21+
___
Khusus malam itu, Benhard dan Zevano melakukan kegiatan nikmat cukup ekstrim seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya, yakni dalam waktu semalaman full sampai pagi. Lantaran mereka sudah mempersiapkan semuanya dengan sengaja sesama memakai 'Sesuatu' untuk balas dendam akibat di larang hubungan ini.
Mereka melakukannya mulai pukul 23:30 pm, meski terdapat jeda beristirahat saling bincang dan canda, mereka melakukannya lagi dan lagi sampai pukul 03:40 am.
Sesama lelah hingga mereka tidur pada jam itu, tentunya membuat Fidelio selaku yang dipercayakan oleh Venanim memantau aktifitas Benhard, harus membangunkan mereka berdua didalam kamar itu sekitar pukul 05:30 am.
Tok! Tok! Tok!
Fidelio mengetuk pintu kamar itu, "Ben, Sudah pagi. Bangunlah, kita akan berangkat ke sekolah, hari ini kita ujian terakhir Ben."
Sudah berulangkali dia ketuk pintu itu, tak ada suara sahutan dari dalam, kemudian dia coba meraih gagang pintunya.
Maka …
Klek!
"Nah, tak di kunci rupanya, apakah mereka sudah pulang?" Fidelio penuh tanda tanya mendapati pintu tak di kunci.
Yang Ternyata Benhard dan Zevano memang tidak menguncinya akibat semalam mereka sesama lepas kendali sampai tak memperhatikan situasi.
"Ben," Panggil Fidelio lagi sembari membuka perlahan pintu itu, maka ... tampaklah pemandangan mengejutkan didepan matanya, membuatnya membelalak dan menganga.
"Astaga,"
Yakni, Seluruh busana mereka berdua berserakan di lantai beserta banyak bekas tisu. Melihat kedua sanak itu masih terlelap di atas ranjang tanpa busana yang tertutup rapat bad cover, membuat Fidelio lekas palingkan wajah ke lain sisi.
Benhard mendengar suara Fidelio, membuatnya terbangun, sedangkan Zevano tipikal orang yang susah bangun, dia masih saja mendengkur.
"Eh, kamu rupanya Fid …" Sapa Benhard, tersenyum lebar lantaran ingat tak mengunci pintu itu hingga sang sahabat kini dapat masuk kedalam kamar dan tentunya dia semakin tersenyum malu begitu melihat seluruh busana berserakan di lantai beserta tisu-tisu yang habis dipakai untuk menyapu cairan bermuncratan semalam.
Fidelio menoleh lagi ke dalam, kemudian mengatakan "Em ... Bangunlah sudah siang. Nanti papa kamu pasti mencarimu melalui-ku" bersikap biasa saja meski sebenarnya menahan sesak rasa di d'da.
Benhard mengangguk dan senyum lantaran terngiang adegan ektrim nan nikmat yang terjadi semalam.
"Hum, baiklah"
Semasih Fidelio belum beranjak pergi dari sana, Benhard menoleh ke arah Zevano, merekatkan jarak tubuhnya ke si dia kemudian membisik lembut ditelinganya. "Sayang, bangun sayang … udah siang nih"
Pertama-tama Zevano tak mendengarnya, begitu kedua kalinya di panggil, dia memang mendengar, tapi hanya sebatas menjawab "Hem …" Saja.
Benhard akhirnya berinisiatif membangunkannya dengan cara lain. Yakni, mengulang kalimatnya dan membubuhi dengan kalimat sesuatu "Sayang, cepatlah bangun. Aku menginginkannya lagi, dedek-ku udah bangun dan demo nih" dalam canda.
Zevano menyeringai, Tiba-tiba mendorong tubuh Benhard kemudian beranjak ke atas tubuhnya dengan kecepatan penuh Sampai Bad Cover yang menutup bagian bawah mereka terbuka.
Tampak jelas terlihat oleh Fidelio yang kini masih berdiri di ambang pintu kamar itu.
'Astaga' Kejut Fidelio.
"Dedek-ku juga siap perang Ben," Ucap Zevano menjawab perkataan Benhard tadi, dia langsung mengangkat kedua kaki Benhard ke atas dalam kecepatan penuh, Lekas melesakkan benda pusaka yang sudah bangun mengeras itu secara langsung.
Sleeeb!
"Aawh, Hei Van!" Kejut Benhard lantaran dia mengetahui masih ada Fidelio berdiri disana. Zevano tak mempedulikan mata Benhard sedang melihat kemana, malahan langsung memainkannya.
"Ueeghh, He-Hen-tikan, Van!" Ucap Benhard sedikit kesusahan bicara Bertepatan saat Zevano terus menekan benda pusakanya semakin kedalam.
Akhirnya Benhard Cengkram kuat kedua lengannya kemudian memberikan kode melalui kedipan mata. Zevano akhirnya mengerti, lantas perlahan menoleh ke arah pintu.
Bukan terkejut maupun bimbang, malahan Zevano menyeringai selepas mengetahui Fidelio menyaksikan adegan yang sedang mereka lakukan, bahkan Zevano makin semangat mengencangkan permainannya.
"Aaahh ... Van! Aahh .. He-hen-ti-Kan Vaaan .. Aggh-ahhh ..." Benhard jua tak bisa membendung desahan yang terus keluar dari mulutnya tanpa kontrol, selama Zevano terus menekan-nekannya kuat.
Fidelio kini seperti orang bodoh melihat adegan itu dengan mata telanjang untuk yang kedua kalinya. yang tentunya kini tak sama seperti yang dilihatnya semalam, melainkan Benhard yang kini di posisi '0'
'Ben, ka-kamu ...?' Batin Fidelio terkejut bingung.
Sementara Zevano semakin melumat bibir Benhard, sengaja mempertontonkan aksinya didepan Fidelio. Hingga akhirnya Fidelio tak mampu bertahan lama cenderung muak melihat ekspresi penuh sengaja yang dibuat Zevano, beranjak pergi dari sana.
__
Selepas Fidelio berlalu, Zevano menghentikan aksinya sejenak, tetapi tak mencabutnya.
"Van, apa yang kamu lakukan ih"
"Kenapa emangnya? bukankah tadi kamu yang bilang kepingin lagi?" Jawab Zevano sembari sengaja menekannya.
"Uughhh, aih Van. Udahan ih"
"No, no, no, enak aja kau bilang udahan. Ini udah tanggung begini mau berhenti? Rasanya pegel banget tau, pokoknya harus sampai Gol dulu." - Bantah Zevano lantas melanjutkan permainan tersebut, sampai Gol!
___
Sementara di posisi Fidelio merasakan Frustasi. Ia raih telephone genggamnya, kemudian mengirimkan Video berisikan adegan s*x antara Benhard dan Zevano yang telah direkamnya semalam pada Venanim menggunakan nomor lain.
"Maafkan aku Ben, kamu yang memaksaku melakukan semua ini, kau sangat tega menghancurkan perasaanku, jangan tanya kenapa aku tega melakukan ini. Tamatlah kamu wahai Benhard Yeheskiel Venanim!" Kabut Amarah telah menyelimuti sempurna hatinya, hingga konsekuensi apapun nanti siap akan dihadapinya.
___
Dari sisi kedua sejoli itu kurang dari 20 menit adegan tersebut telah selesai. Sebenarnya bukan telah selesai, melainkan sengaja di selesaikan lantaran mereka masih menanggung kewajiban dalam aktifitas masing-masing.
"Terima kasih sobat, aku berhutang budi padamu." Ucap Zevano pada Fidelio selepas mereka berdua keluar dari kamar.
Fidelio tak menjawabnya, hanya menampilkan senyuman saja.
"Oh iya, Tolong Jaga kekasihku ini ya, jangan biarkan dia tersentuh orang lain, dia hanya milikku" lanjut Zevano. Membuat Benhard disebelahnya lekas mencubit kecil pinggangnya.
"Oke, santai aja kawan." Jawab Fidelio lekas Zevano berlalu terlebih dahulu.
"Fid, Aku mau jalan pulang juga ya, sampai ketemu di sekolah nanti" pamit Benhard.
Fidelio mengangguk dan meluncurkan senyuman palsu, mempersilahkannya pergi "Oke, hati-hati di jalan"
"Yup"
__
#Next Story
Pada pagi hari itu, Venanim sangat terkejut mendapat kiriman Video berisikan adegan kegiatan terlarang yang dilakukan oleh putra tunggalnya bersama pemuda yang pernah dipergokinya beberapa waktu lalu.
Tentu saja amarah telah membelenggu jiwanya serta membuatnya sangat Frustasi, tetapi murka terhadap kelakuan sang anak akhirnya dia tahan lantaran tepat hari itu dia sedang ada hal yang membelit di perusahaannya. Menjadikannya tak ada waktu untuk langsung menegur Benhard, berlarut-larut sampai batas pendidikan Benhard di SMA selesai.
Begitu ada kesempatan berbincang tepatnya saat Benhard sudah selesai mengeyam pendidikan di SMA, Venanim lekas mengemukakan amarahnya pada sang anak, tentang hubungan terlarang itu.
Venanim sangat bijak, dia memang tidak bisa memprediksi siapakah gerangan orang yang mengirim Video itu, sehingga segala kalimat-kalimat yang terceletuk saat menegur Benhard, Venanim tidak mengatakan tentang Video tersebut.
Venanim sangat khawatir, apabila Video itu sampai diketahui Publik, maka reputasinya sebagai Owner di perusahaan ternama pastilah akan porak-poranda.
Berhubung Venanim tidak mau berkesimpulan dan menyebutkan tentang kiriman Video itu, menjadikan Fidelio yang diutusnya memantau Benhard terseret, lantaran Fidelio tak pernah melaporkan tentang hubungan Benhard dan Zevano yang masih berjalan itu padanya.
Benhard berkata saat sedang di tegur oleh Venanim "Jangan salahkan Fidel Pa, tapi salahkanlah aku, karena aku yang minta dia supaya tidak melaporkan semua ini ke Papa. Kalau papa tak ingin menerima aku begini, lebih baik aku pergi!" Kalimat terakhir Benhard sebelum akhirnya Venanim menamparnya keras.
Plak!
Begitu tamparan keras itu mendarat di pipinya, dia langsung keluar rumah dalam suasana marah.
"Benhard! Tunggu Mau pergi kemana kamu, Benhard!" Teriak Venanim tepatnya saat sang istri sedang tidak berada di rumah.
Benhard marah lantaran di larang hubungan terlarang ini, karenanya sudah susah payah perang batin tentang perbedaan orientasi seksualnya, sampai akhirnya dapat menerima dirinya sendiri menjadi seorang gay tetapi tak bisa menentang ayahnya.
Semasih suasana marah, dia langsung pergi seorang diri menuju ke Club gay tengah malam, meminum banyak minuman beralkohol sampai dia mabuk.
Lantas Venanim menghubungi Fidelio untuk mencarinya, Fidelio lekas melaksanakannya, dia tahu kebiasaan Benhard maka tak sulit baginya untuk menemukannya, yakni didalam tempat hiburan malam khusus komunitas Gay yang tak tampak di publik (Privat)
__
Bergegas membawa Benhard yang sudah mabuk itu hendak pulang, tetapi setibanya di lokasi parkir, kendarannya bermasalah hingga tak dapat dinyalakan.
Lantas semasih posisi disana tiba-tiba Zevano datang menghampiri yang kebetulan dia baru datang kesana.
"Ben ..." Ucap dia mendekat, tetapi tangan dia langsung disingkirkan oleh Fidelio.
"Lepasin Van, gak usah pegang dia."
"Eh, Ada apa ini kawan?" Zevano kebingungan lantaran tak tahu menahu tentang Benhard yang kini sedang berseteru dengan ayahnya akibat hubungan mereka yang sudah di ketahui.
Zevano beranjak hendak merebut Benhard yang sudah mabuk itu, tapi lagi-lagi Fidelio menghalangnya cenderung mendorong tubuhnya.
Seet!
"Aku bilang jangan pegang dia, pergilah Van. Dia gak butuh kamu" Ucap Fidelio yang tentunya membuat Zevano benar-benar bingung cenderung emosi.
"Hei, Apa maksud kau Fid! kau tau dia pacar saya. Kenapa kau melarang-larang saya? dan ... kenapa kalian berdua bisa di tempat ini, hah?"