahan" Itu sebagai/hanya sebatas lambang rindu dengan Zevano saja, tanpa terpikir yang lebih dari itu.
Benhard tidak mempedulikan apapun lantaran dia sudah kecanduan s*x, sebelum mereka berdua melakukan kegiatan terlarang itu, Benhard sudah memikirkan semua ini sebelumnya, yakni meskipun Fidelio melihat adegan yang sedang ia lakukan dengan Zevano, samasekali tak ia pedulikan.
Fidelio kini masih terus sesegukan, sementara Benhard masih terus menikmati kegiatan terlarang dengan kekasih prianya.