Aku bangkit dari kursi dengan lutut lemas, mengucapkan terima kasih pada Pak Jefri sebelum aku melangkah keluar dari ruangannya. Koridor lantai 20 sepi, tapi pikiranku ramai seperti pasar malam. Semua ucapan Pak Jefri, momen-momen bersama Raka selama ini berputar di kepalaku. Aku terjebak dalam pusaran yang tidak ada kunjung ku temui jalan keluarnya. Lift turun ke lantai kantorku. Aku berusaha untuk menahan kesedihanku. Raka, pemuda yang selama ini selalu membuatku berbunga-bunga setiap dia tersenyum padaku. Setiap kata-kata manis dan romantis dari mulutnya, ternyata dia pewaris tahta perusahaan tempatku bekerja. Apa alasannya dia menyembunyikan fakta itu? Cinta tulus, atau memang dia hanya sekedar main-main dan bersenang-senang ciri khas seorang anak konglomerat seperti kata Pak Jefri?

