Catatan pengarang;
21+
100% berisikan adegan dewasa, Teknik penulisan secara detile dan Frontal, bila kau merasa jijik jangan teruskan baca, oke?
NO PLAGIAT!
NO LAPOR!
Buat kau cewek, maafkan Author,
Buat kau Cowok, salam piktor.
Enjoy Reading ...
_______
Semasih kegiatan terlarang yang amat mengasikkan diantara Benhard dan Zevano masih berlangsung, Fidelio beranjak berdiri dari tempat semula, menyapu air mata yang mengalir membasahi pipi, kemudian meraih telephone genggamnya, mengusap perlahan layar hape itu, buka kamera-merekam aksi yang sedang mereka lakukan.
Saat Kamera sudah mode on dihadapkan ke arah mereka, Kebetulan Benhard dan Zevano sedang berganti Gaya, maka wajah mereka benar-benar terekam jelas di kamera Fidelio.
Meski jauh didalam hati Fidelio terasa amat sakit, tetapi dia tetaplah seorang pria. Yakni, bagi seorang pria yang paling utama tidak bisa ditahan adalah NAPSU! Entah apa yang Fidelio pikirkan semasih melihat adegan mereka, junior miliknya malah ikutan bangkit bahkan cairan khas milik perjaka terus-menerus mengalir membasahi celana dalamnya.
Tangan mengulur kedalam celananya, meraih benda pusaka dengan ukuran lingkaran sedang dan cukup pendek miliknya itu, kemudian memainkannya sendiri (Colli) dibalik lemari hias yang terpampang ke arah ruang tengah, mata dia terus-menerus melihat adegan yang sedang Benhard lakukan dengan Zevano.
'Begitu gagahnya dirimu Benhard ...'
Fidelio Berimajinasi dan terus berimajinasi seraya memainkan benda pusakanya sendiri, tak terasa bisa bakal janin miliknya sudah membanjiri celana lebih dulu di banding mereka yang masih melakukan kegiatan mengasikkan.
Merasakan cairan lengket berceceran membasahi celananya, Fidelio beranjak menuju toilet untuk segera membersihkannya. Begitu sudah didalam toilet, dia kembali buka video hasil rekaman itu, tiba-tiba membuatnya berimajinasi kembali. Lantaran dia samasekali tidak pernah melakukan hubungan badan, tak heran rasa penasaran sangatlah tinggi.
Dia raih sabun cair di atas wastafel, kemudian dia usapkan diseluruh batang benda pusakanya. Menarik maju-mundur dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegangi hape sembari memandangi Video hasil rekaman sang sahabat yang sedang melakukan kegiatan penuh nikmat itu.
"Andai aku yang ada disana … Aahh Ben ... kau sangat sexy sekali, aahh ..."
Terus-menerus berimajinasi, sebenarnya menyadari hal ini sangat menjijikan, tetapi jika napsu yang sedang bicara tak ada yang namanya Jijik!
Tak terasa, Fidelio tuntas melakukannya sendiri berdurasi setara dengan kegiatan terlarang antara Benhard dan Zevano yang kini telah usai.
Ya, Benhard dan Zevano kini sudah selesai, untuk permainan nikmat berdurasi singkat kali ini, mereka tidak bergantian, melainkan Zevano hanya menjadi Bottom-nya si Benhard saja. Meski demikian Zevano jua mencapai batas puncak kenikmatan, Lantaran entah diposisi '1' maupun posisi '0' sama-sama terasa Nikmat bagi sesama Versatile.
__
Kurang dari 10 menit berselang, kini mereka berdua sudah memakai busananya kembali. Benhard disibukkan menyapu cairan yang berceceran di kursi sofa dengan beberapa selembar tissu, serta merapikan busananya yang masih tampak berantakan meski keringat keduanya masih berceceran di dahi. Sementara Zevano duduk di sampingnya sedang membakar rokok di mulutnya.
Sejenak keduanya saling toleh nan senyum, lantas tampaklah Fidelio datang membawa dua gelas minuman teh jahe di atas nampan.
"Maaf kalau kelamaan, Ben. Aku tadi lama ke toilet dulu," Ucap Fidelio menaruh gelas itu di meja, tak mau memandang Benhard.
Kedua sejoli itu saling tatap lagi, kemudian menyeringai. Entah Fidelio berbohong atau tidak tentang melihat kegiatan terlarang yang mereka lakukan tadi samasekali tidak dipedulikan oleh mereka.
Malahan tiba-tiba Benhard berkata, "Aku tahu kamu berbohong, Fid."
"Bohong gimana Ben, aku tidak ngerti yang kamu maksud, aku tadi benar-benar ke toilet, ada panggilan alam hehe" Fidelio masih menutupinya tersirat ekspresi gugup.
Zevano lekas menyahut, "Maaf kawan kami tak meminta izin dulu pada tuan rumah, Kami tadi melakukannya, Aku sangat rindu pada kekasihku ini," Merangkul Benhard penuh goda sembari menyemburkan asap rokok ke arah wajah Benhard.
"Huuff ..."
"Uhuk, uhuk! Van. Hentikan!" Keluh Benhard mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah menghindari asap yang mengandung Zat Karbondioksida itu.
"Hehehe, Sorry sayang ..." - Zevano menyingkirkan tangan yang masih pegang rokok, sementara tangan lainnya merangkul bahu si Benhard.
Meski hati bagai tersayat-sayat seribu badik didalam batin Fidelio dia memilih diam seolah tak mengerti maksud ucapan Zevano.
"Kamu bicara apa sih, Van" Benhard sedikitnya merasa tak enak hati terhadap Fidelio, lekas menyingkirkan tangan Zevano dari bahunya.
"Nah, memang benar apa adanya begitu kan sayang? bahkan aku masih menginginkannya lagi loh ..." ada unsur kesengajaan yang Zevano lakukan hingga dia mengucapkan kalimat itu, karena baginya Fidelio ini bisa menjadi sebuah jembatan untuknya bisa memadu kasih dengan sang kekasih.
Fidelio masih terdiam seribu bahasa, serasa hati dan telinga terbakar mendengar kalimat itu, lantas Benhard malah membubuhi suatu kalimat yang membuat hatinya semakin tersayat.
"Fid, aku tak ingin menutupi apapun darimu, aku percaya padamu Fid. Yang dikatakan oleh Zevano tadi memang benar, kami tadi melakukannya."
Hanya tersenyum tipis tersirat dari ekspresi Fidelio seakan tak terbebani serta hanya menjawab "Oh ... " Saja, mengambil nampan lagi selepas ia letakkan gelas di atas meja.
"Fid," Panggil Benhard lagi selepas Fidelio berdiri.
Fidelio menatap, siap mendengarkan.
"Kapan mama dan papa mu pulang, Fid …?" tanya Benhard.
"Mungkin tiga hari ke depan Ben, ada apa?" Jawab Fidelio,
"Em ... Apakah aku boleh pinjam kamar kosong yang ada di rumahmu Fid?" Tersenyum goda ke arah sang Kekasih lantaran tak mungkin bagi Fidelio menolaknya.
Dan benar saja, Fidelio akhirnya mengatakan, "Ada kamar kosong khusus tamu di sana. Pakailah sepuasmu, aku akan mengatur waktu untukmu. Bersenang-senanglah kawan." Fidelio berucap penuh arti mendalam dari kalimat itu, tetapi sambutan Benhard dan Zevano yang sedang di mabuk Cinta, samasekali tak mengerti.
Malahan Zevano menjawab "Kami akan berhutang budi padamu kawan. Terima kasih pengertianmu" Seraya menc'mbu Benhard seakan ingin segera melakukan 'Sesuatu' yang belum sempat bergantian tadi.
"Ya, santai saja." Fidelio mengangguk, kemudian memberikan Kunci kamar tersebut. "Pakailah sesuka dan sepuas kalian, jangan sungkan. Anggaplah rumah sendiri kawan ..."
"Terima kasih banyak Fid, kamu benar-benar sahabat terbaikku." Benhard sangat bahagia mendapat kesempatan yang kini sudah sangat minim dia dapatkan, lantaran aktifitas dia memang terpantau oleh sang ayah.
____
Selepas Kunci di tangan, Zevano beranjak berdiri. Meski Fidelio masih berdiri di hadapan, dia raih tangan Benhard hendak menuju ke kamar itu.
"Kami tinggal bersenang-senang dulu kawan" Pamit Benhard semasih melangkah melewati Fidelio.
"Em ... Tunggu sebentar Ben," Panggil Fidelio, mereka pun berhenti sejenak.
"Ada apa, Fid?" - Benhard.
"Papa kamu chat aku nih, ingin lihat aktifitasmu saat ini, cepatlah bersandiwara aku akan memfotomu, lalu seperti biasa kirim ke dia." - Fidelio.
"Oh ... Baiklah," Jawab Benhard, kemudian menghadap Zevano sejenak, "Kamu tunggu sebentar ya sayang"
"Oke, jangan lama-lama. Aku sudah tak tahan" goda Zevano.
"Idih kamu,"
"Hehehe, yasudah cepatlah sana" - Zevano.
"Hum"
Benhard beranjak menuju ke kursi sofa lantas duduk di lantai sembari memegang buku dan pena di meja, Berdrama supaya tampak seakan-akan sedang belajar di rumah Fidelio.
"Udah ..." - Benhard.
"Yup" Fidelio mengangkat ibu jari.
Benhard beranjak berdiri lagi kemudian berpijak ke arah Zevano yang posisinya masih berdiri di tempat tadi.
"Kamu siap?" Zevano.
"Tentu, untukmu apa sih yang enggak?" - Benhard.
"Uihh ... kenapa kamu menggemaskan sekali Ben?" Zevano meraih tangan Benhard, kemudian beranjak masuk kedalam ruang kamar itu.
___
Begitu masuk kedalam kamar itu, Napsu Zevano sudah tak tertahankan, meski masih sesama berdiri dia main beringas langsung menarik tangan Benhard, kemudian didorongnya ke dinding belakang pintu, menc'mbu mulai dari lumatan bibir ke leher, d'da sampai tiba di bagian alat terintinya.
Memainkan lidah di benda terinti si Benhard hingga gairah Benhard memuncak Kembali. Namun, kali ini Benhard memberikan waktu untuk Zevano yang beraksi.
Zevano lekas melucuti setiap helai busana milik Benhard maupun miliknya sendiri. Setelah raga sempurna tak ada sehelai busana yang melekat di tubuhnya, Zevano menarik tubuh Benhard ke dinding seberang tak jauh dari ranjang. Masih dalam posisi berdiri, dia putarkan tubuh Benhard menghadap dinding kemudian Dia angkat satu kaki Benhard dengan tangannya, Lekas melesakkan benda pusaka yang sudah teramat keras kedalam goa si dia.
Sleeeb!
"Ahhh ... Van, Bangsa--t!" Untuk pertama kalinya Benhard mengumpat saat Benda pusaka bersarang di goanya. Lantaran terkejut sensasi rasa posisi seperti ini, benda pusaka itu sangat terasa mentok sampai ke prostatnya.
"Aahh, Van! Aahh ....!" Benhard terus mendesah penuh gairah selepas Zevano sudah menarik maju dan mundur penuh irama.
Zevano pun menyahut, "Yeaah! terus mendesah sayang, terus mengumpat sayang ... Ah ... Terus mendesah Ben, aahhh"
Benhard memejam dan menggigit bawah bibir, merasakan sensasi rasa nikmat yang tak bisa digambarkan didalam angannya.
"Akan ku lakukan serangan dahsyatku, apakah kau siap sayang?" Bisik Zevano sembari membubuhi cumb'an ringan di belakang telinga Benhard.
"Um, Lakukanlah semau kau bangs't!"
"Terus mengumpatlah, aku sangat menyukai itu" Zevano segera memainkan gerakan kasar secepat jet bus. Hingga bunyi khas tercipta memenuhi ruang.
Plock! plock! plock!
Sekian menit berlangsung gerakan dahyat itu, Benhard sudah merasakan sensasi panas dan perih luar biasa kala Zevano benar-benar membabi buta dalam memainkannya.
Tangan Benhard mengulur ke belakang sebagai tanda ampun supaya Zevano menghentikannya.
"Van, Aahhh … Van Please stop. Aahh ... Sakit Van, Aahhh ...!"
Bukannya berhenti, Zevano malah semakin menggerang menikmati jeritan Benhard, akhirnya Benhard memejam pasrah selama benda pusaka Zevano terus mengobok-obok goa miliknya.
Teriakan khas Benhard teramat kencang hingga terdengar dari luar ruang kamar itu.
Membuat Fidelio mendengar jelas suara mereka, lantaran kini dia masih berdiri di tempat yang sama.
Rasa hati semakin tersayat-sayat tak kuasa menahan sesak di d'da, dia lari masuk ke kamarnya sendiri yang terletak di lantai atas, kemudian dia hajar segala barang-barang yang ada di dalam kamarnya.
Braak! Braak! Braak!
Sembari teriak sekencang-kencangnya
"Aarggh! kenapa semua ini terjadi!!!!"