Aku tercekat mendengar pengakuannya. Ada luka yang terlalu dalam di batin Raka. Luka yang tidak bisa disamarkan lagi oleh senyum dan candaan kali ini. Tangannya yang tadi mengenggam kini turun perlahan, terkulai lemah di pangkuannya. Seolah seluruh kekuatannya ikut runtuh bersama kalimat terakhir itu. “Mereka bilang aku cucu kandungnya, tapi aku bahkan tidak pernah dianggap ada oleh kakekku. Dia tidak pernah memelukku atau memberikan tatapan hangat.” Dadaku sesak mendengarnya. Aku menelan ludah, mencoba menahan gemetar yang menjalar ke ujung jariku. “Sejak kecil aku sudah merasakan hidup susah Rena. Aku pernah tidak naik kelas selama dua tahun karena aku hidup berpindah-pindah. Aku dilempar sana dilempar ke sini oleh kerabat ibuku. Sejak Ibu meninggal karena kanker, aku tidak pernah ing

